Calista Queen Alexander menatap nanar jasad suaminya yang berada dipangkuannya,karena merasa tidak dapat hidup sendiri,tanpa pikir panjang Calista mengakhiri hidupnya,berharap bisa bertemu lagi dengan sang suami,
Namun bukannya pergi ke alam baka bertemu sang suami,Tuhan memberikan kesempatan kedua untuknya,,
Calista yang menyadari akan kesempatan kedua kehidupannya bertekad akan membalas dendam kepada orang-orang yang sudah merenggut kebahagiaannya,,
Hanya karya fiktif dari kehaluan penulis...!!
Adapun nama tempat ,makanan serta latar kebiasaan hanya fiktif belaka.
Kalaupun ada kesamaan nama tempat dan makanan serta latar dengan dunia nyata,mohon maklum tidak ada niat menjelekkan atau mencemarkan hal tersebut.
Harap diingat novel bertema Halu ya genks,,,jadi isinya hanya dunia halu,,🤭🤭semoga sukaaa,,,,,🥰🥰
happy reading,,,,🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athena_25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SLOC_01
𝑫𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒏𝒋𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒈𝒖𝒎𝒑𝒂𝒍 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖,
𝒀𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒆𝒍𝒂𝒑 𝒅𝒊 𝒍𝒆𝒌𝒖𝒌 𝒕𝒂𝒏𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏.
𝑵𝒂𝒑𝒂𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒚𝒂𝒓 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒂𝒃𝒖𝒕 𝒕𝒊𝒑𝒊𝒔,
𝑴𝒆𝒏𝒈𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓𝒂 𝒅𝒊 𝒍𝒐𝒓𝒐𝒏𝒈-𝒍𝒐𝒓𝒐𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒕𝒂𝒌𝒂𝒏.
𝑺𝒆𝒂𝒏𝒅𝒂𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒉𝒖𝒋𝒂𝒏 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏𝒈,
𝑫𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒕𝒊𝒓-𝒃𝒖𝒕𝒊𝒓 𝒑𝒖𝒓𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒊𝒔𝒖𝒔𝒖𝒏 𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈,
𝑫𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒉 𝒍𝒖𝒌𝒂-𝒍𝒖𝒌𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒑𝒖𝒑𝒖𝒔,
𝑫𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒊-𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒓𝒆𝒎𝒖𝒌 𝒅𝒊𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒍𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒖𝒕𝒖𝒉?
Kabut pagi di gedung tua itu terasa kasar. Ia menyelinap melalui celah jendela yang pecah, membawa serta bau unik yang mengiris, besi tua yang berkarat, debu beton yang lembap, dan aroma manis-anyir darah segar yang terpapar di udara dingin.
Calista Queen Alexander (28) tidak lagi merasakan dinginnya lantai beton. Semua rasa telah mengerucut menjadi satu titik, di dadanya, di mana tubuh Evander Niel Grisham tergeletak tak berdaya.
Darah suaminya masih mengalir deras menembus kain roknya yang hitam pekat, menghangatkan paha dan lututnya yang gemetar. Di atas kemeja putih Niel, tiga lubang kecil hitam terlihat sangat jelas, satu di bahu, dua di dada. Polanya seperti kumpulan bintang malam yang tak seharusnya ada.
Napas Niel bukan lagi desahan, melainkan bunyi gelembung halus dari paru-paru yang mulai melemah.
"Jangan sesali apa pun, Queen," bisiknya. Suara itu terdengar seperti dedaunan kering di musim kemarau, digulung angin sebelum menyentuh tanah.
Mata biru Niel, yang selama ini adalah kompas dan langit bagi Calista, perlahan memudar. Birunya tak lagi memancarkan kehangatan atau kepemilikan yang membuat Calista merasa seolah dia satu-satunya manusia paling beruntung di dunia.
Kini, biru itu hanya jadi kaca buram yang menutupi jendela di dalamnya, di mana lampu-lampu hidupnya satu per satu padam.
Tangannya yang lemah berusaha menggapai, jari-jarinya yang dingin menyentuh pipi Calista yang basah oleh air mata dan keringat. Sentuhannya ringan, seperti kuas yang melukis kenangan terakhir.
"Jalani hidupmu... carilah kebahagiaan... Aku—" Tarikan napasnya terdengar panjang, serta dalam, seperti seorang penyelam yang berusaha ke permukaan untuk kali terakhir. Paru-parunya berderik.
"—sangat mencintaimu, Queen."
Lengan itu jatuh lemas, tak lagi terarah.
Melihat hal itu seolah waktu berhenti, dan cahaya di mata biru itu lenyap selamanya. Sektika dunia terasa hening, namun keheningan itu bukanlah ketenangan, melainkan kekosongan yang hampa.
Lolongan angin di kejauhan dan dentuman jantung Calista yang kacau hanyalah riak kecil di lautan sunyi yang baru saja menyergapnya.
"Niel?" Calista berusaha membangunkan suaminya, namun gonjangan itu semakin lama semakin melemah. Kuku-kuku jarinya yang pucat mencengkeram bahu Niel, menahan sisa kehangatan tubuh yang mulai hilang.
"Bangun! Buka matamu!" Suaranya pecah di tengah kata. "Bagaimana aku bisa... Bagaimana aku bisa menjalani hidup... jika kehidupanku adalah kamu?" Tangisannya meledak, getir dan parau, tubuhnya bergetar, dia terus terisak merasakan dadanya semakin sesak. "Tujuanku adalah kamu! Tanpamu, hanya ada kegelapan pekat!"
Pikiran dan hatinya dipenuhi kenangan-kenangan manis satu tahun terakhir. Candaan pagi buta di dapur apartemen mereka, pelukan hangat di malam-malam dingin, janji-janji tentang membangun kebun kecil di sekitar rumah dan tawa anak-anak di masa depan.
Semuanya berbenturan, hancur berkeping-keping, dengan realitas yang kejam, keluarga yang meninggalkannya, dan senyum licik saudara angkat yang merampas segalanya. Calista berpikir bahwa Tuhan tidak adil kepadanya, dia menangis dan juga tertawa dengan getir.
Matanya yang berkaca-kaca menyapu ruangan berdebu. Seberkas sinar lemah dari jendela tinggi menerobos, menyoroti sebuah benda logam di lantai dekat kaki Niel, 𝘗𝘪𝘴𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘵𝘰𝘳.
Barang yang mungkin jatuh dari salah satu penjahat yang menyekap mereka. Calista merangkak ke arahnya. Gagang besinya dingin menusuk telapak tangannya. Tapi dingin itu terkalahkan oleh panas yang membara di dadanya. Dendam atas ketidakadilan, cinta yang dipenggal paksa, amarah pada nasib yang keji, semua emosi berkobar bercampur menjadi satu, mengkristal dalam satu tekad yang membatu.
"Niel," bisiknya, suaranya tiba-tiba jernih dan penuh keyakinan. "Tunggu aku. Aku akan membawa cinta dan dendam kita... ke akhir neraka."
Tanpa keraguan, tanpa rasa sakit yang berarti, dia arahkan ujung pisau itu ke dada kirinya, tepat di antara tulang rusuk.
Dia semakin menekan ujung pisau itu ke dalam, lalu sesuatu yang hangat mengalir membasahi bajunya, bukan dari tubuh Niel, tetapi dari dalam dirinya sendiri, menyelimuti kulitnya yang kedinginan. Dia merangkak kembali ke pelukan Niel, memeluk tubuh yang semakin dingin, sambil mendorong gagang pisau itu lebih dalam.
"Jika aku bisa mengulang waktu..." desisnya, napasnya mulai tersendat, udara di sekitar terasa semakin menyesakkan "Aku takkan biarkan ini terjadi."
