Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Banu
Dan sudah 7 tahun kita bersama, memadu cinta kasih.
Tahun pertama kita menikah semuanya serba sulit, aku harus keluar dari zona nyaman untuk lebih mensejahterakan istriku. Sembari mendaftarkan diri di kantor-kantor yang ada di kota, aku masih bekerja di counter.
Puluhan surat lamaran sudah ku kirim lewat kantor pos, namun tak ada hasil.
Rena dengan sabar mendampingiku, menyemangati ku.
Beberapa bulan kemudian Rena mendapat tawaran untuk membantu mengajar di KB Mentari. Hingga Rena akhirnya bersedia.
Tak berselang lama Rena diberikan saran oleh Bu Haji untuk melanjutkan sekolah, mengambil S1. Kala itu aku sangat bingung. Mendapatkan uang dari mana? Sampai akhirnya aku mendapat panggilan kerja dari PT yang sampai sekarang mempekerjakan ku.
Memang benar, menikah itu menjadi salah satu arah datangnya rezeki. Alhamdulillah sejak aku menikah walaupun hanya cukup, tapi kami tak pernah mengeluh. Rena menjadi semangatku. Dia penyejuk hatiku. Tak pernah memberikan banyak tuntutan, selalu berusaha menjadi istri yang baik. Mencoba mengenali aku lebih jauh dan lebih baik. Sungguh aku sangat beruntung memilikinya.
Tak begitu saja, hampir 3 tahun kami berumah tangga namun belum ada tanda-tanda kehamilan dari Rena. Dia begitu khawatir. Tapi tidak denganku. Aku santai saja, aku tak pernah memaksa dia untuk hamil. Rasanya memilikinya saja sudah lebih dari cukup. Bila ada anak itu bonus yang luar biasa!
Tapi tidak dengannya, dia sepertinya merasa ini sebagai beban. Padahal sudah berkali-kali aku katakan, walaupun nantinya kita hanya hidup berdua pun, aku tak akan pernah mempermasalahkannya.
Memang pikiranku hanya ada Rena dan Rena. Bucin kalo jaman sekarang sebutannya.
Hingga tepat 3 tahun aku menikah akhirnya Rena dinyatakan Hamil. Sungguh, aku seperti mendapat durian runtuh kala itu. Aku benar-benar menjadi manusia paling bahagia, melebihi saat aku menikahi Rena dulu.
Bagaimana tidak? aku akan mendapat miniatur dari Rena. Aku akan mempunyai 2 Rena. Ya itu pikiranku.. Pikiran akan kebuncinanku!
Singkat cerita lahirlah jagoan yang ternyata dia adalah duplikat dariku, tak masalah selagi bisa membuat Rena lebih mencintaiku. Kuberi nama Khayrullah Hizam yang Artinya karunia Allah yang menjadi penolong. Ya itu harapanku untuknya, kelak dia akan menjadi penolong di keluargaku.
Terus terang aku masih sangsi dengan cintanya. Aku yang terlalu pesimis, terlalu rendah diri. Mungkin hanya perasaanku atau mungkin memang benar begitu? Entahlah.. Selagi Rena dan anaknya bersamaku aku selalu merasa tenang, mereka candu ku. Jiwa ku. Tak pernah terbesit pun bagaimana jika aku tanpa mereka. Doaku hanya satu. Panggil aku terlebih dahulu Tuhan sebelum mereka. Karena aku amat sangat tak bisa hidup tanpa mereka.
Dan kini, 3 tahun sudah Hizam berada di tengah-tengah kami. Kebahagian begitu membuncah. Tapi entahlah akhir-akhir ini pikiranku terkadang terlalu mendahului takdir, aku sering berpikir yang tidak-tidak. Aku takut akan kehilangan mereka. Mereka cintaku❤
Dan sore ini saat aku pulang, sepii menyambutku. Tak ada suara gembulku yang berlari menyambut kepulanganku, tak ada pertanyaan sudah pulang, Mas? dari istri tercintaku.
Sejak aku mempunyai Hizam memang panggilan kami diubah, dia memanggilku Bapak dan aku memanggilnya Ibu. Bukan tanpa alasan. Kita berkomitmen untuk mengajari dan membiasakan menyebut masing-masing panggilan di depan anak kita, sehingga sang anak akan dengan sendirinya mencontoh dan memanggil sesuai panggilan yang dipakai oleh orang tuanya.
Ku langkahkan kaki menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan merilekskan pikiran. Perjalanan ke Kebumen Minggu ini memang di luar rencana ku. Harusnya Minggu seperti ini adalah waktu yang aku habiskan dengan anak dan istriku, tapi yah sudahlah.
Selesai mandi ku keluar kamar berniat mengambil air putih, rasanya tenggorokanku sangat kering, setengah terkejut juga ada Rena sedang membuka kulkas.
akhh rasanya ingin kupeluk dan ku ciumi dia bertubi-tubi.
Ku hampiri dia dan ku lakukan apa yang ada di ekspetasiku. Dan benar saja, dia terkejut.
"Bu.. dari mana saja? Bapak cariin," ku rengkuh pinggangnya, ku ciumi rambut panjangnya yang tak memakai jilbab, harum wangi shampoo menyeriuak di hidungku.
"iih, Bapak ngapain sii, tumben peluk-peluk dari belakang segala," Rena menepuk punggung tanganku.
"Kangen aja, mauu masak apa?? " kuciumi leher dia yang panjang
"Entahlah, ibu lupa kalau bahan makanan habis, dan gak pergi ke pasar tadi pagi."
Refleks aku mengajaknya untuk makan diluar.
"Dalam rangka? " Rena menengokan wajahnya sehingga wajah kami bertemu, aku yang sudah tidak tahan dengan wangi manisnya langsung ******* bibir Rena dengan rakus.
Terlihat dia kaget dengan apa yang sedang aku lakukan.
"Bapak kangen!" ucapku sambil melepas tautan bibir kita
"Gak inget anak nih?" godanya padaku
Dan seketika aku mengingat gembulku yang tak terlihat.
"Oya dimana Hizam? Bapak gak ngeliat dari tadi? " aku berjalan menuju rak piring untuk mengambil gelas, ya memang itu tujuan awalku pergi ke dapur
" Bobo di tempat uyut. Ada Bulik Anti sedang berkunjung, Bulik minta Hizam biar nginep di sana." Rena menjelaskan.
"Ibu ganti baju dulu dulu ya!" melanjutkan perkataannya sambil berjalan menuju ke dalam kamar.
Dan disinilah sekarang,
Kita bedua duduk berhadapan ditempat pertama kali kita kencan. Aku hanya ingin tahu apakah tempat ini berkesan untuknya atau tidak.
Agak kecewa dengan ekspresi dia. Rena hanya terdiam sambil melihat sekelilingnya. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan.
"Pesan apa Bu?" aku membuka percakapan sesaat setelah pelayan datang membawa buku menu
"Ngikut Bapak aja deh!" senyum manisnya mengembang di bibir. Huh kalau bukan di tempat ramai sudah kuhabisi dia. Pikiran nakal ku berkeliaran, merangkun imajinasi liar di otakku.
Aku sengaja memesan apa yang dulu pernah kita pesan saat pertama kali kesini. Jangan tanya apakah aku masih ingat, aku selalu ingat apapun yang berhubungan dengan Rena. Segalanya!
Setelah memilih menu, dan pelayan pergi, kita kembali terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Terus terang otak ku seketika tumpul bila sedang berhadapan dengannya, entahlah. Sampai kini 7 tahun berlalu aku seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Terbuai dengan segala tentangnya. Mungkin bagi kalian aku tak waras. Tapi seperti inilah aku.
"Bapak kok tumben sweet bgd gini sih, coba kalo adek Hizam ikut, lebih seru ya pak. Kita bisa menceritakan kenangan dia padanya!" Angin sejuk menerpa wajahku tak kala dia mengutarakan isi pikirannya.
"Besok dengan adek kita kesini lagi ya, nunggu gajian," aku terkekeh
"Hahahah masih lama kalii pak!" Rena tertawa mendengar jawabanku.
Tak berselang lama, pelayan datang membawa pesanan kami. Cukup untuk disantap berdua seperti ini. Kami pun menikmati makan malam ini dengan diam tanpa bersuara lagi. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Pukul 10 malam kami tiba di rumah, Rena lebih dulu masuk kedalam rumah untuk bebersih badan. Sementara aku memasukan Suprayitno kedalam garasi dan mengecek kembali pintu-pintu sebelum akhirnya aku memasuki kamar menyusul Rena.
Malam ini dia begitu cantik, menggunakan daster oranye yang kontras dengan tubuh putihnya. Rambut panjangnya tergerai indah. Dia duduk sambil memainkan ponselnya.
kulihat dia mengetik pesan, entah untuk siapa malan-malam begini.
Setelah membersihkan diri, ku hampiri dia yang masih asyik dengan hpnya, kupeluk dia dari belakang dan ku kecupi kepalanya. Seketika dia mematikan hpnya dan meletakannya di atas nakas samping tempat tidur.
"Bapak kenapa si? aneh banget beberapa hari ini, sukanya peluk-peluk, cium-cium," belum selesai dia berkata aku langsung memeluknya mengajak dia untuk merebahkan diri dan tanganku merayap memasuki daster pendeknya dan mulai bergerilya. Mengecupi seluruh wajahnya dan meloloskan semua bajunya. Hingga hanya suara ******* nikmat yang tersengar dan samar-samar ku dengar dia membisikan namaku dengan hatinya.
"Mas Baanu"
💞
Jangan lupa berikan 5 bintang yaa terimakasih😘
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor