Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Terpaksa
Malam itu, Hotel Grand Astoria bertransformasi menjadi sarang kemewahan yang menyesakkan. Karpet merah membentang dari lobi hingga pintu masuk ballroom, menyambut para elit Jakarta yang hadir dengan tuxedo hitam dan gaun desainer yang berkilau di bawah lampu gantung kristal seberat satu ton. Suara denting gelas sampanye dan alunan orkestra kamar menyapa setiap tamu, namun bagi Leah Ramiro, atmosfer ini terasa lebih dingin daripada ruang otopsi.
Di depan cermin besar lobi, Leah menarik napas panjang. Gaun sutra merah pilihan Jeff melekat di tubuhnya seperti kulit kedua—elegan, namun terasa seperti kain kafan bagi harga dirinya. Potongan punggungnya yang rendah membiarkan kulitnya terpapar udara dingin pendingin ruangan, membuatnya merasa telanjang di bawah tatapan publik.
"Kau tampak... berbahaya malam ini, Leah," suara berat Jeff Chevalier bergema di belakangnya.
Leah berbalik perlahan. Jeff berdiri di sana, mengenakan setelan tiga potong berwarna arang yang sangat rapi. Ia tidak menunggu izin; Jeff segera melingkarkan tangannya di pinggang Leah, menariknya mendekat dengan kekuatan yang tidak meninggalkan ruang untuk protes.
"Berbahaya bagi siapa, Jeff? Diriku sendiri atau perusahaan kakakku?" tanya Leah, suaranya tetap datar meski jantungnya berdegup kencang karena muak.
Jeff tertawa, sebuah suara yang penuh kepuasan. "Bagi siapa pun yang berani menatapmu terlalu lama. Ayo, tunjukkan pada dunia bahwa keluarga Ramiro dan Chevalier adalah masa depan bisnis negeri ini."
Di sisi lain pintu masuk, sebuah sedan hitam baru saja berhenti. Denzel turun lebih dulu, bergerak dengan ketenangan seorang prajurit yang sedang memasuki medan perang. Ia membukakan pintu untuk Seraphina, yang malam itu tampak cantik dengan gaun berwarna biru pucat. Seraphina segera memeluk lengan Denzel, wajahnya berseri-seri karena ini adalah pertama kalinya ia menghadiri acara sebesar ini sebagai kekasih resmi Denzel.
Denzel menyesuaikan letak tuxedo-nya. Matanya yang tajam segera memindai ruangan, dan dalam hitungan detik, ia menemukan targetnya.
Leah.
Denzel merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat Leah berdiri di samping Jeff, terbungkus warna merah yang mencolok, tangan Jeff bertengger posesif di pinggangnya. Kemarahan yang dingin dan tajam menjalar di sumsum tulang Denzel. Ia tahu gaun itu adalah pesan dari Jeff; sebuah tanda kepemilikan.
"Denzel? Kau melamun lagi?" Seraphina menarik lengannya, membuyarkan fokus Denzel.
"Maaf, Sera. Kerumunannya cukup padat. Mari kita masuk," jawab Denzel, suaranya terkontrol dengan sempurna.
Mereka berjalan masuk, menciptakan kontras yang menyakitkan. Di satu sudut, Leah dipamerkan oleh Jeff sebagai trofi kemenangan investasinya. Di sudut lain, Denzel memainkan perannya sebagai kekasih ideal Seraphina, memberikan perhatian-perhatian kecil yang membuat orang-orang berbisik tentang betapa serasinya mereka.
Saat rombongan mereka bertemu di tengah aula, udara seolah membeku.
"Ah, Denzel! Dan Nona Seraphina," sapa Jeff dengan nada merendahkan yang kental. Ia tidak melepaskan tangannya dari pinggang Leah, malah semakin menariknya rapat ke tubuhnya. "Lihatlah kita semua. Sangat harmonis, bukan? Asisten setia dengan kekasihnya, dan aku dengan... tunangan masa depanku."
Leah merasakan tubuhnya menegang. Kata "tunangan" itu seperti racun yang disuntikkan langsung ke telinganya. Ia melirik Denzel, mencari setitik dukungan, namun Denzel hanya berdiri tegak dengan tatapan kosong yang profesional.
"Selamat malam, Tuan Chevalier. Nona Leah," ucap Denzel formal. "Anda berdua tampak serasi malam ini."
