[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [10]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Entah kenapa tubuh juga seolah dikendalikan oleh namamu. Lidah pun terasa kelu saat namamu di sebut, tubuh terasa gemetar saat nada ancaman mengalun di telinga dan hati terasa tergores saat namamu di sebut oleh wanita lain. ...
...-Iris Anastashia-...
Setelah duduk di kursi berjam-jam lamanya akhirnya Iris dapat meregangkan tibuhnya itu dari rasa pegal, belum pulang sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Celine.
"Mungkin naik taxi." jawab Iris.
"Yakin gak apa-apa sendiri?" tanya Celine.
"Gue udah besar kali Lin, bukan anak kecil aja." jawab Iris sambil membereskan buku-bukunya.
"Ya udah kalau gitu gue pergi duluan ya." ucap Celine sambil berlalu pergi keluar dari kelas.
Sedangkan saat ini dikelas hanya tinggal tersisa Iris saja yang masih meregangkan tubuhnya yang pegal.
"Huft, sebenarnya males sih mau sekolah tapi kalau gak sekolah mau dibawa kemana masa depan gue?" tanya Iris pada dirinya sendiri.
Namun saat Iris ingin melangkahkan kakinya, datang 2 orang gadis yang berpenampilan tidak layak di sebut sebagai murid SMA. Iris langsung memberhentikan langkahnya sambil menatap ke 2 orang gadis tersebut yang sedang berjalan ke arahnya.
BRAK.
Salah seorang wanita yang cantik, berkulit putih dengan make up yang terlalu over itu mengebrak meja dengan sangat keras.
"Sakit ya?" tanya Echa saat melihat tangan siswi tersebut terlihat merah.
"Gak usah so perhatian deh." jawab siswi tersebut.
"Mba, siapa yang perhatian? Gue cuman tanya aja, kepedean banget." ucap Iris sambil manahan tawanya.
"Lo panggil mba?" tanya siswi tersebut.
"Helo!! Gue masih muda ya, kenalin nama gue Lizora Ratania, siswi tercantik angkatan tahun ini." jawab siswi yang menggebrak meja tadi.
"Siswi tercantik? Bukannya itu belum di umumin ya?" tanya Iris bingung.
"Sebelum ada pengumuman juga, satu sekolah udah tau gue pemenangnya. Karena yang kayak gue itu limited edition." jawab Lizora. Sedangkan Iris hanya menatap Lizora dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.
Yakin milih yang kayak gini? tanya Iris dalam hati.
Pihak sekolah juga pasti mikir-mikir dulu buat masukin ke list. ucapnya dalam hati.
"Udah pamernya? Gue mau pergi." ucap Iris sambil melangkahkan kakinya melewati Lizora bersama temannya.
Namun langkahnya terhenti karena Lizora mencekal tangan Iris dengan sangat erat, hingga pergelangan nya terlihat memerah.
"Gue gak suka sama orang yang pergi gitu aja sebelum gue beres ngomong!" teriak Lizora.
"Gue juga gak suka sama orang yang lagi butuh maksa kayak gini." ucap Iris sambil melepaskan cengkraman tangan Lizora.
"Gak tau diri banget ya jadi cewek!" teriak salah seorang teman Lizora yang penampilannya tak jauh beda dengan Lizora.
"Urusan kalian sama gue apa?" tanya Iris yang masih mencoba melepaskan cengkraman tangannya.
"Lo belum kenal gue kan? Kenalin gue Vereline Arvelin." ucap seorang teman Lizora yang menyebut namanya dengan sebutan Vereline Arvelin.
"Lo juga tadi nanya urusan gue apa kan?" tanya Lizora.
"Kalo lo mau tau, urusan lo sama gue itu jauhin Zhein!" teriak Lizora sambil menghempaskan tubuh Iris sampai terjatuh ke lantai.
