"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 | LIMA MENIT DI ATAS AWAN
"El Oso ! Kau gila ! Aku tidak mau!" pekik Aleeza histeris.
Ia berontak sekuat tenaga saat Austin dengan santai menyeretnya keluar dari kamar suite hotel mewah menuju area dermaga privat.
Sempat terbersit dalam benak Aleeza bahwa pria Spanyol itu akan membawanya ke tempat-tempat bernuansa intim layaknya novel roman dewasa yang sering dibacanya. Namun dugaannya meleset jauh! Austin justru membawanya ke bawah terik matahari pantai Mediterania, mengenakan pakaian renang kasual, dan menyeretnya ke atas sebuah kapal cepat.
Tidak ada ciuman menuntut ataupun rayuan gombal. Hari itu, Austin memutuskan untuk mengajak Aleeza melakukan hal paling gila yang belum pernah dilakukan jurnalis itu seumur hidupnya: menaklukkan laut.
Dimulai dari menaiki jet ski dengan kecepatan tinggi yang membuat Aleeza menjerit ketakutan sekaligus kegirangan, berlanjut mengendarai hoverboard di atas air, hingga puncaknya—Austin memasangkan alat pengaman parasailing di tubuh mereka berdua.
"El Oso aku tidak mau mati tenggelam di laut jika tali ini putus, bastard!" rintih Aleeza memejamkan mata erat-erat, mencengkeram lengan Austin dengan panik.
Austin tertawa renyah, suara baritonnya terdengar amat hangat di dekat telinga Aleeza. "Tenang saja, Mi Amor. Jika kau jatuh, aku akan ikut terjun dan menjadi pelampung pen penyelamatmu."
Cih! Gombalan murahan! batin Aleeza mencibir.
Namun, beberapa detik kemudian, saat perahu speedboat di bawah menarik tali pelampung mereka dan menerbangkan tubuh keduanya tinggi ke udara, Aleeza tanpa sadar membuka matanya.
Dan napasnya langsung tercekat.
Di ketinggian ratusan kaki di atas permukaan laut, pemandangan Mediterania terbentang amat luar biasa. Birunya air laut berpadu sempurna dengan garis pantai yang memukau, menciptakan gradasi warna yang menyerupai lukisan agung. Terpaan angin laut yang kencang menerbangkan helai rambut cokelat Aleeza.
"Bagaimana? Indah, kan?" bisik Austin tepat di samping telinganya.
Aleeza menoleh dan mendapati Austin sedang menatapnya lekat-lekat dengan binar kelembutan yang teramat tulus.
"B-biasa saja," cibir Aleeza gengsi, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum.
"Jujurlah, Aleeza. Kau menikmati lima menit ini, kan?" goda Austin menyeringai.
"Namanya juga terpaksa, Senor Sombong!" balas Aleeza mengalihkan pandangan.
Austin terkekeh pelan, lalu mengeratkan dekapannya pada pinggang Aleeza di udara.
"Andai kau tidak terjebak dalam bayang-bayang masa lalumu dengan Julian dan andai aku tidak terikat pada obsesiku pada Angeline mungkin kita bisa menikmati lebih banyak detik-detik indah seperti ini, ya?"
Pernyataan telak itu membuat jantung Aleeza berdegup nyeri.
Obsesi pada Angeline Ya, itu adalah kenyataan pahit yang tidak boleh dilupakan Aleeza. Betapapun manisnya perlakukan Austin saat ini, Pria itu pada akhirnya adalah seorang billionaire pendendam yang sedang mempermainkan perasaannya sebagai bagian dari skenario kehancuran.
Beberapa menit kemudian, saat parasut mereka mendarat mulus kembali di atas dek kapal, Aleeza langsung melepaskan diri dari dekapan Austin. Ia berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, berusaha membangunkan kembali benteng kebencian di dalam hatinya.
"Jangan bicarakan soal Angeline di hadapanku, Austin!" seru Aleeza tajam, menatap sang billionaire dengan kilat amarah.
"Kau pikir aku tidak tahu alasan di balik semua permainan manis ini? Kau ingin membuatku jatuh cinta, lalu membuangku ke titik nadir kehancuran sebagai bentuk pembalasanmu!"
Austin menghentikan langkahnya. Senyuman di wajahnya memudar, digantikan oleh sorot mata tajam yang menghujam lurus.
"Analisis yang bagus, Aleeza," ucap Austin dingin, melangkah mendekat tanpa memberi ruang bagi Aleeza untuk mundur. "Tapi sayangnya kau salah besar."
"Salah di bagian mana?! Aku tidak sebodoh itu untuk mempercayai tatapan matamu lagi!"
"Karena jika aku memang berniat menghancurkanmu sejak awal," bisik Austin tepat di depan wajah Aleeza, jemarinya terulur menyentuh lembut rahang gadis itu. " aku tidak akan pernah merasa separuh mati ketakutan saat melihat air matamu di jalanan Madrid kemarin."
Aleeza membeku. Banyak pergolakan batin berkecamuk di kepalanya antara sisa-sisa kewarasan yang memperingatkannya akan bahaya seorang Austin Vanderbilt, dan debaran khianat di dadanya yang terus memihak pada sang billionaire.
"Kau ingin kita five minutes di sini, El Oso?" tantang Aleeza dengan suara bergetar, mencoba menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng menantang.
Austin menyunggingkan senyuman miring yang berbahaya. "Lima menit? Tidak, Mi Amor. Mulai hari ini aku menuntut seluruh sisa hidupmu untuk menjadi milikku."
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!