Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Selamat malam guys. Mohon maaf mengganggu istirahat dan santai kalian ya. Mohon segera kirimkan biodata diri untuk kartu keluarga kelas XII. Kalau bisa secepatnya biar bisa langsung kuedit dan dikirimkan ke percetakan. Terima kasih. Good night. Have a nice dream. Semoga kalian mimpi indah malam ini.
By Xeline, sekertaris XII A
Bhima membaca chat Xeline di grup kelas dengan tersenyum riang. Ada debar tersendiri saat membaca chat dari perempuan pindahan dari sekolah elit yang selama dua tahun ini telah bersemayam dihati.
Saat melihat kata terakhir di chat itu yaitu kata good night dan have a nice dream, mungkin menurut orang lain, hal itu terasa biasa saja. Tapi tidak bagi Bhima. Kata-kata di chat itu seperti oase tersendiri di tengah kegersangan hatinya. Ia seperti mendapatkan sedikit perhatian dari Xeline, meskipun sebatas HTS (Hanya Teman Sekelas) di kelas XII.
Bhima sudah lama menyukai Xeline, sebelum gadis itu pindah ke sekolah Nusantara. Tepatnya saat ada salah satu teman seperguruan silat menceritakan seorang gadis yang keluar dari silat, padahal sudah waktunya tes kenaikan sabuk. Sama seperti dirinya yang tidak diperbolehkan mengikuti tes ujian kenaikan sabuk oleh mamanya karena takut silat yang didapat disalahgunakan.
"Nggak usah ikut begituan lah Bhima sayang. Mama sangat takut kamu kenapa-napa," pinta mama Bhima kala itu.
Ia merasa penasaran dengan gadis itu karena salah satu temannya di silat mengatakan sesuatu rahasia padanya.
"Mungkin sebentar lagi sekolahmu akan kedatangan murid baru yang kuceritakan saat itu. Denger kabar, katanya gadis itu dibully di asrama sekolah dan lawannya anak orang kaya. Tunggu saja Bhim," pesan salah satu teman silatnya.
Benar saja. Selang dua minggu, Xeline pindah ke sekolah Nusantara. Saat pertama kali bertemu, Bhima mulai jatuh cinta pada Xeline. Tapi tak berani mengatakan perasaan cinta pada gadis itu. Hal itu terjadi bukan tanpa alasan.
Bhima hanya mampu menyembunyikan perasaan cinta itu selama dua tahun ini karena berdasarkan gosip yang beredar, Xeline telah lama menyukai Reza, kakak kelas yang bertalenta di ekstrakurikuler pramuka yang saat ini telah lulus dan berkuliah di luar negeri.
Kembali ke dua tahun yang lalu.
Saat pertama kali masuk sekolah kelas X, Bhima and the genk, Bhima, Arga, dan Dhani tengah dihukum di ruang Bimbingan dan Konseling karena ketahuan bolos di kantin sekolah. Karena Arga dan Dhani sudah diinterogasi lebih dulu, di ruang itu hanya tinggal Bhima seorang diri.
Tanpa sengaja Bhima mendengar percakapan antar guru di ruangan itu.
"Say, ada murid pindahan dari sekolah X karena bullying. Ibunya meminta pengawasan dan perhatian pada anaknya selama proses adaptasi di sekolah," jelas bu Melani memulai percakapan dengan bu Widya, guru BK di Sekolah Nusantara.
"Benarkah? Sekolah kita dapat murid pindahan dari sekolah terbaik dari kabupaten. Keren ini. Lumayan buat kandidat lomba bulan depan. Anak-anak pada nggak minat ikut lomba," tambah bu Widya.
"Namanya Xeline Nadira Hartanto. Kabarnya, dulu dia juga biasa lomba matematika, IPA, IPS, Pramuka, out bond dan lain lain. Piagamnya banyak. Ia juga pernah jadi wakil ketua OSIS saat masih di SMP katanya," imbuh bu Melani.
" Keren banget ini bocah. Kapan ia mulai masuk sekolah?"
"Hari ini. Ia masuk dikelas XA."
Deg.
Entah mengapa Bhima merasa tidak asing mendengar nama itu. Tapi entah kapan ia mendengarnya. Saat mencoba mengingat semuanya, malah otak Bhima terasa blank. Ia tidak bisa mengingat apapun sama sekali saat ini.
"Kelas XA? Kelasku berarti? Gadis itu ..? Entahlah. Kapan-kapan aku juga pasti ingat," batin Bhima.
