Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Freya Emine baru saja turun dari pesawat setelah dua minggu dinas di luar kota. Alih-alih langsung pulang ke rumah, ia justru mengarahkan langkah ke apartemen kekasihnya, William.
Ya, hari ini adalah hari jadi mereka yang pertama. Itu sebabnya, ia ingin memberi kejutan pada kekasihnya.
Freya bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika melihat kotak kue kecil dan tas berisi hiasan yang telah ia siapkan sejak kemarin.
"Kau baru pulang dari dinas, bukannya pulang malah ke apartemen William. Apa kau tidak lelah?" tanya Risa dari seberang telepon.
"Tidak apa-apa, Ris. Aku ingin merayakan anniversary pertama kami. Lagipula, dia belum pulang jadi, aku bisa menyiapkan semuanya lebih dulu," jawab Freya sambil menata pita perak yang ia tempel di dinding kamar William.
"Ya, ya, ya... dasar bucin," gumam Risa malas.
Freya terkekeh pelan. Bayangan William terkejut melihat dekorasi sederhana itu membuat hatinya penuh antusias. Ia bahkan sempat melirik cermin, sekadar memastikan wajahnya tidak terlalu kusut setelah perjalanan panjang.
"Oh iya, Frey. Apa dia sudah tahu tentang keluargamu?" tanya Risa tiba-tiba, dengan nada suara sedikit menegang.
Freya terdiam sesaat. "Belum, dia belum tahu tentang keluargaku. Tapi, aku berniat memberitahunya nanti," ucapnya pelan.
Tepat saat itu, suara pintu utama apartemen terdengar terbuka. Freya refleks mengangkat wajahnya. "Eh, sepertinya William sudah pulang. Aku tutup dulu, ya."
"Baiklah, semoga sukses."
"Thanks."
Freya mematikan sambungan, lalu meredupkan lampu kamar. Dengan hati berbunga, ia membuka pintu sedikit, berniat menyelinap keluar dan memberikan kejutan.
Punggung William terlihat jelas dari celah pintu, membuat Freya tersenyum lebar, senyum yang hanya bertahan dua detik, karena saat pria itu berbalik, ia tidak sendirian.
William meraih pinggang seorang wanita, menariknya dalam ciuman panas. Tangan mereka saling menjelajahi, napas mereka saling bertaut, dan desahan kecil terdengar jelas dalam apartemen yang sunyi.
Freya membeku, senyumnya runtuh. Detak jantungnya tersentak seperti diinjak keras-keras.
Ia tidak mampu bergerak, tidak mampu bersuara. Dunia seperti berhenti di saat bibir William kembali menempel di leher wanita itu.
"Aku menginginkanmu, Grace," bisik William penuh gairah.
"Aku milikmu, sayang. Puaskan aku," lirih wanita yang di panggil Grace.
Keduanya jatuh di sofa dengan tubuh William yang menindih Grace. Bibir mereka saling bertautan, namun tangan mereka sangat terampil membuka busana satu sama lain, seolah hal itu sudah biasa.
Air mata Freya merembes tanpa bisa di tahan. Dan, malam yang seharusnya penuh cinta dan kebahagiaan berubah menjadi awal dari luka paling dalam di hidupnya.
Freya menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara. Air mata yang tadi menetes ia hapus cepat dengan punggung tangannya. Napasnya bergetar, tapi matanya justru menjadi lebih tajam.
"Aku bersemangat memberi mu kejutan, tapi justru aku yang terkejut. Baiklah, aku akan memberi hadiah yang tidak akan pernah bisa kau lupakan." Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Tangannya sempat gemetar, bukan karena ragu, tapi karena marah dan kecewa yang menumpuk di dadanya.
Dengan satu sentuhan, kamera ponsel aktif. Freya menahan napas, lalu mulai merekam, tanpa suara, tanpa reaksi berlebihan dan, tanpa menangis lagi.
Ia merekam bagaimana William menciumi wanita itu, bagaimana tangan mereka bergerak ke mana-mana, bagaimana mereka tertawa kecil sambil membisikkan sesuatu yang terdengar menjijikan.
