NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Super Tajir

Sistem Ayah Super Tajir

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.

Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.

Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suasana yang tadinya dipenuhi oleh tawa arogan, kini telah berganti wujud menjadi paduan suara jeritan kesakitan massal. Darah segar menodai aspal jalanan tebing. Pipa-pipa besi bengkok dan bilah parang patah berserakan tak beraturan. Tubuh-tubuh kekar berpakaian hitam bergelimpangan di tanah, mengerang pilu sambil memegangi lengan dan tungkai kaki mereka yang bengkok dengan sudut anatomis yang tidak wajar.

Macan Hitam, sang bos dunia bawah yang semenit lalu masih berdiri mengisap cerutu, kini mematung kaku layaknya patung lilin. Rahangnya jatuh terbuka. Matanya membelalak lebar, memancarkan kengerian absolut.

Ia tidak bisa, dan akal sehatnya menolak keras untuk mempercayai apa yang baru saja disaksikannya. Tiga puluh algojo elitnya pasukan pembunuh yang telah memenangkan puluhan perang antar-geng paling brutal di Jiangcheng kini dibantai habis-habisan dalam waktu kurang dari sepuluh detik oleh satu orang.

Pria berpakaian putih bersih itu bergerak melampaui nalar, berkelebat begitu cepat hingga meninggalkan bayangan semu di setiap hantamannya.

Brak!

Krek!

Dua preman terakhir yang nyalinya sudah hancur mencoba merangkak kabur. Namun, belum sempat mereka berdiri, lutut mereka disapu telak dari belakang oleh tendangan presisi Muchen. Keduanya jatuh tersungkur dengan tulang kering retak, menjerit histeris memanggil ibu mereka di tengah jalan sunyi tersebut.

'Sepuluh detik.'

Keheningan yang amat mencekam akhirnya turun menyelimuti ruas jalan itu. Hanya suara rintihan, isak tangis, dan erangan napas tersengal yang memecah kesunyian lereng bukit.

Muchen berdiri tegak persis di titik tengah medan pembantaian kecil tersebut. Dadanya naik turun dengan ritme yang sangat lambat dan teratur, tidak terengah-engah sedikit pun. Ajaibnya, kemeja putih mahalnya tetap bersih cemerlang; tak ada setetes pun darah atau keringat kotor yang menodai pakaiannya. Pria ini terlihat seolah baru saja selesai berjalan-jalan santai di taman bunga, alih-alih meratakan tiga puluh pembunuh bayaran.

Muchen menoleh perlahan. Sepasang matanya mengunci tepat ke arah Macan Hitam yang kini berdiri gemetar sendirian di dekat hidung van.

Tatapan itu sama sekali tidak memancarkan kobaran amarah, melainkan kekosongan abadi yang luar biasa dingin. Namun, bagi Macan Hitam, kekosongan itu jauh lebih mengerikan dari amarah apa pun. Itu adalah tatapan dewa kematian yang sedang menimbang-nimbang metode paling pas untuk mencabut nyawanya.

"J-jangan... jangan berani-berani mendekat!"

Macan Hitam tergagap mundur. Punggungnya menghantam bodi mobil van yang sudah penyok. Didorong oleh insting hewani yang putus asa, ia mencabut sebilah belati militer dari balik pinggangnya, lalu mengarahkannya ke depan dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "K-kau bukan manusia... kau monster dari neraka!"

Muchen tidak menjawab. Pria itu melangkah maju dengan ritme konstan, mengikis jarak di antara mereka.

Merasa terdesak, Macan Hitam menjerit histeris. Ia menerjang maju secara membabi buta, menancapkan ujung belati tajam itu lurus ke arah jantung Muchen.

Trak!

Suara logam beradu dengan sesuatu yang solid terdengar.

Muchen bahkan tidak menggeser kakinya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya ke depan dada. Hanya dengan menggunakan dua jari telunjuk dan ibu jari Muchen menjepit sisi bilah belati mematikan itu dengan sangat presisi!

Macan Hitam membelalak tak percaya. Urat-urat di lehernya bermunculan saat ia mencoba menarik belati itu kembali, lalu mendorongnya maju sekuat tenaga. Namun, belati itu bergeming seinci pun. Baja mematikan itu seolah baru saja terjepit mati di antara dua lempeng gunung baja tak kasat mata.

Tring.

Dengan ekspresi bosan, Muchen memutar pergelangan tangannya sedikit. Hanya berbekal jepitan dua jari, bilah belati baja karbon tinggi itu langsung patah menjadi dua bagian, patahannya jatuh bergemerincing ke aspal.

