Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUNGKAM
Salsa pulang setelah hujan reda dan sholat di mushola cafe. Ia masih teringat pesan Syailendra untuk tidak membantu si Karin. Ada kekhawatiran yang terlihat dari ucapan dia kalau Salsa masih ingin bertemu dengan Pak Amar.
Sepanjang jalan pulang, bayangan Sandrina hanya memakai tank top keluar dari ruangan, ucapan Syailendra juga, semakin membuat Salsa penasaran dengan sosok Pak Amar. Sesampainya di rumah ia tak mendapati Karin, bahkan sejak ia keluar gedung jurusan juga tidak ada sosok hantu itu.
"Ke mana dia?" ucap Salsa melihat sekitar kamarnya. Begitu dia selesai mandi, Karin masih belum ada di kamarnya, mendadak perasaan Salsa tak karuan, harusnya ia senang karena tak dibuntuti, tapi ternyata ia juga memikirkan keberadaan si hantu tersebut.
Menjelang tengah malam, Karin juga tidak berada di kamar, makin risau saja. Apa mungkin sudah bertemu dengan Pak Amar dan langsung balik ke alamnya? Ah, secepat itukah dimensi alamnya berubah. Memikirkan Karin sampai Salsa terlelap.
Begitu juga saat pagi datang, tak ada Karin, dan ia menjalani kehebohan sebelum berangkat kuliah seperti biasa. "Hey!" panggil seseorang saat Salsa terburu masuk kelas, ia hanya menoleh tapi tak menggubris, hari ini dosennya Bu Sarina, dosen senior yang tak boleh masuk bila beliau sudah masuk di dalam kelas. Makanya Salsa tak menggubris, Sandrina yang memanggilnya.
"Sialan, berani juga dia mengabaikan panggilan gue," ujarnya kesal.
"Lagian kenapa sih kamu cari dia terus?" tanya Gia, teman kelas Sandrina, hari ini keduanya punya jadwal bimbingan pagi dengan dosen pembimbing, alhasil pagi sudah berada di area parkir.
"Dia sudah gue peringatkan buat gak dekat sama Syailendra, eh dia malah bertemu di cafe, sinting gak!" omel Sandrina, semakin sebal dengan info yang ia dapat kemarin sore.
"Syailendra mau?" tanya Gia kaget, tak percaya saja, cowok susah didekati itu mau makan bersama mahasiswi junior dan bukan satu jurusan.
"Nih buktinya," Sandrina menunjukkan foto dari Putri, teman mereka yang memang sore itu di cafe tempat Syailendra dan Salsa bertemu. "Brengsek gak sih!" umpat Sandrina tak terima, Gia masih melihat foto itu apalagi ada time stampnya juga, semakin menunjukkan kalau foto itu asli.
Keduanya pun menuju gedung jurusan, melupakan Salsa dan fokus pada bimbingan. Kebetulan Syailendra juga baru saja masuk, mungkin mau menuju Lab, karena dengar-dengar hari ini hari terakhirnya penelitian.
"Ndra!" panggil Sandrina, padahal dia sudah mengantri di depan ruang dosen, tapi melihat Syailendra biarlah urutannya dipakai teman lain, termasuk Gia. Ia mendekati Syailendra dengan senyum manis.
"Kemarin aku lihat kamu sama mahasiswi jurusan Kimia itu, emang kalian dekat ya?" tanya Sandrina masih memasang tampak sok kenal sok dekat.
"Dekat, gue ajak dia ke cafe setelah melihat lo keluar dari ruangan Pak Amar pakai tank top hitam," ujar Syailendra santai, dengan tersenyum muak, lalu berjalan naik tangga menuju lab. Sedangkan Sandrina berdiri kaku, dan kaget setengah mati, ternyata moment itu ada yang melihat, padahal ia yakin di area ruangan Pak Amar dan lab sepi.
Sandrina tak terima, ia tak mau Syailendra berpikir buruk tentangnya, ia langsung menyusul Syailendra meski Gia meneriaki untuk segera antri bimbingan kembali.
"Tunggu, kamu salah paham," Sandrina berhasil mengejar Syailendra dan menahan lengannya. Namun segera ditepis pemuda itu.
