Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Wanita Malam
Bab 34
Wanita Malam
Suara musik house yang menghentak dari speaker kamarnya mengiringi Monika yang sedang bersiap-siap. Ia memoles wajahnya dengan makeup tebal, menutupi setiap kekurangan dan menonjolkan kelebihan yang ia miliki. Ia mengenakan pakaian dalam berwarna merah menyala, kemudian menutupi tubuhnya dengan dress minim bahan berwarna hitam yang ketat. Penampilannya malam ini begitu menggoda, memancarkan aura seksi bagi siapa saja yang melihatnya.
Monika keluar dari kamarnya. Menutup pintu rapat dan menguncinya. Lalu berlenggang turun ke lantai bawah.
Di depan pagar teman kerjanya sudah menunggunya. Tanpa ragu, monika duduk di jok belakang sepeda motor dan berlalu pergi meninggalkan wangi yang masih berasa di udara sekitar kosan.
"Kemarin gimana, asik nggak?"
"Lumayan. Bikin aku ketagihan, hehehe..."
"Mau juga ya dia di ajak negosiasi. Aku kira bakal sulit."
"Yah, dari pada di hotel, kan lumayan kalau di kosan. Jadi uang bayar hotel bisa buat aku jajan."
"Apa nggak apa-apa?"
"Kosan ku bebas. Asal jangan telat bayar aja."
"Terus tetangga mu yang baru itu, gimana?"
"Kerja di kafe XX dia sekarang."
"Nggak di ajak kerja bareng kita aja?"
"Jangan deh. Kalau dia kerja kayak kita, bisa-bisa semua pelanggan di ambil sama dia. Cantik banget soalnya."
"Hahaha... Bener-bener. Jangan deh di ajak ikut kita, bahaya! Tapi dia nggak neko-neko kan?"
"Sejauh ini, yang ku kenal dia cukup baik dan ramah. Aku juga suka sama kepribadiannya."
"I see. Semoga aja dia nggak terpengaruh sama lingkungan situ. Tapi, kasihan juga kalau terlalu lama tinggal di kosan itu. Eh, bagaimana kalau kita tinggal bareng di kontrakan aja?"
"Maksud mu?"
"Iya... aku, kamu dan dia. Kita tinggal bareng satu kontrakan rumah. Tinggal patungan aja berapa-berapa. Sudah pasti aman, dan kita lebih bebas lagi kalau kencan."
"Iya juga sih. Tapi apa dia mau? Lagian aku belum bilang pekerjaan ku apa."
"Tinggal ceritain aja yang sebenarnya. Kalau di tutupi pun lama-lama dia bakal tahu. Entah dari orang lain, atau dari pemikirannya sendiri."
"Benar juga. Nanti deh, tunggu waktu santai aku bicara sama dia."
-
-
-
Seminggu sudah Lyra bekerja di kafe Xx. Seminggu pula Lyra di antar temannya pulang ketika ia masuk shift sore. Mereka senang mengantar Lyra karena Lyra memberikan tips kepada mereka, alih-alih ganti uang bensin yang di pakai tak seberapa. Tips itu pun Lyra dapatkan cuma-cuma dari pelanggan yang senang terhadap layanannya.
Lyra melangkah gontai menaiki tangga. Seperti biasa, ia tidak akan mandi malam itu karena kosan di malam hari jarang sekali sepi. Lyra takut di intip ketika sedang mandi. Oleh karena itu, ia lebih memilih mengelap dirinya dengan air dalam ember yang sudah ia siapkan sejak siang tadi di dalam kamarnya.
"Aahhh.... sayang...."
Lagi-lagi suara desahan terdengar samar dari kamar Monika, menembus dinding yang memisahkan kamar mereka. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam seminggu Lyra mendengar suara-suara panas itu. Ia berusaha keras untuk tidak peduli, mencoba mengabaikannya dengan tetap fokus mengelap tubuhnya. Setelah selesai dan berganti pakaian, Lyra beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya untuk membuang air bekas di ember ke saluran balkon.
"Eh, Lyra!" Monika sedikit terkejut dan malu melihat Lyra ada di depan pintu. "Be... belum tidur?"
