“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Alasan Satu Kalimat
Surat cerai itu tergeletak di meja makan. Laras melepas jam tangannya di samping tas, lalu menatapku seolah urusan kami sudah selesai.
“Kamu serius?” tanyaku.
Dia melirik surat di hadapanku. “Serius, Mas.”
Lilin kue ulang tahun pernikahan kami sudah mati. Krim putihnya mulai mengering di bagian pinggir, sementara tulisan di atasnya masih terbaca jelas.
Selamat Hari Jadi Pernikahan Kita.
Sejak sore, aku sudah menyiapkan dua piring di meja makan. Satu di tempatku biasa duduk, satu lagi di hadapan kursi Laras. Sendok dan garpu sudah kuletakkan sejajar, lengkap dengan dua gelas yang kuisi air sebelum menunggu kedatangannya. Kursi Laras tetap kosong selama berjam-jam, sementara makanan yang kusiapkan sudah kehilangan hangatnya. Aku sempat berpikir dia terlambat karena pekerjaan. Aku bahkan membayangkan wajahnya saat melihat kue itu. Kini, piring di hadapannya hanya menjadi pengingat bahwa aku menyiapkan makan malam untuk seseorang yang ternyata datang membawa akhir dari pernikahan kami.
Aku menggeser surat itu dengan ujung jari. Lima tahun menikah, dan malam ini Laras memilih menyerahkan berkas perceraian tepat pada hari jadi kami.
“Boleh aku tahu alasannya?”
Laras mengambil ponsel, memeriksa layar, lalu meletakkannya kembali dengan posisi terbalik.
“Aku capek.”
“Karena pekerjaan?”
“Bukan cuma pekerjaan.”
Aku merapikan ujung taplak meja yang terlipat. “Kalau begitu, karena apa?”
Laras mengembuskan napas. Tatapannya menunjukkan kejengkelan, seolah pertanyaanku hanya memperpanjang sesuatu yang ingin segera dia akhiri.
“Mas selalu merasa semuanya bisa dibicarakan sampai selesai.”
“Aku cuma ingin mengerti.”
“Dan aku sudah terlalu lelah untuk membuatmu mengerti.”
Aku menunduk. Jari-jariku meratakan lipatan taplak yang sebenarnya tidak perlu kurapikan.
Di ruang tengah, jam dinding terus berdetak.
Aku tahu Laras tidak suka ditanya macam-macam ketika baru pulang kerja. Aku juga tahu dia membutuhkan waktu sendiri setelah menghadapi hari yang melelahkan. Selama lima tahun, aku berusaha memahami kebiasaan-kebiasaan itu. Malam ini, aku tidak yakin apakah dia masih menganggap usahaku berarti.
“Kalau ada yang salah dariku, katakan saja,” ujarku. “Aku mungkin nggak langsung bisa memperbaikinya. Tapi setidaknya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Laras memejamkan mata sesaat.
“Mas mau jawaban jujur?”
Aku mengangkat wajah.
“Aku membutuhkan suami yang bisa kubanggakan.”
Jari-jariku mencengkeram ujung kursi.
Laras melanjutkan sebelum aku sempat menjawab.
“Aku ingin punya pasangan yang bisa berdiri di sampingku tanpa membuatku harus menjelaskan ke orang lain kenapa hidupku seperti ini. Aku ingin pulang dan merasa sedang membangun sesuatu bersama seseorang. Bukan merasa semua pencapaianku cuma milikku sendiri.”
“Selama ini kamu merasa sendirian?”
“Menurut Mas?”
“Aku bertanya kepadamu.”
Dia tertawa pendek. “Lihat, kan? Kita bahkan nggak bisa bicara tanpa berputar-putar.”
Aku menggigit bagian dalam pipi, menahan kalimat yang hampir keluar.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan tentang pekerjaan dan tanggung jawab yang selama ini kuselesaikan dalam diam. Namun, aku tidak pernah membawanya ke meja makan. Laras tidak tahu apa yang kukerjakan, dan aku membiarkannya tetap begitu.
Mungkin diamku ikut menciptakan jarak di antara kami.
Namun, mendengar perempuan yang kunikahi mengatakan bahwa dia membutuhkan suami yang bisa dibanggakan tetap terasa menyakitkan.
“Kalau aku bilang ingin memperbaiki keadaan, apa kamu masih mau memberiku kesempatan?”
Laras menggeleng.
“Mas, jangan membuat ini lebih sulit.”
“Aku belum meminta kamu membatalkan keputusanmu.”
“Lalu?”
“Aku meminta kamu mempertimbangkannya sekali lagi.”
Dia menarik kursi, tetapi tidak duduk. Tangannya bertumpu pada sandaran, sementara matanya sesekali melirik surat cerai di meja.
“Aku sudah mempertimbangkannya.”
“Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
Aku menatapnya. “Berapa lama?”
Laras melepaskan tangannya dari sandaran kursi, lalu berjalan menuju jendela. Tirai tipis bergerak terkena embusan pendingin ruangan. Lampu teras rumah tetangga menerangi sebagian jalan yang mulai sepi.
