Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK BISA TERTOLONG
"Tanya dia siapa nama asli ayahnya lima tahun lalu!"
Teriakan Aris menggema keras, memantul di dinding-dinding beton ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan yang dingin sebelum akhirnya pintu besi penutup terbanting tertutup rapat dengan bunyi dentuman logam yang pekat.
Sora terpaku di kursinya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya berkali-kali. Kalimat terakhir yang diteriakkan Aris sebelum diseret pergi meninggalkan rasa hampa dan kebingungan yang luar biasa.
Ia perlahan menoleh ke samping, menatap Danu yang duduk di sebelah kirinya.
"Danu..." bisik Sora dengan suara bergetar, matanya menyelami manik mata pria di hadapannya yang mendadak berubah tegang. "Apa maksud Aris? Apa hubungannya masa laluku dengan nama ayahmu?"
Danu tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas panjang, merapikan letak kerah kemejanya, namun ada butiran keringat tipis yang mendadak muncul di pelipisnya. Rahangnya mengeras, menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Jangan dengarkan omongan orang gila itu, Sora," jawab Danu dengan suara bariton yang ditekan tenang. "Aris hanya berusaha memecah belah kita. Dia tahu kita hampir berhasil memenjarakannya secara permanen, jadi dia mencoba menanamkan keraguan di kepalamu."
Sora menggeleng pelan, rasa curiga yang baru saja mereda kini kembali merayap di dadanya. "Tapi kenapa dia meneriakkan itu dengan sangat yakin, Danu? Kenapa dia menyuruhku menanyakan nama ayahmu?"
Danu meraih tangan Sora, menggenggamnya erat dengan kehangatan yang biasanya selalu berhasil menenangkan Sora. Namun kali ini, sentuhan itu justru terasa berbeda—ada ketegangan tersembunyi di balik telapak tangan Danu yang sedikit dingin.
"Percaya padaku, Sora," ucap Danu lembut, menatap lurus ke dalam mata Sora. "Fokus kita sekarang adalah memastikan Aris tidak bisa mengancammu lagi. Mari kita pulang."
Di dalam perjalanan pulang menggunakan mobil sedan putih Danu, suasana di kabin terasa jauh lebih hening dari biasanya. Tidak ada alunan musik instrumental lembut seperti biasa. Hanya terdengar deru mesin mobil dan suara gesekan ban di atas aspal jalanan kota Jakarta yang basah oleh sisa hujan.
Sora menyandarkan kepalanya di jendela, menatap pemandangan gedung-gedung yang berlarian mundur. Pikirannya berkecamuk hebat. Kejadian demi kejadian masa lalu berputar kembali di kepalanya—kebangkrutan perusahaan ayahnya, kelicikan Rian, obsesi gila Aris, dan kini... kemunculan Danu yang begitu sempurna hadir di saat hidupnya hancur lebur.
Apakah benar Danu hanya seorang arsitek biasa yang kebetulan mengelola galeri di kompleks itu? Atau ada skenario lain yang belum ia ketahui?
Mobil akhirnya memasuki area halaman galeri seni Sora. Danu mematikan mesin mobil, lalu berbalik menatap Sora dengan senyuman hangat yang dipaksakan.
"Kita sudah sampai, Sora. Kamu mau kubuatkan teh hangat di dalam?" tanya Danu ramah.
Sora menoleh, menatap Danu lekat-lekat. "Danu... boleh aku bertanya satu hal lagi? Dan kumohon, jawab dengan jujur."
Danu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Tentu. Tanya apa saja."
"Siapa nama asli ayahmu?"
Pertanyaan itu meluncur tajam di udara kabin mobil yang sempit. Danu terpaku. Senyuman di wajahnya perlahan memudar, menyisakan garis wajah yang kaku dan pandangan mata yang menerawang jauh ke luar jendela.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu, Sora?" tanya Danu dengan suara yang mendadak berubah serak.
"Karena aku ingin tahu," desak Sora, suaranya mulai bergetar. "Aris tidak mungkin berteriak seperti itu tanpa alasan. Ada rahasia apa di balik keluargamu dan keluargaku lima tahun lalu?"
Danu menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar begitu berat, seolah ia baru saja melepaskan beban berton-ton yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Ia memalingkan wajahnya kembali menatap Sora, dan untuk pertama kalinya, Sora melihat genangan air mata di sudut mata pria itu.