"Di sini area kampus, gue gak butuh penjelasan lo, dan kalau lo mau menjelaskan gak takut rahasia keintiman lo dengan Pak Amar terbongkar?" ujar Syailendra dengan menurunkan intonasi suara, dan menatap sinis pada Sandrina.
"Aku gak ngapa-ngapain, Ndra. Aku cuma setor nilai doang," ucap Sandrina masih ngotot apa yang ia lakukan di dalam ruangan Pak Amar.
"Urusan lo, dan gue gak butuh itu," Syailendra kembali beranjak pergi, namun Sandrina kembali mengekor hingga di depan lab, Sandrina memaksa Syailendra untuk bicara.
"Ndra, aku gak mau kamu berpikir buruk tentang aku, dan aku gak suka kamu terlalu dekat dengan mahasiswi itu. Aku gak terima saja, selama ini aku mengejar kamu, tapi dia yang sok polos datang ke kamu dan langsung dekat. Gak adil banget dong," tuntut Sandrina padahal dia dan Syailendra tak ada hubungan apa-apapun. Resiko cinta bertepuk sebelah tangan malah menganggap Syailendra menaruh perhatian diam-diam padanya. Narsis sekali jadi cewek.
Syailendra tak menjawab, ya buat apa meladeni Sandrina, terlebih Pak Amar datang, dan Syailendra melirik sekilas pada Sandrina, begitu juga Sandrina menatap Pak Amar sekilas.
"Masih di sini, Ndra? Bukannya kamu mau ambil hasilnya?" tegur Pak Amar yang sepertinya memang sudah janjian dengan Amar terkait hasil akhir penelitiannya.
"Baik, Pak!" jawab Syailendra sopan, dan langsung menuju lab untuk setor hasil penelitian, dan Pak Amar pun mengikuti pemuda itu di lab.
Belum juga jam 8 tentu lab masih sepi, Pak Amar mengamati hasil penelitian Syailendra dengan seksama, bahkan beliau menyentuh tekstur produk apakah sesuai dengan instruksi beliau.
"Kamu dan Sandrina masih ada hubungan?" tanya beliau tiba-tiba, saat mencuci tangan karena produk sudah sesuai meski tingkat kekenyalan masih terlalu lembek.
"Tidak ada hubungan saya dengan dia, Pak!" jawab Syailendra tegas. Pak Amar tersenyum.
"Segera foto, dan analisis pakai uv/v setelah itu laporkan dalam bab IV," jelas Pak Amar, dan Syailendra mengangguk. "Satu lagi, Sandrina tadi malam sudah saya pakai, jadi saya harap kamu tidak berhubungan apapun dengan dia. Saya percaya kamu bisa menjaga rahasia saya, kalau ingin skripsi kamu selesai dalam waktu dekat," ujar Pak Amar seperti biasa, dan Syailendra hanya mengangguk seperti biasa.
Memang Syailendra tahu kebiasaan Pak Amar sering bermalam dengan beberapa mahasiswi tapi interaksi mereka murni dilakukan di luar kampus. Syailendra sendiri tidak mau ikut campur karena ia balas budi, dengan jasa Pak Amar. Dulu kakak Syailendra hampir dibegal orang, dan dibantu oleh Pak Amar. Mereka menjalin hubungan bahkan sampai akan menikah, namun keluarga Pak Amar tak mau punya menantu dari keluarga biasa. Alhasil, kakak dan Pak Amar pun sampai berbuat hingga sang kakak hamil. Pak Amar sangat mencintai Kakak Syailendra, hingga dia menanggung kehidupan keluarga Syailendra sebagai tebusan kesalahan atas kematian kakak Syailendra saat keduanya mencoba kawin lari dan mengalami kecelakaan.
Harusnya Syailendra marah, namun kedua orang tuanya menyuruh Syailendra untuk diam, dan terima saja, apalagi saat itu Syailendra masih kelas 1 SMA, pengaruh Amar sangat kuat, khawatir keluarga Syailendra dihancurkan oleh Amar. Begitulah latar belakang Syailendra tak mau perempuan polos seperti Salsa harus masuk jeratan dosen miring ini, dan memilih tutup mulut atas tingkah bobrok Amar.