Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FLASHBACK
FLASHBACK
7 tahun yang lalu, Cakra berdiri membawa buket bunga segar, bersiap mengatakan perasaannya pada seorang gadis bernama Clarissa yang sudah dia kagumi selama 5 tahun.
Siapa sangka, saat akan tiba didekat gadis itu. Dia tidak sengaja mendengar pembahasan keduanya wanita dihadapannya.
"Hayo, kapan ini, kamu mau ungkap perasaanmu sama Mas Anggara?" seseorang bertanya pada Clarissa, dimana dia adalah sahabat Clarissa.
"Aku nggak tahu... soalnya aku malu banget." wajahnya bersemu merah.
"Hmm, sampai kapan kamu mau malu terus?"
"Soalnya kan dia itu orangnya kelihatan cuek dan dingin banget. Aku takut kalau dia akan tolakku."
"Udah, dia nggak bakalan tolak kamu kok. Mustahil dia tolak cewek secantik kamu," ujar temannya menyemangati.
Mendengar nama kakaknya "Anggara" disebut, buket bunga di tangan Cakra terjatuh.
Dia baru tahu gadis yang ia damba selama lima tahun ternyata tidak melihat ke arahnya, melainkan menyukai kakaknya sendiri.
Cakra membuang buket bunga itu ke tempat sampah terdekat dengan hati hancur. Prinsipnya saat itu sederhana: cinta tidak harus memiliki. Meskipun ia sangat terluka, pria itu mencoba mengalah demi kebahagiaan Clarissa.
Hari itu juga, Cakra langsung menemui kakaknya. Yang sudah berkarier sebagai seorang perwira militer.
"Kak Anggara," panggil Cakra
Anggara tersenyum saat melihat kedatangan adiknya. "Ada apa?"
"Kakak tahu kan, temanku, Clarissa?"
Anggara mengangguk. "Ya. Kenapa?"
"Kayaknya... Clarissa itu suka sama Kakak. Boleh nggak, kalau Kakak terima cinta dia? Sepertinya dia bakal segera mengatakan perasaannya sama Kakak," ujar Cakra, menelan ego dan rasa sakitnya sendiri.
Anggara mengerutkan kening. "Aku tidak menyukainya."
"Kak, ayolah, Kak! Kali ini aja aku mohon," desak Cakra, bahkan memegang tangan kakaknya, merendahkan diri demi wanita yang dia cintai.
Anggara menarik tangannya dengan kaku. "Cakra, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Aku tidak menyukainya. Clarissa bukan tipeku."
"Terus, Kakak mau tipe yang seperti apa sih? Kakak itu aneh! Wanita di luar sana banyak yang mau sama Kakak, tapi kenapa nggak ada satupun yang Kakak lirik?" protes Cakra heran.
"Aku suka wanita yang tertutup, tapi aku belum pernah menemukannya," jawab Anggara, lalu melangkah pergi.
Cakra mengejar, menahan lengannya. "Aku mohon, Kak! Setidaknya kali ini demi aku, terima dia, ya?"
Anggara tidak mengangguk, namun juga tidak menolak. Dia hanya menepuk ringan bagi adilnya lalu pergi.
Selang beberapa hari kemudian, Clarissa benar-benar nekat mendatangi Anggara untuk menyatakan perasaannya.
"Untuk apa kau mau menemuiku?" tanya Anggara tanpa basa-basi. Dimana dia sudah tahu niat wanita itu.
Clarissa menunduk, gugup. Setelah
"Sebenarnya... aku mau bilang... aku..." Gadis itu menarik napas.
"Aku suka sama Mas Anggara." Memejamkan mata sembari berucap.
"Aku tidak menyukaimu. Carilah laki-laki yang sepadan denganmu." Tanpa mempertimbangkan perasaan gadis itu, Anggara langsung menolak mentah-mentah.
Deg!
Gadis itu sangat sedih bercampur malu saat di tolak tanpa pertimbangan.
Melihat gadis itu diam, Anggara berbalik ingin pergi.
Buru-buru Clarissa menahan lengannya. "Tapi kenapa?" Matanya menatap netra Anggara dengan berkaca-kaca.
"Sudah aku bilang, aku tidak suka padamu. Dan tidak akan pernah suka." Mantap Anggara, menarik lengannya.
Jawaban itu bagaikan vonis mati bagi harga diri Clarissa. Anggara melangkah pergi meninggalkan Clarissa dengan perasaan hancur.
Dua hari berturut-turut setelah penolakan tersebut, Clarissa jatuh sakit karena depresi berat. Cakra yang mengetahui hal itu langsung panik dan berusaha menemui Clarissa guna menghiburnya. Tapi pihak keluarga dan Clarissa sendiri menolak kedatangan Cakra.
Tak lama, terdengar kabar gadis itu yang tewas karena naik gedung 10 tingkat dan terjun ke bawah yang membuatnya merenggut nyawa ditempat.
Sejak detik itu, Cakra berdendam pada Anggara. Ia terus-menerus menyalahkan kakaknya, menuduh kematian Clarissa murni disebabkan oleh kejamnya sifat Anggara yang menolak gadis itu mentah-mentah tanpa empati, tanpa berpikir panjang tentang dampak psikologis yang harus ditanggung Clarissa.
"Aku berjanji! Aku tidak akan pernah membuatmu tenang! Kau akan menua sendiri tanpa sosok wanita disisimu! Apapun yang kau sukai! Aku akan menghancurkannya! Kecuali Mama!" Ucap Cakra didepan kakaknya dengan mata penuh dendam.
FLASHBACK SELESAI
Kembali ke tempat dikamar Anggara.
"Aku bilang! Mana Naura!!" Menarik kerah baju kakaknya.
Tak!
Hanya dengan sekali sentakan, tubuh Cakra oleng ke belakang.
"Aku tidak tahu." Jawab Anggara segera keluar dari kamarnya.
"Tunggu!" Cakra mengejar kakaknya keluar dari kamar.
Setibanya di luar, bersamaan Naura juga sudah pulang mau ke kamarnya tapi tak sengaja berpapasan dengan kedua pria itu yang seperti sedang bertengkar.
Melihat Naura, Cakra naik pitam. "Dari mana saja mau hah! Kau melac---r dimana!!" Bentak Cakra, menghampiri Naura dan langsung menarik rambut gadis itu dari balik jilbabnya sehingga membuat Naura mendongak.
"Argh!!" Naura meringis kesakitan memegangi tangan Cakra.
Urat-urat di dahi Anggara menonjol saat melihat Cakra memperlakukan wanita yang dia suka seperti hewan.
"Lepaskan dia, Cakra..." Tutur Anggara dingin menatap adiknya.
"Apa? Saat aku minta tolong sama Kakak 7 tahun lalu, apa Kakak mau mendengarku?" Bukannya melepaskan Naura, Cakra semakin menarik keras rambut Naura.
"Sakit, Lepas..." Lirih Naura karena dia benar-benar kesakitan.
Mata Anggara memerah dengan rahang. "Aku peringatkan sekali lagi, lepaskan!"
"T---"
BUGH!!!!
Naura menutup mulutnya yang sudah tertutup cadar saat melihat Cakra tergeletak di lantai dengan pemandangan tragis dimana darah memenuhi wajahnya, saat Anggara hanya melayangkan satu pukulan saja tepat mengenai Cakra.
"MAS!!!!!" Nada yang baru keluar kamar berteriak histeris saat mendapati suaminya penuh darah segar.
Naura melihat takut ke arah Anggara yang berjalan tenang mendekatinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu, di mana raut wajahnya berubah drastis.
Naura melangkah ke belakang guna menjauhi pria itu, "Jangan mendekat! Kau... kau sangat berbahaya.."
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls