NovelToon NovelToon
Merindukan Jingga

Merindukan Jingga

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Perjodohan / Tamat
Popularitas:480.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kirana Putri761

Setelah baca juga jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs..... like, vote or comment

Jingga... kesetiaanmu akan selalu mengiringi datang dan perginya mentari, tidaklah bisa diragukan lagi. Kalaupun tidak nampak itu hanya sekedar bersembunyi di balik mendung, tapi bukan untuk meninggalkan Sang mentari.

Jingga... seperti halnya warna indah yang selalu menggantung di kala terbit dan terbenamnya mentari. Seperti itulah kesetiaanmu, ketika menunggu seorang Alando yang tak menginginkan perjodohan itu.

Jingga Andini, Gadis kecil yang di jodohkan dengan Alando Mahesa Putra karena kesepakatan keluarga dari kaum Ningrat. Penolakan Alando, perbedaan usia dan karakter mampukah menghadirkan cinta dalam pernikahan mereka?

Jika sepasang nama sudah tertaut dalam takdir dan perasaan, lantas kalian bisa apa? pergi atau saling menyakiti pun percuma.

Alando' s Pov

Aku merindukanmu Jingga...
Jika saja aku mudah mengenali perasaanku, aku tidak akan mungkin kehilanganmu. Seperti kemarin, kamu akan tetap tinggal untuk selalu menungguku di sana, bersama warna jingga yang selalu memberi harapan pada setiap kehidupan.

Jingga, aku akan selalu menunggumu seperti kamu yang selalu setia menungguku.

Aku mencintaimu Jingga Andini.

Jingga's Pov

Memang berat aku berpisah denganmu. Tapi aku bisa apa? Jika kamu tidak bisa mencintaiku. Mengikatmu dalam perasaanku dan hubungan ini, maka tidaklah benar.

Aku mencintaimu, dulu dan sekarang. Aku masih mencintaimu dengan cinta yang sama.

Tidak pernah menyangka jika pernikahan mampu menghadirkan Cinta diantara mereka. Tapi bisakah kekuatan cinta mereka menemukan latar belakang Jingga yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Menahan Cemburu

Terkena Sorotan lampu motor Alan membuat mata Jingga menjadi silau. Tubuh yang sudah terasa lemas itu hampir kehilangan keseimbangan.

"Jinggaaa...! " teriak Alan saat melihat Jingga di pinggir jalan. Lelaki itu kemudian menstandarkan motornya dan kemudian berlari ke arah Jingga.

"Mas Alan... hampir saja aku menangis karena nggak tau jalan pulang! " ucap Jingga saat mendapati Alan sudah ada di depannya.

"Bukannya sudah menangis? Ini apa? " ujar Alan dengan mengusap kedua sudut mata Jingga yang sudah mengembun.

"Bukan, itu cuma rasa kesal saja! " kilah Jingga dengan mengerucutkan bibir ke depan agar bisa menahan tangisnya di depan Alan.

"Sebaiknya kita cepat pulang! " ujar Alan dengan menarik lengan Jingga menuju motornya. Saat di jalan, Alan menunjukkan beberapa arah dan patokan tempat yang bisa diingat Jingga, hingga motor sport itu sudah membelok di halaman rumah miliknya. Jingga hanya menyandarkan tubuhnya di belakang tubuh Alan dengan melingkarkan lengan tangannya di perut Alan. Otaknya sudah tak mampu mencerna apa yang dikatakan Alan.

Setelah turun dari motor, Jingga langsung merebahkan tubuhnya di sebuah kursi panjang berbahan kayu yang ada di teras dekat garasi. Melihat Jingga, Alan hanya tersenyum sambil berdecih.

"Ngga, ayo masuk! " ujar Alan dengan berdiri di dekat tubuh yang tergeletak lemas.

"Gendong! " rengek Jingga karena merasakan kakinya sakit semua.

"Apa? Kamu kira kamu anak kecil?Ayo jalan sendiri!" ujar Alan dengan menarik bangun tubuh Jingga. Dia mengira Jingga hanya berpura-pura.

"Kakiku sakit, Mas! " Wajahnya penuh permohonan. Melihatnya saja Alan tak tega, wajah yang biasa berbinar itu kini terlihat kusut.

" Manja sekali anak gunung ini! " decih Alan kemudian berjongkok, membuat Jingga langsung bangun dan menempel di punggung bidang Alan.

"Terima kasih, Mas Alan! " ujar Jingga dengan menyandarkan kepalanya di punggung Alan. Lelaki berperawakan tinggi itu berjalan dengan menggendong Jingga masuk ke dalam rumah.

"Kamu sudah makan, Ngga? " tanya Alan yang hanya di jawab dengan gesekan kepala Jingga di punggungnya.

"Makan Dulu ya? Aku udah beli makanan." tawar Alan sambil berjalan menuju tangga. Tapi tak ada jawaban dari Jingga, membuat Alan semakin penasaran. Di liriknya, lengan mungil yang tadinya bertaut erat di dadanya kini melemas, bahkan gendongan Jingga pun sudah terasa lebih berat. Alan mempercepat langkah panjangnya masuk ke dalam kamarnya. Dia memutuskan membawa Jingga di kamarnya saja yang ada di lantai bawah agar lebih mudah.

Berlahan di rebahkan tubuh Jingga yang melemas, perasaan cemas mulai menyerangnya ketika melihat Jingga hanya memejamkan mata.

"Ngga, bangun! " ujarnya dengan menepuk pelan pipi Jingga. Tidak ingin menunggu lama, Alan segera menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa Jingga yang sudah tak sadarkan diri.

Sudah cukup lama, Jingga mengerjapkan matanya saat merasa tubuhnya sudah terhimpit . "Mas Alan bangun! " ujar Jingga saat Alan mendekap tubuhnya dalam tidur.

"Ngga, kamu sudah bangun? Kamu membuatku khawatir! "

"Mas, udah jam sebelas malam. Aku belum menyiapkan barang bawaan yang sudah di jadwalkan untuk ospek besok." ujar Jingga dengan menengadahkan wajahnya menatap wajah tampan milik Alan.

"Nggak usah bawa! Kalo perlu nggak usah berangkat!" ujar Alan kembali memejamkan mata dan mengeratkan kembali lengannya di pinggang kecil Jingga.

"Besok kalo dihukum? " Jingga masih merasa cemas jika sampai kejadian hari pertama ospek terulang lagi di hari ke dua.

"Nggak bakal, jangan ngenyel terus! Ayo..tidur lagi. " ucap Alan meyakinkan Jingga membuat perempuan yang masih ingin tidur itu juga tak mau ambil pusing lagi.

Mereka terpulas sepanjang malam karena rasa lelah. Hingga tak menyadari jika keduanya sudah saling mendekap memberi rasa nyaman satu sama lain.

###

Mobil Jeep Wrangler warna grey itu berhenti tepat di parkiran khusus mobil dosen. Hari ini, Alan sengaja mengantar Jingga sampai masuk ke dalam halaman kampus.

"Nanti kalo aku nggak bisa jemput, kamu pesan taxi online saja! Jangan jalan kaki!" ujar Alan saat mereka masih di dalam mobil.

"Iya, Mas! " Jingga mencium punggung Alan untuk berpamitan.

"Ngga, ... sebentar! Kemari mendekat! " ucap Alan dengan menjentikkan jarinya agar Jingga mendekat. Jingga seperti orang yang terhipnotis saat dia masih bingung dengan apa yang dimaksut oleh Alan.

cup...

Alan mengecup pucuk kepala Jingga saat perempuan dengan wajah penasaran itu sudah mendekat.

"Mas Alan...!" desis Jingga terkaget dengan wajah memerah, Menahan rasa malu di depan sosok yang membuat jantungnya selalu berdetak tak menentu.

Jingga segera pergi ke ruangan yang sudah ditentukan di dalam jadwal acara. sementara Alan pergi menemui temannya yang menjadi salah satu dosen di kampus itu untuk menitipkan Jingga. Dia merasa khawatir, mengingat kondisi Jingga yang kurang fit ditambah lagi, hari ini jingga yang tidak membawa persyaratan lengkap ospek agar tidak terkenal masalah.

Jingga berjalan dengan tergesa menuju gedung lantai dua. Dia yakin jika dia sudah terlambat.

"Jingga Andini! " suara Arga membuat jingga berhenti dan menoleh pada sosok yang sudah memanggilnya.

"Iya, Kak! "

"Nggak usah berlari, acaranya tidak terlalu formal! Hari terakhir ospek hanya sedikit pengarahan dan hiburan! " cowok bertubuh tinggi lengan dengan jas almamater itu berjalan mensejajari Jingga.

"Maaf untuk hukuman kemarin." lanjutnya masih dengan pandangan ke depan. Ketua BEM itu memang dikenal sebagai cowok cool dan punya dedikasi yang tinggi.

"Nggak apa-apa, Kak! Aku memang salah! " jawab Jingga yang kemudian mempercepat langkahnya sebelum masuk ruangan yang sudah penuh mahasiswa baru.

"Jingga...!" panggil Nelly supaya Jingga duduk di dekatnya. Mereka mulai berkenalan dari hari pertama ospek.

" Wuihhh udah telat, jalan bareng cowok idola kampus! Mahasiswa baru ini emang top deh!" puji Nelly sambil berbisik di telinga jingga. Nelly teman pertama yang dekat dengan jingga dan mereka bahkan sudah saling mensupport.

Sementara ada satu mahasiswi yang tengah menatap Jingga dengan tatapan tidak senang. Mahasiswa yang menobatkan diri Sebagai mahasiswi baru paling keren dan popular, namanya Renata.

###

Akhirnya, Ormaba (orientasi mahasiswa baru) selesai juga. Jingga kini berjalan bersama Nelly menelusuri koridor kampus. Mereka terlihat bahagia saat mengakhiri acara yang menurutnya sangat ribet.

"Nelly, jadwal kuliah kita sama kan? " tanya Jingga.

"Iya, untung saja kita banyak jadwal kuliah pagi!"

"Auhhhh..! rintih Jingga saat tubuhnya di tabrak Renata dari belakang.

" Sorry...!"' ucap Renata dengan cueknya berlalu begitu saja.

Tak ingin membuat permusuhan di awal kuliahnya, Jingga hanya terdiam. Tapi matanya menatap kesal karena buku dan bulpoin yang berada di tangannya itu kini terjatuh dan tercecer.

"Kayaknya sengaja dia, Ngga! " ujar Nelly tak kalah jengkel saat menatap Renata, sementara Jingga masih memungut bukunya.

"Ini polpoinnya! " Arga tiba-tiba datang dengan menyerahkan polpoin yang sempat menggelinding menjauh dari Jingga.

"Makasih, Kak! " ucap Jingga.

"Ngga, aku duluan ya! " pamit Nelly yang kemudian berjalan meninggalkan mereka. Gadis itu seperti terburu buru ingin meninggalkan kampus.

Jingga masih berjalan menelusuri koridor kampus ditemani Arga. mereka saling bertukar cerita, lebih-lebih Arga yang banyak cerita tentang kampus bahkan mengajak Jingga untuk ikut kegiatan kemahasiswaan

Saking asyiknya bercerita, Jingga tak menyadari jika seseorang sudah mengawasinya sejak tadi. Alan sudah berdiri dan bersandar di dekat pintu keluar dengan satu tangannya masuk di saku, tatapan mengintimidasi sudah tertuju pada Jingga dan Arga.

"Kak, aku duluan! Aku sudah dijemput! " pamit Jingga saat melihat Alan yang sudah melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Melihat wajah Alan yang tak biasa membuat Jingga hanya terdiam.

Alan melajukan mobilnya tanpa banyak bicara. Bahkan, tatapannya yang nampak terlalu fokus ke depan memberikan kesan ada sebuah kemarahan di dalam dirinya.

bersambung

1
Oyah Karlinaa
aku suka karya " Nya,,dari mulai rahasia cinta Zoya,,😘
Oyah Karlinaa
Kecewa
Oyah Karlinaa
Buruk
InDri
bagus ceritanya..👍
Putri Pitra
Kecewa
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
wily andriani
aku agak bingung dengan ceritanya.
ntah lompat ntah terlalu cepat ceritanya pindah ke yg lainnya tanpa di tuntaskan terlebih dahulu.
dan ini kan jingga lagi amnesia, masa sama temen² kampus nya dia ingat bahkan untuk pulang juga sudah dibolehkan utk naik taksi.
Nurul Laila
kyk prnh baca tp lupa judul novelnya apa , kyk hampir mirip sama kata2nya
yosya
hati istri mana yg gak sakit melihat itu...
meski terbilang masih seperti bocah... tapi hati seorang istri sudah terluka...
yosya
cembulu nih yee
yosya
pengen nya mah gak mabok ya ngga...
yosya
lirikan mata mu membuat jantung ku ajojing 🎶🎶
ea ea ea
yosya
hadir kak
Mirwani Adwa Azizah
aku senyum bacanya.. gara gara mas Alan bilang.. ''dijaga suaminya, jangan dicuekin''
Mirwani Adwa Azizah
kalo punya suami punya black card enak kali ya.. minta mobil tinggak milih..
Mirwani Adwa Azizah
😂😂😂
Mirwani Adwa Azizah
hahaha. ..
Mirwani Adwa Azizah
Beri pelajaran juga ke Alan, Jingga.. biar dia Mengerti.. ''wanita biar salah akah selalu benar''.. hehe
Mirwani Adwa Azizah
curiga sama Nelly sejak awal.. maksa Jingga ikut.. n tau Alan keluar kota, padahal Jingga belum ngasih tahu ke teman temannya .. pasti udah kerja sama ama Daniela
Mirwani Adwa Azizah
Dasar Alan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!