Kalimat itu menghantam Leah lebih keras daripada hinaan Jeff mana pun. Serasi. Bagaimana Denzel bisa mengucapkan kata itu dengan begitu tenang? Leah ingin berteriak, ingin merobek gaun merah ini dan berlari menuju Denzel, namun ia teringat wajah Zefan yang memohon. Ia teringat ribuan karyawan yang nasibnya bergantung pada senyum palsunya malam ini.
"Terima kasih, Denzel," sahut Leah, suaranya bergetar namun ia berhasil menutupinya dengan senyuman yang ia paksa muncul di wajahnya. "Sera, kau tampak sangat bahagia malam ini."
"Aku memang bahagia, Leah! Denzel memperlakukanku dengan sangat baik," jawab Seraphina tulus, tidak menyadari pedang tak kasat mata yang sedang saling tebas di antara mereka semua.
Sepanjang acara, Leah merasa seperti boneka porselen. Jeff membawanya berkeliling, memperkenalkannya kepada jajaran komisaris dan menteri sebagai "bagian dari keluarga Chevalier". Setiap kali Jeff menyentuh bahunya atau membisikkan sesuatu yang intim di telinganya agar dilihat orang lain, Leah harus menelan rasa mualnya. Ia memaksakan senyum hingga otot pipinya terasa kaku.
Dari kejauhan, Denzel tidak pernah benar-benar melepaskan pandangannya dari Leah. Meski ia sedang mendengarkan Seraphina bicara atau menyapa tamu lain, radarnya selalu terkunci pada tangan Jeff yang menyentuh Leah. Sebuah kesimpulan menyakitkan muncul di benak Denzel: ia sedang membayar keselamatan Zefan dan kenyamanan emosional Leah dengan membiarkan Leah menjadi tawanan Jeff.
Aku yang mendorongnya ke sana, pikir Denzel pahit. Aku yang setuju dengan rencana 'logis' ini. Dan sekarang, aku harus menontonnya hancur demi sebuah investasi.
Saat musik waltz mulai mengalun, Jeff menarik Leah ke tengah lantai dansa. Jeff berdansa dengan dominasi yang kasar, memastikan semua orang melihat bahwa Leah adalah miliknya. Denzel pun terpaksa mengajak Seraphina berdansa, karena jika ia menolak, Jeff akan curiga.
Mereka berdansa dalam lingkaran yang berdekatan. Untuk sesaat, saat putaran musik membawa mereka berhadapan, mata Denzel dan Leah bertemu. Hanya satu detik. Tidak ada kata, hanya sebuah jeritan sunyi yang saling bertukar. Leah melihat kepedihan yang luar biasa di mata Denzel, dan Denzel melihat keputusasaan yang murni di mata Leah.
Leah memejamkan mata, membiarkan Jeff membawanya berputar. Ia merasa sedang membayar hutang keluarganya dengan setiap detik napasnya. Senyum yang ia berikan pada kamera fotografer adalah senyum yang terpaksa—sebuah topeng sempurna yang menyembunyikan hati yang sedang sekarat.
Malam itu, di bawah kemilau lampu ballroom, Leah Ramiro menyadari bahwa kemewahan ini hanyalah penjara berlapis emas. Dan sipir penjara terbaiknya bukanlah Jeff Chevalier, melainkan pria yang sedang berdansa dengan wanita lain di seberang ruangan—pria yang mencintainya namun memilih untuk menjaganya dengan cara menyerahkannya pada musuh.
Ketika acara berakhir dan Jeff mengantarnya ke pintu depan, Jeff mengecup punggung tangan Leah dengan penuh kemenangan. "Kau luar biasa malam ini, Leah. Investasi kakakmu aman karena kau."
Leah tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju mobil di mana Denzel sudah menunggu untuk membawanya pulang. Saat masuk ke dalam mobil, keheningan menyergap mereka seperti kabut tebal. Denzel melihat bayangan merah gaun Leah di spion tengah, dan ia tahu, meski mereka pulang ke rumah yang sama, jarak di antara mereka kini telah menjadi jurang yang tak tertembus.
Senyum terpaksa itu akhirnya luntur, meninggalkan wajah Leah yang pucat dan hampa dalam kegelapan kabin mobil.