NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Adrian yang Menghilang

Dante menatap foto di layar ponsel Bianca tanpa berkedip.

Foto itu memperlihatkan Elena Laurent berdiri di samping Alessandro Vieri. Keduanya berada di depan sebuah makam tua. Wajah Elena tampak pucat, sementara Alessandro menggenggam tangannya seolah sedang berusaha menenangkannya.

Namun, yang paling mengganggu Dante bukanlah foto itu.

Melainkan tulisan kecil di bagian belakangnya.

Untuk anak yang tidak pernah sempat kami besarkan.

“Dari mana kau mendapatkan foto ini?” tanya Dante.

Bianca menggeleng. “Aku juga tidak tahu. Pesan itu masuk beberapa detik yang lalu.”

Dante mengambil ponselnya dan segera menghubungi Marco.

“Lacak nomor pengirimnya. Aku ingin tahu siapa yang mengirim foto itu dan dari mana asalnya.”

“Baik, Don.”

Dante memutus panggilan.

Bianca berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh pertanyaan.

“Kau mengenali foto itu, bukan?”

Dante mengangguk pelan.

“Aku pernah melihat tempat itu.”

“Di mana?”

“Pemakaman keluarga Vieri. Makam yang ada di belakang mereka adalah makam seorang bayi yang meninggal puluhan tahun lalu.”

Bianca terdiam.

“Bayi siapa?”

Dante menatapnya.

“Itulah yang harus kita cari tahu.”

“Dan mengapa ada tulisan tentang anak yang tidak sempat mereka besarkan?”

Dante mengusap wajahnya. Ada sesuatu yang sedang ia tahan, sesuatu yang bahkan belum berani ia ucapkan.

“Aku tidak ingin memberikan jawaban sebelum memiliki bukti.”

Bianca tersenyum getir.

“Kau selalu mengatakan hal yang sama.”

“Karena aku tidak ingin berbohong kepadamu.”

“Kalau begitu, jangan sembunyikan apa pun lagi.”

Dante menggenggam tangannya.

“Aku akan berusaha.”

Namun, sebelum Bianca sempat menjawab, ponsel Dante berdering kembali.

Kali ini Marco.

“Don, kami kehilangan kontak dengan Adrian.”

Dante langsung meninggalkan kamar bersama Bianca.

Di ruang pengawasan, Marco berdiri di depan beberapa monitor. Salah satunya menampilkan rekaman kamera keamanan dari sebuah rumah persembunyian di pinggiran Roma.

“Dua penjaga yang ditempatkan di sana ditemukan tidak sadarkan diri,” jelas Marco. “Pintu belakang terbuka, dan tidak ada tanda-tanda perlawanan dari Adrian.”

“Bagaimana bisa dua penjaga tumbang tanpa suara?” Dante bertanya dingin.

“Kami menemukan obat penenang di gelas kopi mereka.”

Bianca mendekati monitor.

“Adrian tidak akan pergi begitu saja.”

Marco mengangguk. “Kami juga berpikir begitu, Nyonya.”

Dante memperhatikan rekaman terakhir. Adrian terlihat berjalan melewati lorong pada pukul sebelas malam. Beberapa menit kemudian, lampu kamera berkedip dan layar menjadi gelap.

“Perbesar bagian pintu,” perintah Dante.

Marco menjalankan rekaman sebelumnya.

Seseorang muncul di balik jendela. Wajahnya tidak terlihat, tetapi tangannya tampak jelas.

Ia mengenakan cincin dengan lambang delapan kelopak.

Bianca menahan napas.

“Lambang itu lagi.”

Dante mengepalkan rahang.

“Vittorio.”

“Apakah Pamanmu yang menculik Adrian?” tanya Bianca.

“Dia salah satu orang yang paling mungkin melakukannya.”

Marco tiba-tiba menerima pesan masuk. Ia membacanya, lalu menoleh kepada Dante.

“Don, kami menemukan mobil yang diduga digunakan untuk membawa Adrian.”

