NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mimpi yang tak pernah pergi

"BRAKK!"

Gadis kecil itu terbangun, tersentak kaget. Ia segera terduduk, jerit teriakan saling sahut menyahut, aroma busuk bagaikan bangkai menyeruak menusuk hidung. Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, tiba-tiba

"BLARR!!"

Tembok batu didepannya roboh, membuat mata kuning keemasannya membelalak, tampak olehnya suatu entitas, suatu makhluk yang seharusnya tidak ada.

tubuh basah tinggi, tersusun dari bubur hitam pekat yang mengkilap, terbuat dari kotoran, lumpur, dan sisa-sisa tulang dan organ makhluk hidup yang menyembul dari permukaannya seperti pecahan cangkang. Lengan-lengan tebalnya yang tidak berbentuk menjuntai, berlapis darah dan cairan kental yang terus menetes, mengubah jalanan yang ia pijak menjadi rawa busuk dengan suara lembek dan berat 'shluk...shluk...' disetiap langkahnya.

"GRRROOHH!!!!!"

Makhluk itu meraung, menggema bagai terompet pertempuran.

Gadis kecil itu terpana, lengan hijau zaitunnya bergetar hebat, ia tak mampu bergerak. Makhluk itu kembali mengangkat tinggi lengan lembeknya.

"BRAKK!!!!"

****************

Ursha'el tersentak bangun, ia melihat sekeliling. Dadanya naik turun cepat, telapak tangannya basah oleh keringat. Namun raungan itu telah lenyap, hanya ada keheningan pagi.

Cahaya matahari lembut menyelinap melalui jendela kayu di samping ranjangnya, memantul pada tirai tipis berwarna krem yang bergoyang perlahan tertiup angin. Dari luar terdengar suara burung dan hiruk-pikuk kota yang tenang, langkah kaki di jalan batu, denting jauh pandai besi, dan obrolan samar berbagai ras yang memulai hari tanpa rasa curiga. Udara kamar dipenuhi aroma bersih kayu tua dan apel matang. Bau rumah yang ia kenali.

'Mimpi itu lagi...'

Ursha’el tetap duduk di ranjang untuk beberapa detik, membiarkan detak jantungnya melambat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, menekan telapak tangannya ke ranjang seakan memastikan dunia di sekelilingnya benar-benar nyata. Sekilas pandang jatuh ke tangannya sendiri, hijau zaitun, berotot halus, penuh bekas latihan, bukan tangan kecil yang gemetar dalam mimpi.

Ursha'el mendesah pelan. Kemudian, dengan gerakan yang sudah terbiasa, ia merapikan selimut dan berdiri. Kamarnya rapi, di satu sisi, meja belajar penuh buku tebal dengan sampul berbagai warna. Di dinding tergantung jadwal pelajaran yang sudah penuh coretan, serta lencana akademi yang menandai tahun terakhirnya. Sebilah tongkat latihan sederhana bersandar di sudut ruangan, berdampingan dengan tas kulit yang sering ia bawa ke kelas.

Ia melangkah ke lemari kayu di sudut kamar. Engselnya berdecit pelan, ia meraih seragam Akademi Umum Kerajaan yang tergantung paling depan.

Kemeja dalam berwarna gading dan rompi kulit cokelat tua dengan gesper dan jahitan halus, dirancang agar tetap bisa bergerak bebas dan nyaman. Mantel luar hijau zamrud dengan bordir daun emas di tepinya jatuh panjang hingga betis, serta celana gelap yang pas di kaki.

Ia meletakkan pakaian itu di kursi, kemudian menuju kamar mandi. Air dingin pagi mengalir di kulit hijau zaitunnya, membawa sisa keringat mimpi buruk pergi.

'Sudah empat kali bulan ini...'

Aroma sabun herbal mengisi udara, saat selesai, dunia terasa lebih seimbang. Ia melangkahkan kakinya keluar.

Ursha'el berpakaian dengan gerakan cepat yang sudah terbiasa, lalu berhenti sejenak untuk menatap cermin diatas meja belajar. Pantulannya menatap balik.

Ursha’el adalah elf hijau, persilangan antara goblin dan elf, Kulitnya hijau zaitun, bersih dan sehat, dengan guratan bekas luka samar di wajah yang dia bahkan tidak ingat karena apa dan sejak kapan. Rambut hitam pekatnya tebal dan panjang, sedikit bergelombang. Matanya berwarna kuning keemasan, tajam, dengan sorot waspada. Gigi taring kecil tampak samar saat bibirnya mengatup, bukan ancaman, bahkan membuatnya terkesan manis. Telinganya panjang dan runcing, ciri darah non-manusia yang ia miliki, dihiasi anting sederhana dari bahan keramik ringan. Tubuhnya tinggi dan berotot ramping, hasil latihan bertahun-tahun di akademi.

Ia merapikan mantel hijau zamrudnya, menyematkan lencana tahun akhir di atas dada kirinya, dan memastikan gesper terpasang lurus.

