Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.Mulai Menanam
Di malam hari, Meng Lin tidak keluar makan, dan tidak ada panggilan dari luar. Dia masuk ke Ruang Dimensi untuk menanam bibit yang dia beli di pasar gelap.
Saat tahu makanan bisa awet dalan Ruang itu, Meng Lin membeli banyak makanan di Restoran Negara saat dia pulang.
Seperti biasa, tempat itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan dunia luar. Sebelum bekerja, dia pergi melihat air di dalam mangkuk ternyata sudah hampir penuh.
Meng Lin menyimpan air itu kedalam botol minum, dan mengganti mangkuk kecil itu dengan wadah yang lebih besar, jangan sampai airnya tertumpah meski cuma setetes.
Meng Lin minum seteguk. "Hmmm segar sekali.. Dengan tenaga seperti ini, aku bisa membuat seseorang pingsan hanya dengan satu kali pukulan.!" ucapnya dengan tersenyum puas.
Ia berdiri di atas tanah yang luas. Tanah di ruang dimensi itu sudah gembur dengan sendirinya. Meng Lin tidak perlu lagi mencangkul atau mengolahnya.
Ia mengeluarkan beberapa jenis bibit yang tadi sudah disiapkannya. Ada empat macam.
Semangka. Sawi. Labu. Dan timun.
Meng Lin berjalan ke beberapa tempat yang berbeda, kemudian menaburkan masing-masing bibit di atas tanah.
Tidak perlu membuat lubang. Tidak perlu mencangkul. Tanahnya sudah cukup lunak sehingga bibit-bibit itu dapat dengan mudah masuk ke dalam permukaan tanah.
Setelah selesai, Meng Lin menepuk kedua tangannya. “Lumayan.”
Ia baru saja hendak keluar untuk mengambil air dan menyiram tanaman tersebut ketika langkahnya mendadak berhenti.
Matanya membesar. “Apa?” Meng Lin berbalik.
Bibit yang baru saja ditaburkannya beberapa saat lalu sudah tumbuh.
Tunas-tunas kecil muncul dari tanah. Masing-masing bahkan sudah memiliki dua helai daun mungil.
Meng Lin berjalan mendekat dengan wajah penuh keterkejutan.“Baru beberapa menit?” Ia berjongkok di depan salah satu tanaman sawi.
Benar-benar hidup. Bahkan pertumbuhannya terlihat jelas jika diperhatikan. Meng Lin menyentuh salah satu daun kecil itu dengan ujung jarinya. “Cepat sekali.”
Senyum perlahan muncul di wajahnya. Kemudian ia melihat tanaman semangka, labu, dan timun yang juga mulai tumbuh.
Semuanya menunjukkan tanda kehidupan yang sama. Meng Lin langsung merasa bersemangat.
Jika pertumbuhannya terus seperti ini, dia tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan hasil panen.
Artinya... Dia bisa menimbun persediaan dalam jumlah besar.
Makanan.
Sayuran.
Buah-buahan.
Semua bisa disimpan di ruang dimensi tanpa takut kekurangan tempat.
Tatapan Meng Lin menjadi semakin cerah.
“Kalau terus begini, setelah sampai di Desa Qinghe aku tidak perlu khawatir kekurangan makanan.”
Bahkan dia bisa menjual sebagian hasilnya.
Namun, Meng Lin segera mengingat sesuatu.
Dia tidak boleh menjual terlalu banyak sekaligus.
Apalagi dirinya akan menjadi pemuda terpelajar yang baru tiba di desa. Jika tiba-tiba seorang gadis berusia sembilan belas tahun memiliki hasil panen berlimpah dan terus-menerus menjualnya, pasti akan menimbulkan pertanyaan.
Karena itu, dia harus berhati-hati. Jual sedikit demi sedikit. Dan untuk jumlah yang lebih besar, dia akan membutuhkan jalur lain.
Pasar gelap. Meng Lin tersenyum kecil. “Sepertinya aku harus mencari tahu lebih banyak tentang pasar gelap setelah sampai di sana.”
Ia kembali menatap tanaman-tanaman kecil di hadapannya. “Untuk sekarang, tumbuhlah dengan baik.”
Setelah itu Meng Lin keluar dari ruang dimensi.
