Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Arga Mulai Membangun Usaha dengan Berbagai Rintangan
Di pagi yang masih dingin di kawasan Sukun, Malang, Arga berdiri di depan lahan kosong seluas sekitar 50 meter persegi yang baru saja dia sewa dengan uang yang terkumpul selama tiga tahun. Udara pagi yang masih menyegarkan bercampur dengan aroma tanah basah dari area yang baru saja dibersihkan, namun wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan semata-mata. Di tangan kanannya ada sebuah map kertas yang sudah sedikit kusut, berisi rancangan usaha kedai makan sehat yang selama ini hanya ada dalam impiannya. Di tangan kirinya adalah surat pemberitahuan bahwa pinjaman usaha yang dia ajukan ke bank telah ditolak karena tidak memiliki agunan yang cukup dan riwayat kredit yang belum terbentuk. “Ini baru permulaan,” ucapnya pelan sambil menghela napas dalam-dalam, menyimpan surat tersebut ke dalam kantong celananya sebelum mulai memeriksa barang-barang bekas yang baru saja dia beli dari pedagang barang bekas di Jalan Ijen.
Arga adalah anak muda berusia 27 tahun yang dulunya bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan makanan cepat saji di pusat kota Malang. Namun, rasa tidak puas dengan sistem kerja yang membuatnya tidak bisa mengontrol kualitas bahan makanan yang disajikan, serta keinginan untuk memberikan pilihan makanan sehat dengan harga terjangkau bagi masyarakat sekitar, membuatnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan membangun usaha sendiri. Rencana awalnya cukup sederhana: membuka kedai makan sehat yang menyajikan makanan tradisional Jawa Timur yang dimodifikasi dengan bahan-bahan organik, seperti lalapan dari sayuran yang ditanam sendiri, tempe dan tahu yang dibuat dengan proses alami, serta nasi merah yang lebih sehat dibandingkan nasi putih biasa. Dia bahkan telah menjalin kerja sama awal dengan beberapa petani lokal di Kabupaten Malang yang bersedia memasok bahan baku organik dengan harga yang lebih murah, asalkan dia bisa menjamin pembelian secara teratur.
Namun, rencana yang tampak mulus tersebut segera menghadapi rintangan pertama saat dia mulai mencari lahan untuk usaha. Banyak pemilik lahan yang tidak mau menyewakan tempatnya kepada pemula seperti Arga, khawatir dia tidak bisa membayar sewa secara tepat waktu. Setelah hampir satu bulan mencari, akhirnya dia menemukan lahan di tepi jalan raya yang cukup strategis, meskipun lokasinya sedikit jauh dari pusat perkotaan. Namun, biaya sewa yang harus dibayar setiap bulan ternyata dua kali lipat dari perhitungannya awal. Untuk mengatasi hal ini, Arga terpaksa menjual motor matik yang telah menemaniinya selama lima tahun dan menggunakan uang hasil penjualan tersebut untuk membayar sewa tiga bulan di muka serta membeli peralatan dapur bekas yang masih layak pakai. “Motor bisa saya ganti nanti dengan sepeda atau angkutan umum, tapi kesempatan untuk memiliki tempat usaha tidak datang setiap hari,” ujarnya kepada ibunya yang awalnya tidak mendukung keputusannya untuk keluar dari pekerjaan tetap.
Setelah lahan dan peralatan dapur siap, rintangan selanjutnya datang dari masalah izin usaha. Arga tidak menyadari bahwa untuk membuka kedai makan, dia harus mengurus berbagai jenis izin mulai dari izin usaha dari kecamatan, izin kesehatan dari dinas kesehatan kota, izin lingkungan hidup, hingga surat izin pemakaian lahan. Proses pengurusan izin tersebut memakan waktu lebih lama dari yang dia harapkan, bahkan hampir dua bulan lamanya karena beberapa dokumen yang dia ajukan tidak memenuhi persyaratan. Dia harus bolak-balik ke berbagai kantor pemerintah di Malang, mulai dari Kantor Kecamatan Sukun hingga Kantor Dinas Kesehatan Kota Malang, membawa berkas-berkas yang telah diperbaiki berkali-kali. Di tengah proses tersebut, dia bahkan harus menghadapi masalah ketika seorang petugas menyampaikan bahwa lokasi usahanya berada di area yang akan direnovasi oleh pemerintah dalam waktu enam bulan ke depan. Kabar ini membuat Arga hampir menyerah, karena dia sudah menghabiskan sebagian besar uangnya untuk sewa dan peralatan. Namun, berkat bantuan dari seorang teman yang bekerja di dinas pekerjaan umum, dia menemukan bahwa rencana renovasi hanya akan menyentuh bagian sisi jalan dan tidak akan mengganggu operasional usahanya selama dia bersedia membuat beberapa penyesuaian pada struktur bangunan sementara yang akan dia bangun.