Tak hanya Monika, Lyra pun tampak sedikit terkejut dan menundukkan pandangan setelah melihat sekilas Monika yang berkeringat dengan rambut sedikit berantakan, dan ada rona merah di pipinya.
"Belum Mbak. Habis ngelap diri. Ini mau buang air di saluran balkon," jawab Lyra dengan sedikit kikuk. Ia berusaha menyembunyikan rasa canggungnya karena telah mendengar suara-suara Monika tadi.
"Oh, aku mau ke bawah dulu," ujar Monika dan segera berlalu.
Lyra pun ikut berlalu melangkahkan kaki menuju balkon yang berlawanan arah dengan tangga yang di turuni oleh Monika.
Namun saat Lyra berbalik badan dan hendak kembali ke kamar, langkahnya tertahan sesaat. Ia melihat seorang laki-laki bergegas keluar dari kamar Monika dan langsung menuruni tangga.
Tidak lama, Monika pun muncul dari arah tangga.
"Lyra, bisa kita bicara sebentar?"
Lyra diam tetapi kepalanya mengangguk.
"Di kamar mu saja ya, kamar ku berantakan."
"Iya Mbak. Ayo, masuk..."
Mereka pun masuk lalu merapatkan pintu tanpa di dikunci.
"Lyra, kamu... mungkin sudah mendengarnya," kata Monika membuka pembicaraan sambil duduk berhadapan dengan Lyra di lantai.
"Mendengar apa Mbak?"
Lyra tidak ingin asal mengiyakan. Apalagi jika itu perihal desahan yang beberapa kali ia dengar. Ia malu untuk mengakui.
"Soal itu... Kamu pasti sudah menebaknya. Ini tentang pekerjaan ku. Aku adalah wanita malam, kamu pasti tahu soal itu."
Lyra terkejut, tetapi dengan cepat ia menutup ekspresinya.
Ya, Lyra tahu apa artinya wanita malam secara garis besar dan umum. Tetapi Lyra hanya diam menanggapi ucapan Monika. Ragu untuk berkata, takut membuat wanita di hadapannya tersinggung, apalagi terluka. Karena selama ini Monika begitu baik padanya.
Monika pun perlahan menjelaskan tentang kehidupan dan pekerjaan yang ia lakoni. Lyra mendengarkan, tanpa menyela dan tanpa memandang dengan tidak suka kepada Monika. Ia berusaha memposisikan dirinya sebagai Monika. Dan berusaha memahami kesulitan yang dirasakan wanita itu.
Monika adalah seorang wanita malam. Profesi yang ia jalani untuk bertahan hidup di kerasnya ibu kota. Ia bekerja di sebuah klub malam mewah di pusat kota, melayani para pria hidung belang yang haus akan hiburan dan kesenangan. Ia menari, minum, dan bercumbu dengan mereka, mendapatkan uang dari setiap sentuhan dan rayuan yang ia berikan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan Monika mungkin dianggap hina dan menjijikkan. Namun, bagi Monika, ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Ia tidak punya pendidikan yang tinggi, tidak punya keterampilan khusus, dan tidak punya keluarga yang bisa membantunya. Ia hanya punya tubuh dan keberanian untuk menghadapi kerasnya dunia.
Monika tidak pernah menyesali keputusannya untuk menjadi wanita malam. Ia merasa bangga dengan dirinya sendiri, karena ia bisa menghasilkan uang sendiri dan tidak bergantung pada siapapun. Ia juga merasa senang karena bisa membuat orang lain bahagia, meskipun hanya sesaat.
Namun, di balik senyum dan tawa yang selalu ia tampakkan di depan para pelanggannya, Monika menyimpan luka yang mendalam. Ia merasa kesepian dan hampa. Ia merindukan cinta dan kasih sayang yang tulus, bukan hanya nafsu dan uang. Ia ingin memiliki seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya, bukan hanya melihat dirinya sebagai objek seksual.
Kadang Monika menatap dirinya di cermin, bertanya-tanya sampai kapan ia harus menjalani kehidupan seperti ini? Kapan ia bisa menemukan kebahagiaan yang sebenarnya? Kapan ia bisa menjadi wanita yang dicintai dan dihargai?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantuinya, membuatnya merasa semakin tertekan dan putus asa.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