NovelToon NovelToon
Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naysol C.

Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.

Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.

Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."

Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

— Daniel —

Aku tahu aku tak sepenuhnya berterus terang padanya, tapi aku tak mau ia meninggalkanku. Yang bisa kulakukan hanyalah bercumbu setiap ada kesempatan, berharap perasaanku sampai padanya. Aku ingin tahu apakah ia menyimpan sesuatu untukku, jadi aku mulai bicara seolah sudah ada wanita lain di pikiranku. Di sisi lain, aku tak menyangka ia menerimanya dengan setenang itu. Ia justru bersedia meninggalkanku begitu saja andai memang begitu keadaannya.

"Kamu pikir aku ini siapa?" Aku geram. "Kamu kira aku akan mempermainkan perasaan orang yang kucintai?"

"Kalau begitu..." Emira berpura-pura acuh. "Kenapa kamu melakukan hal-hal ini padaku, padahal kamu sudah punya wanita lain." Ia mengepalkan tangan. "Lebih baik kamu menikahinya saja dan sekalian mengakhiri hubungan tak berarti ini untuk selamanya."

"Hubungan tak berarti..." Kucengkeram bahunya, memutar tubuhnya kasar hingga berhadapan denganku. Dengan geram aku berkata, "Kamu pikir aku akan mempertahankanmu di sisiku dan menyentuhmu cuma demi kontrak itu?"

Emira mendorongku dengan marah. "Menjauh dariku, jangan sentuh aku." Ia berteriak murka. "Kalau kamu punya seseorang yang kamu sukai, seharusnya hal-hal begini kamu lakukan cuma pada dia..." Ia menangis sambil meremas kemejaku, pandangannya menunduk. "Aku bukan mainan pribadi yang bisa kamu pakai melampiaskan hasratmu."

Aku akui itu salahku. Aku tak seharusnya bicara seolah aku punya wanita lain. Tapi ia jadi makin tak masuk akal.

Aku begitu naik pitam, sebab kalau ini benar terjadi, ia akan melemparku ke pelukan wanita lain. Aku benar-benar putus asa. Ia mengira aku memanfaatkannya untuk melampiaskan hasratku, berarti selama ini ia menyangka begitulah cara aku memandangnya. Kalau hari ini aku tak mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan, ia bisa meninggalkanku, dan aku terpaksa menikahi wanita lain pilihan ibuku.

Istriku, wanitaku, dan ibu dari anak-anakku kelak hanya bisa dia seorang. Aku akan gila jika ia menolakku.

"Kamu bukan mainanku, dan tidak—" Aku memposisikan tubuh di atasnya.

Emira mencoba mendorongku, tapi aku menahan. Dengan marah, emosinya meledak. "PEMBOHONG, KAMU CUMA BILANG BEGITU SUPAYA AKU NGGAK SAKIT HATI..." Air matanya berlinang. "Setiap kamu menciumku dan menyentuhku, aku terbawa. Ini salahmu aku jadi terbiasa dengan kehadiranmu. Kalau kamu nggak ada di sisiku, aku nggak bisa tidur, dan rasanya aneh. Kamulah satu-satunya yang bersalah karena membuatku merasa segila ini."

"Kamu bukan satu-satunya. Kalau kamu pergi dari sisiku, hidupku tak akan sama tanpamu..." Aku mengusap air matanya. "Yang baru saja kamu ucapkan akan kuanggap sebagai pengakuan. Katamu hal ini seharusnya cuma dilakukan dengan orang yang kucintai... baik, dan aku sudah melakukannya. Sekarang, apa yang akan kulakukan hanya akan kulakukan dengan wanitaku dan calon istriku." Kulepas simpul tali jubahnya, tapi ia menahan dengan tangannya.

Emira tergagap terkejut. "T-Tunggu... kamu terlalu terburu-buru." Ia gugup. "Ini pertama kalinya buatku."

"Aku tahu... Tapi aku sudah cukup lama menunggu. Selama bertahun-tahun ini, satu-satunya wanita yang pernah kusentuh adalah kamu, Emira. Aku tak pernah bersama siapa pun..." Ia melepas kemeja piamanya. "Lagi pula ini mustahil, aku tak akan menunggu semenit pun lagi. Aku menginginkanmu, Emira."

.

Emira terpaku menatap tiap senti tubuh Daniel, wajahnya merona dan jantungnya berdegup seribu kali lebih cepat. Malu-malu ia mengalihkan pandangan, meski menggigit bibir bawahnya. Daniel tersenyum melihat reaksinya. Ia menumpukan satu tangan di kasur, sementara tangan lainnya meraih wajah Emira.