Setelah izin usaha akhirnya terbit dengan susah payah, Arga mulai menghadapi tantangan baru dalam hal promosi dan pemasaran. Sebagai seseorang yang sebelumnya hanya bekerja di belakang layar dapur, dia tidak memiliki pengalaman dalam memasarkan produk atau menarik pelanggan. Dia mencoba membuat spanduk kecil di depan kedai dan membagikan brosur di sekitar kawasan perumahan dan sekolah terdekat, namun respon yang didapatkan sangat minim. Pada hari pertama pembukaan, hanya tiga pelanggan yang datang, dan semuanya adalah tetangga sekitar yang penasaran dengan kedai baru yang muncul di tepi jalan. Hasil penjualan hari pertama hanya mencapai Rp50.000,-, jauh di bawah targetnya yang Rp250.000,- per hari. Malam itu, Arga duduk sendirian di dalam kedai yang masih kosong, melihat sisa makanan yang tidak terjual dan menghitung uang yang tersisa di dompetnya. Uang tersebut hanya cukup untuk membeli bahan baku selama dua hari lagi, dan dia tidak punya cadangan uang untuk biaya operasional lainnya.
Untuk mengatasi masalah promosi, Arga mulai belajar sendiri tentang pemasaran digital melalui handphone-nya. Dia membuat akun media sosial untuk kedai makan sehatnya, memposting foto makanan yang dia buat dengan gaya yang sederhana namun menarik, serta berbagi informasi tentang manfaat bahan-bahan organik yang dia gunakan. Dia juga mengikuti beberapa workshop kecil tentang pemasaran usaha mikro yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Malang. Melalui workshop tersebut, dia bertemu dengan beberapa pengusaha muda lainnya yang menghadapi tantangan serupa, dan mereka sepakat untuk saling mendukung dengan cara mempromosikan usaha masing-masing di media sosial mereka. Arga juga memutuskan untuk memberikan diskon khusus bagi pelanggan pertama setiap hari dan membuat paket makan hemat untuk siswa sekolah terdekat. Perubahan ini mulai memberikan hasil setelah sekitar seminggu, di mana jumlah pelanggan mulai meningkat menjadi 10-15 orang per hari, dan hasil penjualan juga naik menjadi sekitar Rp150.000,- per hari.
Namun, baru saja situasi mulai membaik, masalah lain datang secara tidak terduga. Salah satu pemasok bahan baku organik yang dia jalin kerja sama harus menghentikan produksi sementara karena serangan hama pada tanamannya. Hal ini membuat Arga kesulitan mendapatkan pasokan sayuran segar dengan harga yang terjangkau. Dia terpaksa mencari pemasok alternatif, namun kebanyakan dari mereka menjual bahan baku dengan harga lebih mahal atau kualitas yang tidak sebaik bahan dari petani lokal sebelumnya. Akibatnya, dia harus meningkatkan harga beberapa menu makanan, yang membuat sebagian pelanggan tetap memilih untuk makan di tempat lain yang lebih murah. Arga merasa terjebak dalam situasi sulit: jika dia tidak meningkatkan harga, dia akan merugi setiap hari; namun jika dia meningkatkan harga, dia akan kehilangan pelanggan yang sudah mulai datang secara teratur.
Untuk mengatasi masalah pasokan, Arga memutuskan untuk mengambil langkah yang cukup berani: dia akan menanam sebagian sayuran yang dia butuhkan sendiri di belakang lahan usahanya. Meskipun lahan yang tersedia sangat terbatas, sekitar 10 meter persegi saja, dia berusaha memanfaatkannya dengan maksimal. Dia belajar tentang teknik bertanam vertikal dan hidroponik dari buku yang dia pinjam dari Perpustakaan Kota Malang serta video tutorial di internet. Dia juga meminta bantuan dari petani lokal yang dulunya menjadi pemasoknya untuk memberikan panduan tentang cara menanam sayuran organik yang baik dan benar. Dalam waktu sekitar sebulan, dia berhasil menanam selada, kubis, kangkung, dan daun kemangi yang cukup untuk memenuhi sebagian kebutuhan bahan baku kedainya. Hal ini tidak hanya membantu mengurangi biaya pembelian bahan baku, tetapi juga menjadi daya tarik baru bagi pelanggan yang tertarik untuk melihat proses penanaman sayuran secara langsung di belakang kedai.
