Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Tak Terduga
“Gisella Amanda?” panggil petugas teller.
Seorang gadis dengan rambut lurus tergerai yang masih mengenakan seragam putih abu-abu mengangkat tangan. Ia melangkah tenang menuju meja teller.
“Ini buku tabungannya, Kak. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu ramah.
“Tidak, terima kasih,” jawab Gisel singkat.
Ia menerima buku tabungan itu, mengangguk sopan, lalu melangkah keluar dari bank.
Udara siang itu terasa membakar. Setelah memasukkan buku tabungannya ke dalam tas, Gisel menyusuri trotoar dan berhenti di sebuah gerobak es doger. Aroma santan dan sirup manis terasa begitu menggoda di tengah cuaca yang menyengat.
“Satu ya, Bang. Makan di sini,” pesannya.
Saat sedang menunggu, si penjual es bertanya sambil menyiapkan pesanan, “Adiknya nggak dibelikan juga, Neng?”
Gisel mengernyit heran. “Adik mana, Bang? Saya sendiri, kok.”
“Lho, itu siapa?” Si Abang menunjuk ke arah belakang Gisel.
Gisel menoleh dan tersentak. Seorang gadis kecil berdiri tepat di belakangnya, nyaris menempel. Gisel sama sekali tidak merasa diikuti sejak keluar dari bank tadi. Gadis itu tampak rapi, namun matanya memancarkan kebingungan. Apa anak ini tersesat? pikirnya.
“Hai, anak cantik. Namamu siapa? Orang tuamu di mana?” tanya Gisel lembut.
Bukannya menjawab, gadis kecil itu malah menunjuk ke arah gerobak es doger. Gisel mengedikkan bahu, menganggap anak itu hanya lapar. “Ya sudah, satu lagi ya Bang buat dia.”
Gisel duduk di bangku kayu panjang yang disediakan. Gadis kecil itu mengekor, duduk tepat di samping Gisel. Ia memperhatikan cara Gisel menyuap es, lalu menirunya dengan antusias. Sebuah senyum merekah di wajah kecilnya saat rasa dingin dan manis menyentuh lidahnya.
“Orang tuamu di mana, Sayang?” Gisel mencoba lagi, namun nihil.
Ia beralih ke penjual es. “Abang lihat anak ini datang dari mana?”
“Nggak tahu, Neng. Tiba-tiba sudah di belakang situ.”
“Apa mungkin orang tuanya tadi mampir terus dia tertinggal?”
“Nggak mungkin. Dari tadi belum ada pelanggan yang bawa anak kecil,” sahut si Abang mantap. “Bawa ke kantor polisi saja, Neng!”
Gisel mendengus kasar. Kantor polisi adalah tempat terakhir yang ingin ia datangi. Enggan ambil pusing, ia kembali memperhatikan anak di sampingnya. Bocah itu tampaknya berusia sekitar lima tahun, tapi caranya makan berantakan seperti anak yang baru belajar menyuap. Mulutnya penuh lelehan merah sirup, bahkan pakaian mahalnya mulai kotor.
Tak tega melihatnya, Gisel mengeluarkan tisu, mengusap mulut gadis itu, lalu mulai menyuapinya dengan telaten. Gisel memutuskan untuk menunggu di sana sebentar. Logikanya, orang tua yang kehilangan anak pasti akan menyisir jalan ini.
Sementara itu, suasana di dalam bank mendadak kacau. Arlan Bramantyo, dengan tubuh tegap dan gurat kepanikan di wajahnya, berlari menyisir area teller hingga customer service.
“Ketemu, Pak Arlan!” teriak seorang sekuriti yang memantau CCTV.
Arlan segera menghampiri. “Mana?”
“Dia mengikuti siswi ini keluar bank, Pak.”
“Siapa dia? Ada yang kenal?” Arlan menatap tajam ke arah layar yang menunjukkan punggung seorang gadis berseragam SMA. Para sekuriti menggeleng. Mereka hanya ingat membukakan pintu, tanpa memperhatikan detail wajahnya.
“Dia tadi ke teller nomor dua, Pak,” lapor sekuriti lainnya.
