Kata kunci masuk GC : Siapakah nama paman Almira?
Pernikahan yang dibina Almira selama setahun kandas di tengah jalan. Tomy. suami yang dicintainya menghamili sekertarisnya. Almira yang kecewa dengan suaminya langsung kabur dari rumah untuk menghindari suaminya dan mertuanya.
Tanpa sengaja Almira bertemu kembali dengan Tomy di kantor tempat Almira bekerja, karena atasan Almira adalah teman Tomy. Semenjak itu Tomy kembali mendekati Almira. Almira tidak ingin kembali ke mantan suaminya dan hanya ada satu cara agar Tomy berhenti mengejar Almirah lagi, yaitu menikah dengan atasannya yang bernama Faisal Yudhatama.
Faisal Yudhatama adalah pemilik perusahaan tempat Almira bekerja Faisal adalah seorang duda yang memiliki tiga anak, istrinya meninggal karena sakit kanker yang di deritanya.
Demi menolong Almira dari gangguan Tomy, Faisal meminang Almira. Akankah Almira menerima pinangan Faisal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Petir Di Siang Hari.
Assalamualaikum, suara bel pintu berbunyi. Namun Almira sedang sibuk memasak di dapur, ia takut masakannya akan menjadi gosong jika ditinggalkan.
“Mbok tolong bukakan pintu!!” seru Almira menyuruh pembantunya yang sedang mencuci piring untuk membukakan pintu.
“Ya, Non.”
Mbok Silah meninggalkan cucian piringnya lalu pergi ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Seorang pria dan wanita sedang berdiri di depan pintu.
“Assalamualaikum,” ucap Tomy lalu masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” balas Mbok Silah.
“Almira ada, Mbok?” tanya Tomy.
“Ada, Den. Non Almira sedang masak di dapur,” jawab Mbok Silah.
Lalu Mbok Silah meninggalkan kedua orang itu dan kembali ke dapur.
“Kamu duduk dulu, saya akan panggilkan istri saya,” kata Tomy lalu meninggalkan wanita itu dan menghampiri Almira yang sedang memasak di dapur.
“Assalamualaikum,” ucap Tomy mendekati istrinya yang sedang memasak di dapur.
“Waalaikumsalam,” balas Almira.
Dengan sigap Almira mematikan kompornya lalu mengelap tangannya pada celemek yang ia gunakan. Setelah itu Almira mencium tangan suaminya.
“Ada apa, Mas? Kok siang-siang sudah pulang?” tanya Almira dengan heran karena tidak biasa suaminya pulang kerja siang hari.
“Apa ada dokumen yang tertinggal? Padahal kalau ada yang tertinggal telepon Almira aja, biar nanti Almira suruh driver ojol yang mengantar,” kata Almira.
“Tidak ada dokumen yang tertinggal. Hanya ada yang hendak Mas bicarakan dengan kamu,” kata Tomy.
Almirah melihat Mbok Silah membawa nampan dengan gelas sirup di atasnya.
“Untuk siapa, Mbok?” tanya Almira bingung.
“Ada Non Tita di depan, Non,” jawab Mbok Silah.
“Mas, datang dengan Tita?” tanya Almira.
“Iya, Mira. Ada yang hendak kami bicarakan dengan kamu,” jawab Tomy.
“Ada apa, Mas?” Almira benar-benar tidak mengerti apa yang hendak suaminya katakan. Apalagi suaminya membawa Tita sekertarisnya.
“Ayo kita duduk di depan,” Tomy merangkul bahu Almira dan menuntunya menuju ke ruang tamu.
“Selamat siang, Bu,” sapa Tita ketika melihat Tomy datang bersama dengan Almira.
“Selamat siang, Tita.”
Tomy menuntun Almira untuk duduk di kursi. Kemudian Tomy menutup pintu ruang tamu. Almira mengerutkan kening, tidak biasanyanya suaminya menutup pintu ruang tamu ketika ada tamu. Biasanya suaminya membiarkan pintu ruang tamu terbuka. Apakah ada hal penting yang dibicarakan hingga pintu ruang tamu harus di tutup? Pikir Almira.
“Gelap, Mas,” kata Almirah.
Kemudian Tomy menyalakan lampu Kristal yang berada di ruang tamu.
“Mas hendak bicara apa?” tanya Almira setelah suaminya duduk di sebelahnya.
Tomy mengambil tangan kanan Almira lalu diciumnya dan di gengamnya dengan penuh cinta.
“Sebelumnya Mas minta maaf jika Mas punya salah pada Almira. Dan Mas minta maaf jika Mas belum bisa membahagiakan Almira,” kata Tomy dengan bersedih.
Tomy memberikan hasil USG kepada Almira.
“Apa ini, Mas?” tanya Almira ketika menerima hasil USG.
Almira memperhatikan hasil USG itu.
“Anak siapa ini, Mas?” tanya Almira.
Tomy diam tidak menjawab pertanyaan Almira.
“Itu hasil USG saya, Bu. Dan bayi itu anak saya,” jawab Tita.
“Terus apa hubungannya dengan saya?” tanya Almira.
Tita dan Tomy diam tidak menjawab pertanyaan Almira. Terlihat wajah penuh penyesalan dari kedua orang itu.
“Tidak perlu kalian jawab. Saya sudah mengerti sekarang,” kata Almirah dengan nada marah.
Almira melepaskan tangannya dari genggaman Tomy.
“Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan di belakang saya?’ tanya Almira dengan pandangan tajam pada Tomy dan Tita.
Mendengar perkataan Almirah Tomy dan Tita kaget.
“Almira,” kata Tomy sambil hendak menggenggam tangan Almira.
“Jangan sentuh saya!!!” bentak Almira.
“Almira, Mas cinta sama kamu Almira,” desis Tomy.
“Bukan itu yang saya tanyakan. Tapi sudah berapa lama kalian diam-diam berhubungan di belakang saya?” tanya Almira dengan tegas.
“Sudah empat bulan, Bu,” jawab Tita sambil menunduk.
“Tita, diam kamu!!!!!” bentak Tomy.
“Dan bayi itu sudah berusia berapa bulan?” tanya Almira.
“Tiga bulan setengah, Bu,” jawab Tita lagi.
“Saya minta maaf, Bu,” ujar Tita.
“Apa? Maaf? Apa ketika kalian melakukannya kalian ingat kepada saya?” sentak Almira.
“Kalian dengan seenaknya berhubungan badan di belakang saya,” seru Almira.
“Almira, Mas khilaf,” kata Tomy.
“Apa khilaf? Memangnya Mas melalukannya dalam keadaan mabok?” tanya Almira.
“Mas dijebak oleh klien Mas. Minuman Mas diberi obat perangsang.” Tomy berusaha membela diri.
“Ah…bul-****. Itu cuma karangan Mas saja. Almira tidak percaya. Kalian pasti melakukannya dalam keadaan sadar. Dan ketika kalian melakukannya, kalian tidak ingat kepada saya sama sekali,” kata Almira.
“Almira memang belum bisa memmberikan Mas keturunan. Almira sadar itu. Tapi dihianati oleh suami sakit sekali rasanya,” kata Almira sambil menangis.
“Sekarang Mas menghamili Tita. Mas harus bertanggung jawab!" seru Almirah dengan tegas.
“Mas nggak mau, Mas cinta sama kamu,” ujar Tomy dengan menangis dan memeluk Almira.
.
.
ntar sore diteras keun deui
karena setiap hari ketemu....
pepatah Jawa mengatakan tresno jalaran seka kulino....
mbah putri
uti