Sebelum otak Macan Hitam sempat memproses horor bahwa senjata andalannya baru saja dipatahkan dengan dua jari manusia... tangan kanan Muchen sudah melesat maju bagaikan pelatuk pistol.

Grep!

Muchen mencengkeram erat leher tebal bos preman itu, lalu mengangkat tubuh seratus kilogram tersebut dari atas tanah hanya menggunakan satu lengan!

"Ugh... khh! A-ampun... Tuan Jiang... l-lepaskan..." Macan Hitam meronta hebat. Kedua kakinya menendang-nendang udara dengan putus asa. Wajah garangnya mulai membiru karena suplai oksigen ke otaknya dihentikan paksa.

"Kau bilang tadi... kau ditugaskan untuk mematahkan kedua kakiku?" bisik Muchen sangat pelan.

Bruk!

Muchen menghempaskan tubuh besar itu ke aspal dengan tenaga brutal. Macan Hitam terbatuk-batuk hebat memuntahkan empedu, merangkak mundur ketakutan.

Namun, sebelum pria plontos itu sempat menarik kakinya... Muchen mengangkat pantofel kanannya tinggi-tinggi, lalu menginjak tempurung lutut kanan Macan Hitam tanpa ragu sedikit pun.

KRAAAK!

"AAARRRGGGHHH!!"

Jeritan melengking Macan Hitam merobek keheningan jalan raya. Tulang tempurung lutut kanannya hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu di bawah sol sepatu Muchen.

Siksaan itu belum usai. Muchen menggeser langkahnya santai, dan menjatuhkan injakan kedua tepat di atas lutut kiri sang preman.

KRAAAK!

"TIDAAAK!! AMPUN!! TOLONG AMPUNI NYAWAKU!!" Macan Hitam menangis meraung-raung. Ingus, air mata, dan darah bercampur aduk di wajahnya yang sangar. Kedua kakinya kini remuk total, memastikan bahwa raja dunia bawah distrik barat ini akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai cacat permanen di atas kursi roda. "AKU HANYA ANJING SURUHAN! AKU HANYA MENJALANKAN PERINTAH ZHAO QIMING!!"

Muchen menunduk, menatap makhluk menjijikkan yang merayap di bawah sepatunya.

"Dengarkan baik-baik, Sampah." Muchen berbisik tajam, matanya mengunci pupil Macan Hitam yang bergetar ngeri. "Kau, dan beberapa anak buahmu yang lengannya masih bisa dipakai untuk memegang setir... pergilah ke kediaman Keluarga Zhao sekarang juga. Temui anjing majikanmu itu."

Muchen menyunggingkan senyum iblis yang amat kejam.

"Sampaikan pesanku ini tepat ke wajahnya: Katakan padanya, lehernya adalah milikku. Dan aku akan datang mencabutnya saat dia sedang berada di puncak kesombongannya."

Muchen menarik kakinya, membiarkan tubuh Macan Hitam jatuh terkulai lumpuh di aspal. Ia memutar tubuhnya yang tegap, melangkah kembali menuju kabin Dartz Prombron kesayangannya, sama sekali tak menghiraukan rintihan puluhan preman yang masih berserakan merayap di jalan raya.

Ding!

Suara mekanis Sistem bergema mantap di dalam ruang pikiran Muchen, tepat saat ia menutup pintu mobil.

[Misi Sampingan Bertahan berhasil diselesaikan dengan tingkat kesempurnaan 100%.]

[Martabat Ayah Super Tajir adalah absolut dan tidak dapat disentuh oleh hama rendahan dari selokan.]

[Mengirimkan Hadiah 1: Penguasaan Bela Diri Master.] (Host kini menyerap pengetahuan anatomis dan memori otot dari seluruh aliran bela diri maut yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.)

[Mengirimkan Hadiah 2: Sepuluh Pengawal Bayangan Tingkat Dewa.] (Entitas bayangan ini memegang loyalitas mutlak hanya pada Host. Mereka tidak terlihat, tidak bersuara, dan bergerak dalam kegelapan. Kesepuluh entitas ini telah menyebar dan mengambil posisi pengamanan radius penuh di sekitar area Dragon Bay dan Sekolah Royal.)

Muchen memejamkan mata, membiarkan arus memori baru menyatu dengan saraf motoriknya.

Gaya bertarungnya yang tadinya murni mengandalkan kecepatan insting dan tenaga mentah fisik super, kini telah disempurnakan dengan presisi teknik membunuh tingkat tertinggi. Selain itu, panca inderanya kini bisa mendeteksi keberadaan samar dari sepuluh titik aura mematikan yang menyebar menyelimuti wilayah kekuasaannya. Istananya dan anak-anaknya kini memiliki lapisan perisai gaib yang mustahil ditembus oleh senjata konvensional manusia mana pun.