Hingga sampai pada penyatuan mereka, Freya memalingkan wajahnya. Namun, suara lenguhan keduanya bagaikan belati yang menusuk hingga menembus dadanya
Setiap detik terasa begitu menyakitkan. Tapi, Freya tidak berhenti merekam. Tidak, sebelum ia merasa cukup. Tidak, sebelum ia yakin bahwa semua ini bukan mimpi buruk sesaat.
Beberapa detik kemudian, ia menurunkan ponsel. Tatapannya kosong, hatinya remuk namun, kepalanya terasa dingin.
Freya keluar, lalu perlahan menutup pintu kamar. . Ia tahu William tidak akan menyadari apa pun, termasuk keberadaan dirinya karena pria itu terlalu sibuk dengan pengkhianatan nya.
Tanpa menoleh lagi, Freya berjalan ke pintu apartemen, dan pergi begitu saja.
Namun, saat berjalan di lorong apartemen, Freya berhenti sejenak, hanya untuk menarik napas panjang. Bukan untuk menenangkan diri tapi, untuk menegaskan satu hal, bahwa pengkhianatan ini adalah awal dari sesuatu yang tidak pernah William bayangkan.
"Kau harus membayar mahal atas apa yang kau lakukan, William."
Udara malam terasa menusuk ketika Freya keluar dari lift dan berjalan ke arah parkiran apartemen. Lampu-lampu redup, angin yang dingin dan, suasana sunyi yang terlalu sepi membuat langkahnya terasa berat. Ia berhenti di dekat mobilnya, bersandar pelan sambil mencoba menenangkan diri.
Hatinya masih bergetar. Dadanya terasa sesak. Ia menutup mata, menarik napas panjang, berusaha membuang bayangan William yang bercumbu dengan wanita lain. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama karena, tiba-tiba seseorang membekapnya dari belakang menggunakan sekelebat kain yang berbau menyengat.
"Mm!" Freya terkejut, refleks tangannya mencengkram lengan orang itu, berusaha melepaskan diri. Namun, berusaha sekeras apapun, tenaganya tidak ada apa-apa di bandingkan orang itu.
"Lepaskan!" lirihnya, suaranya teredam.
Namun, efek zat pada kain itu bekerja cepat. Pandangannya kabur, tubuhnya melemah. Dan, dalam hitungan detik semuanya gelap, Freya tidak sadarkan diri.
...****************...
Freya mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa berat, seolah baru bangun dari tidur panjang. Tangannya refleks menyentuh pelipis, merasa pusing yang menekan.
"Ini... apa yang terjadi?" gumamnya lirih.
Satu persatu ingatan datang bertubi-tubi, Mulai dari kejutan yang ia siapkan untuk William, perselingkuhan itu, rekaman lalu, seseorang yang membekap dan membiusnya.
Freya mendadak terlonjak bangun. Napasnya memburu, tatapannya cepat menyapu ruangan. Namun, keningnya langsung mengerut saat melihat ruangan itu yang cukup familiar.
"Ini, kan... " gumamnya tidak percaya.
"Kau sudah sadar, sayang?"
Suara itu membuat Freya menoleh. Matanya langsung membesar. "Papa? Mama? Kalian... "
"Apa?" potong Evelyn cepat, nadanya terdengar dingin dan kesal.
Freya mendengus, wajahnya berubah masam. "Kenapa Mama marah? Harusnya aku yang marah, karena kalian sudah menculik putri kalian sendiri," gerutunya.
Evelyn mengangkat dagu, tatapannya tajam. "Jika kami tidak menculik mu, apa kau akan pulang, hah?"
Freya berdecak pelan, enggan menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, menahan rasa kesal.
Jacob mendekat, suaranya lembut namun, tersirat ketegasan di dalamnya.
"Sudah cukup main-mainnya, sayang. Sekarang, kau harus kembali ke keluarga Orlando dan menikah."
"APA?"