Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukanmu
Brukkk!
Suara tubuh menghantam tanah basah, memecah kesunyian hutan Ashwood. Burung-burung beterbangan panik dari dahan, dedaunan tampak beterbangan, sementara sungai kecil di dekatnya tetap mengalir tenang, seolah tak peduli pada kekacauan yang baru saja terjadi.
Seorang gadis tergeletak di antara batu dan lumpur. Napasnya tersengal, berat, dan nyaris terputus. Pakaiannya sobek di beberapa bagian dengan sekujur tubuh yang basah terkena air sungai. Darah segar terlihat mengalir dari paha kanannya. Rasa sakit menjalar tajam, membuat tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan.
Drap drap drap!
Langkah kaki terdengar samar di kejauhan.
Gadis itu berusaha bangkit. Pandangannya mulai kabur, suara dari dalam hutan terasa menjauh, seolah dunia menarik dirinya perlahan ke dalam gelap.
...----------------...
Tak jauh dari sana, seorang pemuda sedang berjongkok di tepi sungai kecil yang sama. Tangannya terendam air dingin, menarik jaring sederhana berisi ikan-ikan kecil yang berkilau pucat di bawah sinar rembulan malam.
Gerakannya tenang dan terlatih, seolah waktu di sekitarnya berjalan lebih lambat. Ia hidup dari hutan dan sungai itu. Dari kebiasaan yang tak pernah berubah.
Pemuda itu berdiri, menggantungkan jaring di bahu, lalu menyusuri tepian sungai untuk mencari tanaman obat. Udara malam terasa lembap, aroma tanah basah setelah hujan memenuhi napasnya. Segalanya terasa seperti hari biasa, sampai tiba-tiba suara itu terdengar.
Brukkk!
Langkahnya terhenti seketika. Pemuda itu menoleh ke arah hulu sungai. Jantungnya berdetak lebih cepat. Suara itu tidak terdengar alami. Bukan ranting patah atau hewan tergelincir.
Ia meraih pisau kecil di pinggangnya,bukan senjata, melainkan hanya alat kerja. Dengan cepat ia melangkah pelan menyusuri aliran air. Setiap langkah terasa lebih berat, seolah hutan menahan napas bersamanya.
Dan di sanalah ia melihatnya. Seorang gadis berpakaian serba hitam, tergeletak di antara bebatuan sungai. Pemuda itu terdiam terpaku. Rambut panjang gadis tersebut terurai, menutupi sebagian wajah pucat nya. Pakaian yang ia kenakan robek sana-sini, dan tidak seperti pakaian orang desa pada umumnya. Ada darah di mana-mana, batin si pemuda sedikit ngeri.
Ia mulai berlutut dengan hati-hati. Wajah gadis itu hanya dipenuhi lecet ringan, namun saat pandangannya turun ke bawah, napasnya sempat tertahan. Paha bagian kanan gadis itu robek dan berlumuran darah.
Luka robek yang dalam, seperti bekas terkena benda tajam. Darah masih mengalir pelan terbawa arus sungai, meninggalkan jejak merah tipis di antara batu-batu. Pemuda itu mulai menyentuh perlahan leher si gadis dengan dua jarinya. Denyut nadi masih terasa, namun semakin melemah.
"Masih hidup" gumamnya lirih.
Pada saat yang sama, kelopak mata gadis itu terlihat bergerak. Pandangan kaburnya menangkap sosok bayangan seorang pria muda dengan wajah yang cukup asing. Cahaya remang rembulan yang menembus sela dedaunan membuat wajah itu semakin samar, seperti potongan mimpi yang sulit diraih. Siapa? batin si gadis.
Gadis itu ingin bicara dan bertanya,namun napasnya tersangkut di tenggorokan. Dunia berputar pelan dan suara dari dalam hutan mulai menghilang. Belum sempat ia menyimpan wajah itu dalam ingatan, seketika semua menjadi gelap.
Pemuda itu menegang saat tubuh gadis itu kembali melemas. Ia melihat sekeliling, tampak jejak kaki di lumpur serta bekas darah yang terseret. Nalurinya berteriak satu hal yang sama berulang kali jika gadis itu dalam bahaya!.
Tanpa banyak berpikir, ia melepas jaket luarnya dan menekan luka di paha gadis tersebut untuk menghentikan pendarahan. Darah mulai meresap ke kain, namun alirannya melambat.
Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tubuhnya si gadis terasa ringan namun tegang. Otot-ototnya padat seperti tubuh seseorang yang terbiasa bergerak cepat.
Klak!
Sesuatu terjatuh dari balik pakaian gadis itu saat ia berdiri. Sebuah benda kecil dari logam, dingin dan berat. Pemuda itu menatapnya sekilas, lalu menyimpannya ke saku. Ia tidak terlalu memperdulikan, karena yang terpenting saat ini ialah menyelamatkan nyawa seseorang.
...----------------...
Perjalanan pulang kembali ke rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap suara membuatnya menoleh, setiap bayangan terasa mencurigakan. Namun pada akhirnya mereka tiba tanpa mengalami gangguan.
Sebuah rumah kayu, berdiri sederhana di tepian hutan Ashwood. Pemuda itu dengan perlahan membaringkan gadis tersebut di ranjang miliknya. Sebuah ranjang berukuran sedang yang tidak terlalu tinggi.
Dengan cepat ia mengambil air hangat dan kain bersih lalu membersihkan luka itu secara perlahan. Rahangnya tampak mengeras, melihat betapa parahnya luka sayatan di paha gadis itu. Jika ia datang lebih lambat, entah apa yang akan terjadi pada gadis tersebut.
Gadis itu mulai mengerang pelan, tubuhnya menegang meski dalam keadaan tak sadar. Tangannya refleks bergerak, mencengkeram seprai seolah mencari sesuatu yang hilang.
"Tenanglah," gumam pemuda itu pelan, "Aku sedang mengobati mu."
Namun bahkan dalam keadaan kritis, gadis itu tidak pernah benar-benar pasrah. Ia tetap mengerang pelan seiring dengan ramuan obat yang dibubuhkan pada luka nya.
...----------------...
Waktu pun berlalu, cahaya mentari mulai memancarkan sinarnya. Suara burung-burung serta hewan lainnya terdengar mengalun seperti biasanya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Gadis itu mulai membuka mata dengan napas tersengal. Netra hijau nya mengedar, mengamati setiap bagian ruangan yang asing. Langit-langit kayu yang lembap, serta jendela yang terbuka lebar, menandakan jika ia sedang berada di dalam ruangan kamar seseorang.
"Kau sudah bangun?."
Suara rendah namun lembut dari seorang pemuda membuat si gadis menoleh dengan waspada. Sejenak pandangan keduanya saling bertemu. Pemuda itu terlihat membawa sebuah nampan berisi obat dan makanan.
"Jangan banyak bergerak," kata si pemuda, "lukamu bisa terbuka lagi."
Gadis itu hanya terdiam tanpa menanggapi, ia berusaha mengingat rangkaian kejadian yang menimpanya semalam. Kejadian yang membuatnya hampir kehilangan nyawa.
Sementara itu pemuda di hadapannya belum tahu, bahwa malam dimana ia menemukan seorang gadis sekarat di tepian sungai, adalah sebuah takdir yang akan mengubah drastis alur hidupnya.