Selain masalah pasokan, Arga juga menghadapi tantangan dalam hal manajemen keuangan. Dia tidak memiliki pengalaman dalam mencatat pengeluaran dan pemasukan usaha, sehingga seringkali tidak tahu dengan pasti berapa laba atau kerugian yang dia dapatkan setiap bulan. Kadang-kadang dia bahkan menggunakan uang penjualan untuk kebutuhan pribadi tanpa menyadari bahwa hal itu dapat mengganggu kelangsungan operasional usaha. Setelah mendapatkan nasihat dari seorang teman yang bekerja sebagai akuntan, Arga mulai membuat catatan keuangan yang teratur menggunakan aplikasi sederhana di handphone-nya. Dia memisahkan uang usaha dengan uang pribadi, membuat anggaran bulanan untuk pembelian bahan baku dan biaya operasional, serta mulai menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk cadangan dana darurat. Hal ini membantu dia melihat dengan jelas kondisi keuangan usahanya dan membuat keputusan yang lebih baik dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.
Rintangan berikutnya datang ketika salah satu peralatan dapur utama, yaitu kompor gas besar yang dia gunakan untuk memasak nasi dan sayuran, tiba-tiba rusak. Karena peralatan tersebut adalah barang bekas, tidak ada garansi dari penjual, dan biaya perbaikan ternyata cukup mahal, hampir sama dengan harga pembelian peralatan baru. Arga tidak punya uang cukup untuk membeli yang baru atau memperbaikinya, sehingga dia terpaksa mencari cara alternatif untuk memasak makanan. Dia menggunakan kompor gas kecil yang biasanya digunakan untuk keperluan rumah tangga dan bahkan meminjam kompor dari tetangga untuk sementara waktu. Selama seminggu lamanya, dia harus memasak dengan cara yang lebih lama dan lebih ribet, seringkali harus mulai bekerja dari jam 3 pagi untuk memastikan makanan siap disajikan pada jam buka pukul 7 pagi. Meskipun kondisi ini sangat menyulitkan, dia tidak pernah mengeluh dan bahkan melihatnya sebagai pelajaran tentang pentingnya memiliki cadangan peralatan atau menyisihkan uang untuk perawatan dan perbaikan peralatan secara berkala.
Seiring berjalannya waktu, usaha kedai makan sehat milik Arga mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Jumlah pelanggan terus meningkat, terutama setelah salah satu akun media sosial lokal yang membahas tentang makanan sehat di Malang memposting ulasan tentang kedainya. Ulasan tersebut membuat banyak orang datang ke kedainya untuk mencoba makanan yang dia sajikan, dan banyak yang kembali sebagai pelanggan tetap. Arga juga mulai menerima pesanan untuk acara kecil seperti pertemuan kantor atau ulang tahun keluarga, yang menjadi sumber pendapatan tambahan penting bagi usahanya. Dia bahkan bisa menyewa seorang karyawan muda untuk membantunya di dapur dan melayani pelanggan, sehingga dia memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan menu baru dan menjalin kerja sama dengan lebih banyak petani lokal di sekitar Malang.
Namun, bahkan ketika usaha mulai berkembang dengan baik, Arga tidak pernah melupakan semua rintangan yang dia alami selama proses membangun usahanya. Dia sering berbagi pengalamannya dengan pengusaha muda lainnya yang ingin memulai usaha sendiri, memberikan nasihat tentang pentingnya memiliki perencanaan yang matang, bersikap fleksibel dalam menghadapi masalah, dan tidak pernah menyerah meskipun menghadapi rintangan yang tampak tidak mungkin diatasi. Dia juga berencana untuk membuka cabang kedai makan sehatnya di masa depan, dengan tujuan untuk memberikan lebih banyak pilihan makanan sehat bagi masyarakat Malang serta membantu lebih banyak petani lokal memasarkan hasil pertanian mereka. “Setiap rintangan yang saya hadapi bukanlah halangan, melainkan batu loncatan untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik dalam menjalankan usaha,” ujar Arga sambil sedang menyajikan makanan kepada pelanggan yang datang di sore hari, wajahnya penuh dengan senyum yang menunjukkan kebanggaan dan keyakinan pada usaha yang dia bangun dengan tangan sendiri