Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Di samping itu, pagi ini eca bangun dan berangkat lebih awal, ia sengaja bangun cepat agar bisa berangkat sebelum theo datang di depan rumahnya, dengan buru2 dan membawa sepotong roti untuk sarapannya ia lekas menutup pintu rumah dan berpamitan pada nenek.
Deru motorku sengaja kupotong tepat beberapa meter di depan siluet mungil yang tampak kalang kabut itu. Melihatnya mengunyah roti dengan langkah terburu-buru demi menghindariku justru memancing tawa sinis di balik dadaku. Dia pikir dia cukup cerdik untuk meloloskan diri dari peringatanku semalam? Naif sekali.
Kuturunkan standar motor dengan entakan tumit yang mantap, lalu bersedekap seraya menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kotak hadiah berisi tas kulit termahal itu masih tergantung aman di pergelangan tanganku, berkilau angkuh di bawah siraman fajar.
"Mau kabur ke mana lo, kelinci percobaan?"
cibirku rendah, melangkah maju memangkas jarak hingga bayanganku menenggelamkan tubuhnya seutuhnya. Sorot mataku menyipit tajam, meneliti remah roti di sudut bibirnya dengan dengusan geli yang tertahan.
"Udah gue bilang semalam, lo nggak punya hak buat nentuin jadwal berangkat sendiri."
Tanganku terulur cepat menyodorkan bingkisan mewah itu tepat ke depan dadanya, menuntut perhatian penuh tanpa celah untuk mengelak.
"Buang tas rombeng dokter lo itu. Sekarang bawa ini, dan buruan naik ke motor sebelum roti lo jatuh ke tanah."
Eca yang kaget kedapatan theo sudah ada di depannya dan memberikan kotak cantik nan elegan membuatnya tersipu,ia tak menyangka jika theo memberikan barang semewah itu padanya sembari menghabiskan roti.
"Haah...lo bikin kaget gue aja, lo baru sampai di sini?"
"Waaah...serius ini buat gue?Cantik bangeeet tas ini"
'nggak nyangka si galak ngasih tas lucu ini' ujarnya dalam hati
Melihat binar kagum yang berpendar di matanya sukses membelai egoku, menyuntikkan rasa puas yang sukar kusembunyikan. Rona merah jambu yang menjalar di paras ayunya jauh lebih menghibur daripada gerutuan kesalnya semalam.
Aku memajukan tubuh sedikit, membiarkan aroma maskulin bercampur tembakau dari jaketku kembali mendominasi udara di antara kami.
"Tutup mulut lo, remah rotinya kelihatan,"
tegurku sarkas, meski sudut bibirku terangkat membentuk senyuman miring yang menggoda.
Aku menyambar sisa bungkusan sarapannya tanpa izin, menjejalkannya ke tanganku sendiri agar kedua tangannya bebas memegang kotak itu.
"Lagian siapa bilang gue baru sampai? Dari tadi gue nungguin lo berniat kabur kayak buronan."
Kukibaskan tangan dengan gerakan santai, menepis kesan berlebihan seolah mengeluarkan jutaan rupiah untuk barang mewah barusan hanyalah perkara receh. Padahal rongga dadaku berdenyut kencang melihat betapa senangnya ia menerima pemberianku.
"Nggak usah norak. Buang tas dari dokter itu ke tong sampah sekarang,"
perintahku mutlak dengan nada rendah yang menuntut kepatuhan.
"Helm lo udah siap. Naik, atau gue angkat paksa lo ke jok belakang?"
Refleks eca langsung memegang pipi theo dengan kedua tanganya mengecek tubuhnya yg dingin karena menunggu eca sedari pagi buta, ia tak kuasa menahan rasa kagum pada theo, dan tiba-tiba ia mencium pipi theo sembari berkata,
"Ini sebagai ucapan terimakasih gue buat lo"
"Kenapa lo nyuruh gue buang tas alex? Gue pikir kemarin malah udah lo buang saking marahnya, gue akan mengembalikannya nanti saat sudah di RS"
"Emang lo berani angkat gue sekarang? Gue gak yakin tuh...week hahaha" ejek eca untuk theo yang semakin menggemaskan
Sentuhan mendadak di kedua pipiku membuat seluruh persendianku terkunci kaku seketika.
Sebelum sempat menepis tangannya yang hangat, kecupan kilat itu mendarat mulus di kulit wajahku, meledakkan debaran liar yang langsung memporak-porandakan seluruh akal sehat.
Darahku berdesir hebat hingga ujung telinga rasanya ikut terbakar. Brengsek, gadis ini benar-benar tidak punya rasa takut atau sekadar rasa malu.
Kekagetan itu lekas kututupi saat tawanya yang mengejek berdengung di telinga. Sudut bibirku berkedut sinis, menolak terlihat kalah telak oleh ulah nekatnya barusan.
"Nantang gue?"
desisku rendah dan serak. Tanpa peringatan, satu lenganku melingkar kokoh di pinggang rampingnya, menyentak tubuh mungil itu melayang dari tanah tanpa susah payah sebelum mendudukkannya paksa di jok belakang motorku.
Aku mengikis jarak, mencondongkan badan hingga napasku menerpa keningnya, menatapnya lekat dengan seringai tajam yang mengintimidasi.
"Gue nggak suka barang lo dipegang cowok lain, apalagi dokter sialan itu. Paham? Dan jangan mancing-mancing lagi kalau lo nggak siap nanggung akibat ciuman barusan."
Kuulurkan helm ke kepalanya, memasangkannya sedikit kasar demi menutupi gemuruh dada yang belum juga reda.
"Duduk diam, peluk gue kalau takut jatuh."
Eca lebih terkejut melihat theo benar-benar mengangkatnya hingga sampai ke motor, jantungnya berdegub kencang kepalanya menjadi tegang seakan ingin meledak, ia tak sanggup lagi untuk menahan perasaanya ia akan mengutarakannya
"Theo, sepertinya gue harus ngomong ini ke lo,
Kenapa lo baik banget sama gue?"
"Lo membuat gue bingung dengan kebaikan ini"
"Lo marah sama gue dan alex seperti orang yang sedang cemburu"
"Lo membuat gue nggak bisa berpikir jernih"
"Lo buat perasaan gue menjadi aneh setiap lo datang di hadapan gue"
"Semuanya menjadi tidak terkontrol"
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