Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Pertengkaran Lagi
"Dri, tenanglah dulu! Jangan emosi begitu," seru Galih setengah berbisik seraya merentangkan kedua tangannya, mencoba meredam amarah posesif yang baru saja meledak di dada istrinya. "Aku sendiri bahkan belum tahu siapa yang ngirim boneka dan surat itu. Jangan asal menuduh orang sembarangan."
Indri masih mendengus kesal. Napasnya memburu cepat, dan tatapannya yang tajam masih menyiratkan kecemburuan yang membakar. "Bagaimana aku bisa tenang, Galih?! Kamu ini suami siri aku sekarang. Kalau ada wanita lain di kosan ini yang berani tebar pesona atau mendekati kamu, itu sama saja melecehkan posisiku!"
"Iya, aku paham. Tapi fokus kita sekarang bukan cemburu atau marah-marah tidak jelas," sahut Galih dengan nada tegas namun tetap sabar, berusaha meluluhkan kekeraskepalaan Indri. "Menurutku, teror ini sudah keterlaluan dan berbahaya. Kalau dibiarkan, bisa jadi penguntit itu berbuat nekat. Aku rasa, jalan paling aman adalah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib... kita lapor polisi."
Mendengar kata "polisi" meluncur dari mulut Galih, reaksi Indri seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya yang semula memerah karena cemburu mendadak memucat pasi. Tanpa sadar, ia menyergap pergelangan tangan Galih dengan kuat-kuat, cengkeramannya begitu erat hingga meninggalkan jejak kuku.
"Jangan, Galih! Jangan pernah libatkan polisi!" cegah Indri dengan suara tertahan namun sarat akan kepanikan yang mendalam.
Galih mengernyit heran, menatap wanita di depannya dengan pandangan menyelidik. "Kenapa nggak boleh, Dri? Ini sudah bentuk teror dan ancaman. Polisi bisa bantu kita menyelidiki siapa penguntit itu."
Indri menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bulir air mata ketakutan mendadak menggenang di pelupuk matanya. "Kamu nggak tahu apa-apa, Galih... Aku punya pengalaman buruk sekali dengan polisi di masa lalu. Mereka itu tidak bisa dipercaya! Pokoknya jangan... aku mohon, jangan lapor polisi."
Melihat ketakutan yang begitu nyata dan trauma mendalam terpancar dari mata Indri, Galih akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu betul bagaimana rasanya hidup di bawah tekanan ketakutan dan ketidakpercayaan pada institusi penegak hukum, mengingat ia sendiri adalah seorang buronan dari rumah ayahnya yang keras.
"Baiklah, baiklah... kita nggak lapor polisi," ujar Galih mengalah, mengusap pelan punggung tangan Indri untuk menenangkannya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita selidiki sendiri? Kita cari tahu siapa pelakunya secara diam-diam."
Indri bernapas sedikit lega. Ia mengangguk cepat menyetujui usulan suaminya. "Selidiki sendiri? Caranya gimana, Galih?"
"Aku punya ide," bisik Galih, matanya berbinar penuh perhitungan. "Besok, aku akan sisihkan sebagian uang gajiku dari warung untuk membeli sebuah kamera pengintai mini, kamera tersembunyi (hidden camera). Kita pasang kamera itu di dekat pintu atau sudut kamar mandi luar, atau di tempat-tempat strategis lainnya. Jadi, siapa pun yang berani mengintipku atau meletakkan barang-barang teror lagi, wajahnya pasti bakal terekam jelas di kamera itu."
"Ide bagus!" puji Indri berbinar, setuju sepenuhnya dengan rencana cerdik Galih. "Dengan begitu, kita bisa punya bukti kuat tanpa harus melibatkan orang lain atau urusan kantor polisi yang bikin pusing."
Setelah ketegangan mereda dan kesepakatan investigasi mandiri itu tercapai, perut mereka berdua berbunyi secara bersamaan, mengingatkan pada makan malam yang sempat tertunda. Galih dan Indri akhirnya duduk bersama di lantai kecil kamar itu, menikmati hidangan sederhana yang disiapkan Indri sebelumnya dalam suasana yang berangsur-angsur tenang.
Namun, ketenangan malam itu tidak bertahan lama.
Di tengah suapan makan malam mereka, tiba-tiba terdengar suara gaduh yang memecah keheningan koridor kosan. Suara bentakan berat dan suara debuman keras terdengar dari kamar sebelah, kamar tempat Fika dan suaminya tinggal.
Brak! Prang!
