NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Sangat Normal

Sinar matahari sore masuk melalui jendela ruang tamu rumah keluarga Amatsuki, memantul lembut di lantai kayu yang bersih. Suasana rumah terasa hangat dan tenang—jenis ketenangan sederhana yang jarang dimiliki dunia luar, tetapi justru sangat berharga bagi seseorang seperti Douma Amatsuki (Amatsuki douma)

Di sofa panjang berwarna krem, Douma duduk santai dengan posisi setengah rebahan. Di tangannya, remote televisi berpindah-pindah saluran sebelum akhirnya berhenti pada anime favoritnya. Layar TV menampilkan adegan pertarungan dramatis, lengkap dengan efek cahaya berlebihan yang membuatnya tersenyum kecil.

Di meja depan sofa, sebuah laptop terbuka. Halaman situs resmi sekolah masih terpampang jelas, dan sebuah kolom hasil seleksi tampak belum di-refresh sejak beberapa menit lalu.

Douma melirik layar laptop, lalu kembali ke TV.

“Tenang saja… tidak mungkin gagal,” gumamnya percaya diri, lalu menggigit keripik kentang.

Beberapa detik berlalu.

Ia melirik lagi.

Masih sama.

“Servernya pasti lemot…”

Ia menekan tombol refresh sekali lagi—lalu kembali menatap TV seolah tidak peduli, meskipun jari kakinya bergerak-gerak gelisah di atas karpet.

Dari dapur terdengar suara piring beradu pelan.

“Douma, sudah keluar hasilnya?” suara ibunya terdengar lembut.

“Belum, Bu! Tapi sebentar lagi pasti keluar!” jawab Douma dengan nada optimistis yang nyaris terlalu percaya diri.

Tak lama kemudian, langkah kaki mendekat. Ibunya, Keiko Amatsuki, muncul membawa nampan kecil berisi teh hangat. Wanita itu memiliki aura tenang dan hangat, jenis ibu yang kehadirannya saja sudah membuat rumah terasa lebih hidup. Rambutnya diikat sederhana, dan senyum tipis selalu menghiasi wajahnya.

“Ayahmu sebentar lagi pulang. Katanya hari ini eksperimen di laboratorium selesai lebih cepat.”

Douma mengangguk. “Baguslah. Biar Ayah sekalian dengar kabar baik.”

“Kalau kabarnya tidak baik?”

Douma menyeringai lebar. “Mustahil.”

Ibunya tertawa kecil. “Percaya diri sekali.”

Douma hendak menjawab ketika layar laptop tiba-tiba berubah—halaman memuat ulang otomatis.

Keduanya refleks menoleh.

Daftar nama hasil seleksi muncul satu per satu.

Douma memajukan badan, menatap layar dengan mata fokus.

Beberapa detik hening.

Lalu—

“YUHUUUU!!! AKU LULUS!!!”

Teriakannya menggema ke seluruh rumah.

“Ibuuu! Ayahhh! Anak tampanmu ini lulus masuk Hoshikawa Elite Senior High School!”

Ia berdiri di atas karpet sambil mengangkat kedua tangan seperti atlet yang baru menang lomba. Laptop nyaris jatuh karena gerakannya terlalu heboh.

ibunya tertawa sambil menutup telinga. “Iya, iya, ibu dengar!”

Douma menunjuk layar. “Jalur beasiswa berprestasi, loh! Lihat! Lihat!”

“Ya ampun, ibu percaya. Duduk dulu sebelum kamu menjatuhkan laptop.”

Pintu depan terbuka hampir bersamaan dengan suara langkah kaki berat.

“Kenapa rumah sampai bergetar?” suara pria terdengar dari arah lorong.

Hiroshi Amatsuki, ayah Douma, masuk sambil melepas jas kerjanya. Pria itu masih mengenakan pakaian formal laboratorium—kemeja rapi dengan lengan sedikit digulung, wajahnya tampak lelah tetapi hangat.

Douma langsung berlari menghampiri.

“Ayah! Aku lulus! Hoshikawa Elite High School! Jalur beasiswa!”

Ayahnya mengangkat alis, lalu tersenyum lebar. “Serius?”

Douma memutar laptop menghadap ayahnya dengan ekspresi penuh kemenangan.