Dunia di sekelilingnya mengabur, warna-warna luntur jadi abu-abu, suara-suara hewan di sekitar gedung terbengkalai terdengar semakin lirih. Dia merasakan pelukan terakhir Niel.
Saat itu kedua pasangan yang saling mencintai itu bersama-sama menghembuskan nafas terakhir mereka, namun disaat salah satunya mengharapkan pertemuan kembali di alam lain, sesuatu yang aneh terjadi.
"Eugh..."
Denyutan pertama muncul di pelipisnya, kepalanya terasa begitu sakit, seperti dipukul memakai palu dengan keras. Calista mengerang dalam tidurnya, wajahnya berkerut. Cahaya putih terang menyerang kelopak matanya yang tertutup rapat.
Bau pembersih lantai yang menyengat menusuk hidungnya, mengaburkan kenangan bau besi, darah, dan aroma lembap hutan. Dingin yang dia rasakan bukan lagi dinginnya lantai beton gedung tua, melainkan lantai keramik yang rata dan licin. Dia... duduk bersandar di dinding plastik putih, di dalam sebuah ruangan kecil...
Gedung terbengkalai? Neraka? Surga? Otaknya, baru saja keluar dari lorong maut, berputar kencang mencari pijakan.
𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪! 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪! Instingnya berteriak.
Tangannya dengan cepat meraba dada kirinya. Tidak ada gagang pisau. Tidak ada rasa sakit yang tajam, hanya ketegangan otot. Dia mengenakan kemeja lengan pendek warna putih yang... kotor, lalu dia menelisik ke sekitar tempatnya berada.
'𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘰𝘪𝘭𝘦𝘵? 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢? 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘰𝘪𝘭𝘦𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘺𝘶𝘳𝘨𝘢?' pikirannya bekerja dengan keras, memikirkan apa yang terjadi kepadanya, '𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘺𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘳𝘸𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘯𝘵𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯?' pikiran aneh itu kembali berkecamuk dalam benaknya, kemudian rasa tidak terima membuncah di dadanya.
"Apakah aku akan jadi hantu penunggu toilet?" gerutunya tak percaya dengan apa yang dia alami, wajahnya merengut masam, tatapan kosong menghadap ke pintu bilik di depannya.
"Yang benar saja! Kenapa harus toilet coba? Gak keren banget sih! Hah!" umpatnya frustasi, "Kenapa gak jadi hantu penunggu rumah mewah, atau minimal hantu rumah sakit gitu, biar terlihat berkelas sedikit gitu, atau hantu gedung tua bersejarah... tapi apa ini? Hantu toilet... Astaga." dia masih menggerutu tak percaya dengan apa yang menimpanya.
Dia mencoba berdiri, lututnya sedikit gemetar menopang tubuh yang seolah bukan miliknya. Pikirannya yang rasional mencoba bekerja. "Kalau aku arwah, harusnya bisa menembus benda," gumamnya sambil mengamati pintu bilik. Dengan keyakinan penuh dan gaya seperti hantu di film-film—dia melangkah maju, menundukkan kepala, bersiap untuk '𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴' pintu itu.
Brakkk!
"Aargh!" Seruan itu keluar spontan. Keningnya membentur permukaan pintu yang keras, sangat padat, dan sangat nyata. Rasa sakitnya tajam dan jelas, bukan rasa sakit sebagai arwah.
Dia mengusap keningnya yang terasa berdenyut, dan terduduk di lantai lagi. "Gak bisa tembus..." Bisiknya dengan suara bergetar. "Berarti... aku... masih hidup?" pertanyaan-pertanyaan mulai menggantung di kepalanya.
Realitas kedua menghantam seperti truk yang menabrak tugu gapura "Apa aku... transmigrasi? Seperti di novel-novel fantasy itu?" Jantungnya yang baru saja tenang kembali berdebar kencang, campuran harap dan takut yang membingungkan. Dia harus tahu sekarang!
