Dikhianati tunangan dan kakak kandung, bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AgviRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Malam pukul 23.45 WIB.
Seorang wanita terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar dalam kegelapan malam. Dia merasa haus, seperti ada yang mengeringkan tenggorokannya. Dia menggeliatkan tubuhnya yang lelah, mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih membalutnya.
Dia melemparkan selimutnya ke samping, lalu berdiri dari tempat tidurnya. Kaki-kakinya yang telanjang menyentuh lantai yang dingin, membuatnya menggigil. Dia menatap botol yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.
Biasanya dia selalu sedia air menggunakan botol tersebut. Tapi, malam ini ternyata isi botolnya kosong. Sebelum tidur dia lupa mengisinya karena saking lelah dan tak kuasa menahan kantuknya.
Bagaimana tidak? Sebelumnya, dia begitu sibuk mengurus hal-hal untuk acara yang akan digelar besok pagi.
Lalu siapa dia?
Dia adalah Ayudisa Candraningtyas (25) atau yang kerap dipanggil dengan Ayu.
Akhirnya Ayu memaksa beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar membawa botol. Dia berjalan ke arah dapur, langkah-langkahnya yang lembut tidak membuat suara yang berarti.
Di dapur, Ayu menyalakan lampu, lalu menuju ke kulkas untuk mengambil air. Dia minum air itu dengan lahap, merasa lega setelah meredakan rasa hausnya. Dia juga tidak lupa mengisi air dalam botol yang telah dia bawa. Setelah itu, dia kembali menuju ke kamarnya.
Saat Ayu hendak masuk ke dalam kamarnya, sayup-sayup dia mendengar suara yang membuatnya bergidik ngeri. Lolongan desahan yang panjang dan mengerikan berasal kamar kakaknya, membuatnya merasa seperti ada yang sedang menghantui rumahnya.
Dia merasa bulu kuduknya berdiri, dan jantungnya berdegup kencang. Dia mencoba untuk tidak memperhatikan suara itu, namun tidak bisa. Suara itu terus mengganggunya, membuatnya merasa tidak nyaman dan takut. Dia berjalan ke arah pintu kamar kakaknya, mencoba untuk mendengar suara itu lebih jelas.
Ayu begitu penasaran dan yang lebih membuatnya penasaran ketika ada suara laki-laki dalam kamar kakaknya tersebut.
"Ih, Kakak sama siapa itu? Mendengarnya aku menjadi merinding. Atau jangan-jangan itu hanya suara dari ponselnya ya?" Gumam Ayu penuh dengan pertanyaan.
"Tapi, kenapa aku merasa familiar sekali dengan suara tadi. Atau jangan-jangan?" Sambungnya setelah menajamkan pendengarnya.
Ayu yang berdiri di luar kamar kakaknya semakin merasa penasaran. Tidak mau salah mengira atau berprasangka yang tidak-tidak, dia menempelkan telinganya di pintu kayu yang tebal.
"Yah, Doni. Terus."
Sekali lagi dia mendengar suara-suara yang tidak pantas dari dalam kamar kakaknya. Suara-suara itu membuatnya merasa seperti telah ditampar dengan kuat. Tangan kanannya menyentuh dadanya yang kini mendadak terasa sesak. Tubuhnya bergetar hebat. Sedang tangan kirinya saat ini mengepal dengan sempurna.
Dia bisa mendengar suara kekasihnya dan kakak kandungnya, yang berbicara dengan nada yang pelan dan intim.
Ayu merasa seperti ada yang sedang menghancurkan hatinya. Dia merasa seperti tidak bisa bernapas, dan seperti tidak bisa berpikir dengan jernih. Suara-suara itu terus mengganggunya, membuatnya merasa semakin sakit dan semakin kecewa.
Ayu memejamkan kedua matanya untuk menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kakaknya dengan pelan agar tidak mengganggu kedua manusia yang tidak tahu malu itu.
Ayu berdiri di pintu kamar. Di dalam sana dia melihat kekasihnya dan kakak kandungnya dalam posisi yang tidak pantas. Kamar itu gelap, namun cahaya bulan yang masuk membuatnya bisa melihat keadaan di dalam kamar dengan jelas.
Dengan wajah-wajah yang merah padam dan mata-mata yang bersinar dengan nafsu. Mereka berdua terlihat seperti telah terjebak dalam suasana yang penuh gairah dan nafsu, tanpa mempedulikan konsekuensi dari tindakan mereka.
Kekasihnya dan kakak kandungnya berada di atas tempat tidur, dalam pelukan yang erat. Ayu bisa melihat bayangan mereka berdua, dan bisa mendengar suara-suara yang tidak pantas.
"Haahh, iya sa-yang, begitu. Ak-u hampir sam-pai" Suara Dina terdengar tersengal.
Dina Rahmawati (27) adalah kakak kandung Ayu. Dia seorang janda. Dia bercerai karna sifat Dina yang tak pernah bisa menghargai laki-laki.
Merasa posisi mereka sekarang kurang nyaman, keduanya berganti posisi.
Blush!!
Doni terlihat merem melek ketika pusakanya dia masukkan dengan gerakan lambat.
"Ini sempit sekali, sayang. Rasanya seperti diurut-urut, benar-benar membuatku nagih. Huahhh,,,"
Doni yang sudah dimabuk kepayang tak memikirkan hal lain kecuali yang dirasakan saat ini, dia begitu menikmati kegiatannya dengan Dina.
Doni Rahmanto atau yang kerap di panggil Doni (28) adalah laki-laki yang besok pagi akan menikah dengan Ayu.
"Jelas dong, sayang. Aku pastikan kamu akan selalu c4ndu denganku." Dina menarik nafasnya yang sedikit tersengal.
"Aku sebenarnya ragu. Apa kamu benar-benar akan menikah dengan adikku yang kurang pergaulan itu? Aku merasa tidak rela kalau kamu menikah dengannya." Imbuh Dina.
"Ya mau gimana lagi? Besok pagi aku harus menikahinya. Tenang saja sayang, walaupun aku menikah dengannya, aku pastikan hatiku tidak akan berpaling darimu dan aku jamin aku akan lebih banyak menghabiskan waktu denganmu." Sahut Doni tanpa menghentikan gerakannya dan terus melakukan kegiatannya sambil merem melek.
'Ck, benar-benar sepasang manusia yang tidak tahu malu.' Ayu berdecak dalam hati sambil melipat kedua tangan didepan dada. Kini dia merasa jijik melihat calon suaminya.
"Tentu dan itu harus. Aku yakin kamu tidak akan bisa pu4s jika bersamanya. Apalagi katamu aku sudah membuatmu nagih. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu sedang melakukan hal ini dengannya, yang ada kamu akan bekerja sendiri dan dia hanya akan diam seperti batang pisang."
Jelas Dina akan berkata seperti itu, karena dia sudah begitu mahir dalam melakukan berbagai gaya dalam bertempur.
"Benar sayang, dia aku sentuh saja tidak mau apalagi aku c1-um. Menyebalkan sekali. Tidak seperti kamu yang bisa mengerti aku. Kamu tahu caranya menyenangkan hatiku. Ohh, aku mau keluar sayang." Doni pun lebih mempercepat gerakannya.
'Gila-gila, benar-benar sepasang manusia menjijikkan.' Gumam Ayu dalam hati.
"Aku juga sayang, kita keluar sama-sama."
"Aarghhhhh,,,, " Dengan hentakan yang kuat, Doni mencapai puncak dan menyemburkan mayonesnya kedalam sangkar Dina, begitupun dengan Dina, dia begitu puas dengan servis Doni.
Mereka berdua pun terkulai lemas setelah bertempur. Doni pun memeluk dan memberikan kecupan di kening Dina.
"Rasanya lemas dan lelah sekali, kamu sangat bersemangat dan kuat sayang." Ucap Dina memuji Doni.