Ayahnya membaca beberapa detik, lalu tertawa kecil dan mengacak rambut anaknya. “Bagus sekali. Seperti yang Ayah harapkan.”

Douma mendengus. “Ayah seolah-olah tidak pernah ragu.”

“Ayah memang tidak pernah ragu. Anak Ayah kan jenius.”

“Bukan jenius. Hanya tampan, pintar, dan berbakat.”

“Percaya diri sekali.”

Ibunya menggeleng sambil tersenyum. “Kalian berdua sama saja.”

Ayahnya duduk di sofa lalu berkata, “Kalau begitu Ayah akan mengambil cuti tepat pada hari pertama kamu masuk sekolah. Biarkan Ayah yang mengantarmu.”

Douma langsung mengibaskan tangan. “Ah, tidak perlu, Ayah. Aku sudah dewasa.”

Ayahnya tertawa keras. “Dewasa apanya. Kamu baru saja lulus SMP!”

“Umur bukan penentu kedewasaan.”

“Kalimat itu tidak berlaku untuk anak yang masih minta tambahan uang jajan.”

Douma mendengus. “Itu investasi masa depan.”

Ibunya menyela sambil meletakkan piring di meja. “Baik, cukup. Sebelum kalian berdebat lebih jauh, makan dulu.”

Di atas piring kecil tersusun rapi beberapa mochi isi kacang merah, makanan favorit Douma. Permukaannya halus, sedikit berkilau, dan aroma manisnya langsung memenuhi ruang tamu.

Mata Douma langsung berbinar. “Mochi! Ibu memang yang terbaik.”

“Tentu saja. ibu tahu hari ini kamu tegang.”

Douma mengambil satu dan langsung menggigit. “Enak sekali…”

Ayahnya menatap mereka dengan ekspresi hangat. “Rumah jadi lebih ramai sejak kamu lulus smp.”

Douma mengangkat alis. “Seolah-olah sebelumnya aku tidak membuat rumah ini ramai.”

“Oh, kamu selalu ramai. Tapi sekarang kamu resmi menjadi anak SMA elit.”

Douma menyeringai. “Sekolah elit atau bukan, aku tetap Douma yang sama.”

Ibunya tersenyum pelan mendengar kalimat itu. “Tetaplah seperti itu.”

Beberapa saat mereka makan sambil berbincang ringan. Percakapan kecil, tawa sederhana, dan suasana rumah yang damai membuat sore itu terasa begitu hangat.

Douma memandang kedua orang tuanya sesaat tanpa berkata apa-apa.

Inilah yang ia inginkan.

Kehidupan biasa.

Rumah hangat.

Keluarga yang tertawa bersama tanpa mengetahui apa pun tentang masa lalu yang pernah ia tinggalkan.

Ayahnya menepuk pundaknya ringan. “Ayah tetap akan mengantarmu hari pertama.”

“Ayah keras kepala sekali.”

“Ayah ilmuwan. Keras kepala adalah syarat pekerjaan.”

ibunya tertawa. “Kalau begitu ibu juga ikut. Sekalian jalan-jalan.”

Douma menutup wajah dengan tangan. “Memalukan sekali.”

“Kenapa? Kamu anak kami.”

“Itu justru masalahnya.”

Mereka kembali tertawa.

Di luar rumah, angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon di halaman. Segalanya tampak begitu normal—terlalu normal, seolah dunia sengaja memberi jeda sebelum sesuatu berubah.

Douma menatap layar TV yang masih menampilkan adegan pertempuran anime. Karakter utama di sana melepaskan serangan cahaya besar yang membuat langit terbelah.

Ia tersenyum kecil.

“Berisik sekali,” gumamnya.

Tak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa jauh di luar sana, sesuatu yang tak terlihat baru saja bergerak—sebuah riak kecil di dimensi yang tidak tersentuh manusia, seakan merespons keberadaan seseorang yang kini sedang duduk santai memakan mochi.

Douma mengambil satu lagi, lalu bersandar nyaman di sofa.

Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati sore biasa bersama keluarganya.

Karena ia tahu, cepat atau lambat…

kehidupan normal yang ia pilih dengan susah payah mungkin tidak akan dibiarkan bertahan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!