"Ayahku..." suara Danu tercekat di tenggorokan. "Nama asli ayahku adalah Hendra Kusuma. Pemilik perusahaan logistik yang dihancurkan secara paksa oleh konspirasi bisnis keluarga Aris dan mitra-mitra korporatnya... termasuk perusahaan yang dulu dipimpin oleh ayahmu, Sora."
Sora membelalakkan matanya, napasnya tertahan di tenggorokan. Seluruh darah di tubuhnya seolah mendadak berhenti mengalir.
"Apa...?" cicit Sora nyaris tak bersuara.
"Perusahaan ayahmu memang menjadi korban kelicikan Aris dan Rian di kemudian hari," lanjut Danu dengan suara bergetar pilu. "Tapi jauh sebelum itu, perusahaan ayahku adalah target pertama kehancuran yang dirancang oleh orang-orang di lingkaran elit ayahmu. Ayahku bunuh diri karena stres menanggung hutang piutang palsu, dan aku... aku kehilangan segalanya di usia muda."
Sora menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya menetes seketika. "Jadi... kamu mendekatiku karena... karena dendam?"
Danu langsung menggelengkan kepalanya dengan panik. Ia meraih kedua tangan Sora, menatap wanita itu dengan putus asa.
"Awalnya iya, Sora!" aku Danu jujur dengan linangan air mata yang tak tertahankan. "Saat aku tahu kamu adalah putri dari salah satu orang yang ikut menghancurkan keluargaku, aku merancang rencana untuk mendekatimu, untuk membalas apa yang terjadi pada ayahku!"
Sora meronta pelan, menarik tangannya dari genggaman Danu. Rasa sakit dan pengkhianatan kembali menghantam dadanya dengan telak. "Jadi kamu sama saja... Kamu pembohong! Kamu mendekatiku bukan karena peduli, tapi karena ingin membalas dendam!"
"Tapi aku berhenti, Sora!" teriak Danu putus asa, suaranya pecah di dalam mobil. "Demi Tuhan, aku jatuh cinta padamu sejak hari pertama aku melihatmu di galeri itu! Melihat penderitaanmu, melihat bagaimana Aris dan Rian menyiksamu... hatiku hancur. Niat dendam itu hilang sepenuhnya, berganti dengan keinginan untuk melindungimu!"
Sora menangis sejadi-jadinya, memalingkan wajahnya ke arah pintu mobil. Dunianya terasa runtuh untuk kesekian kalinya. Pria yang ia anggap sebagai penyelamat dan tempat bersandar ternyata memiliki ikatan darah dengan masa lalu kelam keluarganya.
"Keluar, Danu..." bisik Sora lemah, menunjuk ke arah pintu luar mobil. "Tolong... biarkan aku sendiri."
Danu menatap Sora dengan tatapan penuh permohonan dan kepedihan yang teramat sangat. Namun ia tahu, memaksakan diri saat ini hanya akan membuat luka Sora semakin menganga.
Dengan tangan gemetar, Danu membuka pintu mobil dan keluar. Ia berdiri di luar jendela kaca, menatap Sora dengan mata basah.
"Aku tidak akan pernah pergi jauh darimu, Sora," ucap Danu pelan sebelum melangkah mundur perlahan. "Apapun keputusanmu... aku akan tetap melindungimu dari bayang-bayang Aris."
Mobil sedan putih Danu perlahan meninggalkan halaman galeri, menyisakan Sora yang meringkuk sendirian di kursi penumpang, menangisi takdir hidupnya yang begitu rumit dan penuh tipu daya.
Tiga hari kemudian.
Suasana di dalam Lembaga Pemasyarakatan kelas satu mendadak berubah mencekam. Pukul dua siang, sebuah insiden kerusuhan antarnarapidana pecah di blok keamanan maksimum tempat Aris ditahan.
Sora yang sedang berada di galerinya mendadak dikejutkan oleh panggilan telepon darurat dari pihak kepolisian.
"Halo, apakah benar ini dengan saudari Sora selaku mantan kerabat dari narapidana Aris Kusuma?" tanya suara tegas seorang petugas di ujung telepon.
Sora yang masih memegang cangkir teh hangat merasakan jantungnya berdegup kencang. "I... iya, benar. Ada apa ya, Pak?"
"Kami mengabarkan bahwa narapidana Aris Kusuma mengalami luka parah akibat perkelahian di dalam sel isolasi... dan saat ini nyawanya sudah tidak tertolong."