“Cukup,” gumamnya pelan pada pantulan itu. Ursha’el meraih tas kulitnya lalu melangkah keluar.

Koridor rumah kayu itu diselimuti cahaya pagi yang menembus dari jendela. Dindingnya dipenuhi rak buku tua, sebagian besar milik orang tuanya, tak pernah ia sentuh. Bau roti panggang dan sup gandum mengalir dari meja makan, bercampur aroma apel yang selalu menjadi ciri rumah mereka.

Di meja makan kecil, Filea sudah duduk. Elf perempuan itu tampak anggun. Dengan wajah lembut serta mata coklat muda yang selalu tampak penuh perhatian. Ia sedang menuangkan sup gandum hangat ke dalam mangkuk tanah liat, uap tipis mengepul pelan.

"Pagi, sayang,” sambut Filea begitu melihat Ursha’el. Senyumnya mengembang, seolah pagi itu belum lengkap sebelum Ursha’el muncul. “Kau bangun tepat waktu.”

Ursha’el mengangguk kecil. “Pagi, Bu.”

Di seberang meja, Hiru sudah duduk sejak tadi. Pria manusia itu mengenakan kemeja sederhana berwarna gelap. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya tajam dan tenang, dengan sorot mata kelabu yang dingin, hampir terkesan mengintimidasi. Di depannya terbuka sebuah buku catatan sihir, penuh simbol dan rumus rumit yang tak pernah ia jelaskan.

Hiru mengangkat pandangan dari bukunya, menatap Ursha’el sejenak. “Kau tampak lelah,” katanya datar, hampir seperti pernyataan fakta ketimbang kekhawatiran.

Rahang Ursha'el sedikit mengeras, sekelibat potongan dari mimpi semalam kembali hadir didalam pikirannya. Memang, tidurnya semalam terasa tak nyaman karena mimpi aneh yang sama yang datang berkali-kali. Sempat terpikir oleh Ursha'el untuk menceritakannya, namun ia segera menepisnya dan hanya menarik kursi untuk duduk. “Aku baik-baik saja, Yah.”

Hiru menatap dalam-dalam Ursha'el dengan mata kelabunya. Ia tidak langsung menanggapi, ia menutup buku catatannya lalu mendorongnya ke sisi meja. Filea sudah meletakkan semangkuk sup gandum hangat di depan Ursha’el, lengkap dengan roti selai dan irisan apel segar. “Makan dulu,” kata Filea lembut. “Supnya masih panas.”

Ursha’el mengangguk, meraih sendok kayu, dan meniup permukaan sup sebelum menyesapnya perlahan. Hangatnya mengalir ke perut dengan rasa nyaman. Untuk beberapa detik, yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh mangkuk dan roti yang dipatahkan.

Hiru akhirnya bersuara. “Hari ini apa jadwalmu di akademi?”

“Pagi alkimia,” jawab Ursha’el sambil mengunyah roti. “Setelah itu latihan pertarungan jarak dekat. Sore… teori sihir bab terakhir, tentang jenis sihir terlarang.”

Hiru mengangguk pelan saat mendengar jadwal itu. Ujung jarinya mengetuk meja sekali, kebiasaan kecilnya ketika ia sedang menimbang sesuatu.

“Latihan jarak dekat?” tanya filea, lebih seperti mengulang ucapan Ursha'el. “Jangan lupa pemanasan, kalau ototmu tegang gerakan bisa lambat, bisa terkilir juga.”

Ursha’el mendengus kecil, nyaris tersenyum. “Aku selalu pemanasan, Bu.”

“Dan jangan lupa, hari ini kau pulang agak sore, kan? Aku buatkan bekal. apel dan roti bakar, kau suka itu.”

“Terima kasih, Bu."

Beberapa suap kemudian, mangkuk sup telah kosong. Ursha'el menghabiskan irisan apel terakhir, lalu menepuk-nepuk mantel agar remah roti tak menempel.

Hiru berdiri lebih dulu. Ia meraih mantel luarnya yang tergantung di punggung kursi, jubah gelap itu jatuh rapi di bahunya. Ia melangkah ke ambang rumah, menatap beberapa pohon apel yang bermandikan cahaya mentari pagi, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Sihir terlarang, ya....” kata Hiru tanpa menoleh. “Ingat satu hal, Ursha.”

“Apa itu?”

“Pengetahuan tidak selalu meminta untuk digunakan,” jawabnya datar. “Kadang ia hanya ingin dipahami, dan kemudian dikunci.”

Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Ursha’el mengangguk pelan, dadanya terasa menyempit. Ia tak tahu kenapa kata-kata itu terasa berat.

Filea berdiri dan merapikan kerah mantel Ursha’el dengan gerakan keibuan yang sudah ia lakukan sejak dulu, gestur sederhana yang memberi rasa nyaman. “Hati-hati dijalan.”

“Iya, Bu.” Ursha’el meneguk habis tehnya, lalu berdiri dari kursi. Ia meraih sepatu botnya yang terletak rapi di dekat pintu. Ia duduk sebentar, mengenakannya satu per satu.