Dia tidak perlu menyiramnya lagi. Setidaknya untuk saat ini, ruang misterius itu sekali lagi menunjukkan bahwa ia jauh lebih istimewa daripada yang pernah dibayangkan Meng Lin.
...----------------...
Keesokan harinya, Meng Lin keluar dari kamar setelah selesai bersiap. Begitu melangkah ke ruang tengah, ia langsung melihat semua orang sudah duduk di sana. Paman Lin, Bibi Lin, Meng Wan, dan Meng Ji tampak seperti sengaja menunggunya.
Meng Lin tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya hanya beralih sebentar ke arah dapur. Di atas meja masih terlihat bekas sarapan.
Sepertinya mereka sudah makan lebih dulu. Bagus! Dengan begitu, tidak perlu ada yang saling ikut campur. Meng Lin berjalan mendekat lalu duduk di kursi kosong.
Paman Lin yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Lin'er, hari ini aku akan meminta izin setengah hari dari tempat kerja. Aku akan pergi ke bank."
Mendengar itu, tatapan Meng Lin langsung menjadi lebih puas karena Pamannya tidak perlu diancam terlalu lama. Ia mengangguk pelan. "Baik."
Paman Lin menghela napas. Sebenarnya, laki-laki itu bukan orang yang sepenuhnya jahat. Hanya saja, selama ini ia terlalu jarang berkomunikasi dengan keponakannya sendiri.
Ia mengira Meng Lin memang bersedia tinggal bersama mereka. Ia juga mengira uang yang dikirim oleh kakaknya untuk Meng Lin digunakan atas persetujuan keponakannya.
Selama bertahun-tahun, Meng Lin yang asli tidak pernah banyak bicara. Ketika Bibi Lin meminta uang, ia hanya menyerahkannya tanpa membantah.
Karena itulah Paman Lin tidak pernah benar-benar memahami apa yang terjadi di dalam rumah ini. Namun sekarang, semuanya sudah berubah.
Sementara itu, wajah Bibi Lin tampak semakin masam. Meng Ji juga duduk dengan rahang mengeras. Yang paling tidak senang tentu saja Meng Wan.
Uang sebanyak itu akan segera kembali ke tangan Meng Lin. Artinya, mulai sekarang mereka tidak akan bisa lagi menggunakan uang kiriman kakaknya sesuka hati.
Meng Wan mengepalkan tangannya di pangkuan. Uang itu sudah dia mimpikan untuk menjadi mas kawinnya. Ia merasa sangat tidak rela.
Paman Lin menatap Meng Lin sekali lagi.
"Uangnya akan kukembalikan sesuai yang kau minta. Tapi setelah itu, aku harap masalah ini selesai dan kita tidak perlu membuat hubungan keluarga menjadi buruk."
Meng Lin menatap pamannya dengan tenang.
"Aku juga tidak ingin hubungan keluarga menjadi buruk."
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Selama tidak ada yang mengambil sesuatu yang bukan haknya."
"Tapi itu tergantung bagaimana Meng Wan bersikap di masa depan! Jika Meng Wan tidak mengusiknya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi jika dia bertingkah, itu lain cerita!" lanjutnya dalam hati.
Wajah Bibi Lin langsung berubah.Meng Lin tidak memperhatikannya.
Ia berdiri dan merapikan ujung bajunya.
"Kalau begitu, aku akan menunggu sampai Paman pulang dari Bank."
Paman Lin mengangguk. Namun sebelum Meng Lin sempat kembali ke kamar, suara Meng Ji terdengar dari belakang.
"Setelah uang itu dikembalikan, apa kau benar-benar akan pergi?"
Meng Lin menoleh. "Ya. Sampai keberangkatan!"
Jawabannya begitu singkat hingga Meng Ji terdiam. "Maksudku... setelah kau berangkat menjadi pemuda terpelajar, rumah itu—"
"Rumah itu tetap milikku."
Meng Lin memotongnya tanpa meninggikan suara. "Jangan khawatir. Aku tidak akan membawa rumahnya pergi."
Meng Ji langsung tersedak oleh kata-katanya sendiri.
Meng Lin menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Tapi aku tidak akan membiarkan kalian tinggal di sana selamanya. Kecuali, kamu mau setuju dengan syarat ku semalam!"
"Apa sewanya tidak bisa dikurangi?"
.
.
.
.
yang banyak update nya Thor 👍😀
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