Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: FAJAR DI ATAS MEJA OTOPSI
BAB 10: FAJAR DI ATAS MEJA OTOPSI
Sinar fajar berwarna keemasan menerobos pelan lewat celah kaca patri di lorong utama Markas Besar Kepolisian Daerah. Hujan badai yang semalaman mencambuk ibu kota telah reda sepenuhnya, menyisakan genangan air jernih yang memantulkan langit pagi.
Namun, bagi Reno Devano dan tim VPCI, suasana lega itu hanyalah jeda singkat sebelum gelombang masalah baru menerjang dari arah yang tak terduga.
Di ruang konferensi pers utama, puluhan kilatan kamera wartawan tak henti-hentinya menyambar.
Berita penangkapan Frans sang Eksekutor bermantel hitam serta penggagalan eksekusi Bramantyo Wardhana menjadi topik panas nasional dalam hitungan jam.
Namun, di balik sekat kaca bening ruang pemeriksaan khusus di lantai tiga, suasana justru terasa begitu tegang dan dingin.
Reno duduk di kursi kayu dengan perban putih yang melingkari pelipis kanannya. Di seberang meja logam, dua orang penyidik senior dari Divisi Propam Mabes Polri menatapnya dengan pandangan penuh curiga. Di samping mereka, berkas laporan kasus pembunuhan Hakim Rustam, Kencana Subroto, serta penyerangan dr. Herman dan Bramantyo menumpuk tebal.
"Detektif Reno," ujar Komisaris Polisi Hermawan dengan suara berat dan menekan, merapatkan kedua tangannya di atas meja.
"Kami menghargai keberhasilan VPCI melumpuhkan pelaku. Tapi laporan yang masuk dari tim forensik lapangan dan kesaksian awal dr. Sara Maheswari menimbulkan banyak kejanggalan yang sangat tidak masuk akal."
Reno menatap sang komisaris tanpa berkedip. "Kejanggalan seperti apa, Kompol Hermawan?"
"Bagaimana mungkin kamu bisa mengetahui posisi kunci enkripsi cadangan di saku dalam mantel pelaku hanya dalam hitungan detik saat posisi tubuhmu terdesak di bawah ancaman pisau?" tanya Hermawan tajam, menyorot mata Reno.
"Tim forensik tidak menemukan jejak pemindaian digital atau alat pelacak apa pun pada mantel Frans. Frans sendiri berteriak histeris saat ditangkap, menuduhmu menggunakan 'ilmu sihir' atau hubungan rahasia dengannya. Sebenarnya... informasi apa yang kamu sembunyikan dari kepolisian, Reno?"
Reno mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa lelah yang luar biasa dan pusing sisa pertarungan semalam masih menghantam kepalanya. Ia tahu, momen ini akan tiba. Momen di mana batas antara sains hukum dan kemampuan psychometry-nya dipertanyakan oleh otoritas resmi.
Sebelum Reno sempat bersuara, pintu ruang pemeriksaan mendadak terdorong terbuka.
Klek.
dr. Sara Maheswari melangkah masuk. Jas laboratorium putihnya tampak rapi, dan di tangannya, ia memegang sebundel dokumen tebal berstempel resmi Laboratorium Forensik VPCI dan Kepolisian.
"Komisaris Hermawan," panggil dr. Sara dengan nada suara yang begitu tenang, berwibawa, dan dingin khas seorang pakar ilmiah. "Jawaban atas pertanyaan Anda tidak ada hubungannya dengan ilmu sihir atau spekulasi liar."
Kompol Hermawan mengernyitkan dahi, menoleh ke arah sang dokter forensik. "Dokter Sara? Ini ruang pemeriksaan internal, Anda tidak.."
"Saya di sini sebagai Kepala Tim Forensik Utama yang menangani seluruh barang bukti kasus ini, Komisaris," potong dr. Sara cepat tanpa ragu. Ia menaruh berkas tebal itu tepat di tengah meja, di antara penyidik dan Reno.
dr. Sara membuka halaman pertama berkas tersebut. "Jawaban mengapa Detektif Reno bisa mengetahui letak kunci cadangan itu adalah murni analisis observasi taktis mikroskopis dan bukti fisik."
Reno menatap dr. Sara dengan rasa terkejut yang tersembunyi di balik raut wajah datarnya.
"Perhatikan hasil pemindaian fotogrametri pada mantel Frans yang kami lakukan dua jam lalu," lanjut dr. Sara seraya menunjuk sebuah gambar grafis.
"Lipatan pada sisi kiri dada mantel Frans menunjukkan adanya ketidakseimbangan bobot sebesar empat puluh gram dibandingkan sisi kanan. Seorang analisis lapangan berdedikasi tinggi seperti Reno Devano menangkap anomali visual tersebut saat pergumulan jarak dekat. Selain itu, mikro-residu serat kuningan dari kunci USB tersebut sudah terdeteksi di celah sarung tangan kulit milik Frans sejak ia mengancam kita di Rumah Sakit Medika."
dr. Sara menatap Kompol Hermawan lurus-lurus, menyilangkan tangannya di dada. "Sains forensik dan ketajaman insting deduktif yang presisi adalah alasan mengapa kami berhasil menyelamatkan nyawa Bramantyo Wardhana tepat pada detiknya. Apakah Propam ingin mempertanyakan integritas metode ilmiah forensik yang diakui negara hanya karena frustrasi tidak bisa membaca pola pikir seorang detektif jenius?"
Ruangan itu mendadak hening. Kompol Hermawan menatap dokumen ilmiah yang disusun begitu rapi dan sempurna oleh dr. Sara, lalu beralih menatap Reno. Penyidik senior itu akhirnya menghela napas panjang, merapikan berkasnya, dan berdiri.
"Baiklah, Dokter Sara. Laporan forensik Anda resmi masuk ke dalam berkas perkara," kata Hermawan datar. "Reno Devano, Anda bebas dari pemeriksaan internal. Tapi ingat, kasus ini belum sepenuhnya ditutup sampai seluruh berkas persidangan selesai."
Tiga puluh menit kemudian, Reno dan dr. Sara melangkah keluar dari gedung polda menuju pelataran parkir yang mulai disinari terik matahari pagi. Bau tanah basah usai hujan menyegarkan paru-paru mereka.
Bara dan Widya sudah menunggu di samping SUV VPCI. Dion menatap mereka lewat layar laptop yang dipangku Bara, memamerkan senyum lebar.
"Bos! Berkas dakwaan Frans sudah resmi terdaftar!" seru Bara penuh semangat. "Dan yang paling memuaskan, berkas rekam jejak kejahatan Bramantyo Wardhana dalam skandal limbah sepuluh tahun lalu juga resmi dibuka kembali oleh Kejaksaan Agung berkat bukti-bukti baru yang kita amankan dari tempat Frans!"
"Keadilan yang sebenarnya akhirnya berjalan," tambah Widya tersenyum lega. "Bramantyo tidak mati terkena racun, tapi dia bakal menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara atas dosa-dosanya pada warga pesisir."
"Kalian bertiga kembalilah ke kantor agensi lebih dulu," ujar Reno pelan pada Bara, Widya, dan Dion. "Istirahatlah. Kalian sudah bekerja luar biasa semalaman."
"Siap, Bos!" sahut Bara seraya masuk ke dalam mobil bersama Widya.
Setelah SUV yang dikendarai Bara berlalu meninggalkan area polda, tinggal Reno dan dr. Sara yang berdiri berdua di bawah naungan pohon peneduh yang rindang.
Reno memutar tubuhnya, menatap dokter forensik di hadapannya. "Laporan observasi mikroskopis dan analisis ketidakseimbangan bobot mantel... kamu menyusun kebohongan ilmiah yang sangat sempurna di depan penyidik Propam tadi, Sara."
dr. Sara menghentikan langkahnya, lalu menghela napas pelan. Sebuah ulas senyum tipis—hangat dan jarang terlihat terukir di wajahnya yang anggun.
"Itu bukan kebohongan, Reno," sahut dr. Sara lembut. "Itu adalah tugas seorang dokter forensik. Tugas saya adalah membangun jembatan antara kebenaran yang kamu 'lihat' dengan kenyataan yang bisa diterima oleh dunia hukum."
Reno membisu. Kalimat itu meresap dalam ke dadanya, meluruhkan sisa-sisa beban mental dan rasa terasing yang selama bertahun-tahun ini ia pikul sendirian akibat rahasia kemampuan indigonya.
"Kamu tidak ragu lagi padaku?" tanya Reno pelan, suaranya sarat akan kesungguhan. "Kamu tidak menganggap kemampuan psychometry ini sebagai keanehan yang mengerikan?"
dr. Sara melangkah satu tindak lebih dekat. Tangannya yang lembut terangkat, menyentuh perban di pelipis Reno untuk memastikan balutannya tidak bergeser.
"Sebagai ilmuwan, saya masih tidak bisa menjelaskan secara pasti bagaimana molekul ingatan darah itu bekerja di dalam otakmu," ujar dr. Sara jujur, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Reno. "Tapi sebagai mitramu di VPCI... saya melihat bagaimana kamu mempertaruhkan nyawamu sendiri demi menyelamatkan orang lain dari kegelapan masa lalu. Kemampuan itu bukan kutukan, Reno. Itu adalah beban yang terlalu berat jika kamu pikul sendirian."
dr. Sara menarik tangannya kembali, lalu tersenyum manis. "Dan mulai hari ini, kamu tidak perlu memikulnya sendirian lagi. Setiap kali kamu melihat bayangan kematian itu, saya akan ada di sampingmu untuk memastikan kebenaran fisik yang mengikutinya."
Reno menatap dr. Sara dengan tatapan haru yang mendalam. Rasa pusing di kepalanya kini tergantikan oleh kedamaian yang belum pernah ia rasakan sejak kecelakaan belasan tahun lalu. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi berjalan sendirian di dalam kegelapan.
Ponsel di dalam saku mantel Reno mendadak bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tak dikenal, menampilkan sebuah koordinat lokasi baru di pinggiran kota beserta satu baris kalimat pendek:
"Satu kasus telah usai, Detektif. Namun, jejak darah dari masa lalumu sendiri baru saja dimulai di Meja Otopsi 03..."
Reno menatap layar ponselnya. Pupil matanya sedikit mengecil, namun kali ini, tidak ada lagi keraguan atau rasa takut di raut wajahnya.
Ia memasukkan ponsel itu kembali ke dalam saku, lalu menoleh menatap dr. Sara yang sedang memperhatikannya dengan sigap.
"Ada kasus baru?" tanya dr. Sara, matanya berkilat penuh kesiapan.
Reno mengangguk pelan, menyimpulkan mantel hitamnya dengan mantap seraya menatap lurus ke arah jalan raya yang mulai ramai oleh hiruk-pikuk kota.
"Ya," jawab Reno tegas dengan nada suara yang penuh keyakinan. "Dan kali ini... kita akan membongkarnya bersama sampai tuntas."
Di bawah naungan pendar sinar matahari pagi yang kian terang, kedua mitra sejati itu melangkah berdampingan menuju kendaraan mereka siap menerjang teka-teki, kegelapan, dan bayangan kematian berikutnya yang telah menanti di hadapan mereka.