“Di mana?”

“Dekat jalan menuju pelabuhan tua.”

Dante mengambil pistol dari laci.

“Kita berangkat sekarang.”

Bianca segera menyusul.

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Dante!”

“Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatanmu.”

Bianca menatapnya tajam.

“Adrian adalah kakakku. Aku tidak akan duduk diam sementara kalian mencarinya.”

Dante menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada gunanya melarang perempuan itu.

“Baik. Tapi kau tetap di belakangku dan mengikuti instruksiku.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Aku tahu.” Dante menatapnya serius. “Justru itu yang membuatku takut kehilanganmu.”

Bianca terdiam.

Akhirnya, ia mengangguk.

Pelabuhan tua itu dipenuhi kabut dan bau air laut yang menyengat.

Beberapa kontainer berkarat berdiri berjajar. Lampu jalan yang redup hanya menerangi sebagian area.

Mobil yang mereka cari ditemukan dalam keadaan pintunya terbuka. Kaca belakangnya pecah, sementara terdapat bercak darah di kursi penumpang.

Bianca mendekat, tetapi Dante segera menahan lengannya.

“Jangan menyentuh apa pun.”

“Apa itu darah Adrian?”

Marco mengambil sampel menggunakan sarung tangan.

“Kami belum bisa memastikan.”

Bianca menatap kursi belakang. Di sana terdapat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Sebuah gelang kulit hitam.

Gelang milik Adrian.

Ia mengambilnya dengan tangan gemetar setelah Marco memasukkannya ke kantong bukti.

“Ini benar-benar miliknya,” bisiknya.

Dante berdiri di sampingnya.

“Kita akan menemukannya.”

Tiba-tiba terdengar suara dari pengeras suara tua di atas kontainer.

“Betapa menyentuhnya melihat sepasang suami istri datang bersama.”

Semua orang mengangkat senjata.

Suara itu terdengar lagi.

“Dante Vieri. Kau selalu datang terlambat.”

Dante mengarahkan pistol ke arah kontainer.

“Keluar dan hadapi aku!”

Tawa rendah terdengar dari pengeras suara.

“Tidak semudah itu, Don.”

Sebuah layar kecil menyala di sisi kontainer.

Wajah Adrian muncul.

Bianca langsung mendekati layar.

“Adrian!”

Kakaknya tampak duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan terikat. Ada luka di pelipisnya, tetapi ia masih sadar.

“Bianca, jangan datang ke sini!” teriak Adrian.

Seseorang menarik rambut Adrian dari belakang.

“Diam!”

Wajah Adrian meringis.

Bianca hampir berlari ke arah layar, tetapi Dante menahannya.

“Jangan!”

Kemudian muncul sosok pria lain. Wajahnya tertutup bayangan, tetapi cincin berlambang delapan kelopak terlihat jelas di jarinya.

“Dante, aku punya sesuatu yang kau inginkan.”

“Apa maumu?”

“Bukan uang. Bukan kekuasaan. Aku ingin Bianca.”

Dante mengangkat pistolnya.

“Kau tidak akan menyentuh istriku.”

Pria itu tertawa.

“Masih saja berpura-pura menjadi suami yang baik. Padahal kau tahu lebih banyak daripada yang kau akui.”

Bianca menatap Dante.

“Apa maksudnya?”

Namun, Dante tidak menjawab.

Pria di layar melanjutkan, “Bawalah dokumen kelahiran Elena ke gereja tua di luar kota. Datanglah sebelum tengah malam besok. Jika kau gagal, Adrian akan menerima akibatnya.”

Layar mendadak mati.

Dalam perjalanan pulang, Bianca duduk diam di samping Dante.

Ia berusaha memahami semua yang terjadi. Adrian diculik, seseorang menginginkan dokumen kelahiran Elena, dan pria misterius itu mengetahui rahasia yang bahkan Dante belum mau ceritakan.

“Dante,” panggilnya pelan.

“Ya?”