Dengan gerakan yang lebih terkoordinasi, dia membuka kunci bilik toilet dan melesat keluar. Lorong toilet yang terbentang sangat biasa—keramik biru muda, wastafel yang kecil, dan sebuah cermin persegi panjang besar di dinding. Calista sedikit terpeleset di lantai basah sebelum berhasil mengatur keseimbangan dan berhenti tepat di depan cermin itu.
Dan di sana, pantulan yang membuat seluruh napasnya tertahan.
Itu bukan wajah seorang wanita 28 tahun yang lelah, dengan bayangan hitam di bawah mata dan garis halus di sudut bibir akibat pahitnya kehidupan. Bukan wajah Calista Queen Alexander yang baru kehilangan segalanya.
Itu adalah wajah seorang remaja. Rambut hitam lurus sedikit kusut, kulit wajahnya lebih cerah dan kenyal, bebas dari bayang-bayang stres yang mendalam.
Mata cokelat besarnya masih memancarkan kesan polos, meski sekarang dipenuhi kejutan, ketakutan, dan sebuah kilatan asing yang belum pernah ada di sana.
Dia baru menyadari pakaiannya, seragam sekolah menengah atas yang dulu dia benci karena terlalu polos! Dan wajah itu... adalah wajahnya sendiri. Dirinya yang lebih muda!
"Mengulang waktu...."
Kata-kata terakhirnya pada Niel bergema di benak seperti gema di gua. Ia tidak membawa cinta dan dendam mereka ke neraka. Tapi ia membawa dirinya kembali ke masa lalu.
Tangannya yang gemetar naik, menyentuh pipi yang masih penuh kolagen, bebas dari bekas air mata. Napasnya tersangkut di tenggorokan.
Calista langsung berpikir jika ini benar... jika ini bukan mimpi atau halusinasi sekarat... maka peluangnya terbentang luas.
Potensi untuk mengubah segalanya, untuk menyelamatkan Niel, untuk menggagalkan setiap rencana jahat, untuk menghancurkan mereka yang dengan licik merenggut kebahagiaannya, menggelegak di dadanya seperti lava panas. Harapan demi harapan kembali tumbuh di hatinya, walau masih bercampur dengan kebingungan dan trauma yang masih segar, harapan itu berubah menjadi emosi yang membara.
Calista menatap mata remajanya sendiri di cermin. Dia melihat bagaimana kepolosan di mata itu perlahan tersapu, digantikan oleh api asing, api dendam yang dingin, penyesalan yang membara, dan tekad baja yang membeku. Bibirnya yang pucat berkomat-kamit, membentuk satu nama dengan penuh kerinduan dan sumpah:
"Niel..."
Lalu, seperti ditusuk jarum ingatan, bayangan sosok lain muncul dengan jelas di benaknya, senyum manis yang selalu terukir sempurna, tatapan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman palsu, dan suara merdu yang dulu berhasil meluluhkan kewaspadaannya.
Wajah saudara angkatnya, sang perampas, si licik yang menyelinap di balik topeng keluarga, Calista mengepalkan tangannya. Cermin itu memantulkan perubahan itu dengan sempurna, seorang gadis remaja dengan bola mata yang tiba-tiba memancarkan kilatan tajam seorang veteran perang yang baru saja kembali hidup.
"Aku harus mengetahui aku berada di tahun berapa," pikirnya, suara hatinya dingin dan terfokus.
Dia membalikkan badan dari cermin. Pintu keluar toilet ada di ujung lorong. Langkahnya, yang tadinya ragu-ragu, kini mantap. Setiap langkah adalah langkah menuju sebuah misi. Dia menarik pintu kayu itu, dan dunia barunya, atau dunia lamanya yang akan dia ubah, terbentang di depan mata.
.
.
.
Terima kasih.. sudah mampir di karya mami.. semoga kalian suka..
JANGAN LUPA KASIH LIKE DI SETIAP BAB, KOMEN, & VOTE YA SAYANG...
Terima kasih😘
tp... tetep lanjut💪