Wrrrrmmm!

Muchen memutar kemudi. Monster baja itu melaju santai, melindas sisa-sisa bemper van hitam, dan melanjutkan perjalanannya menuju Vila Raja di perbukitan Dragon Bay seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Sementara itu, di seberang kota yang lain.

Di dalam kediaman utama Keluarga Zhao yang luar biasa megah.

Zhao Qiming sedang bersantai di tepi kolam renang outdoor mewahnya. Ia mengenakan kemeja sutra terbuka yang memamerkan perut buncitnya, tangannya menggoyang-goyangkan gelas berisi anggur merah mahalan sambil menikmati irama musik jazz dari speaker. Di kursi berjemur di sebelahnya, Lin Yueran sedang merebahkan diri dalam balutan bikini desainer terbaru yang baru saja ia gesek dengan kartu Qiming.

Meskipun siang tadi mereka sempat dibuat jantungan saat mengetahui Muchen mendadak menjadi pengendali baru Grup Naga Hitam, Qiming perlahan telah menenangkan dirinya. Ia sangat percaya diri pada reputasi brutal Geng Macan Hitam. Di dunia bawah Jiangcheng, Macan Hitam tidak pernah sekali pun gagal membereskan targetnya tanpa sisa.

"Qiming..." Yueran membuka kacamata hitamnya, suaranya masih menyiratkan sedikit keraguan. "Apa kau benar-benar yakin gerombolan preman jalanan itu bisa menangani Jiang Muchen? B-bagaimana kalau dia ternyata dikawal oleh pasukan keamanan elit dari Grup Naga Hitam?"

"Hahaha, tenang saja, Sayang," kekeh Qiming santai, menatap Yueran dengan senyum meremehkan. "Macan Hitam memobilisasi tiga puluh orang bersenjata tajam. Jiang Muchen itu cuma mantan suamimu yang kebetulan dapat lotre durian runtuh. Dia itu pembisnis karbitan, bukan petarung bela diri."

Qiming menyesap anggurnya. "Saat ini juga, aku yakin seratus persen gembel sombong itu sedang berlutut menangis tersedu-sedu sambil menjilat sepatu Macan Hitam. Sebentar lagi, setengah nyawanya akan dipaketkan ke sini."

Tiba-tiba...

CKIIITTT!!

BRAKKK!!

Suara derit ban mobil yang mengerem paksa secara brutal terdengar nyaring dari arah gerbang depan kediaman, langsung disusul oleh suara tabrakan benda berat yang menghantam pilar besi gerbang.

Qiming mengerutkan kening kesal. Ia meletakkan gelas anggurnya di atas meja marmer.

"Keributan apa yang terjadi di luar?! Pelayan! Cepat periksa ada anjing gila mana yang berani menabrak gerbang rumahku!" teriak Qiming.

Namun, sebelum pelayan itu sempat berlari memeriksa, dua orang preman berwajah hancur babak belur, pakaian terkoyak, dan lengan yang terlipat patah, sudah berjalan tertatih-tatih menyeret kaki mereka memasuki pelataran area kolam renang.

Kedua preman itu menggotong sebuah tubuh gemuk yang bersimbah darah segar. Tepat saat mereka tiba beberapa meter dari Qiming, mereka langsung melemparkan tubuh itu begitu saja ke atas lantai marmer kolam renang.

Bruk.

Tubuh sekarat itu adalah Macan Hitam.

Prang!!

Gelas anggur yang baru saja diangkat kembali oleh Qiming terlepas dari tangannya, jatuh pecah berkeping-keping.

"A-AKKK! KYA!! DARAH!" Yueran menjerit histeris, merapatkan tubuhnya ke belakang kursi berjemur sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri.

"M-Macan Hitam?!" Qiming berteriak panik, melompat mundur dari kursinya hingga nyaris terjerembap ke dalam kolam renang. "A-apa yang terjadi padamu?! Siapa bajingan yang melakukan semua ini?!"

Macan Hitam mendongak dengan susah payah. Wajahnya bengkak parah hingga bentuk aslinya hilang. Sebelah matanya tertutup oleh kerak darah kental, dan kedua kakinya... tertekuk hancur ke arah yang sama sekali tidak sesuai dengan anatomi manusia.

"T-Tuan Muda Zhao... hancur... g-gengku... kami semua hancur lebur..." Macan Hitam mengerang serak. Air mata penyesalan dan keputusasaan mengalir deras dari mata preman yang tadinya garang itu. "D-dia... dia sama sekali bukan manusia... J-Jiang Muchen... adalah monster! Iblis!"