“Aku berangkat,” katanya sambil meraih tas kulitnya.

Filea mengangguk, senyum lembut masih menggantung di wajahnya. Ia menyelipkan bungkusan kain kecil ke dalam tas Ursha’el. “Bekalmu. Jangan lupa dimakan.”

“Iya, Bu.” Ursha'el menuruni dua anak tangga kecil menuju halaman depan, lalu membalikkan badannya untuk melambaikan tangan.

Dari ambang pintu, Filea membalas lambaian itu dengan senyum lembut. Hiru berdiri sedikit di belakang, hanya menatap dengan ekspresi datar, namun tatapannya mengiringi langkah Ursha’el hingga ia benar-benar menjauh.

Ursha'el melintasi setapak batu di halaman rumah mereka yang ditumbuhi beberapa pohon apel, menuju jalan utama. Bendera hijau zamrud dengan lambang burung penjaga berwarna emas, sayap setengah terbuka berkibar di beberapa tiang di tepian jalan. Cahaya matahari memantul di bordirannya, membuatnya tampak hidup.

Ursha’el mencapai jalan utama dan berhenti di tepi trotoar jalanan batu yang lebih lebar. Di sana sudah ada beberapa orang yang tampak menunggu, sebagian saling menyapa, sebagian hanya menikmati pagi. Tak lama kemudian, suara khas itu terdengar.

Kletak—kletak—kletak.

Kereta kuda umum muncul dari tikungan, kusirnya, seorang manusia paruh baya dengan topi lebar, menarik tali kendali dan menghentikan kereta.

“Akademi! Pasar tengah! Perpustakaan!” serunya lantang.

Ursha’el melangkah masuk bersama yang lain. Ia duduk di bangku samping dekat jendela terbuka. Ia meletakkan tas di pangkuannya dan menatap keluar.

Kereta kembali bergerak. Di sepanjang jalan, tampak olehnya pemandangan dari jendela, seorang elf tua dengan tongkat kristal berjalan perlahan, dua goblin muda yang sibuk menjajakan daging bakar pada warga yang melintas, beberapa prajurit yang berdiri santai sambil mengawasi lalulintas pagi, tak ada tatapan curiga, hanya pagi yang normal di negri yang telah belajar hidup berdampingan.

Kereta berbelok ke jalan yang lebih lebar, diapit barisan patung batu kuno, tokoh-tokoh dari berbagai ras yang berdiri sejajar, wajah mereka diukir dengan ekspresi tegas dan bijak. Dari kejauhan, bangunan tinggi Akademi Umum Kerajaan mulai tampak.

Beberapa saat kemudian, kereta berhenti dengan hentakan ringan didepan gerbang besar yang dipahat dari batu kokoh dengan ukiran rune mantra pelindung. Padat oleh siswa-siswi dari berbagai ras.

“Akademi!, gerbang utama!" seru kusir.

Ursha’el berdiri dan melangkah turun. Ia meraih dua koin tembaga dari kantongnya, dan menyerahkannya.

“Terima kasih, nona hijau” ujar si kusir singkat sambil menerima koin dengan senyum ramah, kemudian ia memacu kembali kudanya.

Ursha'el berjalan bersama arus pelajar yang masuk. Di sekitarnya, berbagai ras bercampur dengan seragam yang sama tanpa canggung. Suara obrolan bercampur tawa ringan dan langkah kaki, suasana pagi yang khas di akademi.

Di gerbang utama, dua penjaga akademi berdiri tegak saat Ursha’el melintas dengan anggukan dan senyum tipis. Ia memasuki halaman rumput bersih berjalur batu yang dikelilingi gedung-gedung akademi yang menjulang tinggi, perpaduan arsitektur elf yang anggun, dinding tebal ala dwarf, serta tata ruang yang rapi khas manusia. Ursha’el melangkah ke selatan, menuju laboratorium alkimia, tak jauh dari gerbang utama.

Bangunan laboratorium alkimia lebih kokoh dari yang lain, dinding tebal, jendela besar dengan daun jendela kayu tanpa teralis, serta beberapa ventilasi besar dan cerobong-cerobong kecil di atapnya. Bau khas kelas alkimia langsung menyambut, rempah khusus, sulfur lembut, dan aroma herbal kering. Namun, ada yang berbeda pagi ini, Ursha'el bisa mencium aroma samar dari sesuatu yang lain, asing, namun terasa familiar, seperti aroma.....

'lumpur busuk?...'

Bayangan makhluk dalam mimpinya kembali hadir di dalam pikiran Ursha'el, Ursha'el berdecak dan menggelengkan kepalanya perlahan, membuang pikiran itu jauh-jauh. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, membuat dirinya merasa lebih rileks.

"Oke, fokus.." gumam Ursha'el pada dirinya sendiri, Ursha’el menarik napas sekali lagi, lalu ia mendorong pintu laboratorium dan melangkah masuk.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!