Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Beruang Galak yang Salah Tingkah
"Waduh, Neng, si A-nya kelihatan banget salah tingkah! Wajahnya langsung merah!" celetuk ibu berkerudung hijau sambil menepuk paha temannya. Rombongan ibu-ibu pemetik teh itu kembali tertawa.
Keira cuma bisa nyengir sambil melambaikan tangan.
"Ah, Ibu mah bisa aja! Ini tuh bos saya, Bu. Bukan pacar. Kalau dia pacar saya, saya udah minta dibeliin kebun tehnya sekalian buat ditanemin singkong!"
"Yee, ngeles aja si Neng mah! Di wajahnya jelas-jelas udah nempel label 'calon suami idaman' di jidatnya!" timpal ibu lainnya sambil tertawa ngakak.
Di samping Keira, Ian berdiri kaku dengan gaya cool yang dipaksakan. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara kacamata hitamnya sengaja diturunkan sedikit agar terlihat lebih sangar.
Padahal, isi kepalanya sudah berisik luar biasa.
Gila, ibu-ibu ini mulutnya gak ada saringan! Masa gua dibilang cocok jadi bapaknya Mika dan Keira emaknya?! Gak mungkin! Ngaco! Masa iya seorang Ian Xavier Mahardika bisa kepincut sama cewek tukang protes yang suka ngatain muka gua kayak kanebo kering?!
Nggak mungkin! Sekali lagi, GAK MUNGKIN!
Meski pikirannya sibuk menyangkal, wajah Ian tetap dipertahankan datar.
"Udah ya, Ibu-ibu. Waktunya jalan lagi. Nanti keburu siang, udaranya makin terik," sela Ian dengan suara bariton yang dibuat sedatar mungkin.
"Tuh, denger! A-nya mulai jual mahal!" ledek ibu berkerudung hijau.
Tawa mereka kembali pecah.
Keira langsung menarik tangan Mika.
"Ya udah ya, Bu! Mari, hatur nuhun pisan! Sehat-sehat ya semuanya!" pamitnya ramah.
Mika ikut melambaikan tangan. "Dadah, Ibu-ibu!"
Ian segera menyusul dari belakang. Sebelum pergi, ia sempat menganggukkan kepala singkat kepada para ibu itu.
Begitu mereka agak jauh, Ian langsung mengomel.
"Makanya, kalau jalan tuh jangan suka sembarangan nimbrung orang ngobrol. Nanti dikirain kita ini keluarga."
Keira menoleh sambil menyipitkan mata.
"Yee... Mas Ian baperan amat! Ibu-ibu tadi kan cuma bercanda. Kali aja mereka terpesona sama ketampanan Anda yang kelihatan banget lagi nahan malu."
"Siapa yang malu?!" elak Ian cepat. "Gua gak malu! Muka gua emang gini dari lahir!"
"Iya deh, yang gini sejak lahir. Telinganya sampe merah."
Keira tertawa cekikikan sambil menggandeng Mika dan berjalan lebih cepat menuruni jalan setapak.
Ian mengatupkan rahang. Telinganya benar-benar selalu berkhianat setiap kali gadis itu berhasil membuatnya salah tingkah.
Perjalanan turun dari kebun teh menuju kompleks vila Mahardika memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Mika terlihat gembira karena dibolehkan memetik beberapa bunga liar bersama Keira. Sementara Ian berjalan di belakang mereka dengan gayanya. Sesekali, matanya memastikan Keira tidak terpeleset di jalan yang masih agak licin.
Begitu tiba di teras vila, matahari sudah cukup tinggi. Bik Ani rupanya sudah menunggu sambil membawa nampan berisi es kelapa muda.
"Wah, pas banget! Haus parah habis naik turun bukit!" seru Keira.
Ia langsung mengambil segelas es kelapa muda dan meneguknya hampir setengah gelas.
"Aduh, nikmat banget ini, Bik!"
"Pelan-pelan, Neng Keira. Nanti keselek," ujar Bik Ani sambil tersenyum.
Ian duduk di kursi rotan, melepas kacamata hitam, lalu mengusap pelipisnya yang sedikit berkeringat.
"Bik, nanti makan siang menunya apa?"
"Ini, Mas. Lagi disiapin ayam geprek sama lalapan segar di dapur. Oh iya, Pak Ujang tadi bilang sinyal internet di sini agak lemot semenjak badai semalam. Tapi kalau di sudut dekat pohon mangga samping vila lumayan bagus."
Mendengar kata sinyal, Keira langsung teringat sesuatu.
"Eh iya! HP saya!" serunya. "Saya mau telepon Ibu dulu."
Ia segera masuk ke kamar untuk mengambil ponsel, kemudian berjalan ke halaman samping vila menuju pohon mangga besar yang disebut Bik Ani tadi.
Dari teras, Ian sempat memperhatikan punggung Keira sebelum kembali pura-pura sibuk memainkan ponselnya sendiri.
Di bawah pohon mangga, Keira mulai mengotak-atik layar ponselnya yang retak.
Bzzzt!
Begitu muncul dua bar sinyal, ia langsung menekan nomor ibunya.
