Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Suasana di tepi sungai pagi itu sangat kontras dengan kesedihan kemarin. Puluhan warga laki-laki, mulai dari pemuda hingga bapak-bapak, sudah berkumpul membawa palu, gergaji, dan balok kayu baru. Semangat gotong royong membuncah, dipicu oleh instruksi tegas Alvaro semalam. Mika berdiri di sana, matanya masih sedikit sembap namun semangatnya mulai pulih melihat dukungan yang begitu besar.
Namun, keriuhan itu mendadak sunyi saat Mbah Darmo muncul dari arah pemukiman. Wajah pria tua itu merah padam, tangannya mencengkeram kuat lengan seorang gadis yang meronta-ronta.
Itu Lilis. Gadis desa yang selama ini terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Alvaro. Rambutnya berantakan, dan wajahnya pucat pasi saat diseret ke hadapan Alvaro dan Mika.
"Ini pelakunya!" suara Mbah Darmo menggelegar, melempar sebuah gergaji besi kecil dan tang pemotong ke atas lumpur. "Saya temukan alat-alat ini di belakang rumahnya, masih ada sisa kabel warna biru milik Neng Mika!"
Seluruh warga berbisik riuh. Alvaro melangkah maju, tatapannya begitu dingin hingga seolah mampu membekukan aliran sungai. "Lilis... jadi kamu yang melakukannya?"
Lilis menunduk, air matanya jatuh, tapi bukan karena menyesal, melainkan karena malu dan marah. "Aku nggak suka dia, Mas Al! Sejak dia datang, Mas nggak pernah lagi mampir ke warung Ibuku! Mas lebih milih berendam di lumpur sama cewek kota ini daripada liat aku!"
Mika yang sejak tadi diam, merasa darahnya mendidih. Rasa sedihnya kemarin kini bermutasi menjadi amarah yang meledak. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Lilis.
"Mbak Lilis, kenapa harus ngelakuin ini?!" teriak Mika, suaranya bergetar karena emosi. "Mbak tau nggak, alat ini itu bermanfaat banget buat warga di sini! Kalau alat ini jalan, air di keramba Mbah Darmo bersih, ikan-ikan warga nggak mati! Ini bukan cuma soal tugas KKN saya, ini soal perut warga desa Mbak sendiri!"
Lilis mendongak, menatap Mika dengan kebencian murni. "Halah, kamu cuma mau cari muka depan Mas Alvaro kan?"
"Kalau Mbak marah sama saya, pukul aja saya! Sini, balas ke fisik saya kalau itu bisa bikin Mbak puas!" Mika mendekatkan wajahnya, menantang. "Tapi jangan ngerusak hasil kerja keras orang lain yang tujuannya buat kebaikan. Itu namanya pengecut!"
Mika menarik napas panjang, matanya menatap Lilis dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang tajam. "Dan satu lagi.... Kalau Mbak cemburu, Mbak mending ngaca. Cantik wajah kalau hatinya busuk nggak bakal bikin Pak Kades ngelirik. Sikap Mbak yang kayak gini malah bikin Bapak makin ilfeel!"
Mika berbalik dengan sentakan kasar, meninggalkan Lilis yang menangis histeris karena malu diteriaki di depan warga. Mika berjalan menjauh dengan hati yang sangat dongkol. Ia tidak peduli lagi dengan citra "mahasiswi ramah" yang selama ini ia bangun.
"Sialan tuh perempuan. Gue pasti bales perbuatan dia. Belum tau dia siapa gue kalau udah ngamuk," gerutu Mika pelan sambil menyeka keringat di dahinya dengan kasar.
Sore harinya, setelah alat berhasil terpasang kembali berkat bantuan warga, Alvaro meminta Mika untuk datang ke kantornya di Balai Desa untuk menandatangani berita acara perusakan. Namun, Balai Desa sudah sepi karena jam kerja telah usai.
Mika masuk ke ruangan Alvaro dengan wajah yang masih ditekuk. Ia membanting pintu pelan, lalu duduk di kursi depan meja Alvaro.
"Masih marah?" tanya Alvaro tanpa mendongak dari berkasnya.
"Menurut Bapak? Saya hampir jantungan gara-gara dia, Pak. Dia pikir dia siapa bisa ngerusak barang seenaknya?" sahut Mika ketus.
Alvaro berdiri, ia berjalan memutari mejanya dan duduk di tepi meja, tepat di depan Mika. Ia memperhatikan Mika yang napasnya masih memburu karena emosi. Tiba-tiba, Alvaro mengulurkan tangannya, menarik kursi Mika agar lebih dekat padanya hingga lutut mereka bersentuhan.
"Lilis sudah saya beri sanksi sosial. Dia harus membersihkan balai desa selama sebulan dan meminta maaf di depan rapat warga besok," ucap Alvaro rendah. Suaranya kini terdengar berbeda, lebih dalam dan bergetar.
Mika mendongak, matanya bertemu dengan mata gelap Alvaro. Jarak mereka sangat dekat. Di ruangan yang mulai gelap karena matahari sudah tenggelam, suasana mendadak berubah menjadi sangat intens.
"Bapak... kenapa liatin saya kayak gitu?" bisik Mika. Amarahnya perlahan menguap, digantikan oleh debaran jantung yang menggila.
Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengulurkan tangannya, mengelus rahang Mika dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa panas, membakar kulit Mika. "Kamu tadi sangat berani. Saya tidak pernah melihat sisi 'singa' kamu yang seperti itu."
Mika menelan ludah. "Saya cuma bela hak saya, Pak."
"Saya tahu..." Alvaro condong ke depan. Napasnya yang hangat menerpa wajah Mika. Aroma kopi dan aroma khas pria yang maskulin dari tubuh Alvaro begitu memabukkan. "Dan saya juga tahu, bagian 'ngaca' tadi... itu cukup telat. Karena saya memang sudah tidak bisa berhenti melirik kamu sejak hari pertama kamu jatuh ke sungai."
Mika terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Alvaro meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi Mika, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan meja kerja. Suasana di ruangan itu menjadi sangat panas, oksigen seolah menipis.
Alvaro menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Mika. "Kamu bilang mau balas perbuatan Lilis? Lupakan dia. Balas saja saya... karena sudah membuat kamu menderita selama di sini."
Sentuhan Alvaro kini berpindah ke tengkuk Mika, menariknya perlahan agar semakin dekat. Mika bisa merasakan panas dari tubuh Alvaro yang menguar. Di keremangan kantor itu, batasan antara Kepala Desa yang kaku dan mahasiswi yang pembangkang benar-benar lebur.
"Pak Alvaro..." rintih Mika pelan, tangannya tanpa sadar meremas kemeja Alvaro.
"Panggil saya Al kalau kita sedang berdua saja, Mikayla," bisik Alvaro sebelum ia mendaratkan kecupan lembut namun menuntut di dahi Mika, lalu turun ke pipinya, menyisakan jejak panas yang membuat seluruh tubuh Mika bergetar.
Mika menyadari, pembalasan dendamnya pada Lilis tidak ada apa-apanya dibanding "hukuman" manis yang sedang diberikan Alvaro padanya saat ini. Di balik pintu kantor yang tertutup rapat, Desa Asih menjadi saksi bahwa di antara puing-puing perusakan, ada sebuah perasaan yang meledak lebih dahsyat dari apa pun.