"Tadi kamu mengamati tubuhku lekat-lekat. Malam ini kamu boleh melihat dan menyentuh apa pun yang kamu mau."

Daniel memulai dengan sebuah ciuman penuh gairah, lalu mengecupi tiap sudut tubuh Emira. Perlahan keduanya saling menanggalkan pakaian sampai benar-benar tak berbalut apa pun. Tubuh mereka kian terasa membakar dalam setiap sentuhan dan belaian yang mereka berikan satu sama lain. Ia mempersiapkan Emira sebelum memasukinya, membuatnya mendesah dan bergidik oleh sentuhan jari-jarinya. Ketika ia menarik jarinya keluar, cairan Emira meluncur menuruni tangannya.

Ia menuntun miliknya ke antara paha Emira, mendorongnya masuk perlahan. Emira menggigil oleh rasa sakit dan mencengkeram lehernya, mengatupkan gigi kuat-kuat sementara air matanya mengalir tanpa henti. Ia mulai menggerakkan pinggulnya keluar-masuk, dan seiring Emira mulai merasakan nikmat, ia mempercepat gerakannya sedikit demi sedikit. Hentakannya kian menjadi seiring Emira mendesah dengan wajah yang benar-benar menggoda, memicu remasan di sekujur milik Daniel. Begitulah mereka terus berlanjut hingga fajar menyingsing.

— Emira —

Ketika terbangun, sudah pukul sembilan pagi. Aku masih sangat mengantuk, tapi seberkas sinar matahari pagi membangunkanku karena mengarah tepat ke mataku. Saat kubuka mata, hal pertama yang kulihat adalah dada telanjang Dani, sementara tanganku bertumpu di sana. Lalu ketika aku bangkit, nyeri yang menusuk membuatku mengaduh saat menyentuh dan memandangi tubuhku yang sepenuhnya telanjang. Aku teringat sekilas betapa intensnya semua yang terjadi di ranjang dini hari tadi. Dengan malu, kupunguti cepat-cepat pakaianku yang berserakan di sekeliling ranjang, lalu berjalan susah payah menuju kamar mandi.

Di tengah acara mandiku, saat aku menutup keran, pintu terbuka, memperlihatkan Daniel tanpa sehelai pakaian dan dengan tatapan geram sambil melangkah ke arahku. Emira terkejut dan mulai melempari Daniel dengan segala benda sambil menyuruhnya keluar dari kamar mandi, sekaligus menutupi tubuhnya dengan handuk yang tadi diraihnya. Melihat tak ada lagi yang bisa dilempar, ia mulai gugup dan mundur.

Daniel mengelak dari lemparan benda sambil terus maju. "Siapa yang mengizinkanmu turun dari ranjang?"

"J-Jangan mendekat, dasar tak tahu malu." Emira merona.

"Tak tahu malu?! Ha..." Ia menyentak handuk Emira ke samping. "Sekarang kita berdua sama-sama tak tahu malu. Mulai sekarang, kamu mandi bersamaku."

Ia membuka keran dan mendorong Emira ke bawah pancuran air, hingga keduanya nyaris selesai mandi bersama. Sambil menatap tubuh Emira, ia memeluknya dan berbisik di telinganya.

"Semalam kamu sungguh menggairahkan," bisiknya dengan suara menggoda. Ia menggigit telinga Emira. "Sampai-sampai aku ingin melakukannya lagi."

Wajah Emira sempat muram, lalu berganti menggoda. "Sayang—" Ia menangkup wajah Daniel seolah hendak menciumnya. Ketika sudah dekat dengan bibirnya, ia justru menjewer telinga Daniel. "Kamu harus menyelesaikannya sendiri. Gara-gara kamu, sekujur tubuhku sakit sekali."

Daniel mengaduh kesakitan. "Aduh, aduh... sakit, aku cuma bercanda." Ia mengeluh pelan. "Tapi tadi malam siapa ya yang menempel erat-erat?"

Emira merah padam mengingatnya dan menatapnya tajam dengan kesal. "Kamu."

"Baik, baik, itu salahku." Ia mengangkat Emira ke dalam pelukannya. "Ayo berpakaian, kita ke rumah orang tuaku."

1
Martin Yan
ceritanya bagus, bikin yg baca gsk bs nebak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!