NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1_DUNIA AZKA YANG SEMPURNA SEOLAH HANCUR

Azka Mahendra tidak pernah percaya pada kata takdir.

Baginya, hidup adalah garis lurus yang bisa ia kendalikan. Bangun pagi, sekolah di SMA elite Mahardika, duduk di bangku depan dengan jas sekolah yang selalu rapi, nilai sempurna, lalu pulang ke rumah megah keluarga Mahendra. Tidak ada kejutan. Tidak ada drama. Semua sesuai rencana.

Sampai sore itu. Azka baru saja turun dari mobil hitam mengilap milik keluarganya ketika seorang pelayan membungkuk hormat.

"Tuan muda, Tuan Besar meminta Anda langsung ke ruang kerja."

Alis Azka sedikit mengernyit. Biasanya ayahnya tidak memanggilnya sepulang sekolah, kecuali ada urusan penting menyangkut perusahaan. Tanpa banyak bicara, Azka melangkah masuk, sepatu hitamnya beradu dengan lantai marmer yang dingin.

Ruang kerja ayahnya luas, dindingnya dipenuhi rak buku dan lukisan mahal. Di sana sudah duduk beberapa orang. Papanya, Mamanya, dan seorang pria paruh baya yang Azka kenal sebagai rekan bisnis lama keluarga Mahendra.

Azka berdiri tegak. "Papa memanggilku?"

Papanya mengangguk, wajahnya datar seperti biasa. "Duduk."

Azka duduk, menyilangkan kaki dengan santai. Tidak ada sedikit pun rasa curiga di wajahnya. Ia tidak tahu, detik berikutnya hidupnya akan berubah.

"Kami sudah lama membicarakan ini," ujar sang Papa membuka suara. "Dan hari ini kami memutuskan untuk merealisasikannya."

Azka menatap Papanya tanpa ekspresi. "Merealisasikan apa?"

Mamanya menatap Azka dengan sorot lembut, tapi ada sesuatu yang membuat Azka tidak nyaman. Seolah-olah mereka sedang menunggu reaksinya.

"Kamu akan dijodohkan."

Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan. Ruangan mendadak terasa sunyi.

Azka tertawa kecil, singkat, seperti mendengar lelucon yang tidak lucu. "Papa bercanda?"

Papanya tidak ikut tertawa. "Tidak."

Senyum Azka perlahan menghilang. Rahangnya mengeras. "Aku masih sekolah."

"Kami tahu," jawab Mamanya cepat. "Justru karena itu."

Azka berdiri mendadak, kursinya bergeser kasar. "Ini tidak masuk akal."

"Azka," suara Papanya meninggi sedikit, "duduk."

Namun Azka tidak menurut. Dadanya naik turun. "Aku bukan barang yang bisa kalian tukar dengan kesepakatan bisnis."

Pria paruh baya yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Azka, ini demi masa depan kalian berdua."

"Kalian berdua?" Azka menoleh tajam. "Siapa?"

Papanya menghela napas. "Putri Pak Rahman. Namanya Nayla."

Nama itu asing. Azka mengernyit, lalu tertawa sinis. "Aku bahkan tidak mengenalnya."

"Justru itu gunanya perjodohan," jawab Papanya dingin. "Kalian akan saling mengenal setelah menikah."

Kata menikah membuat Azka terdiam.

Menikah?

Di usia tujuh belas tahun?

Dengan gadis yang bahkan tidak pernah ia dengar namanya?

"Itu gila," ucap Azka tegas. "Aku menolak."

Udara di ruangan itu langsung menegang. Papanya menatap Azka dengan sorot tajam yang jarang muncul. "Ini bukan permintaan, Azka."

"Lalu apa?" Azka membalas menatap. "Perintah?"

Mamanya berdiri, mencoba menenangkan. "Azka, dengarkan dulu—"

"Aku tidak mau," potong Azka. "Siapa pun gadis itu, dari keluarga mana pun, aku tidak peduli. Aku tidak akan menikah."

Papanya berdiri menyamai tinggi Azka. "Kamu pewaris Mahendra Group. Setiap keputusan hidupmu berdampak pada keluarga ini."