Macan Hitam terbatuk memuntahkan empedu. "T-tiga puluh elitku... dia meratakan kami semua hanya dalam sepuluh detik! T-tanpa senjata... dan tanpa mengeluarkan setetes keringat pun!"

"A-APA KAU GILA?!" Qiming menjambak rambutnya sendiri, wajahnya sepucat kertas putih menolak mempercayai realita ini. "Bagaimana mungkin satu orang gembel pengangguran memban tai tiga puluh preman berparang?!"

"D-dia menyuruhku... menyampaikan pesan langsung padamu..." Macan Hitam memaksakan diri berbicara agar beban terornya tuntas sebelum ia pingsan. "D-dia bilang... lehermu... adalah miliknya. Dia sendiri yang akan datang untuk mencabutnya... saat kau sedang berada di puncak kesombonganmu..."

Udara musim panas di area kolam renang itu seketika merosot turun hingga ke titik beku.

Lutut Qiming kehilangan tulang. Pria pewaris tahta Keluarga Zhao itu jatuh berdebum duduk kembali di atas kursinya, sekujur tubuhnya mulai menggigil hebat. Kesombongan rapuh yang selama ini ia gunakan untuk memandang rendah dunia mendadak hancur berkeping-keping.

Qiming baru saja ditampar oleh fakta mengerikan: Musuh yang ia pancing amarahnya barusan bukanlah seorang pengusaha pendatang baru, melainkan entitas iblis yang baru saja memanjat keluar dari neraka tanpa dasar.

Di sebelahnya, wajah Lin Yueran sama pucatnya dengan mayat di kamar mayat.

Wanita itu menatap genangan darah kental yang mengotori lantai marmer putih kolam renang, lalu membayangkan wajah Jiang Muchen. Pria yang selama lima tahun pernikahannya hanya ia anggap sebagai pengemis lemah dan menyedihkan itu... hari ini dengan sangat santai mengirimkan paket teror berdarah langsung ke depan pintu sangkarnya!

Rasa penyesalan yang sangat amat dingin... untuk pertama kalinya sejak ia meneken surat cerai di malam badai itu... mulai merayap naik dan mencekik dasar hati Lin Yueran.

1
Luna
nikah dulu woy ,,,,
Seung
kok ngga nyambung? 😂
Luna
1 miliar Dollar jadi berapa triliun itu 😱😱😱😱😱😱
Mu Lin@42443
chp 15 dan 16 sama, lalu chp 14 ke 15 kayak di lewatin, dari gudang, tiba tiba udh berantem di kaki villa
Luna
calon ibu sikembar cie cie
Was pray
kok diekspor? berarti tenaga pengajarnya dibuang ke eropa dong .... 🤭🤭🤣
RaMna Hanyonggun Isj
Ceritanya sama persis dgn cerita sebelah dgn titik komanya hanya beda di disni yg di Usir Cowok di sebelah Cewek yg di Usir
💫Penjelajah Novel💫
saran jangan terlalu banyak membuat cerita. fokus ke 1 - 2 aja dulu. setelah tamat baru buat lagi. nanti banyak yg gak ke urus kek yg sudah2🙏
Luna
👏👏👏👏pak dudaku keren👍
Fajar Fathur rizky
cepat bantai bayangan abu
Luna
semoga lolos Thor,,, beberapa akhir ini banyak novel favorit ku yg gagal kontrak 💪
Yui: makasih kak dukungannya😊, iyah ntah apa yang merasuki Aplikasi ini
total 1 replies
💫Penjelajah Novel💫
tolong up 10 bab/hari thor. jangan nanggung gini 🤣
Yuliana Tunru
linna kau terlalu pede ya jgn kau kita jiang vm.orang biasa ditunghu kejutan krn niat jahatmu
Yuliana Tunru
👍👍👍 jiang munchen kau bagai eewa kematian bagi orang2 jqhat
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dewiendahsetiowati
cerita dicerai di hari tua aku kembali menjadi nona muda kok dihapus ya thor
Yui: mau direvisii kak😊
total 1 replies
Yuliana Tunru
benar2 pembalasan yg mutlak 👍👍
Luna
lah ngapain kamu nyalahin tuan muda Zhao kan elu yg gatal dulu Lin🤣🤣🤣🤣
Luna
request kalo bisa si mantan istri diteror sampai gila yh Thor🤣🤣🤣
Luna: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
total 2 replies
Yuliana Tunru
gmn lin msh bangga dan sombong sdh meninggalkan ank2 dan mantan suami miskin mu siap2 jd gbel dan sasaran amukan pacarmu 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!