Arlan tidak membuang waktu. Ia menunggu dengan tidak sabar hingga teller itu selesai melayani pelanggan. Beruntung, sang petugas masih mengingat pelanggan terakhirnya.
“Namanya Gisella Amanda, Pak,” ujar teller tersebut.
“Bisa aku minta data alamat atau nomor teleponnya?”
Petugas itu tampak ragu. “Maaf, Pak… tapi data nasabah bersifat rahasia.”
Arlan mengeram frustrasi, namun ia sadar aturan tetap aturan. Ia segera meminta sekuriti memutar CCTV area luar untuk melihat ke arah mana mereka pergi. Setelah melihat arahnya, Arlan langsung berlari menyusuri trotoar, bertanya pada setiap orang yang ia temui.
Langkahnya terhenti di sebuah bengkel. Seorang montir memberitahunya bahwa ia melihat seorang siswi SMA membawa anak kecil menuju gerobak es doger di ujung jalan. Arlan berlari secepat yang ia bisa. Jantungnya nyaris mencelat saat melihat pemandangan di sana: putri kecilnya sedang tertidur pulas di pangkuan seorang gadis berseragam abu-abu.
“Maaf, itu anak saya,” kata Arlan terengah sambil mendekat.
Gisel tidak langsung menyerahkannya. Ia menatap Arlan dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menyelidik. “Apa buktinya? Di berita lagi banyak penculikan anak.”
Arlan tertegun. Meski penampilannya rapi dan berkelas, ia sadar kewaspadaan gadis ini benar. Ia segera merogoh ponsel, menunjukkan foto-foto kebersamaannya dengan sang putri serta foto kartu keluarga digitalnya.
Duda? batin Gisel saat melihat nama yang tertera di sana.
Gisel bergerak hendak memindahkan gadis kecil itu ke pelukan ayahnya, namun gerakan itu justru membuat si bocah terbangun.
“Tidak! Tidak mau!” teriak gadis kecil itu histeris, malah mengeratkan pelukannya di leher Gisel.
Arlan menghela napas panjang, wajahnya tampak lelah. “Sayang, ayo kita pulang. Kakak ini juga mau pulang.”
Gadis kecil itu menggeleng kuat-kuat, matanya mulai berkaca-kaca.
“Cantik, pulang sama Papa dulu, ya? Besok Kakak traktir es doger lagi,” bujuk Gisel lembut.
“Kamu memberinya es doger?!” suara Arlan mendadak meninggi, membuat gadis kecil itu tersentak dan mulai menangis.
Gisel tidak gentar. Ia balik menatap Arlan dengan berani. “Kalau iya, kenapa? Memangnya tidak boleh? Kalau keberatan, jaga anaknya yang benar jangan sampai kecolongan! Bukan salah saya kalau dia lapar.”
Arlan terdiam, mengembuskan napas kasar untuk meredam emosinya. Ia lupa bahwa gadis di depannya ini tidak tahu kondisi istimewa putrinya.
“Keira sayang, ayo pulang. Papa janji kita ke taman bermain nanti,” bujuk Arlan lagi dengan nada yang lebih melunak.
“Keira?” gumam Gisel.
“Ya. Namanya Keira Zivanna. Dan dia tidak bisa sembarangan makan,” jelas Arlan singkat.
Ia menatap putrinya yang masih enggan lepas dari Gisel. “Di mana rumahmu? Biar aku antar. Sekalian membujuknya agar mau masuk ke mobil.”
“Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri.”
“Anggap saja ini rasa terima kasih saya. Tunggu di sini, aku ambil mobil dulu,” putus Arlan tanpa menunggu persetujuan.
Ia berbalik pergi dengan langkah cepat.
“Rezeki nomplok, Neng! Diantar orang kaya,” goda penjual es doger yang sejak tadi menonton.
Gisel hanya bisa mendengus kesal. Ia benci dipaksa, apalagi oleh pria asing yang tampak dominan itu.
Terima kasih apanya? Dia cuma menjadikanku tameng supaya anaknya berhenti menangis, gerutunya dalam hati sambil menatap Keira yang kini kembali tenang di pelukannya.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