🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Kamis, 6 November, siang. Malamnya Alina baru akan menulis di studio bahwa suatu aturan dilanggar dan tidak diucapkan. Menjelang sore ia juga baru akan naik ke lantai tiga puluh dua dengan lembar paraf. Siang ini ia masih di ruang baca lantai tiga puluh, dan yang ada di layar bukan koridor.
Folder rekonsiliasi yang dibuka setelah Rabu tidak sama dengan halaman yang tetap hitam. Bagian ini izinnya lebih sempit: jadwal pembayaran lama, tanpa keterangan pihak ketiga yang Yusuf masih tahan. Alina membandingkannya dengan catatan di buku, yang sudah berisi tiga transaksi dan satu fakta dari dua halaman yang sempat dibuka. Lazuardi bukan nama baru di buku itu. Yang baru adalah letak tanggalnya.
Ia menemukan satu baris pembayaran terkait Lazuardi. Kolom penerima akhir kosong. Kolom tanggal tidak. 19 September 2018. Di indeks rapat yang menempel pada folder yang sama, rapat pimpinan tercatat 17 September 2018. Daftar hadirnya tidak panjang. Di antara nama yang hadir ada Bramantya Halim. Selisihnya dua hari. Bukan kira-kira. Bukan minggu yang sama. Dua hari, tepat, seperti seseorang yang menunggu rapat selesai baru menggerakkan uang.
Alina tidak menulis kata seseorang. Ia membuka catatan lama dari minggu-minggu pertama, saat pola pemindahan sudah kelihatan tetapi tanggal rapat belum ia sandingkan dengan pembayaran ini. Di sana ada jejak yang pernah ia tandai buram: pembayaran lama yang jatuh dekat dengan rapat, belum ia kunci siapa yang duduk di ruangan. Sekarang nama di daftar hadir membuat jarak dua hari itu berhenti terasa seperti kebetulan yang enak diceritakan. Tetap belum menjadi tuduhan. Penerima akhir tidak ada. Perintah tidak ada. Yang ada hanya urutan.
Ia mencari baris kedua supaya tidak terpaku pada satu selisih. Ada pembayaran lain di folder yang sama, vendor berbeda, tiga hari setelah rapat yang tidak memuat nama Bramantya. Ada juga baris Lazuardi yang tanggalnya putus, tidak bisa dihitung. Yang utuh dan tepat hanya satu: 19 September 2018, dua hari setelah rapat 17 September 2018 yang mencantumkan nama Bramantya Halim di daftar hadir. Satu belum cukup untuk menuduh. Satu cukup untuk tidak dibuang.
Ia mengecek sekali lagi, lalu sekali lagi, karena tergesa pada nama sebesar itu adalah cara yang baik untuk menjadi salah. Tanggal rapat tidak berubah. Tanggal pembayaran tidak berubah. Nama Lazuardi di baris pembayaran sama dengan nama yang dua tahun kemudian muncul di peninjauan yang dihentikan. Ia menahan diri untuk tidak menggarisbawahi Bramantya sampai tinta tembus. Menggarisbawahi akan terasa seperti putusan. Ia belum punya putusan.
Di buku, ia menulis pelan, satu baris saja, dan membaca ulang sebelum tintanya ia anggap selesai:
“Pembayaran Lazuardi - dua hari setelah rapat Bramantya. Pola tanggal. Belum ada nama penerima akhir.”
Tidak ada kalimat siapa yang diuntungkan. Tidak ada kalimat yang menuduh komisaris utama. Ia menambahkan di bawahnya, lebih kecil, dua tanggal supaya Dimas tidak perlu mengulang hitungan dari ingatan: 17 September 2018, hadir; 19 September 2018, bayar. Lalu ia berhenti. Menambah kata perintah akan menjadi tuduhan. Tuduhan hari ini belum punya penerima.
Titik itu cukup. Ia menutup folder di layar tanpa mengunduh, sesuai batas yang Sari bacakan pada hari pertama. Buku ia selipkan ke map tipis.
Ia mengecek ejaan nama di daftar hadir sekali lagi. Bramantya Halim. Bukan inisial. Bukan jabatan yang ia tambahkan sendiri. Hanya hadir. Pembayaran di baris sebelah tidak menyebut siapa yang menerima manfaat akhir. Kolom itu kosong dengan cara yang terlalu rapi untuk disebut lupa, tetapi kosong tetap kosong. Alina tidak mengisi kosong itu dengan dugaan.
Sore itu ia tidak naik ke lantai tiga puluh dua lebih dulu. Ia mencari Dimas di ruangannya, lantai dua puluh tujuh. Papan putih di dinding penuh jadwal yang tidak berhubungan dengan 2018. Dua mug. Jaket di kursi. Dimas sedang membetulkan urutan minggu pada draf yang akan dipakai Adrian untuk Helena, dan ia menaikkan alis ketika Alina menutup pintu.
“Bukan slide Senin,” kata Alina. “Yang ini belum untuk Pak Adrian.”
Dimas menunjuk kursi. “Duduk. Kalau Anda berdiri, saya merasa sedang menerima somasi.”
Alina duduk dan memutar buku, bukan menyerahkan ponsel. Dimas membaca baris itu dua kali. Jarinya berhenti di kata Lazuardi, lalu pindah ke selisih hari yang tidak tertulis sebagai angka karena Alina sudah menyatakannya dengan kalimat. Ia tidak segera berkata bahwa ini besar. Ia juga tidak berkata bahwa ini kecil.
“Saya belum bilang ke Pak Adrian,” kata Dimas setelah membaca. “Karena pola tanggal saja belum cukup. Tapi saya catat.”
“Anda sudah melihat tanggalnya sebelum saya datang?”
“Belum yang ini.” Dimas menarik buku kerjanya sendiri, yang lebih tebal dan lebih kusut. “Saya catat sekarang. Rapat 17 September 2018. Pembayaran 19 September. Nama di daftar hadir saya tulis sebagai hadir, bukan sebagai perintah. Kalau saya tulis lebih dari itu, besok kita berdua bisa malu.”
Alina mengangguk. “Jangan hilangkan. Kalau pola ini muncul lagi, kita buka bersama.”
“Bersama artinya Anda, saya, dan Pak Adrian,” kata Dimas. “Bukan Anda dan saya diam-diam sampai enak dituduhkan. Satu pola bisa jadi kalender yang kebetulan rapat. Dua pola baru layak mengganggu tidur direktur.”
“Saya tidak minta diganggu tidurnya hari ini. Saya minta catatan ini tidak masuk laci yang lalu hilang.”
Dimas tersenyum tipis, tidak sampai menjadi lelucon. “Laci saya berantakan, bukan pemakan kertas. Saya buat salinan. Satu di buku saya. Satu di folder kerja yang tidak saya kirim ke mana-mana.”
Ia memotret halaman buku Alina dengan ponsel kerja, lalu, seolah tidak cukup, menyalin ulang dengan tangan ke buku sendiri. Hurufnya lebih bulat dari huruf Alina. Di akhir ia menulis: belum ke Pak Adrian. Alina melihat tiga kata itu dan tidak menyuruhnya dihapus. Justru itu yang ia minta untuk sementara. Bukan karena ia percaya ruangan ini lebih aman dari lantai tiga puluh dua untuk selamanya. Karena satu pola tanggal, dibawa terlalu cepat ke orang yang sudah menahan halaman atas nama kesiapan, bisa ditutup lagi sebelum pola kedua sempat muncul.
“Kalau besok ada yang bertanya kenapa Anda menyalin ini,” kata Alina, “bilang saya yang minta dicatat. Jangan bilang Anda setuju isinya.”
“Saya memang belum setuju isinya,” jawab Dimas. “Saya setuju untuk tidak kehilangan. Dua hal itu tidak sama. Seperti membayar parkir dan mengakui mobilnya milik Anda. Saya hanya pegang karcisnya.”
Alina hampir membalas analogi itu, lalu tidak. Nama di halaman membuat ruangan terasa lebih sempit dari lelucon. Ia mengulurkan tangan untuk buku miliknya. Dimas mengembalikan. Ketika buku berpindah, Alina sempat melihat mata Dimas tidak ikut tersenyum bersama kalimat tentang parkir.
Bukan rasa bersalah yang bisa ia tandai dengan yakin. Dimas tidak menghindar dari halaman itu. Ia tidak menolak menyalin. Ia tidak mengatakan bahwa Lazuardi tidak penting. Yang ada adalah kewaspadaan yang lebih dalam dari biasanya, tepat ketika nama itu diucapkan lagi di ruangan yang pintunya sudah tertutup. Seperti orang yang mendengar ketukan di pintu yang ia kenal, tetapi tidak mau membuka sambil dijelaskan dari dalam.
“Anda kenal baris ini lebih dari yang Anda katakan?” tanya Alina.
Dimas menggeleng, tidak cepat dan tidak lambat. “Saya kenal nama itu karena kita sudah beberapa minggu menatapnya. Jangan ditambah. Pola tanggal Anda saya pegang. Sisanya, kalau muncul lagi, kita buka bersama. Itu yang baru saja Anda minta. Saya kerjakan yang itu.”
Alina tidak mendorong lebih jauh. Menuduh Dimas hari ini hanya akan membuat salinan itu tidak jadi. Ia berdiri.
“Simpan. Jangan hiasi. Jangan buang.”
“Tidak saya hiasi,” kata Dimas. “Dan tidak saya buang.”
Alina keluar dengan buku di map. Di koridor lantai dua puluh tujuh, ia tidak menoleh ke lift yang naik ke Adrian. Satu pola. Belum ada penerima akhir. Catatan ada di dua tempat. Itu perubahan hari ini, dan ia tidak akan menghabiskannya dengan pertanyaan yang Dimas sudah tolak dijawab.
Di dalam ruangan, Dimas duduk diam setelah pintu tertutup. Salinan di ponsel kerja ia pindahkan ke folder yang tidak tersambung ke grup mana pun. Buku yang baru ia tulis ia tutup, jari masih di atas sampul. Nama Lazuardi tetap terasa lebih berat daripada selisih dua hari. Ia tidak mengangkat telepon ke Adrian. Ia juga tidak menghapus apa pun. Ia hanya duduk lebih waspada daripada saat Alina masuk, dan membiarkan alasan kewaspadaan itu tidak ia ucapkan.