Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Bukan Gantung Diri atau Patah Hati
"Nyi Inggit, kulo bantu..."
"Mboten usah, mboten usah, Raden! Raden pinarak kemawon teng lincak niku, kulo sing ngumbah sayur niki."
Belum sempat Cakrawirya menyelesaikan kalimatnya, Nyi Inggit sudah berlari kecil menghampiri dan merampas siwur batok kelapa dari tangan pemuda itu, wajah keriputnya menyiratkan kepanikan yang luar biasa.
"Gusti nu agung, Raden, jenengan duduk manis mawon teng mriku," omel Ndari tak sungkan, menyindir Cakrawirya yang kini mengenakan pakaian batur desa yang kedodoran.
"Niatnya membantu malah bikin repot. Kalau Raden sampai terpeleset lagi dan bajunya basah kuyup, kulo harus pinjam baju siapa lagi? Baju Kang Karyo sudah kulo pinjam semua!"
Ndari tertawa tanpa beban, menertawakan kejadian beberapa saat lalu saat Cakrawirya bersikeras menimba air di sumur pekarangan belakang, namun justru terpeleset lumpur dan membuat surjan lurik mewahnya basah kuyup berlumur tanah.
Meskipun kini hanya mengenakan celana komprang hitam dan baju kaus oblong khas petani Mataram yang sudah pudar warnanya, ketampanan dan aura bangsawan pemuda itu anehnya tidak berkurang sedikit pun.
"Ndari, kowe ini mboten adil," rajuk Cakrawirya dengan nada dibuat-buat sedih, duduk di lincak bambu sambil menopang dagu.
"Meski tadi kulo terpeleset, tapi Nyi Inggit memuji irisan daging sapiku sangat rapi. Betul kan, Nyi?"
Cakrawirya mencari pembelaan pada pengasuh tua itu dengan senyum yang bisa meluluhkan hati wanita manapun.
"Nggih, leres, irisan daging Raden pancen rapi sanget," jawab Nyi Inggit cepat, tersenyum keibuan melihat tingkah pemuda bangsawan yang tak canggung bergaul dengan mereka.
Melihat Cakrawirya tertawa lepas berdebat dengan Ndari, hati Nyi Inggit menghangat. Pesanggrahan yang biasanya sepi bagai kuburan ini mendadak terasa hidup dan ceria bak sebuah rumah yang sesungguhnya.
Sawitri duduk di sudut pendopo, tangannya sibuk menumbuk akar Somjawa di dalam lumping batu kecil, namun matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Cakrawirya.
"Cara dia memotong daging urat tadi... bukan potongan sembarangan," batin Sawitri menganalisis.
Setiap irisan Cakrawirya begitu presisi, memisahkan fasia otot dari serat daging hanya dengan satu tarikan pisau dapur tumpul.
Itu bukan keterampilan memasak. Itu adalah memori otot seorang ahli pedang yang terbiasa membelah anatomi manusia di medan perang.
Dan kapalan tipis di sela ibu jari dan telunjuk tangannya... itu bekas pegangan gagang pedang atau keris pusaka, bukan cangkul.
"Siapa sebenarnya pemuda ini?" gumam Sawitri sangat pelan, meragukan perkenalan awal Cakrawirya sebagai "kerabat jauh" Adipati Sasongko.
Matahari mulai condong ke barat, bayang-bayang pohon beringin memanjang menutupi pesanggrahan.
Perayaan Grebeg Maulud di pusat kota mungkin sedang mencapai puncaknya, namun di pesanggrahan terpencil ini, mereka merayakannya dengan cara mereka sendiri.
Makan sate sapi bersama, menikmati es gempol plered yang tersisa, dan bertukar tawa.
Bagi jiwa Sawitri yang seumur hidup di era modern hanya berteman dengan keheningan mayat dan laporan autopsi, momen ini terasa asing, namun anehnya... menghangatkan rongga dadanya.
Malam itu, Sawitri tertidur sangat lelap, sebuah kemewahan yang jarang ia rasakan sejak terbangun di tubuh rapuh putri Tumenggung ini.
Namun, tidur lelapnya tak berlangsung lama.
Sebuah tangan besar membekap mulutnya dengan kuat, menahan napasnya seketika.
Mata Sawitri terbuka lebar, tangannya refleks bergerak membentuk kuncian mematikan ke arah leher sosok di atasnya.
"Sstt... ini kulo. Lepaskan kuncianmu, Ndara Tabib. Kulo mboten berniat mencekikmu dalam tidur."
Suara bariton yang berat dan familiar itu berbisik tepat di telinganya, membawa aroma khas kayu cendana yang menenangkan.
Sawitri melepaskan cengkeramannya, menatap tajam ke arah siluet Cakrawirya yang berjongkok di samping dipannya, diterangi cahaya rembulan yang mengintip dari celah atap.
"Logika macam apa yang membenarkan seorang pria menyelinap ke kamar perawan di tengah malam buta, Cakrawirya?" desis Sawitri sangat pelan namun mematikan.
"Logika bahwa kulo mboten ingin membangunkan pengasuhmu yang cerewet itu," jawab Cakrawirya santai, tak sedikit pun terintimidasi oleh aura membunuh Sawitri.
"Bangunlah, Ndara Tabib. Ada mayat segar yang butuh dibedah malam ini juga."
Mendengar kata 'mayat', insting forensik Sawitri langsung mengambil alih. Rasa kantuk dan kesalnya menguap tanpa sisa.
"Lingsir wengi begini?" tanya Sawitri sambil beranjak turun dari dipan, meraih kebaya panjangnya.
"Leres. Ki Lurah Wirapati sudah menunggumu di luar pagar. Ini kasus sensitif, Adipati meminta penyelidikan rahasia sesuai kesepakatan kita."
Sawitri melangkah keluar dari pesanggrahan melalui pintu belakang tanpa suara, mendapati Ki Lurah Wirapati berdiri gelisah di samping kereta kuda tertutup.
Mereka memacu kereta menembus kabut malam Mataram yang pekat dan dingin.
Tujuan mereka bukan Balai Pemeriksaan Kadipaten, melainkan sebuah rumah joglo megah di pinggiran kota yang dijaga ketat oleh beberapa prajurit kepercayaan.
Di ruang tengah joglo itu, Adipati Sasongko tampak berdiri tegang bersama seorang pria paruh baya yang menangis tersedu-sedu meratapi sosok tubuh di atas dipan kayu jati.
"Itu Ki Demang Suryanegara dari wilayah utara, dan yang terbujur kaku itu adalah putra tunggalnya, Raden Mas Danuarga," bisik Cakrawirya di telinga Sawitri saat mereka melangkah masuk.
"Beliau ditemukan mati di kamarnya dengan secarik surat wasiat. Prajurit menyimpulkan bunuh diri, tapi Ki Demang mboten percaya."
Sawitri melangkah mendekat, auranya mendadak berubah menjadi sangat profesional dan menekan, membuat isak tangis Ki Demang terhenti seketika.
"Beri kulo ruang. Mboten wonten yang boleh mendekat dalam radius dua langkah," perintah Sawitri mutlak.
Ia mengabaikan tatapan heran Ki Demang yang melihat seorang gadis belia mengambil alih penyelidikan.
"Ki Lurah, catat."
Sawitri mengambil penjepit bambu, menyingkap kain penutup wajah jenazah pemuda itu.
"Korban, laki-laki. Perkiraan usia dua puluh tahun. Kaku mayat sudah sempurna di bagian rahang dan leher, estimasi kematian enam hingga delapan jam lalu."
Matanya yang setajam elang memindai setiap detail.
"Mboten wonten tanda jeratan. Namun..."
Sawitri mendekatkan wajahnya ke arah mulut korban, mengendus aroma aneh yang keluar dari sana.
"Ada darah hitam mengering di sudut bibir. Ini bukan kematian alami."
Ia mengambil sebatang jarum perak dari kotaknya, menusukkannya ke gumpalan darah hitam itu. Jarum perak itu seketika berubah warna menjadi hitam pekat.
"Reaksi arsenik," gumam Sawitri rasional. "Korban mati diracun, bukan gantung diri atau patah hati."
"Gusti! Anak kulo diracun?!" Ki Demang Suryanegara histeris, nyaris jatuh pingsan jika tak ditahan oleh Adipati.
"Tunggu dulu," Sawitri mengangkat sebelah tangannya, menghentikan kepanikan itu.
Ia membuka paksa rahang jenazah yang sudah kaku, menyorotkan cahaya pelita minyak ke rongga mulut.
"Ada robekan paksa di mukosa pipi bagian dalam dan gusi yang berdarah. Racun ini mboten diminum secara sukarela..."
Mata Sawitri memicing tajam, menatap lurus ke arah Adipati Sasongko.
"Dia dipaksa menelan racun ini saat sedang meronta."
Sawitri kemudian menyingkap pakaian atas jenazah, dan seketika ruangan itu hening mencekam.
"Ada memar defensif di kedua lengan bawah. Tanda korban mencoba melindungi diri dari pukulan benda tumpul."
Ia meraba tulang rusuk kiri korban dengan hati-hati.
"Krepitasi," gumamnya. "Tulang rusuk ketiga dan keempat patah akibat hantaman benda keras. Ini pembunuhan yang disamarkan dengan sangat amatir."
"Bedah perutnya," perintah Sawitri tiba-tiba, menoleh ke arah Cakrawirya.
"Kulo perlu melihat isi lambungnya untuk mengetahui rentang waktu pasti sejak makan malam terakhir hingga ia dibunuh."
Cakrawirya tertegun sejenak, lalu tersenyum miring.
"Kulo hanya pengawal bayangan malam ini, Ndara Tabib. Silakan Anda yang mengeksekusinya."
Sawitri mendeham dingin. Ia mengambil pisau bedah tertajam dari kotaknya.
Tanpa keraguan sedikit pun, ia menempelkan ujung pisau itu di ulu hati jenazah pemuda bangsawan itu, bersiap membelah rahasia kelam yang disembunyikan sang pembunuh di dalam perut korbannya.