“Apakah kau tahu sesuatu tentang Adrian yang tidak kuketahui?”

Dante menoleh sebentar.

“Apa maksudmu?”

“Orang itu mengatakan kau tahu lebih banyak daripada yang kau akui.”

Dante kembali menatap jalan.

“Aku sedang mencari tahu siapa yang mengendalikan semua ini.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu.”

Bianca menarik napas.

“Jangan membuatku menyesal sudah mempercayaimu.”

Dante mengulurkan tangan dan menggenggam jemarinya.

“Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu dariku.”

Bianca tidak menarik tangannya, tetapi ia juga tidak membalas genggaman itu.

Sesampainya di Villa Vieri, Dante langsung memanggil Marco dan beberapa orang kepercayaannya.

Ia memerintahkan pemeriksaan terhadap seluruh rekaman kamera, jalur komunikasi, serta transaksi yang berkaitan dengan Vittorio.

Sementara itu, Bianca pergi ke kamar untuk mengambil air minum.

Saat melewati lorong menuju ruang keluarga, ia melihat sebuah pintu kecil yang sedikit terbuka.

Pintu menuju ruang penyimpanan lama milik keluarga Vieri.

Bianca berhenti.

Ia ingat pernah melihat ruangan itu dalam foto-foto lama Alessandro.

Rasa ingin tahunya mengalahkan keraguan. Ia masuk perlahan.

Di dalam ruangan terdapat beberapa kotak dokumen dan album foto. Bianca mulai membuka satu per satu sampai menemukan sebuah map berwarna merah tua.

Di sampulnya tertulis:

PROYEK KELAHIRAN — 17 OKTOBER

Jantung Bianca berdegup kencang.

Ia membuka map itu.

Ada beberapa lembar catatan rumah sakit, tanda tangan dokter, dan daftar nama bayi yang lahir pada malam tersebut.

Matanya langsung tertuju pada dua baris terakhir.

Bayi A — Ibu: Elena Laurent.

Bayi B — Ibu: Tidak diketahui. Ayah: Alessandro Vieri.

Bianca menutup mulutnya.

Alessandro Vieri?

Ayah Dante?

Ia membalik halaman berikutnya. Di sana terdapat sebuah catatan tulisan tangan.

Bayi A dibawa oleh keluarga Laurent. Bayi B dipindahkan ke tempat aman atas perintah Alessandro.

Namun, bagian paling bawah halaman itu telah robek.

Tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup dari belakang.

Bianca berbalik cepat.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.

Isabella Moretti.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bianca.

Isabella tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada dokumen di tangan Bianca.

“Kau sudah menemukannya,” bisiknya.

“Menemukan apa?”

Isabella mendekat perlahan.

“Kebenaran yang selama ini berusaha dikubur keluarga Vieri.”

Bianca menggenggam map itu lebih erat.

“Siapa bayi kedua?”

Isabella menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Bianca, kau harus memahami sesuatu. Bayi yang dibawa pulang keluarga Laurent bukanlah satu-satunya anak Elena.”

Bianca membeku.

Isabella menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

“Dan Adrian mungkin mengetahui di mana anak itu berada.”

Sebelum Bianca sempat bertanya lebih jauh, suara langkah terdengar dari lorong.

Dante muncul di ambang pintu.

Matanya langsung tertuju pada map merah di tangan Bianca.

“Bianca, letakkan dokumen itu.”

Bianca menoleh kepadanya.

“Kenapa? Apa kau takut aku mengetahui sesuatu?”

Dante tidak bergerak.

Isabella mundur selangkah, wajahnya semakin pucat.

Lalu Bianca melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.

Di halaman terakhir map tersebut terdapat nama bayi kedua.

Nama yang selama ini tidak pernah disebut siapa pun.

DANTE ALESSANDRO VIERI.

Bianca mengangkat wajah dengan napas tercekat.

“Dante… apa maksud semua ini?”

Dante menatapnya dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya, sang Don tidak memiliki jawaban.

Bersambung…

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!