Sambil menunggu panggilan tersambung, Keira membuka aplikasi kamera. Ponselnya memang sudah agak rusak. Hasil fotonya tidak terlalu jernih, bahkan ada garis tipis di bagian pinggir layar.
Tanpa sengaja, kamera yang awalnya menghadap ke depan beralih ke kamera belakang.
Dan di layar, sosok Ian yang sedang duduk di kursi rotan terlihat jelas.
Keira terdiam.
Dari tempatnya berdiri, Ian terlihat duduk santai dengan tubuh sedikit bersandar. Kaus lengan panjang hitam yang dikenakannya mempertegas bahunya yang lebar.
Angin pegunungan sesekali menggerakkan rambut hitamnya. Ditambah rahang tegas dan sorot matanya saat menatap cangkir kopi di meja, pria itu terlihat seperti model majalah.
Duh, batin Keira. Ini cowok kenapa bisa fotogenik banget dari sudut mana aja? Padahal cuma duduk bengong, tapi auranya kayak model majalah.
Jemarinya mulai gatal.
Tanpa berpikir panjang, Keira menekan tombol kamera.
Cekrek!
Foto pertama berhasil diambil.
"Ah, kurang dekat."
Ia memperbesar tampilan layar, lalu mengambil foto kedua saat Ian sedang menoleh ke arah lain.
Cekrek!
Belum puas, ia mengambil foto ketiga ketika Ian sedang merapikan kerah kausnya sambil sedikit mengerucutkan bibir.
Cekrek!
"Asli, kalau foto ini gue jadiin wallpaper, bakal dihina sekampung gak, ya?"
Keira nyengir sendiri sambil membuka galeri ponselnya. Sekarang, ada beberapa foto Ian di sana.
"Heh! Ngapain senyam-senyum sendiri di bawah pohon mangga?!"
Suara bariton yang tiba-tiba muncul membuat Keira kaget setengah mati. Ponselnya hampir terlepas dari tangan.
Ia mendongak dan mendapati Ian sudah berdiri di tepi teras, menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Eh? Enggak! Ini... lagi nunggu sinyal, Mas!" elaknya gugup sambil buru-buru memasukkan ponsel ke saku jaket.
Ian menyipitkan mata.
"Nunggu sinyal kok mukanya kayak maling tertangkap basah?"
Pria itu melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Keira.
"Nih, dari tadi HP di tangan tapi gak nelpon-nelpon. Lagi nge-stalk siapa lu?"
"Mana ada nge-stalk!" protes Keira. "Orang saya lagi... lagi ngecek galeri. Lihat foto pemandangan kebun teh tadi!"
"Oh ya? Coba sini lihat."
Ian sengaja sedikit memajukan wajahnya dengan senyum jahil.
"Mana foto kebun tehnya? Jangan-jangan isinya foto muka gua, ya?"
JEDAG!
Tebakannya tepat sasaran.
Wajah Keira langsung merah padam.
"E-enggak! Ngaco banget!"
Ia refleks mundur selangkah, tetapi kakinya justru tersandung akar pohon mangga.
"Eh—!"
Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, tangan kanan Ian bergerak cepat.
Greb!
Pinggang Keira langsung ditarik ke depan hingga tubuhnya tertahan dalam dekapan Ian.
Dalam sekejap, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.
Keira terdiam. Napasnya tertahan saat merasakan detak jantung Ian di balik kaus hitam pria itu. Jantungnya sendiri juga berdebar tak karuan.
Ian pun ikut terpaku. Tatapannya bertemu dengan mata Keira yang masih membesar karena terkejut.
Aroma sabun dari tubuh gadis itu bercampur dengan udara segar Puncak. Untuk beberapa detik, Ian benar-benar kehilangan kata-kata.
"Makanya..." bisiknya pelan dengan suara serak. "Kalau jalan tuh pakai mata. Jangan suka ngeliatin orang sambil mikir yang aneh-aneh."
Keira menelan ludah. Kali ini, ia benar-benar kehabisan bahan untuk membalas ledekan Ian.
"I-iya... Makasih, Mas Ian. Bisa lepasin sekarang?"
Ian baru menyadari posisi mereka. Tangannya masih melingkar di pinggang Keira.
Dengan sedikit canggung, ia perlahan melepaskan gadis itu, lalu berdiri tegak sambil merapikan kausnya.
"Lain kali hati-hati," katanya ketus.
Namun, telinganya sudah kembali memerah.
Ian langsung berbalik dan berjalan cepat menuju teras tanpa menunggu jawaban Keira.
Gadis itu masih berdiri di bawah pohon mangga. Tangannya perlahan menyentuh dada sendiri yang berdebar kencang.
"Duh..." gumamnya sambil menggigit bibir. "Bisa jantungan beneran lama-lama dekat sama si Beruang Galak ini."
Ia kemudian melirik layar ponselnya.
"Mana Ibu gak angkat telepon lagi. Lagi sibuk apa, ya?"
Sementara itu, Ian sudah kembali duduk di kursi rotan. Napasnya masih belum teratur.
Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, antara menyesal dan senang karena tadi sempat memeluk pinggang Keira sedikit lebih lama.
semangat Kak 💪💪