Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Sosok Ayah yang Diimpikan
Devan makin seru memaki-maki supir mobil brio merah yang baru saja mencipratinya, sementara Raka dan Miko makin puas mentertawakannya di depan studio.
Bellona menggeleng-gelengkan kepala. Tatapannya beralih dari Devan yang sibuk mengeringkan celana jeans-nya pakai tisu ke arah Teo. Cowok vokalis itu sudah kembali menunduk, memetik senar gitarnya pelan seolah kekacauan yang dibawa Devan baru saja menyapu angin lalu.
‘Sosok ayah yang diimpikan...’
Kata-kata Teo tadi terus bergema pelan di kepala Bellona. Menurutnya, frasa itu terlalu mulia jika disematkan pada pria bising yang saat ini sedang mengomel soal baju kausnya yang ikut terkena bintik air got.
"Woy, Bocah! Malah melamun!" bentak Devan kaget saat menyadari Bellona menatapnya tanpa kedip. Pria itu melempar gulungan tisu bekas ke tong sampah. "Lihat nih, celana kesayangan gue jadi bau air got gara-gara mobil dongo tadi! Mana rokok gue basah separo lagi!"
"Makanya kalau jalan tuh matanya dipake, kagak usah sok ganteng tengok kanan-kiri!" cetus Bellona ketus, buru-buru memalingkan wajahnya agar Devan tidak curiga.
"Dih! Malah nyalahin gue!" Devan mendengkus gemas, menyambar gitar elektriknya kembali. "Yaudah, anak-anak! Kita take ulang lagu tadi! Gue mau tumpahin amarah gue ke senar gitar!"
"Nah gitu dong, vibes amarahnya dapet!" seru Raka antusias sambil memutar stik drumnya di udara.
Sore itu diisi oleh rentetan lagu keras yang bergetar menembus dinding kedap suara studio. Bellona duduk memperhatikan mereka bertiga—Devan yang main gitar seperti kesetanan, Teo yang bernyanyi dengan penghayatan dalam, serta Raka dan Miko yang menjaga ritme. Sementara Dino, ia sudah lebih dulu pulang beberapa menit yang lalu.
Di tengah kebisingan alat musik dan lampu studio yang agak redup, Bellona harus mengakui satu hal: Devan saat bersama gitarnya adalah sosok yang sangat berbeda. Pria itu kelihatan benar-benar hidup.
Saat jam menunjukkan pukul lima sore, latihan band akhirnya selesai.
Devan merapikan gitarnya ke dalam softcase, pamit pada anak-anak band, lalu mengajak Bellona keluar studio. Udara sore yang mulai dingin menyapa mereka saat melangkah ke parkiran.
"Nih, pakenya yang bener," ujar Devan sambil menyodorkan helm kusam ke tangan Bellona.
Bellona menerima helm itu, lalu menatap Devan yang sedang memakai jaket kulitnya. "Devan."
Devan menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Napa?"
"Si Teo... kok bisa kenal sama lo?" tanya Bellona pelan, menyuarakan rasa penasarannya yang dipendam sejak tadi.
Devan terdiam sejenak. Jemarinya yang sedang memasang ritsleting jaket mendadak melambat. Ekspresi wajahnya mengendur, menyisakan tatapan tenang yang jarang ia perlihatkan.
"Teo?" Devan menatap lurus ke arah gerbang gang. "Dia anak panti asuhan dulu. Ketemu sama gue pas dia umur lima belas tahun di pinggir jalan, lagi dikejar-kejar orang gara-gara nyuri roti."
Bellona tersentak kaget. Ia tidak menyangka cerita di balik cowok pendiam itu sekelam itu.
"Gue tarik dia, gue ajak makan di warung, terus gue kenalin sama Raka," lanjut Devan pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Dia punya bakat bernyanyi yang gila banget dari lahir. Gue cuma bantu dia punya wadah buat ngeluarin suaranya aja, biar kagak hancur di jalanan."
Devan melompat naik ke jok motor tuanya, lalu menoleh memandang Bellona sambil terkekeh kaku.
"Kenapa? Dia cerita apaan sama lo pas gue ditinggal beli rokok?"
Bellona merapatkan bibirnya. Ia teringat ucapan Teo soal 'sosok ayah yang diimpikan'. Bayangan bagaimana Devan merawat Teo dari anak jalanan hingga punya arah hidup perlahan mulai menyambungkan titik-titik puzzle di kepalanya. Pria ini memang serampangan, tetapi hatinya terbuat dari sesuatu yang tidak bisa dinilai dari luarnya saja.
"Kagak cerita apaan," bisik Bellona kaku, menyembunyikan rasa hangat di dadanya. Ia memakai helmnya lalu naik ke jok belakang. "Dia cuma bilang suara lo fals."
"ANJIR! SI TEO TEGA AMAT!" bentak Devan melotot tak terima, lalu menarik gas motornya nyaring-nyaring. "Awas aja tuh bocah pas latihan minggu depan, kagak gue kasih bagian solo vocal!"
Bellona tertawa pelan di balik kaca helmnya. Ia merapatkan pegangannya di pinggiran jaket kulit Devan saat motor tua itu melaju membelah senja kota, membawa mereka berdua pulang ke rumah.
***
Motor tua Devan akhirnya berhenti tepat di depan teras rumah mereka saat langit malam mulai gelap. Suara mesinnya yang meraung-raung mati seketika, meninggalkan keheningan gang yang dihiasi jangkrik.
Bellona melompat turun dari jok belakang, melepas helm kusamnya lalu meletakkannya di atas stang motor. "Gue mandi duluan," cetusnya kaku tanpa menatap Devan, langsung berjalan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
Devan terkekeh pelan memperhatikan gerak-gerik gadis itu. "Yee... yang bersih mandinya! Bau asap jalanan lo bertumpuk tuh!" serunya asal sambil menyusul masuk ke rumah dan melempar kunci motor ke atas meja.
Beberapa saat kemudian, setelah bergantian mandi dan membersihkan diri, suasana rumah tua itu kembali tenang. Bau harum minyak kayu putih dan sabun mandi memenuhi ruang tamu.
Bellona keluar dari kamar dengan pakaian santai—kaus longgar dan celana kain panjang. Ia melangkah ke dapur, berniat menghangatkan sisa sisa gulai tempe dan bening bayam buatan tadi siang untuk makan malam mereka.
Di ruang tamu, Devan sedang duduk bersila di atas karpet tipis di depan TV tua yang gambarnya kadang bersemut. Pria itu sibuk mengeringkan rambutnya yang basah memakai handuk kecil.
"Bocah," panggil Devan dari ruang tamu saat mendengar denting mangkuk dari dapur.
Bellona memiringkan kepalanya dari balik pintu dapur. "Apaan?"
"Ntar habis makan, buruan tidur. Jangan bergadang ngerjain tugas," kata Devan, nadanya kali ini datar dan lempeng tanpa cengiran tengil. "Besok lo ada ulangan kagak?"
"Kagak ada," sahut Bellona singkat. Ia membawa dua piring nasi hangat beserta mangkuk lauk ke meja kecil di ruang tamu, lalu duduk bersila di seberang Devan.
Devan menyambar sendoknya, mengambil kuah gulai tempe dengan santai. Namun, saat mata Devan tak sengaja bertabrakan dengan mata Bellona, pria itu menyadari gadis di hadapannya sedang menatapnya lekat-lekat—tatapan meneliti yang membuat Devan refleks meraba mukanya.
"Napa lo ngeliatin gue gitu?" Devan menaikkan sebelah alisnya curiga. "Muka ganteng gue ketempelan sisa cabe lagi?"
Bellona merapatkan bibirnya. Aksi panggung kerennya di studio bersama anak-anak band, hingga cerita singkat soal masa lalu Teo yang diselamatkan Devan... semuanya mendadak berputar kembali di benaknya.
"Devan," dipanggilnya nama pria itu pelan.
"Apaan?"
Bellona menunduk, menyendok nasinya sendiri berpura-pura sibuk. "Lo... kenapa mau nampung gue di sini?"
Gerakan sendok Devan seketika terhenti di udara. Pria itu memandang Bellona cukup lama. Suasana di antara mereka mendadak hening, hanya tersisa deru kipas angin tua di sudut ruangan.
Devan meletakkan sendoknya kembali ke piring, merapikan duduknya, lalu menghembuskan napas panjang lewat hidung.
"Kira-kira kenapa menurut lo?" tanya Devan balik, nadanya melunak tanpa kepura-puraan.
Bellona menggeleng tipis. "Gue nyusahin. Gue judes. Gue juga bukan anak lo, mungkin?"
Devan menyunggingkan senyum tipis.
"Dulu, pas nyokap gue meninggal dan gue terlunta-lunta di jalanan... kagak ada satu pun orang tua atau kerabat yang sudi bukain pintu buat gue," bisik Devan pelan, matanya menatap lurus ke arah Bellona. "Gue tahu rasanya ditinggalin. Gue tahu rasanya ngerasa kagak diinginin sama siapa pun di dunia ini."
Devan menjangkau gelas air putih di sampingnya, meneguknya sedikit.
"Pas hari itu Sarah tiba-tiba datang ke rumah gue... ngelempar lo gitu aja dan ngaku-ngaku kalau lo anak gue, gue beneran kaget," lanjut Devan pelan, menatap lurus ke arah Bellona. "Gue kagak pernah tahu lo ada, dan Sarah main pergi gitu aja tanpa mikirin perasaan lo. Gue emang kagak punya duit banyak, rumah gue kusam, cara ngomong gue juga konyol dan kasar. Tapi pas gue ngeliat lo berdiri di teras rumah gue hari itu... gue ngeliat diri gue sendiri waktu kecil. Sama-sama dibuang. Makanya selagi gue masih bernapas, gue kagak bakal membiarkan lo sendirian meratapi nasib."