Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Alina... aku memang menemui Amara, karena dia terjatuh di kamar mandi. Dia minta tolong padaku, dan aku bodoh karena langsung datang tanpa berpikir panjang. Aku tahu aku salah, aku seharusnya langsung pulang setelah membantunya agar tidak membiarkanmu menunggu sendirian di kafe semalam."
Ia melangkah maju sedikit, ingin menyentuh bahu Alina namun ragu, tangannya terhenti di udara.
"Tolong maafkan aku... Aku tidak bermaksud menyakitimu. Itu tidak akan terulang lagi, aku janji padamu."
Alina tidak langsung menjawab. Matanya menatap tangan Rafael yang menggantung ragu di udara, lewat pantulan cermin. Lalu perlahan, ia menatap wajahnya sendiri yang terlihat begitu rapuh dan lelah di sana.
"Janji," ucapnya pelan, namun getir di setiap suaranya terasa seperti luka yang baru saja dikeringkan lalu kembali dibuka. Bibirnya bergetar sedikit. "Berapa kali lagi aku harus belajar menelan janjimu, Rafael? Berapa kali lagi aku harus menunggu di tempat yang seharusnya kita bagi berdua, sendirian?"
Ia menghela napas panjang, napas yang terasa berat seolah sedang mengeluarkan sesuatu yang sudah lama sesak terperangkap di dadanya.
"Sejak awal... mungkin hanya aku sendirian yang benar-benar berusaha di pernikahan ini. Harusnya aku sadar lebih dulu. Hatimu tak pernah benar-benar ada di sini, untukku."
Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara AC yang berdengung pelan, seolah turut menahan napas.
Alina tidak mengalihkan pandangan dari pantulan Rafael di cermin. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini justru terlihat tenang. Terlalu tenang seperti seseorang yang akhirnya sudah kehabisan air mata untuk ditangisi.
"Rafael... ayo kita bercerai saja."
Rafael membeku di tempat. Tangannya yang tadi terulur pelan di udara perlahan jatuh ke sisi tubuh, mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
Ia menatap bayangan Alina di cermin itu lama sekali. Bukan dengan tatapan bersalah, bukan pula sedih. Tatapannya menilai, dingin, persis seperti saat ia menegur Alina yang menurutnya sedang merajuk berlebihan dulu.
"Karena ini saja, Alina?" suaranya rendah, datar, tanpa nada menyesal sedikit pun. "Karena satu jam tangan yang tertinggal? Kamu mau membuang dua tahun pernikahan kita hanya karena kamu sedang marah?"
Ia melangkah mundur selangkah, memberi jarak di antara mereka.
"Kamu pikir perceraian itu mainan? Cukup dengan bilang 'ayo bercerai' lalu semuanya selesai begitu saja? Kekanak-kanakan sekali."
Alina membalikkan badan perlahan, akhirnya menatapnya langsung, bukan lagi dari pantulan kaca. Matanya melebar, tak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut suaminya.
"Kekanak-kanakan?" suaranya bergetar, hampir pecah.
"Ya." Rafael menyapu pandangannya dari ujung kepala hingga kaki Alina, jubah mandi yang sederhana, rambut yang masih basah, mata yang mulai memerah. Di matanya, Alina bukan sedang terluka. Ia hanya sedang ngambek. "Amara terjatuh, aku membantunya. Selesai. Tidak ada yang terjadi di antara kami. Tapi kamu... kamu seharian di luar bersama Revan, tidak menjawab teleponku, baru pulang saat hari sudah gelap. Menurutmu mana yang lebih perlu dijelaskan?"
Ia berjalan ke arah ranjang, menyambar buket mawar yang tergeletak di sana, lalu meletakkannya di tepi meja rias dengan bunyi yang cukup keras.
"Kamu mau mengakhiri rumah tangga kita karena aku lupa satu malam? Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kalian lakukan seharian ini? Itu menurutmu tindakan yang dewasa?"
Alina terdiam. Lidahnya terasa kelu. Bagian yang paling menyakitkan bukanlah tuduhan itu sendiri, tapi karena Rafael berusaha menyamakan luka di hatinya dengan sekedar kecurigaan tanpa dasar.
"Aku tidak akan menceraikanmu, Alina." keputusannya jatuh begitu saja, tegas dan dingin. "Tenangkan dirimu dulu. Besok malam ada makan malam bersama orang tuaku. Jangan buat malu keluargaku hanya karena suasana hatimu sedang buruk."
Ia berbalik dengan cepat, meraih jasnya, dan melangkah menuju pintu. Tangannya sudah memegang gagang pintu saat ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Dan urusan dengan Revan... biar aku yang bicara dengannya sendiri."
Pintu tertutup pelan, tapi bunyi itu terasa begitu berat dan jauh.
Saat suara langkah kakinya menghilang di luar kamar, Alina mengambil buket bunga itu dari meja riasnya dan melemparkannya ke arah pintu. Bunga-bunga itu berceceran di lantai.
"Brengsek kamu, Rafael..." bisiknya pelan, suaranya pecah bersama air matanya yang akhirnya jatuh.
