Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALUR YANG TAK SEHARUSNYA DIPILIH
Liang Chen sudah tahu ada yang salah bahkan sebelum ia sempat menyebutnya sebagai firasat.
Langkah pertamanya di jalur itu terasa ringan—terlalu ringan. Tanahnya padat, tidak becek oleh embun pagi. Rumput di kiri-kanan terpangkas rendah oleh lalu lintas yang tidak kasatmata. Pepohonan tumbuh jarang, cukup untuk menaungi tanpa benar-benar menghalangi cahaya matahari.
Jalur seperti ini biasanya aman.
Dan justru karena itulah ia tidak menyukainya.
Ia melambat tanpa sadar. Bukan karena mendengar sesuatu, melainkan karena tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Selama bertahun-tahun, Liang Chen belajar satu hal sederhana: dunia jarang menawarkan kenyamanan tanpa menagih harga di belakang.
Ia berhenti.
Angin pagi menyusup melalui sela dedaunan, membawa aroma tanah kering dan getah pohon. Tidak ada bau bangkai. Tidak ada jejak darah. Tidak ada tanda perkelahian.
Semuanya tampak biasa.
Terlalu biasa.
Liang Chen menghela napas, membiarkan udara dingin memenuhi paru-parunya sebelum perlahan dilepaskan kembali. Ia hampir tertawa kecil pada dirinya sendiri.
“Curiga pada jalan,” gumamnya pelan. “Kau makin tua.”
Namun ia tetap melangkah maju.
Beberapa puluh langkah kemudian, sesuatu di tepi jalur menarik perhatiannya—bukan karena mencolok, tetapi karena posisinya tidak selaras dengan lingkungan sekitar.
Seorang pria tergeletak di bawah pohon besar, setengah bersandar pada akar yang menonjol dari tanah. Kakinya terjepit tidak wajar, tubuhnya miring seperti seseorang yang kehabisan tenaga di tengah upaya terakhir untuk berdiri.
Liang Chen tidak langsung mendekat.
Ia berhenti pada jarak yang cukup untuk mengamati tanpa terlibat. Tatapannya menyapu tanah lebih dulu, bukan wajah pria itu. Ia mencari jejak—ranting patah, tanah yang teraduk, bekas langkah yang terburu-buru.
Hampir tidak ada.
Itu yang membuatnya semakin waspada.
Pria itu masih hidup. Napasnya pendek dan tersendat, dadanya naik turun dengan irama yang tidak stabil. Balutan kasar melilit pahanya, kainnya sudah menghitam oleh darah kering. Ikatannya salah arah. Tekanannya tidak merata.
Bukan kerja tangan orang yang terbiasa bertahan.
Liang Chen mendekat satu langkah, lalu berhenti lagi.
Dulu, ia pernah langsung menolong tanpa berpikir panjang. Waktu itu ia percaya bahwa niat baik cukup untuk menghindari masalah. Ia belajar dengan cara yang mahal bahwa dunia tidak bekerja seperti itu.
Pria di bawah pohon membuka mata perlahan. Tatapan mereka bertemu sebentar sebelum kelopak mata itu turun kembali, seolah bahkan mengangkatnya pun terasa berat.
“Namamu?” tanya Liang Chen.
Suaranya tenang, tanpa nada empati berlebihan. Ia tidak menawarkan simpati sebelum tahu siapa yang berdiri di hadapannya.
“Xu Fan,” jawab pria itu cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang hampir pingsan.
Liang Chen menangkap jeda yang tidak ada. Orang yang jujur biasanya butuh sepersekian detik untuk memastikan suaranya keluar.
Ia tidak menunjukkan bahwa ia menyadarinya.
Liang Chen berjongkok dan membuka balutan lama itu. Bau darah yang sudah mulai membusuk tipis menyentuh hidungnya. Lukanya dalam, tapi tidak mematikan dalam waktu dekat—kecuali infeksi mengambil alih.
“Siapa yang membalut ini?” tanyanya sambil membersihkan luka dengan air dari kantong kecil di ranselnya.
“Aku sendiri.”
Itu lebih masuk akal.
Tangannya bergerak cekatan, menarik kain baru dan mengikatnya dengan tekanan yang merata. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lembut. Xu Fan meringis, rahangnya menegang, namun tidak berteriak.
Liang Chen mengangguk kecil. “Kau masih ingin hidup.”
Xu Fan tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip refleks daripada ekspresi bahagia.
“Aku jatuh,” katanya setelah beberapa saat.
Liang Chen berhenti mengikat simpul terakhir dan menatapnya. “Dari mana?”
Xu Fan tidak langsung menjawab. Matanya bergerak singkat ke arah ransel di punggung Liang Chen, lalu kembali ke wajahnya.
“Dari orang-orang yang tidak ingin aku tetap berdiri.”
Jawaban yang lebih jujur, meski masih setengah.
Liang Chen berdiri dan memandang jalur yang baru saja ia lalui. Jika pria ini benar dikejar, maka pengejarnya tahu cara bergerak tanpa meninggalkan banyak tanda. Itu bukan kabar baik.
Ia seharusnya pergi sekarang.
Melanjutkan perjalanan. Membiarkan urusan ini tetap menjadi milik orang lain.
Namun kakinya tidak bergerak.