Bu Widya tampak menghampiri Bhima yang tengah terduduk santai menghadap bangku di ruang bimbingan dan konseling sekolah Nusantara.
"Bhim, mbok ya jangan diulangi lagi bolosnya. Tadi kamu mau bolos kemana? Mau naik pagar sekolah seperti biasa atau cuma makan di kantin?" interogasi bu Widya dengan nada santai.
"Tadi mau lompat pagar. Mau pulang bu. Capek," jawab Bhima dengan santai.
"Yaelah Bhim. Kamu tuh? Ini sudah peringatan yang ketiga ya Bheem Chhota Bheem. Kalau kamu ulangi lagi, papamu tak minta datang ke sekolah. Biar nanti bu Widya yang bilang ke papamu kalau kamu sering melompat pagar sekolah," jelas bu Widya.
"Papaku nggak dirumah bu. Sedang dinas di luar kota. Biar mamaku aja yang datang ke sini."
"Ya sudah Bhim kembali ke kelas sana. Bu Widya doakan semoga kamu segera dapat cahaya Ilahi. Biar dapat pencerahan dari Tuhan. Biar nggak masuk ke ruang BP terus. Masak ibu selalu ketemu wajah 4L. Lo lagi lo lagi? Ibu bosen Bhima yang ganteng. Kasihan mamamu tahu kalo kamu kaya gini. Mamamu pasti sedih. Tolong dong Bhim, sedikit saja kasih bahagia pada mamamu tercinta dengan cara mama tidak ke ruang BP," nasihat bu Widya.
"Iya."
"Iyain aja deh. Biar bisa cepet ke kelas," batin Bhima.
"Bhima, Bhima. Aneh banget kamu ini. Masuk ruang BP Kok tenang banget. Sudah kembali ke kelas sana. Jangan coba melompat pagar sekolah lagi ya. Jadi anak yang baik. Betewe lebih baik kamu ikut olahraga lompat atau apa gitu. Lumayan buat tambahan piagam biar masuk kampus bergengsi," saran bu Widya.
"Terima kasih bu."
Bhima bergegas keluar dari ruang bimbingan dan konseling dan berjalan santai menuju ruang kelasnya yang berada diujung bangunan sekolah, dekat dengan parkiran dan kantin.
Sesampainya di kelas, wajah Bhima terpaku pada seorang gadis berseragam pramuka, memakai kerudung almamater sekolah lama. Masker berwarna hitam tampak menutupi wajahnya. Kedua matanya lebar terlihat begitu pas dengan alis tipis yang begitu tertata rapi di atasnya membuat gadis itu terlihat begitu menawan.
Bhima berjalan pelan ke arah bangkunya yang terletak di bangku paling belakang.
"Lama bener di BP Bhim?"tanya Dhani dengan penuh penasaran.
"Nggak tahu tuh guru BP. Tapi nggak pa pa kok. Aman aja,"jawab Bhima dengan santai.
"Betewe, ini kamu sudah sering lho Bhim masuk BP. Kalau kamu bosen sekolah, bilang saja sama mamamu. Biar homeschooling aja," saran Arga pada sahabat gengnya tersebut.
"Apa enaknya sekolah homeschooling kayak gitu? Nggak ada acara bolos bareng. Aku lagi nikmatin fase terbaik pertemanan kita," terang Bhima pada kedua temannya.
"Fase terbaik gundulmu itu Bhim. Kita kepergok saat mau naik pagar sekolah dan masuk ruang BP. Kamu enak Bhim. Mamamu santai aja kamu bertingkah polah seperti apa. Lha ibuku? Aku takut sama ibuku. Lebih ke kasihan juga kalau ia sampai tahu anaknya kayak gini. Ibuku kerja mati matian buat aku dan adik sekolah," jelas Dhani.
"Aku lagi bosen banget ini. Hidupku terasa flat amat. Aku butuh sensasi baru. Ya udah. Lain kali kalau mau bolos, aku nggak akan ajak kamu lagi Dhan," tukas Bhima.
"Tapi Bhim, kita ini trio sahabat bukan?" Sanggah Arga.
"Ya tetep kita bertiga sahabatlah. Tapi aku bolos sendiri saja. Resiko kutanggung sendiri. Apa kamu juga mau doain seperti bu Widya biar aku segera tobat juga boleh?" kelakar Bhima.
Mereka bertiga tertawa bersamaan.