“Beberapa bulan,” jawabnya.
Aku meremas lutut di bawah meja.
Beberapa bulan.
Selama itu, dia sudah memikirkan cara mengakhiri pernikahan kami, sementara aku masih percaya bahwa jarak di antara kami hanya sementara. Selama aku menyiapkan kejutan kecil untuk ulang tahun pernikahan kami, Laras sudah memikirkan cara mengakhiri semuanya. Barangkali, ketika aku memilih kue dan memastikan tulisan di atasnya tidak rusak, dia justru sedang menyusun kalimat yang akan mengubah hidup kami. Pikiran itu membuat dadaku terasa sesak. Aku masih menganggap hari ini sebagai kesempatan untuk mendekat lagi, sedangkan baginya, hari ini mungkin hanya tanggal yang tepat untuk mengakhiri sesuatu yang sudah lama dia lepaskan.
Aku mengingat malam-malam ketika Laras pulang dengan wajah cerah karena mendapatkan proyek baru. Ada akhir pekan ketika dia memilih pergi bersama rekan kerja dan makan malam yang dibatalkan karena rapat mendadak.
Aku mengira dia sedang mengejar karier. Aku tidak menyangka bahwa di tengah kesibukannya, dia juga sedang mencari jalan keluar dari rumah tangga kami.
“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?”
“Untuk apa?”
“Supaya kita bisa mencari jalan keluar sebelum sampai seperti ini.”
Laras menatapku melalui pantulan kaca.
“Aku sudah tahu apa yang kuinginkan.”
“Dan kamu yakin aku nggak berhak tahu kalau pernikahan kita sedang bermasalah?”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kamu membiarkanku mengira semuanya baik-baik saja.”
Dia berbalik. “Aku nggak pernah bilang semuanya baik-baik saja, Mas.”
Aku mengatupkan bibir.
Mungkin ada tanda-tanda yang tidak kulihat. Mungkin aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak bisa menyangkal bahwa diamku bisa membuat Laras merasa sendirian.
Namun, aku juga tidak bisa menerima bahwa lima tahun pernikahan kami seolah tak lagi berarti.
“Aku nggak akan memaksamu bertahan,” kataku.
Laras tampak sedikit terkejut.
“Kamu berhak menentukan hidupmu sendiri. Kalau akhirnya kita memang berpisah, aku nggak akan menghalangimu hanya karena aku masih ingin mempertahankan pernikahan ini.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi aku minta sepuluh hari.”
Keningnya berkerut.
“Untuk apa?”
“Sepuluh hari untuk memastikan keputusan ini bukan sesuatu yang kamu ambil karena marah, kecewa, atau sedang berada di titik paling lelah dalam hidupmu.”
“Aku nggak sedang marah.”
“Kalau begitu, sepuluh hari seharusnya nggak mengubah apa pun.”
“Mas, aku sudah bilang aku serius.”
“Aku mendengarnya.”
“Lalu kenapa masih meminta waktu?”
Aku memandang surat itu. Ada bagian yang harus diisi dan beberapa lembar yang dijepit menjadi satu. Semuanya terlihat rapi, bukan seperti keputusan yang baru dibuat malam ini.
“Aku nggak meminta sepuluh hari supaya kamu merasa bersalah,” jawabku. “Aku juga nggak akan menggunakan waktu itu untuk memohon setiap hari. Aku cuma ingin kita sama-sama punya kesempatan memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.”
Laras menyilangkan tangan di depan dada.
“Dan kalau setelah sepuluh hari jawabanku tetap sama?”
“Aku akan menghormatinya.”
“Mas bisa menjamin itu?”
Aku mengangguk.
“Aku nggak akan menahanmu dengan alasan apa pun.”
Mengucapkannya ternyata lebih mudah daripada membayangkan hidup tanpa Laras. Ada banyak pertanyaan yang ingin kuajukan, terutama apakah dia masih mencintaiku. Namun, aku menahannya. Aku tidak ingin memaksanya memberikan jawaban hanya karena aku belum siap menerima kenyataan.
Laras menarik napas panjang.
“Baik. Sepuluh hari.”
Aku mengangkat pandangan, memastikan aku tidak salah dengar.
“Tapi jangan berharap lebih.”
“Aku mengerti.”
“Jangan menganggap ini berarti aku berubah pikiran.”
“Aku nggak akan menganggap begitu.”
Dia mengambil tasnya, lalu mengangkat surat cerai dari meja dan mendorongnya ke arahku.
“Baca dulu. Kalau ada yang perlu dibicarakan soal prosesnya, kita bicarakan nanti.”
Aku menerima berkas itu. Kertasnya terasa dingin di ujung jari.
“Laras.”
Dia berhenti sebelum melangkah meninggalkan ruang makan.
“Terima kasih karena masih mau memberi waktu.”
Wajahnya berubah, tetapi hanya sesaat.
“Jangan berterima kasih dulu, Mas.”
Dia berjalan ke kamar. Pintu tertutup beberapa saat kemudian.
Aku tetap duduk di tempat yang sama. Tidak ada suara tangisan dari balik pintu, tidak ada langkah kaki yang kembali mendekat.
Aku merapikan surat cerai itu, memasukkannya ke dalam map, lalu menyimpannya di laci meja kerja.
Kue ulang tahun kami masih ada di meja makan.
Aku mengambil pisau, memotong satu bagian kecil, lalu meletakkannya di piring. Potongan itu tidak rapi; lapisan krimnya bergeser dan sedikit menempel pada mata pisau. Aku duduk di kursiku sendiri, berhadapan dengan piring Laras yang masih bersih. Rasa manis krimnya memenuhi mulut, tetapi potongan kue itu terasa berat ketika kutelan. Aku mencoba mengambil suapan kedua, lalu berhenti karena tak sanggup menghabiskannya. Setelah beberapa saat, kusimpan potongan yang tersisa ke dalam wadah, kututup rapat, dan memasukkannya ke lemari pendingin. Setidaknya kue itu tidak perlu kubuang malam ini. Namun, menyimpannya juga tidak membuat perayaan yang kusiapkan sejak sore kembali menjadi sesuatu yang bisa kami nikmati bersama.
Besok pagi, aku masih harus bekerja. Ada berkas yang harus kubaca, keputusan yang harus diperiksa, dan tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan hanya karena hidup pribadiku sedang berantakan.
Aku tidak tahu bagaimana sepuluh hari ke depan akan berjalan. Laras mungkin akan memikirkan kembali pernikahan kami. Mungkin juga dia hanya menunggu sampai aku menandatangani berkas yang sudah disiapkannya.
Yang jelas, aku tidak ingin mengubah perpisahan ini menjadi ajang pembalasan.
Menjelang tengah malam, ponselku bergetar di atas meja kerja.
Nama Pak Surya muncul di layar.
Pak Surya: Pak, maaf menghubungi malam-malam. Ada perkembangan terkait dokumen yang kemarin kita bahas. Besok pagi saya perlu menyampaikan langsung.
Aku membaca pesan itu dua kali. Biasanya, aku akan segera meminta ringkasan agar bisa mempersiapkan keputusan sebelum pagi tiba.
Malam ini, aku mengetik singkat.
Aku: Besok pukul sembilan. Bawa berkas lengkapnya.
Balasan Pak Surya datang tidak lama kemudian.
Pak Surya: Baik, Pak. Saya siapkan semuanya.
Aku meletakkan ponsel dan menatap laptop yang belum menyala. Di sana ada dunia yang selama ini kuurus dalam diam, dunia yang tidak pernah kubawa ke dalam percakapan rumah tangga kami.
Aku tidak tahu apakah suatu hari Laras akan memahami alasan di balik diamku. Namun, aku tidak ingin menggunakan rahasia itu sebagai senjata untuk membuatnya menyesal.
Jika pernikahan kami berakhir, aku ingin menghadapinya tanpa mengubah diriku menjadi orang yang penuh kebencian hanya karena seseorang tidak lagi ingin berjalan bersamaku.
Aku mematikan lampu ruang makan.
Sebelum masuk kamar, aku berhenti di depan pintu yang tadi ditutup Laras. Tanganku sempat terangkat, hampir mengetuk, tetapi akhirnya turun kembali.
Aku tidak ingin memaksa percakapan yang sudah jelas tidak ingin dia lanjutkan.
Sepuluh hari.
Aku akan memberikan waktu itu kepadanya sekaligus kepada diriku sendiri. Bukan untuk mencari cara agar dia bertahan, melainkan untuk memastikan bahwa apa pun keputusan akhirnya, aku tidak mengambil langkah berikutnya hanya karena terluka.
Aku berjalan menuju kamar lain dan menutup pintunya perlahan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, kami tidur di ruangan yang berbeda.
Aku tidak tahu apakah besok akan terasa lebih ringan. Aku hanya tahu pagi tetap akan datang, dengan atau tanpa Laras di sisiku.
Dan ketika pagi tiba, aku harus belajar menerima kenyataan yang paling sulit malam ini.
Terkadang, seseorang tidak pergi karena kita gagal mencintainya.
Terkadang, dia pergi karena sudah lama berhenti percaya bahwa cinta yang sama masih ada di antara kalian.
Pukul satu lewat dua puluh menit, ponselku kembali menyala.
Sebuah pesan dari Laras masuk.
Laras: Aku mau meluruskan satu hal. Jangan salah mengartikan sepuluh hari ini. Aku menerima permintaanmu bukan karena ragu.
Aku duduk di tepi ranjang, membaca pesannya.
Pesan berikutnya muncul beberapa detik kemudian.
Laras: Aku sudah memutuskan sebelum pulang malam ini.
Aku menatap dua baris itu lama sekali.
Di luar, suara kendaraan terakhir melintas di jalan depan rumah, kemudian menghilang di kejauhan.
Aku meletakkan ponsel di samping bantal.
Sepuluh hari yang kuminta baru saja dimulai, tetapi Laras sudah menutup pintu yang selama ini kupikir masih bisa kami buka bersama.