NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hari persidangan.

Seorang gadis berdiri di kursi terdakwa dengan pakaian tahanan berwarna kusam. Kedua tangannya terborgol di depan tubuhnya. Wajahnya pucat, matanya sembab akibat tangis yang tak berhenti sejak semalam.

Ruang sidang dipenuhi orang-orang yang datang bukan untuk bersimpati, melainkan untuk menyaksikan akhir dari kisahnya.

Di kursi tengah, hakim memimpin persidangan dengan wajah datar. Berkas perkara di tangannya dibuka perlahan. Suara kertas yang dibalik terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang menyesakkan.

“Berdasarkan bukti, saksi, dan fakta persidangan, pengadilan memutuskan terdakwa, Jessica Zhou, bersalah atas pembunuhan berencana terhadap kedua orang tuanya sendiri.”

Suara hakim itu terdengar tegas, tanpa keraguan sedikit pun.

Jessica langsung terduduk lemas. Lututnya tak lagi mampu menahan tubuhnya. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, sementara napasnya memburu tak terkendali.

Beberapa orang di ruang sidang bertepuk tangan pelan, merasa keadilan telah ditegakkan. Tatapan mereka penuh kepuasan.

Di bangku pengunjung, keluarga Jessica yang hadir tampak sedih.

“Yang Mulia, saya tidak setuju… saya ingin mengajukan banding,” suara Jessica bergetar, nyaris tak terdengar. “Saya tidak membunuh mereka. Saya dijebak…”

Hakim tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada berkas di tangannya.

Tiba-tiba, seorang pria berdiri dari kursi pengunjung. Wajahnya menunjukkan kekecewaan.

“Jessica, Papa dan Mama begitu mencintaimu dan memanjakanmu. Kau tega sekali membunuh mereka. Hukuman ini pantas kau terima,” ucapnya lantang, membuat semua mata menoleh padanya.

Jessica menoleh cepat. Matanya membesar.

“Kakak… percayalah padaku. Aku tidak membunuh mereka,” ucapnya lirih, penuh harap, meski suaranya nyaris patah.

“Saat kejadian hanya kau, Papa, dan Mama yang berada di rumah. Siapa lagi kalau bukan kau yang membunuh mereka? Bahkan pisau itu terdapat sidik jarimu. Semua bukti di lokasi kejadian mengarah padamu,” ucap pria itu tegas.

Namanya Nico Zhou—kakak kandung Jessica.

Kata-katanya seperti palu yang menghantam berulang kali.

Belum sempat Jessica membela diri, seorang wanita di samping Nico ikut berdiri. Wajahnya terlihat sedih, namun nada suaranya menyiratkan kekecewaan yang dalam.

“Jessica, dari dulu hingga sekarang Papa selalu memberimu segalanya, lebih dari kami. Karena kau anak bungsu, kau selalu dimanjakan. Kami sebagai kakakmu selalu mengalah dan memanjakanmu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau mengecewakan kami,” ucap wanita itu.

Ia adalah Catty Zhou, kakak perempuan Jessica.

Air mata Jessica kembali jatuh. Dadanya terasa sesak mendengar tuduhan yang datang dari darah dagingnya sendiri.

“Kakak… percayalah padaku. Bukan aku…” suaranya bergetar hebat. “Bukankah di rumah masih ada rekaman CCTV? Kenapa tidak dikeluarkan?”

“Terdakwa, tolong jaga sikapmu!”kata Hakim dengan nada tegas.

“Jessica, CCTV sudah dirusak sebelum kejadian. Dan soal CCTV, hanya kita yang tahu letaknya,” ujar Catty dengan suara bergetar, air matanya jatuh satu per satu. “Kau sangat teliti sampai merusak barang bukti agar bisa lolos dari hukuman. Tapi siapa sangka pisau itu menyimpan sidik jarimu dengan jelas. Bahkan bekas cengkeraman di leher Mama juga sidik jarimu. Semuanya terbukti. Sampai sekarang pun kau masih menyangkal?”

Setelah mengatakan itu, Catty menutup wajahnya, berbalik pergi dari ruang sidang. Nico segera menyusul di belakangnya.

Di bangku paling belakang, seorang pria paruh baya menggeleng pelan. Ia menghela napas panjang, tatapannya penuh penilaian.

“Sebuah keluarga besar dan terkemuka, berakhir dengan tragis,” gumamnya lirih. “Kakak, Kakak Ipar, Putri kesayangan kalian telah mengecewakan kalian.”

Isak tangis Jessica semakin pecah. Ia berusaha membela diri, namun tidak ada yang peduli.

“Saya tidak melakukannya… saya tidak membunuh mereka…” ucapnya berulang kali dengan suara parau.

Namun dua petugas sudah berdiri di sampingnya. Mereka menarik kedua lengannya, menyeretnya keluar dari ruang sidang tanpa memberi kesempatan lagi untuk berbicara.

Tangisan Jessica menggema pelan di lorong pengadilan, sebelum akhirnya menghilang bersama langkah kaki para petugas yang membawanya pergi.

***

Kota S

Seorang pria muda melangkah keluar dari gedung pengadilan dengan dagu terangkat tinggi. Wajahnya tenang, bahkan nyaris angkuh, setelah hakim menyatakan dirinya bebas dari tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan.

Kilatan kamera menyambar-nyambar wajahnya.

“Tuan Julian! Apa komentar Anda setelah divonis tidak bersalah?”

Belum sempat ia menjawab, teriakan parau memecah kerumunan.

“Kembalikan putri kami!”

Sepasang suami istri renta menerobos barisan wartawan. Rambut mereka telah memutih, tubuhnya gemetar, namun amarah dan duka membuat langkah mereka tetap maju.

Sang ibu memukul dada Julian dengan tangan rapuhnya.

Sang ayah mencengkeram jas mahal yang dikenakan pria itu.

“Pembunuh! Kembalikan anak kami!”

Julian mendorong keduanya tanpa belas kasihan. Tubuh tua itu terjatuh ke aspal.

“Putri kalian yang menggoda aku,” ucap Julian datar, bibirnya menyungging senyum tipis. “Aku hanya memuaskan keinginannya. Dia bunuh diri, bukan urusanku. Hakim sudah memutuskan aku tidak bersalah.”

Pengacaranya segera mendekat.

“Tuan Hu, silakan. Mobil sudah menunggu.”

Para pengawal membentuk barikade, melindunginya dari amukan massa.

Namun sebelum pergi, Julian membungkuk. Ia menarik kerah baju sang ayah hingga wajah mereka sejajar.

Suaranya sangat pelan. Hanya pria tua itu yang bisa mendengarnya.

“Kau tahu?” bisiknya. “Aku sangat menikmati suara tangisan putrimu. Dia memohon agar aku berhenti… tapi tubuhnya membuatku ketagihan.”

Napas sang ayah tercekat.

“Setelah aku puas… aku menenggelamkannya di air.”

Julian menepuk pipi pria tua itu pelan.

“Hukum itu soal uang. Tanpa uang, kalian bukan siapa-siapa.”

Ia berdiri kembali, merapikan jasnya, lalu berjalan pergi diiringi kilatan kamera, meninggalkan sepasang orang tua yang hancur di tengah kerumunan.

Di kejauhan, seseorang berada di dalam mobil memperhatikan semua itu dalam diam.

Sorot matanya tajam. Dingin.

Pria bersetelan rapi itu berhenti di parkiran yang sepi. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan segera menekan sebuah nomor.

Panggilan tersambung.

“Hallo, ada apa?” suara seorang pria terdengar dari seberang.

“Kirim semua berkas kasus Julian Hu sekarang juga. Dan selidiki hakim yang menangani sidangnya hari ini,” perintahnya tanpa basa-basi.

Terdengar helaan napas panjang di ujung sana.

“Adrian… apa lagi yang ingin kau lakukan? Terakhir kali kau ikut campur, tersangka pencurian itu hampir mati tenggelam karena ulahmu."

Tatapan Adrian menajam ke arah mobil mewah yang membawa Julian meminggalkan lokasi.

“Julian Hu tidak boleh bebas,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku akan pastikan dia menerima balasan yang setimpal.”

Hening sejenak.

“Adrian, jangan bertindak di luar batas hukum lagi.”

Sudut bibir Adrian terangkat tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Aku akan pastikan brengsek itu menangis dan memohon padaku. Malam ini tunggu kabar dariku!"

"Hei, Hei, apa lagi yang kau ingin lakukan?" tanya pria itu dengan cemas.

"Hanya ingin menguburnya hidup-hidup, sebelum aku menjatuhkan hukuman mati padanya," jawab Adrian yang memutuskan panggilan.

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!