Azka tertawa kecil, pahit. "Jadi sekarang aku harus mengorbankan hidupku demi reputasi?"

"Kami sudah sepakat dengan keluarga mereka," kata Papanya. "Pernikahan akan dilakukan secara sederhana dan dirahasiakan."

Azka mengepalkan tangan. "Dirahasiakan? Jadi kalian tahu ini salah."

"Tidak," sahut Papanya. "Kami tahu ini perlu."

Azka menggeleng pelan. "Aku tidak akan melakukannya."

Papanya menatapnya lama, lalu berkata dengan suara rendah namun mengancam, "Kalau kamu menolak, aku akan menarik semua fasilitasmu. Sekolah, rekening, masa depan yang selama ini kamu nikmati."

Azka terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa terpojok.

"Pikirkan baik-baik," lanjut Papanya. "Atau kamu ingin memulai hidup dari nol?"

Azka menatap Papanya, lalu Mamanya. Tidak ada keraguan di wajah mereka. Ini bukan ancaman kosong.

"Siapa gadis itu?" tanya Azka akhirnya, suaranya dingin.

Pak Rahman tersenyum kecil. "Anak yang baik. Pintar. Sederhana."

Kata terakhir membuat Azka mendengus. "Sederhana?"

Mamanya mengangguk. "Keluarganya memang tidak sekaya kita, tapi—"

"Itu masalahnya," potong Azka. "Dia tidak setara."

Suasana semakin membeku.

"Aku tidak akan menikahi gadis miskin," ucap Azka tanpa rasa bersalah. "Apalagi dipaksa."

Mamanya terkejut. "Azka!"

Papanya justru tersenyum tipis. "Kamu akan belajar menerima."

Azka menatap lantai, napasnya berat. Dunia yang selama ini ia kendalikan, runtuh hanya karena satu keputusan.

"Aku mau bertemu dengannya," ucap Azka akhirnya.

Pak Rahman tampak lega. "Besok."

Azka mengangguk singkat. "Tapi jangan berharap aku akan bersikap baik." Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa pamit.

***

Di tempat lain, di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kemewahan Mahendra, Nayla duduk di ruang tamu dengan tangan gemetar.

"Ayah serius?" tanyanya pelan.

Pak Rahman menatap putrinya dengan wajah lelah. "Ayah tidak akan memaksamu kalau ini tidak penting."

"Ibu?" Nayla menoleh.

Ibunya tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Ini kesempatan, Nay."

Nayla menelan ludah. "Menikah… sekarang?"

"Iya."

Nayla tertawa kecil, kering. "Aku bahkan belum lulus sekolah."

"Ayah tahu," kata Pak Rahman. "Pernikahan ini akan dirahasiakan. Kamu tetap sekolah seperti biasa."

Nayla terdiam. Dadanya terasa sesak. "Siapa dia?" tanyanya.

"Namanya Azka Mahendra."

Nama itu membuat Nayla mengernyit. "Yang terkenal itu?"

Ibunya mengangguk. "Pewaris keluarga besar."

Nayla menghela napas panjang. "Dia pasti tidak mau."

Pak Rahman terdiam sesaat. "Dia memang menolak."

Entah kenapa, itu justru membuat hati Nayla sedikit lega dan sakit di saat bersamaan.

"Ayah tidak akan marah kalau Nayla menolak," kata Nayla pelan.

Pak Rahman tersenyum pahit. "Ayah berharap kamu mau mencoba."

Nayla menunduk. Ia bukan gadis lemah. Hidup sederhana sudah mengajarkannya kerasnya dunia. Tapi menikah dengan orang asing dari dunia yang berbeda, itu menakutkan.

Namun demi orang tuanya, Nayla mengangguk pelan.

"Baik," ucapnya. "Nayla coba."

***

Malam itu, di kamar luasnya, Azka berdiri di depan jendela, menatap lampu kota. Ia mengepalkan tangan.

"Gadis sederhana", pikirnya sinis.

"Apa pun namanya… dia tidak akan pernah jadi bagian dari duniaku".

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!