NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

"No, bangun sudah siang, segera susul bapakmu disawah!" ucap mamak berteriak dari dapur.

Peno menggeliat mendengar teriakan mamaknya yang suaranya seperti kenalpot motor dua tak itu.

"ah mamak, lagi enak enak mimpi malah teriak teriak, kan jadi bubar mimpinya, padahal lagi seru serunya terbang!" gumam Peno setelah tidak bisa kembali ke mimpinya lagi.

"heh, bangun, sudah jam sembilan masih tidur saja, makanya kalau malam itu jangan suka begadang, jadi bangunnya tidak siang kaya gini!" ucap mamak yang sudah masuk kekamar Peno.

"iya mak, ini sudah bangun, emang bapak kesawah lagi ngapain mak!?" ucap Peno sambil mengucek matanya.

"lagi ngatur lalu lintas, ya lagi panen singkong lah, kemarin kan kamu sudah dibilangin buat bantuin bapak!" jawab mamak sedikit sewot mendengar pertanyaan konyol anaknya itu.

"he he he he....., sejak kapan mobil sama bus lewat tengah sawah mak!" ujar Peno malah meledek mamaknya.

"sejak kamu bangun tadi, ish ini anak ya malah tambah ngeledek, ayo cepetan sana susul bapakmu, itu bekalnya sudah mamak siapkan buat makan kamu sama bapak!" kata mamak lagi dengan sewot tapi senyumnya tetap terlihat.

"iya mak siap, Peno cuci muka dulu!" jawab Peno lalu bangun dan langsung menuju kamar mandi dibelakang dapur.

Setelah cuci muka Peno langsung pergi keawah menyusul bapaknya yang sedang panen singkong, ditengah perjalanannya ia bertemu dengan Dimin sahabatnya.

"mau kemana kamu Min?" tanya Peno saat melihat dimin jalan kaki keluar dari gang rumahnya.

"kesawah No, nyari rumput buat pakan ikan bawalku, yang kemarin sudah habis!" jawab Dimin sambil menenteng sabit dan lipatan karung buat tempat rumput nanti.

"kalau gitu kita bareng, aku juga mau kesawah nganter bekal buat bapak sama bantuin panen singkong!" ucap Peno lalu berdua jalan bersama menuju sawah.

"kebetulan kalau gitu No, nanti daunya aku minta buat pakan ikan ya!?" ujar Dimin.

"siap, nanti bilang saja sama bapakku!" jawab Peno sambil mereka terus berjalan.

Sesampainya disawah nampak bapaknya Peno dengan dua orang sedang mencabut singkong , Peno dan Dimin pun langsung menghampiri mereka.

"pak, ini bekalnya taruh mana!" kata Peno saat sudah sampai dekat bapaknya.

"taruh gubug No, nanti buat makan sama sama, kamu bantu bikin kopi saja, lah, kamu juga ikut Min!?" jawab bapak.

"iya lik, mau minta daun singkongnya buat pakan bawal!" kata Dimin menjawab pertanyaan bapaknya Peno.

"iya, nanti ambil saja kita paroan, memangnya bawalmu sudah besar besar Min!?" tanya bapak lagi.

"sudah seukuran lima jari lik," jawab Dimin.

"jari bayi apa jari monyet Min?" kali ini Peno ikut nimbrung bertanya setelah melatakan bekal di gubuk.

"jari kingkong No, kalau jari bayi ya masih kecil namannya!" jawab Dimin ikutan menjawab asal.

"ha ha ha ah...... Jari monyet lebih kecil lagi itu Min!" kata salah satu orang yang membatu bapaknya Peno, yang bernama Wanto.

"ha ha ha ha.........jari bayi kodok lebih kecil malahan Min!" ujar orang satunya lagi yang bernama Udin.

"lik Udin ngarang, mana ada bayi kodok punya jari, yang ada punya ekor lik, ha ha ha ha.......!" ucap Peno protes, sebab memang kecebong belum punya kaki.

"eh, iya ya, kan kecebong belum punya kaki, kalau gitu ganti No, jari bayi semut!" ujar Udin meralat kata katanya.

"ha ha ha ha......, tambah ngawur, memang lik Udin sudah pernah lihat semut cebok, ha ha ha ha.....!" kata Peno lagi, sontak saja membuat semua yang disawah tertawa, termasuk mungkin belalang, capung dan semut juga ikut tertawa mendengar ucapan Peno.

