karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Terakhir
__________________________________
Reynard merasakan aroma tembaga dan karat membanjiri indra penciumannya. Udara terasa tipis, tercekik oleh asap mesiu dan bau alkohol yang tumpah di lantai marmer ruang dansa mansion Aethelred. Seluruh kebisingan di sekitarnya telah berubah menjadi dengungan pelan dan mematikan, seperti nyanyian pemakaman yang dibawakan oleh malaikat pencabut nyawa. Pandangannya hanya terfokus pada satu orang memakai gaun putih yang kini berlumuran darah, memeluk erat tubuhnya.
Annelise.
“Tidak… tidak mungkin,” bisiknya, suaranya parau dan jauh. Ia menekan luka tembak yang menganga di bahunya sendiri, tetapi rasa sakit fisiknya sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan rasa sakit yang mengoyak jantungnya. Rasa sakit itu terbit dari menyaksikan Annelise, istrinya yang sah namun selalu ia abaikan, kini terbaring tak berdaya di lengannya.
Malam itu seharusnya menjadi perayaan ulang tahun Annelise yang ke-25, bukan medan pertempuran. Musik yang riang telah berubah menjadi desingan peluru, dan tawa merdu berganti lolongan keputusasaan. Seraphina, wanita yang selama ini ia sebut tunangannya bahkan setelah ia menikah dengan Annelise atas dasar wasiat ayahnya telah menarik pelatuk itu. Bukan untuk melindungimya, melainkan untuk mengambil nyawanya.
“Cinta sejati?” Reynard terkekeh getir, air matanya mulai menggenang. “Aku meninggalkan istri sah ku, aku mengorbankan kehormatanku… semua demi obsesi palsu ini. Kau hanya menginginkan nama Aethelred dan kekayaan kami, Seraphina.”
Seraphina berdiri beberapa langkah jauhnya, pistol berasap masih di genggamannya, wajahnya yang cantik dan sempurna kini terdistorsi oleh keserakahan dan kebencian yang mendalam. Di sampingnya berdiri Victor Deville, kekasih rahasia Seraphina yang selama ini menyamar sebagai rekan bisnis terpercayanya.
“Bodoh. Kau selalu bodoh, Reynard,” cibir Seraphina, suaranya tajam seperti pecahan kaca. “Kau terlalu lambat menyadari kebenaran hingga harus membayar mahal. Annelise Vanya, Gadis panti asuhan itu bahkan sangat lah sempurna. Dan sekarang lihat? Dia, yang kau abaikan, justru yang menghalangi rencanaku, untuk membunuhmu!”
Reynard menatap Annelise. Mata coklat madu yang selalu menatapnya dengan kesabaran tak terbatas, kini setengah tertutup, kelopak matanya yang indah bergetar lemah.
“Kenapa, Annelise?” bisiknya, menahan air mata yang mendesak keluar. “Kenapa kau lakukan ini? Seharusnya kau lari. Kau tidak perlu menyelamatkanku.”
Annelise tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa kepedihan dan kehangatan yang luar biasa senyum yang baru sekarang disadari Reynard sebagai keindahan sejati. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar, jemarinya yang ramping menyentuh lembut pipi Reynard yang basah.
“Aku… aku sudah tahu tentang rencananya. Beberapa hari yang lalu,” suara Annelise sangat lemah, nyaris tak terdengar. “Aku mendengarnya. Mereka bilang… mereka akan membunuhmu malam ini. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku… aku mencintaimu.”
Pengakuan itu terasa seperti belati ganda yang menusuk Reynard. Annelise Mencintainya. Setelah semua perlakuan dingin, pengabaian, dan penghinaan tak langsung yang ia berikan, Annelise tetap mencintainya.
“Aku adalah suami yang sangat buruk, Annelise!” Reynard menangis, penyesalan itu merobek-robek dadanya. Selama tiga tahun pernikahan, ia hanya menyisakan kebekuan. Ia selalu menghindarinya, bahkan memilih tidur di kamar terpisah. Ia menjadikannya pajangan yang tak tersentuh demi menjaga hati Seraphina yang munafik. “Aku tidak pernah layak mendapatkan ini! Aku selalu menganggapmu sebagai beban dan kekangan!”
“Kau… adalah suami-ku,” jawab Annelise, napasnya memburu. “Dan… kau ayah dari… anak kita.”
Mata Reynard melebar. Anak kita?
“Apa?” tanyanya, tenggorokannya tercekat.
“Bayi… kita… sudah dua bulan,” Annelise terbatuk, darah kental merembes dari sudut bibirnya. “Aku ingin… memberitahumu… malam ini. Aku harap kau… bahagia.”
Waktu terasa berhenti. Reynard menatap perut Annelise yang tertutup gaun putih, membayangkan kehidupan kecil yang telah ia abaikan dan kini ikut terenggut. Ia telah kehilangan istrinya, dan ia bahkan tidak tahu ia telah kehilangan anaknya juga. Penyesalan itu bukanlah lagi rasa sakit, melainkan neraka yang abadi. Rasa bersalah karena membunuh dua jiwa tak berdosa membebani dirinya.
“Annelise! Jangan pejamkan matamu! Kumohon, tetap bersamaku!” Reynard memohon, suaranya serak. Ia memeluk tubuh Annelise lebih erat, berharap keajaiban akan terjadi.
Tapi, keajaiban tidak datang. Tatapan Annelise yang penuh cinta perlahan meredup, matanya kehilangan fokus, dan sentuhan jemarinya di pipi Reynard meluruh. Kepala Annelise terkulai lemah di dada Reynard, kehangatan tubuhnya yang menjadi satu-satunya sumber kedamaian Reynard di dunia ini, kini menghilang.
“Annelise!” Raungan Reynard menggetarkan ruangan, sebuah jeritan pilu yang lahir dari jiwa yang hancur. Ia memejamkan mata, memeluk erat tubuh kaku yang kini hanya menyisakan dingin dan penyesalan.
Terlambat. Tiga tahun yang ia sia-siakan. Tiga tahun yang ia habiskan untuk mengejar fatamorgana bernama Seraphina, sementara berlian sejatinya tergeletak dalam kesunyian.
“Betapa… menyentuh,” Seraphina mendengus jijik, lantas mengangkat pistolnya lagi. “Selamat tinggal, Reynard.”
Reynard tidak melawan. Ia bahkan tidak beranjak. Dengan air mata mengalir deras, ia menatap wajah Annelise yang damai dalam kematiannya dan berbisik, sumpah yang lahir dari kedalaman penyesalan jiwanya, “Aku bersumpah… Jika ada kesempatan lagi… aku akan mencintaimu, Annelise. Aku akan memilihmu. Hanya kau. Aku akan memperbaiki semua kesalahan ini.”
DOR!
Rasa sakit yang membakar di kepala. Kegelapan yang merayap cepat, dingin, dan menusuk. Reynard jatuh ke samping, merasakan lantai marmer yang dingin menjemputnya, kegelapan total menelannya. Jiwanya meronta, menolak takdir ini, memohon keadilan.
orang kaya mereka harus membusuk