Ada sesuatu dalam cara Xu Fan menahan rasa sakit—bukan keberanian, melainkan keputusasaan yang terlalu teratur. Seperti seseorang yang tidak sekadar lari dari kematian, tetapi membawa sesuatu yang lebih berat darinya.
“Apa kau bisa berjalan?” tanya Liang Chen.
“Bisa. Tidak cepat.”
Itu sudah cukup.
Mereka bergerak menyusuri jalur dengan ritme yang ditentukan Liang Chen. Stabil. Terukur. Tidak ada langkah sia-sia. Xu Fan tertatih, tetapi tidak mengeluh. Setiap kali ia hampir kehilangan keseimbangan, ia memaksa dirinya untuk tetap tegak.
Menjelang sore, hutan berubah.
Bukan karena warna langit atau arah angin. Melainkan karena ketiadaan suara.
Burung-burung yang sebelumnya terdengar samar kini lenyap. Tidak ada gesekan kecil dari hewan pengerat. Hutan menahan napasnya.
Liang Chen berhenti.
Xu Fan hampir menabraknya dari belakang.
“Kita tidak sendiri,” ucap Liang Chen pelan.
Ia menarik Xu Fan ke balik batang pohon tumbang yang cukup tebal untuk menahan pandangan sekilas. Liang Chen melangkah kembali ke jalur, berdiri di tengahnya seolah hanya seorang pejalan yang sedang beristirahat.
Ia tidak menghunus senjata.
Dua sosok muncul dari tikungan belakang beberapa saat kemudian.
Langkah mereka ringan, terlatih. Pakaian mereka tidak mencolok, tetapi cara mereka memandang sekitar mengungkapkan kebiasaan memburu.
“Kami hanya mencari seseorang,” kata yang lebih tinggi, suaranya hampir sopan.
Liang Chen memiringkan kepala sedikit. “Hutan ini luas.”
“Tidak seluas jarak yang ia tempuh.”
Itu cukup sebagai pengakuan.
Pria kedua menggeser berat badannya sedikit—persiapan yang hampir tak terlihat bagi orang biasa.
Liang Chen bergerak lebih dulu.
Ia menutup jarak dalam dua langkah cepat, telapak tangannya menghantam pergelangan tangan lawan sebelum pedang sempat diangkat penuh. Sudutnya tepat; bukan untuk mematahkan, hanya melonggarkan kendali.
Logam itu jatuh dengan bunyi tumpul.
Setengah detik berikutnya ia gunakan untuk memukul tenggorokan lawan. Pendek. Presisi. Tanpa tenaga berlebihan.
Pria pertama tumbang dengan suara tercekik.
Yang kedua sudah mencabut pedang.
Liang Chen mundur sepersekian langkah, membiarkan bilah itu menyapu udara kosong, lalu masuk ke sisi dalam serangan. Siku menghantam rusuk. Nafas lawan terputus. Dalam gerakan yang sama, Liang Chen menarik pisau kecil dari ranselnya.
Pisau itu tampak usang, tapi mata pisaunya terawat.
Ia tidak memberi kesempatan untuk serangan kedua.
Hutan kembali sunyi, seolah peristiwa barusan hanyalah gangguan singkat dalam rutinitasnya.
Liang Chen berdiri beberapa detik, memastikan tidak ada langkah lain mendekat. Lalu ia menyeret kedua tubuh itu menjauh dari jalur utama.
Xu Fan keluar dari persembunyiannya perlahan. Wajahnya pucat, bukan hanya karena luka.
“Kau… bukan pengelana biasa,” katanya.
Liang Chen menyeka pisaunya pada kain, lalu menyimpannya kembali. “Aku hanya belajar untuk bergerak lebih dulu.”
Xu Fan menatapnya dengan sesuatu yang sulit dibaca—kekaguman, ketakutan, atau mungkin perhitungan baru.
Malam turun lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
Mereka berhenti di cekungan kecil yang terlindung oleh bebatuan rendah. Liang Chen membuat api kecil, cukup untuk menghangatkan tanpa menarik perhatian. Xu Fan duduk diam, tangannya sesekali menyentuh bagian dalam pakaiannya, seolah memastikan sesuatu masih ada di sana.
Liang Chen memperhatikannya tanpa terlihat memperhatikan.
Ia sudah terlibat terlalu jauh.
Dua mayat di jalur itu akan ditemukan. Orang-orang yang mengirim mereka tidak akan berhenti hanya karena dua nama berkurang dari daftar.
Angin malam berdesir lembut, membawa hawa dingin yang merayap pelan ke tulang.
Liang Chen memejamkan mata sejenak, berniat beristirahat bergantian dengan Xu Fan. Namun pikirannya tetap terjaga, menghitung kemungkinan demi kemungkinan.
Ia sadar akan satu hal sebelum akhirnya rasa lelah menariknya ke dalam tidur tipis:
Jalur itu memang terlalu tenang.
Dan ketenangan seperti itu biasanya bukan awal dari sesuatu yang sederhana.
Di kegelapan, Xu Fan membuka mata.
Tangannya perlahan mengeluarkan benda kecil terbungkus kain dari balik pakaiannya—sebuah segel logam dengan ukiran yang hampir tak terlihat dalam cahaya api.
Ia menatapnya lama.
Lalu melirik ke arah Liang Chen yang tampak tertidur.
Hutan tetap sunyi.
Tapi sesuatu telah bergerak.