Dimarahi itu masih berarti ada yang diperhatikan. Tapi dianggap sekedar sedang merajuk, saat hatinya terasa sudah hancur berkeping-keping... itu berarti Rafael bahkan tidak pernah benar-benar mendengar apa yang ia rasakan. Baginya, rasa sakit Alina hanyalah lelucon yang akan hilang sendiri besok pagi.
-
-
-
Pukul tujuh pagi, Rafael sudah duduk tegak di balik meja kerjanya yang besar. Kemeja putihnya terpasang rapi, dasinya lurus sempurna, seolah hari ini adalah hari kerja yang biasa saja. Tapi matanya tidak bisa berbohong — merah, bengkak, dengan lingkar gelap yang samar di bawahnya. Semalaman ia nyaris tak memejamkan mata, terbaring di kamar tamu sambil terus memikirkan kata-kata Alina tentang perceraian.
Tok. Tok.
"Masuk," ucapnya singkat, suaranya berat dan serak.
Pintu terbuka perlahan. Revan melangkah masuk, tenang dan terukur seperti biasa. Kemeja biru mudanya rapi, map cokelat dan tablet kerja di tangannya. Wajahnya datar, tidak ada jejak kelelahan sedikit pun.
"Selamat pagi, Tuan Rafael." Revan meletakkan map itu di tepi meja. Presisi, tepat sepuluh sentimeter dari pinggiran. "Ini laporan rapat dengan tim dari Singapura yang Anda minta. Dan untuk jadwal makan malam di rumah orang tua Anda malam ini pukul tujuh, sopir sudah saya siapkan akan berangkat pukul enam sore."
Rafael tidak menyentuh map itu. Ia hanya menatap Revan, lama dan tajam.
"Revan."
"Ya, Tuan?"
"Kemarin... kalian berdua dari mana saja? Aku telepon sejak jam tiga sore, tidak ada yang mengangkat. Bi Hani bilang kalian baru pulang saat hari sudah gelap."
Revan tidak tampak gugup, ia justru menghela napas pelan.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya tadi saya bermaksud melapor, tapi Nyonya yang meminta saya untuk tidak menghubungi Anda dulu."
"Kenapa?" alis Rafael bertaut.
Revan menatap lurus ke arahnya, suaranya tetap tenang dan stabil.
"Saat di kafe kemarin, Nyonya Alina bertemu dengan Nona Amara, Tuan."
Rahang Rafael langsung mengeras. Matanya menyipit tajam.
"Amara?"
"Ya, Tuan. Nona Amara datang dan mengembalikan jam tangan Anda yang tertinggal di apartemennya." Revan mengatakannya begitu saja, datar. "Setelah itu suasana hati Nyonya sangat buruk. Ia langsung keluar dari kafe dan pergi dengan mobilnya, menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi. Saya khawatir terjadi sesuatu, jadi saya menyusulnya."
Tangan Rafael mengepal di atas meja.
"Lalu kenapa tidak angkat telepon?"
"Saat itu saya sedang di jalan, Tuan. Saya sempat meminjam motor pengunjung kafe untuk mengejar Nyonya, karena mobil Nyonya sudah terlanjur pergi jauh. Ponsel saya tertinggal di dalam mobil Nyonya, baru bisa saya ambil lagi setelah Nyonya merasa lebih tenang."
Alasan itu terdengar masuk akal, rapi, tanpa celah. Ponselnya memang tertinggal di kendaraan Alina saat di kafe, namun Rafael tidak akan memeriksa sampai ke sana. Pria itu terlalu lelah dan marah untuk mempertanyakannya lebih jauh.
"Setelah itu saya hanya menemani Nyonya berkeliling kota, Tuan. Supaya ia bisa menenangkan pikirannya. Tidak ke mana-mana. Makanya Nyonya meminta saya untuk tidak menelepon Anda, katanya ia butuh waktu sendiri dulu." Revan menunduk sedikit, seolah merasa bersalah berada di antara dua keinginan yang bertentangan.
Rafael menatapnya dalam waktu yang lama. Dadanya naik turun menahan emosi. Perlahan amarah yang tadinya tertuju pada Revan beralih sepenuhnya ke sosok yang baru saja disebutkan. Ia menghela napas panjang, terdengar berat dan lelah.
"Baiklah. Kamu boleh pergi."
Hening sejenak di ruangan itu. Rafael menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu kembali menatap Revan.
"Apakah Amara sudah datang?"
Revan melirik layar tablet sejenak.
"Sudah, Tuan. Nona Amara sudah berada di studio lantai bawah. Tim penata rias sudah menyiapkan perlengkapannya sejak pukul tujuh pagi."
Rafael mengangguk pelan, tatapannya kini dingin dan tegas.
"Suruh dia naik ke ruanganku. Sekarang juga. Aku ingin bicara berdua dengannya."
Revan terdiam sepersekian detik. Ada keraguan yang samar terlihat di matanya, namun ia segera menutupinya dengan sikap profesionalnya kembali.
"Baik, Tuan. Segera saya panggilkan Nona Amara ke sini."
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