"wis, malah membahas urusan jari, ayo lanjut cabut lagi singkongnya!" kata bapak menyudahi guyonan mereka.

Berlima pun melanjutkan memanen singkong, pak Udin bekerja sama dengan pak Wanto mencabut pohon singkong, demikian juga dengan Peno, ia bekerja sama dengan Dimin, sedangkan bapak bertugas mengumpulkan daun daun singkong, yang muda akan di bawa pulang untuk dibagikan pada tetangga yang mau memasak sayur daun singkong, yang tua akan dipakai menjadi oakan ikan di kolam belakang rumah.

"Min, cabut yang kencang, ini tenagaku sudah habis tapi belum kecabut juga!" ucap Peno pada Dimin, mereka sedang mencabut salah satu pohon singkong yang lumayan besar dan sampai mencoba beberapa kali belum tercabut juga.

"ini aku ya sudah kencang No, sampai tahan nafas malahan, mungkin singkongnya gede No, jadi berat!" jawab Dimin.

"iya kali Min, kita coba sekali lagi!" ucap Peno.

"oke, hitungan ketiga langsung keluarkan tenagamu No, bila perlu tenaga dalam juga kamu keluarkan!" jawab Dimin.

"siap, oke, satu, dua ti...........ga, cabut Min!" ucap Peno, lalu bersama sama dengan dimin sekuat tenaga mencabut pohon singkong itu.

Bapak yang melihat hanya geleng geleng kepala lalu mendekati kedua pemuda itu.

"ck, gimana pohonya mau kecabut, orang kakinya Peno menginjak pokok pohon, mau sampai kalian makan tiga piring juga tidak bakalan kecabut itu pohon No!" kata bapak yang memang melihat saru kaki Peno nangkring diatas bonggol singkong.

"owalaaahhh, semprul memang kamu No, ngerjain aku ya!" kata Dimin setelah mendengar ucapan bapak dan langsung melihat ke arah kaki Peno.

"he he he he.......biar kalau mencabut kakiku tidak ambles tanah Min, lagian aku juga mau ngetes tenagamu kuat apa engga, he he he he......!" jawab Peno seenaknya.

"ha ha ha ha......., bisa saja kamu jailnya No!" ucap pak Udin dan diikuti tawa oleh pak Wanto serta bapak.

"ooh, kamu mau ngetes tenagaku No, sini!" ujar Dimin yang langsung saja mengangkat tubu Peno di pundaknya lalu dibawa lari menuju petak sawah yang banyak airnya.

"ha ha ha ha.... , ampun Min, ampun!" ucap Peno dalam panggulan Dimin.

"tidak ada ampun pokoknya kali ini No!" ujar Dimin lalu melempar tubuh Peno kepetak sawah yang penuh air.

"byuuuuurrrrr!" tubuh Peno jatuh terlentang dan basah kuyup bercampur kotor lumpur.

"ha ha ha ha ha...... Rasakan itu No, gimana kuat kan aku, ha ha ha......!" ucap Dimin berdiri dipematang setelah melempar Peno, sedangkan pak Wanto, pak udin dan bapak ikut tertawa melihat Peno dilempar ke petak sawah penuh air oleh Dimin.

sedangkan Peno yang dilempar Dimin juga ikut tertawa terbahak, ia lalu berdiri dan melangkah ke tepian untuk naik kepematang, Dimin pun membantu sahabatnya itu untuk naik, ia mengulurkan tangannya agar di pegang oleh Peno.

"eh, tidak jadi lah, nanti aku malah kamu tarik kebawah kalau aku pancing kamu naik No!" ucap Dimin mengurungkan niatnya menolong Peno.

"ah, pikiranmu jelek banget Min!" ujar Peno dengan berusaha naik kepematang sendiri.

"bukan jelak, tapi aku tahu jalan pikiran jailmu, he he he he......!" kata Dimin lalu meninggalkan Peno berjalan kearah gubuk.

Setelah berhasil naik Peno juga jalan kearah gubuk dimana para orang tua sedang duduk istirahat.

"makan dulu Min, No, nanti habis makan kalian pulang bawa gulungan daun singkong buat pakan ikan, itu ada dua gulung yang satu buat kamu Min!" ucap bapak pada Peno dan Dimin.

"iya lik, terimakasih!" jawab Dimin lalu mengambil nasi dan lauknya diikuti oleh Peno.

1
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!