"Kamu ini iseng banget jadi perempuan! Kerjanya cuma dandan dan bikin curiga!" geretak suara bariton seorang pria dengan nada penuh kemarahan yang meluap-luap. Suara itu disusul oleh isakan tangis tertahan seorang wanita yang sangat dikenali oleh Galih dan Indri sebagai suara Fika.
Suami Fika, pria bertubuh gempal yang dikenal kerap pulang malam dan memiliki perangai kasar serta pencemburu berat, tampak kembali melampiaskan amarahnya. Keributan rumah tangga itu kontan mencuatkan suasana panas di sepanjang lorong kosan. Beberapa penghuni lain memilih mengunci pintu rapat-rapat dan pura-pura tidak mendengar, enggan ikut campur urusan privat tetangga.
Pertengkaran hebat itu berlangsung selama beberapa menit, diwarnai suara pecahan barang dan makian kasar, hingga akhirnya suara sang suami membanting pintu kamar dengan keras.
Brak!
Setelah hantaman pintu itu, suasana mendadak kembali sunyi senyap. Tidak ada lagi suara tangisan Fika ataupun bentakan suaminya.
Indri mendesis pelan sambil menggelengkan kepalanya prihatin, menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Aneh... Biasanya kalau suami Fika lagi kambuh tempramennya, pertengkaran mereka bisa berlangsung berjam-jam sampai tengah malam. Kenapa malam ini cepat sekali redanya, ya?"
Galih menatap lurus ke arah dinding bilik kayu yang membatasi kamar mereka dengan kamar Fika. Ia meneguk air putih dari gelasnya, lalu menoleh menatap Indri. "Sudahlah, Dri. Nggak usah diurusin atau ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Yang penting masalah kita sendiri saja belum beres."
Indri mengangguk patuh, membenarkan ucapan suaminya. Mereka melanjutkan makan malam dalam keheningan malam yang kembali merayap.
Usai membereskan sisa piring dan mencucinya sekadarnya, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kelelahan fisik akibat bekerja seharian di dapur warung membuat kelopak mata Galih terasa amat berat. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat kecil di sudut lantai seperti malam sebelumnya.
Melihat Galih bersiap tidur terpisah di lantai, Indri beranjak dari ranjang utamanya. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri kasur Galih, lalu berlutut di samping pemuda tersebut dengan tatapan memohon yang dipenuhi kerentanan.
"Galih..." panggil Indri dengan suara lembut dan nyaris berbisik.
Galih membuka matanya, menoleh menatap Indri heran. "Ada apa lagi, Dri? Belum tidur?"
Indri menunduk sejenak, memainkan ujung jarinya di atas selimut. "Galih... malam ini, bolehkah kamu tidur di ranjang bersamaku? Di atas kasur utama... bukan di lantai dingin ini."
Galih mendadak menegang. Kejadian hampir berdarah-darah akibat gejolak birahi Indri semalam masih segar dalam ingatan otaknya. Ia langsung menggelengkan kepala tegas. "Nggak, Dri. Aku lebih baik tidur di sini saja. Lagian kita kan sudah sepakat—"
"Aku janji, Galih! Sumpah demi apa pun, aku tidak akan melakukan hal-hal aneh atau menggoda kamu lagi!" potong Indri cepat, memotong ucapan Galih dengan mata berkaca-kaca penuh kesungguhan. "Aku benar-benar jera dan malu sama kejadian semalam..."
Galih terdiam, mengamati wajah Indri yang tampak begitu tulus dan lelah. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini sedang hamil besar, tertekan secara psikologis, dan dihantui ketakutan pasca insiden hampir bunuh diri serta teror misterius di kosan ini. Sebagai suami siri sekaligus pria berhati nurani bersih, rasa iba perlahan-lahan meredam rasa khawatirnya.
Dengan helaan napas panjang yang pasrah, Galih akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah... Aku temani tidur di atas. Tapi ingat janjimu, jangan buat ulah macam-macam lagi."
Wajah Indri seketika berbinar cerah. Ia tersenyum lega, membantu Galih membereskan bantal di lantai untuk dipindahkan ke ranjang utama. Malam itu, keduanya berbaring di atas satu ranjang yang sama. Indri menepati janjinya, ia berbaring tenang menghadap sisi seberang tanpa menyentuh Galih sedikit pun, sementara Galih memejamkan mata lelap, membiarkan tubuhnya beristirahat menyongsong hari esok yang penuh dengan teka-teki dan bahaya baru.