Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA
Setelah penyelenggaraan pemakaman Nathan usai, Raniya berlari ke arah parkiran. Dia berkali-kali histeris, meski berkali-kali pula keluarganya berusaha menenangkan dirinya.
"Nathaaan... Nathaaaan... hiks... hiks... hiks... Kamu Jahat, Nath... Kamu jahaaat..." Pekik Raniya sambil terus berlari di antara gundukan tanah yang berjajar di sana.
BRUUUK...
Raniya bersimpuh, sebatang tubuh anak kecil laki-laki juga ikut tersungkur di hadapannya. Saat itu mereka saling tatap, sama-sama bersimbah air mata.
Sam, anak lelaki kecil yang beradu dengan nya. Sam bangkit dan mendekati posisi Raniya yang masih menatapnya dengan pandangan sendu.
"Tante... Tante... Kenapa menangis?" Tanya Samudra sambil mengusap kedua pipi Raniya yang terasa panas dan lembab.
Raniya tidak menyahut. Ia terus menatap Sam lekat. Air matanya tidak mengering, terus bergulir meski berkali-kali jemari kecil Sam mengusapnya dengan lembut.
"Tante... Sudahlah, Tante... Tante jangan nangis... Nanti Sam ikut menangis lagi..." Ujar Sam lirih. Dia berusaha menahan air matanya, meski sudah terasa perih ingin keluar.
Sam melihat air pesing keluar menyusuri kaki Raniya di balik rok yang dipakainya.
"Raniyaa..." Aziz datang merangkul tubuh Raniya. Dia juga melihat rok putrinya telah basah, hal yang membuatnya semakin terpukul. "Nak... Kamu jangan begini, Sayang... Ayah seakan merasa kehilangan Pelita dalam hidup Ayah melihat keadaanmu begini..." Dia mengangkat tubuh Rania untuk bangkit dan membawa putrinya itu ke dalam mobilnya yang terparkir di dekat sana.
Raniya menurut, hanya saja matanya tidak pernah lepas memandang lekat wajah sendu Sam, hingga ia pergi dan menghilang dari sana.
Raniya dan Ayahnya sampai di kediaman mereka. Tempat pesta baru saja berlangsung.
Raniya masih belum rela menanggalkan gaun nya. Dia berkeliling di tempat itu, tempat ia dan Nathan melangsungkan janji suci mereka. Janji suci yang hanya bisa terkenang entah untuk sampai kapan.
Jemari Raniya meraba halus kursi pelaminan yang harusnya mereka duduki pada hari itu. Dia berjongkok, kemudian melipat tangannya dan membenamkan wajahnya di sana.
"Huk... Uuu Huuuu Uuu... Aaah haa haa... Aaa... Aku teramat kehilangan untuk kali ini Yaa Allah..." Pekik Raniya menangis pilu. "Kenapa begitu tega memisahkan kami? Apa rencana terbaikmu untukku setelah ini, hah?" Raniya protes kepada Tuhannya. Bertanya tanpa terjawab.
Sudah hampir magrib, Raniya masih saja meratapi kepergian Nathan. Dia bangkit dan duduk di kursi itu. Kursi yang seharusnya menjadi singgasananya bersama Nathan. Menjadikan mereka ratu dan raja sehari, dan dipertontonkan orang banyak sebagai tamu undangan mereka.
Raniya benar-benar marah kepada Tuhannya. Dia merajuk dan tak ingin menghadap. Sikapnya kembali kekanak-kanakan, tidak ingin bicara apabila hatinya tersangkut keinginannya yang tidak terturut.
Dari zuhur ke ashar, tibalah waktu Maghrib usai. Dia masih sama, merajuk dan bersedih hati.
"Sayang... Sudahlah, Nak..." Aziz yang sedari tadi memantaunya dari kejauhan pun mendekat.
"Allah mengambil Nathan lagi dari Raniya, setelah baru saja Dia memberikannya untuk Raniya, Yah..." Protes Raniya mencebikkan bibirnya, manyun. Air matanya tidak henti berjatuhan menyampaikan dukanya yang teramat mendalam. Rasa kehilangan membuatnya sehancur itu.
"Andai saja, suami perempuan itu tidak memintanya datang, mungkin semua ini tidak terjadi. Ini semua gara-gara dia, Yah. Dia egois. Raniya membenci orang itu... Siapa pun dia..." Ucap Raniya merutuki dengan kasar.
"Raniya... Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Nak. Kamu harus relakan Nathan, agar dia bisa tenang menghadap Allah." Ucap Aziz menenangkan putri semata wayangnya itu, harta satu-satunya yang teramat berharga baginya melainkan apa pun di dunia.
"Raniya sedih, Yah... Raniya bahkan tidak diizinkan bertemu ibu oleh Allah, dan sekarang, Allah juga tidak membiarkan Raniya berbahagia bersama Nathan..." Sahut Raniya sembari merebahkan kepalanya ke bahu Aziz, Ayahnya. Dia mulai lemah dan tidak mampu lagi untuk berlaku histeris.
"Nak... Itu takdir, Sayang. Allah sedang menguji mu, bahkan juga Ayah... Semua pasti akan ada hikmahnya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas mampu hamba-Nya untuk menjalani ujian dari-Nya itu." Tutur Aziz berusaha meyakini hati Raniya.
"Apa hikmah setelah ini, Yah? Raniya bahkan tidak tahu kebahagiaan apa yang menanti Raniya. Atau masih kah ada lagi bahagia yang mau mendekati Raniya, Yah?" Tanya Raniya merasa rendah dan tersurut.
"Masih banyak kebahagiaan yang akan menjelang, Nak. Asal kamu percaya, bahwa Allah itu Ar-rahman dan Ar-rahim." Sahut Aziz seraya mengecup lembut pucuk kepala Raniya yang bertengger di bahunya.
"Shalat lah, Nak. Apa kamu tidak lagi menyayangi Ayah? Apa kamu tidak merasa bersalah terhadap Nathan suamimu? Kamu kan tahu, perempuan itu tanggung jawab walinya." Pinta Aziz sembari menggenggam tangan Raniya.
"Maafkan Raniya, Yah... Raniya telah bersalah terhadap Ayah dan Nathan." Ucapnya cepat, dan bangkit dengan tiba-tiba.
Raniya pergi ke dalam untuk menunaikan shalat Isya demi membuktikan kasih dan sayangnya untuk ke dua lelaki terhebat dalam hidupnya.
Ayahnya, lelaki paruh baya yang masih hidup dan menjaganya bahkan sampai detik itu.
Nathan, lelaki terhebat yang telah menjadi suaminya baru saja. Rela pergi dijemput maut demi tugas mulianya.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