Iris langsung berdiri dari jatuhnya itu, sambil menggenggam pergelangan tangannya yang terlihat berwarna biru dominan merah. Rasa sakit jatuhnya tidak seberapa tapi rasa sakit dari perkataan Lizora untuk menjauhi Zhein membuat hatinya sakit. Hatinya terlalu sensitif dengan perkataan menjauh.
Kok hati gue sakit ya? tanya Iris yang merasakan sakit di hatinya.
"Lo denger gue gak sih?!" bentak Lizora sambil menarik rambut Iris hingga kepalanya terasa berdenyut.
"Lo gak denger ya?" tanya Vereline.
"Gue ulang sekali lagi. Lo jauhin Zhein!" bisik Lizora di dekat telinga Iris.
"Atas dasar apa lo nyuruh gue ngejauh dari Zhein.?" tanya Iris.
"Lo mau tau alesannya? Dengerin gue baik-baik." jawab Lizora sambil melepaskan tangannya dari rambut Iris. Iris tidak menjawab perkataan Lizora, dia sedang menunggu Lizora untuk berbicara.
"Gue pacarnya Zhein." ucap Lizora sambil menatap sinis ke arah Iris. Sedangkan Iris hanya diam mematung, tangannya gemetar, jantungnya berirama lebih cepat dari biasanya, hatinya sepeti ada goresan kecil.
"Kenapa? Kaget? Gak percaya?" tanya Vereline bertubi-tubi.
"Puas lo?! Mulai sekarang jauhin Zhein." jawab Lizora.
Meskipun tangannya gemetar, air matanya sudah menumpuk, Iris harus terlihat bodo amat atas apa yang di katakan oleh Zhein.
"Dan lo perlu inget kata-kata gue. Seorang Iris Anastashia gak suka kalau hidupnya di atur orang lain." ucap Iris.
"Siapa lo bisa ngebantah seorang Lizora?" tanya Vereline angkuh.
Iris menarik rambut Lizora dan Vereline secara bersamaan, hingga terdengar suara tinggi dan dari mereka berdua.
"Kalian inget ya. Gue gak bakalan jauhin Zhein!" ucap Iris dengan nada yang berbisik namun terdengar menusuk, Setelah Iris mengucapkan kalimat tersebut dirinya langsung melepaskan tangannya dari rambut mereka dan berlalu pergi, meninggalkan Lizora dan Vereline yang mengaduh kesakitan.
Iris melangkahkan kakinya menyusuri koridor, pikirannya terus dipenuhi oleh nama Zhein.
Kenapa gue tinggal bilang oke aja buat ngejauh sama Zhein?
Biar semuanya kelar, gak panjang kayak gini, gue kenapa sih?
Bukannya ngejauh dari Zhein yang lo mau ya? Terus kenapa lo cari masalah sama pacarnya?
Gue benci lo Zhein!
Iris berbicara dalam hatinya sendiri, merutuki segala kebodohannya yang memperpanjang masalah di hidupnya. Iris terus melamun memikirkan kejadian tadi hingga dirinya tidak menyadari ada seseorang yang ingin mencelakai nya.
DUGH.
Orang tersebut mendorong Iris hingga kepalanya terbentur ke salah satu tiang koridor.
Ngingggg...
Suara itu terdengar nyaring di telinga Iris saat kepalanya terbentur ke tiang, Iris mulai menyipitkan matanya, melihat orang yang mendorongnya itu.
"Lizora." gumam Iris sambil memegang kepalanya yang terasa pening.
"Itu akibat lo yang ngebantah ucapan gue." ucap Lizora yang kembali mendorong Iris hingga kepalanya terbentur ke dinding.
Nnnngggiiinggggg...
Kepala Iris semakin sakit saat mendengar suara nyaring tersebut, sedangkan Lizora dan Vereline meninggalkan Iris sendirian di Koridor sepi itu hingga di saat yang bersamaan matanya menggelap dan tubuhnya ambruk ke lantai.
Iris tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang dia ingat hanya suara seorang lelaki yang tidak asing memanggil namanya.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