NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Siapa Bilang Pakai Kebaya Tak Bisa Berdansa

Tepuk tangan itu belum selesai ketika Bianca berjalan ke arahnya dengan tangan terulur.

Damar menatap tangan itu. Kuku-kukunya dicat merah marun, senada dengan gaunnya. Di pergelangannya, jam tangan yang setengah jam lalu "hilang" sudah kembali terpasang.

Para tamu menunggu. Seseorang sudah mengangkat ponsel, siap mengabadikan momen pasangan baru itu bergandengan tangan.

Damar memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Senyum Bianca tidak goyah, tapi ujung bibirnya bergetar. Dia menurunkan tangannya pelan-pelan dan berpura-pura merapikan rambut, seolah memang itu yang dia maksud sejak awal.

"Damar." Suara Eyang dari belakang. "Ikut Eyang sebentar."

***

Ruang kerja Eyang berbau kayu cendana dan kertas tua. Rak-rak buku setinggi langit-langit. Sebuah meja jati besar. Di atasnya, gulungan Serat Wedhatama yang baru saja dibuka di depan seratus lima puluh orang.

Eyang duduk dan menyandarkan tongkatnya ke sisi meja. Dia tidak menyuruh Damar duduk.

"Sekretarismu itu," katanya. "Dari mana dia?"

"Solo. Lulusan UI. Beasiswa."

"Keluarganya?"

"Orang tuanya sudah meninggal."

"Itu yang dia bilang?"

Damar tidak menjawab.

Eyang mengusap gulungan kertas itu dengan ujung jarinya. "Perempuan yang bisa menulis aksara Jawa serapi ini, yang bisa membuat Bianca mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang tanpa mengangkat suara, yang bisa membuat cucu Eyang tidak masuk kantor satu hari penuh." Dia mendongak. "Itu bukan perempuan biasa, Damar."

"Dia sekretarisku, Eyang. Hanya itu."

"Kalau hanya itu, kenapa kamu tidak bertepuk tangan tadi?"

Damar diam.

Eyang tersenyum. Senyum seorang eyang yang sabar, senyum yang sudah Damar kenal sejak dia kecil. Senyum yang dulu dia percaya.

"Kamu dulu pergi dari rumah ini, lalu kembali. Laras kamu yang besarkan sendiri. Kamu sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan." Suara itu pelan. "Jangan pernah punya kelemahan, Damar. Perasaan itu kelemahan. Begitu orang tahu apa yang kamu sayangi, mereka tahu ke mana harus menusuk."

"Dan kalung itu." Eyang berhenti sebentar. Jari-jarinya yang tadi mengusap kertas kini diam di atas meja. "Kalung ibumu ada di leher sekretarismu."

"Dua hari lalu kalung itu dicuri. Dia yang mengambilnya kembali."

"Lalu kamu memberikannya kepadanya."

"Saya meminjamkannya."

"Meminjamkan." Eyang mengulang kata itu seperti sedang mencicipinya. "Ratna tidak pernah melepas kalung itu, Damar. Sampai hari terakhirnya."

Untuk sesaat, ruangan itu terasa lebih dingin. Damar menatap tangan Eyang di atas meja. Tangan itu tidak bergerak, tapi buku-buku jarinya memutih.

Lalu Eyang mengangkat tangannya dan mengibaskannya pelan, seolah mengusir lalat. "Sudahlah. Barang mati tidak penting."

"Saya tidak akan menikahi Bianca."

"Eyang tidak minta pendapatmu." Eyang mengambil tongkatnya dan berdiri. "Eyang memberitahumu. Keluarga Wibisono itu kawan lama. Pernikahan ini baik untuk Hadiwijaya. Dan baik untukmu, supaya orang berhenti bertanya kenapa Presiden Direktur kita tinggal serumah dengan sekretarisnya."

"Dia tinggal di paviliun."

"Orang tidak peduli paviliun atau bukan." Eyang menepuk bahunya dua kali, ringan. "Pikirkan baik-baik. Ayo, tamu-tamu menunggu."

***

Musik di pendapa sudah berganti. Gamelan disimpan, digantikan kuartet gesek yang memainkan lagu-lagu lama. Beberapa pasangan berdansa di tengah ruangan.

Damar berdiri di dekat pilar dan mencari kebaya hijau zamrud itu.

Bianca menemukannya lebih dulu. Dia datang dengan dua gelas di tangan dan senyum yang sudah diperbaiki, menyodorkan salah satunya. "Kita belum foto berdua, lho. Fotografernya udah nunggu dari tadi."

"Nanti."

"Damar, semua orang lihat."

"Biar."

Dia berjalan melewatinya. Dia bisa merasakan tatapan Bianca menusuk punggungnya, juga tatapan para tamu yang pura-pura tidak melihat. Dia tidak peduli. Dia sudah terbiasa tidak peduli.

Dia menemukannya di dekat jendela. Anala berdiri sendirian dengan segelas jus di tangan, dan di depannya ada seorang laki-laki yang tidak Damar kenal.

Tinggi. Jas hitam yang dipotong sempurna, kemeja tanpa dasi. Rambutnya sedikit terlalu panjang untuk acara seperti ini. Dia berdiri dengan santai, satu tangan di saku, dan tangan yang lain terulur ke arah Anala.

Damar bergerak mendekat. Dia berhenti di jarak yang cukup untuk mendengar.

"Maaf," kata Anala. Sopan. Datar. "Saya pakai kebaya. Tidak bisa berdansa."

Laki-laki itu tertawa kecil. "Siapa bilang pakai kebaya tidak bisa berdansa?"

Sesuatu terjadi di wajah Anala.

Damar sudah melihat perempuan itu dalam banyak keadaan. Marah, lelah, sakit, terhina. Pagi ini di kantor, dengan memar di pipi dan kasa di pergelangan tangan. Dua hari lalu, tergeletak di aspal di depan pagarnya.

Tapi dia belum pernah melihat wajah itu kosong.

Hanya sedetik. Mata Anala tidak menatap laki-laki di depannya. Mata itu menatap sesuatu yang tidak ada di ruangan ini. Gelas jus di tangannya miring sedikit, cairannya hampir tumpah. Bibirnya terbuka seolah akan mengatakan sebuah nama.

Lalu dia berkedip, dan wajahnya kembali seperti biasa.

"Tetap tidak, Pak," katanya.

Laki-laki itu menurunkan tangannya tanpa terlihat tersinggung. Dia membungkuk sedikit, gerakan yang lebih mirip ejekan daripada hormat.

"Ingat namaku," katanya. "Arka. Kita pernah bertemu."

Dia berbalik dan pergi. Ketika dia melewati Damar, matanya melirik sekilas, dan sudut bibirnya naik. Seolah dia tahu persis siapa yang sedang berdiri di sana.

Damar tidak melihatnya pergi. Dia melihat Anala, yang menatap punggung laki-laki itu dengan tangan mencengkeram gelas.

Pernah bertemu. Di mana?

Tangan kiri Anala naik ke lehernya, ke liontin teratai merah di atas kebaya. Jari-jarinya menggenggam liontin itu seperti orang yang berpegangan pada sesuatu supaya tidak jatuh.

Damar memikirkan jaket itu. Jaket laki-laki berwarna gelap, merek Italia, terlalu besar di bahu perempuan yang tergeletak di depan pagarnya. Saya beli di bandara, Pak.

Dia memikirkan laki-laki tadi, yang bahunya lebar dan jasnya dipotong sempurna, yang melirik ke arahnya seolah sedang menikmati sebuah lelucon yang hanya dia sendiri yang tahu.

Kuartet gesek di pendapa beralih ke lagu berikutnya. Beberapa pasangan tertawa di lantai dansa. Tidak ada yang memperhatikan Presiden Direktur Hadiwijaya yang berdiri diam di dekat jendela, dengan tangan terkepal di dalam saku.

***

Lorong timur rumah Menteng sepi. Lampu-lampu dindingnya redup, dan jendela-jendela besar menghadap ke halaman samping yang gelap.

Damar tidak ingat memutuskan untuk melakukannya. Dia hanya ingat tangannya menggenggam pergelangan Anala, yang tidak dibalut kasa, dan menariknya keluar dari pendapa lewat pintu samping. Anala tidak berteriak. Dia tidak menarik tangannya. Dia hanya mengikuti, langkahnya tersandung sedikit karena kain kebaya yang sempit.

Di tengah lorong itu, Damar berhenti dan memutar tubuh Anala sampai punggungnya menempel di dinding.

"Siapa dia?"

"Siapa?"

"Jangan main-main."

"Saya tidak kenal dia, Pak."

"Dia bilang kalian pernah bertemu."

"Banyak orang yang bilang begitu." Anala menatapnya. Di bawah lampu yang redup, matanya terlihat lebih gelap. "Kenapa? Bapak cemburu?"

Damar menciumnya.

Ciuman itu tidak meminta izin, tapi dia berhenti sesaat di tengahnya. Satu tarikan napas. Cukup lama untuk perempuan itu mendorongnya pergi kalau dia mau.

Anala tidak mendorongnya. Tangannya naik ke kerah batik Damar dan menariknya lebih dekat. Dia membalas ciuman itu, pelan lalu dalam, dan Damar merasakan sesuatu di dadanya yang sudah lama tidak dia rasakan. Sesuatu yang tidak bisa dia perintah.

Ketika akhirnya mereka berpisah, bibir Anala menempel di telinganya.

"Baru tadi punya tunangan," bisiknya, dan Damar bisa mendengar senyum dalam suaranya, "sudah mencuri ciuman dariku?"

"Dia bukan tunanganku."

"Eyang bilang begitu. Di depan seratus lima puluh orang."

"Eyang bisa bilang apa saja."

Anala tertawa pelan. Napasnya hangat di lehernya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Lorong itu sunyi kecuali suara musik gesek yang samar dari pendapa.

Lalu kedua tangan Anala menekan dadanya dan mendorongnya mundur.

Tidak keras. Tapi cukup.

"Tunanganmu," katanya, "masih lihat dari sana."

Damar menoleh.

Di ujung lorong, di ambang pintu samping yang setengah terbuka, Bianca berdiri dengan gaun merah marunnya. Satu tangannya mencengkeram kusen pintu. Wajahnya putih seperti kertas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!