Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30:Pertarungan Melawan Gravemaster
Pertarungan pun dimulai. Dan ini adalah pertarungan yang paling sulit dan paling melelahkan yang pernah Kaelen dan Lira alami sejauh ini. Mereka tidak hanya harus bertarung melawan Gravemaster yang sangat kuat dan sangat cerdas, tapi mereka juga harus bertarung melawan ribuan kerangka dan mayat hidup yang tidak pernah habis-habisnya. Selain itu, aura kematian yang pekat yang ada di sekitar mereka terus menyedot energi dan kekuatan mereka, membuat mereka merasa semakin lelah dan semakin lemah setiap detik yang berlalu.
Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Mereka menggunakan semua kekuatan dan keterampilan yang mereka pelajari dari Eldric. Kaelen menggunakan kekuatan esnya untuk membekukan kerangka-kerangka, untuk menciptakan tembok-tembok es yang melindungi mereka dari serangan bola energi Gravemaster, dan untuk menyerang Gravemaster dengan serangan-serangan es yang kuat dan tepat. Lira menggunakan kekuatan cahaya emasnya untuk menyerang Gravemaster, untuk menciptakan perisai cahaya yang melindungi mereka dari asap racun dan serangan musuh, dan untuk menyembuhkan luka-luka kecil yang mereka dapatkan selama pertarungan. Dia juga menggunakan kekuatan cahaya emasnya untuk melawan aura kematian yang ada di sekitar mereka, membuat mereka merasa sedikit lebih segar dan lebih bertenaga.
Mereka juga bekerja sama dengan sangat baik. Mereka saling melindungi, saling membantu, dan saling mendukung. Mereka menggunakan strategi yang tepat, mencari kelemahan Gravemaster, dan menyerang dia dengan cara yang paling efektif.
Namun, Gravemaster ternyata jauh lebih kuat dan lebih tangguh daripada yang mereka bayangkan. Setiap kali mereka menghancurkan kerangka-kerangka atau mayat hidup yang dia kirim, dia bisa dengan mudah membangkitkan yang baru lagi dari dalam tanah. Dan setiap kali mereka menyerang dia dengan kekuatan es atau cahaya emas, serangan itu seringkali tidak berpengaruh banyak padanya karena dia memiliki kekuatan kematian yang sangat besar dan sangat kuat yang melindunginya.
"Sialan!" geram Kaelen, merasa sangat frustrasi dan lelah. "Dia tidak pernah habis-habisnya. Kerangka-kerangka itu terus muncul lagi dan lagi. Dan serangan kita hampir tidak berpengaruh padanya."
Lira juga merasa sangat lelah dan putus asa. Tubuhnya terasa sangat sakit, dan energinya hampir habis. "Apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia? Kita tidak bisa terus bertarung seperti ini selamanya. Kita akan kehabisan energi dan mati."
Kaelen berpikir keras sambil terus bertarung. Dia tahu bahwa mereka harus menemukan cara untuk mengalahkan Gravemaster dengan cepat dan sekali jalan. Dia teringat apa yang dikatakan oleh Eldric tentang Gravemaster. Eldric pernah mengatakan bahwa Gravemaster sangat terikat dengan Tanah Kematian ini, dan bahwa kekuatannya berasal dari tanah ini dan dari semua kematian yang telah terjadi di sini. Tapi Eldric juga pernah mengatakan bahwa setiap penyihir kematian pasti memiliki sebuah "fokus" atau sebuah benda yang menjadi sumber kehidupan dan kekuatan utama mereka, sebuah benda yang jika dihancurkan akan membuat mereka mati atau kehilangan kekuatan mereka selamanya.
"Lira!" teriak Kaelen kepada Lira sambil menghindari serangan bola energi Gravemaster. "Ingatlah apa yang dikatakan oleh Tuan Eldric tentang Gravemaster! Dia pasti memiliki sebuah fokus atau sumber kekuatan utama! Kita harus mencari tahu di mana itu dan menghancurkannya!"
Lira mengangguk, dan dia mulai memperhatikan Gravemaster dengan lebih teliti. Dan kemudian, dia melihat sesuatu yang menarik. Setiap kali Gravemaster mengerahkan kekuatannya yang besar atau membangkitkan mayat-mayat, ada sebuah batu kecil berwarna hijau gelap yang bersinar terang di ujung tongkat tulangnya yang dia pegang dengan sangat erat. Itu pasti fokusnya! Itu pasti sumber kekuatan utamanya!
"Yang Mulia!" teriak Lira. "Lihatlah di ujung tongkatnya! Ada batu hijau gelap di sana! Itu pasti fokusnya! Itu pasti sumber kekuatannya! Kita harus menghancurkan batu itu jika kita ingin mengalahkan dia!"
Kaelen melihat ke arah tongkat Gravemaster, dan dia melihat batu hijau gelap itu bersinar terang. "Benar! Itu dia! Sekarang, Lira! Kita harus mengalihkan perhatiannya, dan kemudian kita akan menyerang batu itu bersama-sama!"
"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira.
Kaelen dan Lira pun mulai melaksanakan rencana mereka. Kaelen mulai menyerang Gravemaster dengan lebih agresif dari depan, menciptakan badai es yang besar dan dahsyat yang menghantam Gravemaster dari segala arah, membuat Gravemaster sibuk untuk melindungi dirinya dan untuk memecahkan es-es yang menutupi tubuhnya.
Sementara itu, Lira bergerak diam-diam dari samping, mengerahkan semua kekuatan yang tersisa di dalam dirinya. Dia merasakan kekuatan cahaya emasnya dan kekuatan es Kaelen berkumpul menjadi satu, menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar dan kuat. Dia mengangkat tangannya, dan sebuah bola energi gabungan yang sangat besar—yang berwarna biru bercampur emas—terbentuk di telapak tangannya.
"SEKARANG!" teriak Kaelen dan Lira secara bersamaan.
Kaelen menciptakan sebuah serangan es yang sangat besar dan kuat yang menghantam Gravemaster tepat di wajahnya, membuatnya terkejut dan terpaku sejenak. Dan pada saat yang sama, Lira melemparkan bola energi gabungan itu dengan sekuat tenaga ke arah batu hijau gelap di ujung tongkat Gravemaster.
Gravemaster terkejut, dan dia mencoba untuk memindahkan tongkatnya atau melindunginya. Tapi dia terlambat. Bola energi itu menghantam batu hijau gelap itu dengan kekuatan yang sangat besar dan dahsyat.
Terdengar suara ledakan yang sangat keras dan mengerikan, dan cahaya yang terang menyelimuti seluruh tempat itu. Saat cahaya itu meredup, batu hijau