Suasana di kamar itu terasa sangat tidak nyaman, dengan udara yang terasa panas dan berat. Kekasihnya dan kakak kandungnya terlihat seperti telah melupakan semua norma dan nilai yang berlaku, dan hanya terfokus pada keinginan mereka sendiri.
Dia merasa ditampar, dan seperti dunianya telah runtuh.
Ayu merasa sakit, marah, dan kecewa. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, atau apa yang harus dia katakan. Dia hanya bisa berdiri di sana, memandang kekasihnya dan kakak kandungnya dengan perasaan yang campur aduk. Malam itu, yang seharusnya menjadi malam yang indah, kini telah menjadi malam yang paling mengerikan dalam hidupnya.
Ayu terus menggelengkan kepalanya. Laki-laki yang dia sayang dengan segenap hati dan jiwa ternyata tega mengkhianatinya.
Plok! Plok! Plok!
"Wah, sepertinya pertempuran kalian ini begitu menyenangkan ya?" Lontar Ayu sambil bertepuk tangan.
Doni dan Dina sontak kaget dengan asal suara tersebut.
"A-ayu, sejak kapan kamu disitu?" Tanya Doni gugup.
Ayu hanya menaikkan kedua bahunya.
Doni terlihat sangat gugup dan panik ketika terkejut oleh kehadiran orang lain di kamar tersebut yang tak lain adalah Ayu calon istrinya. Doni terlihat seperti telah ketakutan, wajahnya pucat dan matanya lebar dengan rasa takut.
Doni terlihat seperti ingin melarikan diri, dengan kaki-kakinya yang gemetar dan tangan-tangannya yang mencari sesuatu untuk dipegang.
"Ak-ak-."
"Ak, ak apa? Kamu mendadak gagap ya?"
"It-itu sayang. Anu."
"Apa? Kamu mau bilang apa?"
Sesaat Doni tersadar.
"Sayang, semua ini hanya salah paham." Doni langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur, Ia memunguti semua pakaiannya dengan sangat susah karena saking gugupnya.
Ayu spontan langsung mengalihkan pandangannya dari sana.
'Laki-laki tidakk tahu malu.' Batin Ayu.
Dina yang sedari awal memang tidak menyukai hubungan Doni dan Ayu sengaja diam ditempat tidur dan melengkungkan bibirnya tersenyum puas.
Doni buru-buru mengenakan pakaiannya. Dia berjalan mendekati Ayu.
"Sa-sayang, dengarkan aku dulu, tadi itu ak-." Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Ayu sudah memotongnya.
"Stop, jangan melangkah lagi. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi, semua sudah jelas. Teruskan saja kalau masih kurang. Sana jauh-jauh jangan dekat-dekat, aku mendadak jijik sama kamu."
"Eng-enggak sayang. Bukan begitu."
Doni yang merasa khawatir hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar merasa bingung sekarang.
"Hebat sekali ya kamu, berani main dibelakang aku. Dan apa? Ternyata kalian berdua sebelumnya sudah sering melakukannya. Sejak kapan? Ternyata aku selama ini bodoh. Beruntung malam ini aku mengetahui semua." Imbuh Ayu.
"Halah, berlebihan sekali kamu. Asal kamu tahu ya, Doni itu sebenarnya terpaksa untuk menikahi mu. Lagian Doni itu cintanya sama aku bukan sama kamu. Jadi, wajar dong kalau kita melakukannya, kita kan saling cinta. Iya kan, Don?" Dina mengatakannya dengan begitu santai.
Ayu menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia tak habis fikir dengan kakaknya. Kakaknya begitu tega melakukan hal itu dengan calon suaminya.
"Apa benar itu, Mas?" Ayu ingin memastikan jawaban Doni.
"Em, anu, a-aku memang menyukai Dina, tap-tapi, ak-ku juga mencintai kamu, Yu."
Plaakkk.
Ayu mengangkat tangan dan melayangkan sebuah tamparan keras tepat di pipi kiri Doni.
Doni pun meringis dan mengelus pipinya yang terasa panas dan kebas.
"Ada apa ini kok ribut-ribut?"