Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Papa!
Maya bergegas masuk ke kamar. Tanpa menunggu lama, ia mengguncang bahu Annabella yang masih terlelap di samping Yumna.
"Bella, bangun!"
Annabella membuka mata dengan kening berkerut.
"Ada apa, Maya?"
"Suamimu menemukan kita!"
Ucapan itu membuat kantuk Annabella hilang seketika.
"Apa?"
"Kita harus pergi sekarang juga!"
Annabella segera menoleh ke arah Yumna. Detak jantungnya bertambah cepat. Bagaimana mungkin Lucian bisa menemukan tempat sejauh ini?
Ia tidak ingin kembali. Apalagi jika harus dipisahkan dari Yumna. "Yumna, sayang. Bangun dulu," bisiknya lembut sambil mengusap pipi gembul anak itu.
Yumna menggeliat pelan, suaranya masih serak karena mengantuk.
"Hmm... Onty Bella? Yumna macih ngantuk..."
"Iya, Onty tahu. Nanti kita tidur lagi, ya. Sebentar saja."
Annabella menggendongnya. Yumna kembali menyandarkan kepala di bahu, masih setengah tertidur.
Di sisi lain, Maya memasukkan laptop, perangkat elektronik, dan beberapa dokumen penting ke dalam tas dengan gerakan cepat.
"Sudah. Kita lewat pintu belakang!"
Mereka keluar dari pintu belakang dan baru hendak berlari, sebuah cahaya terang menyorot dari atas.
"Ah!"
Annabella memejamkan mata sambil melindungi Yumna dalam pelukannya.
Maya mendongak, terkejut. "Helikopter?"
Sebuah helikopter terbang rendah di atas mereka. Suaranya begitu keras hingga membuat Yumna terbangun sepenuhnya.
"Onty, apa itu? Belicik cekali..."
"Tidak apa-apa, sayang. Peluk Onty yang erat, ya."
Maya menatap helikopter itu dengan kesal. Benar-benar amat berlebihan. Untuk mencari satu orang saja sampai mengerahkan helikopter. Itu pasti tim suruhan Lucian.
"Bella, lewat samping! Cepat!"
Maya menarik tangan Annabella. Namun, baru beberapa meter berlari, sebuah mobil hitam berhenti mendadak dan menghalangi jalan mereka.
Decitan remnya cukup keras untuk membuat keduanya berhenti. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun dengan setelan jas hitam yang rapi. Di belakangnya, asisten yang sudah tidak asing lagi bagi Annabella.
Annabella yang cemas refleks mundur selangkah.
Sementara itu, Maya segera berdiri di depan Annabella, memasang posisi seolah menjadi perisai.
"Jangan mendekat!"
Lucian tidak memedulikannya. Tatapannya lurus tertuju pada Annabella.
"Annabella, hentikan pelarian ini."
Maya maju satu langkah, tidak terima.
"Anda tidak berhak menyentuhnya!"
Faisal yang berdiri di belakang Lucian ikut maju.
"Nona, sebaiknya Anda tidak ikut campur. Ini urusan pribadi Tuan Lucian."
Maya tersenyum sinis.
"Urusan pribadi yang membuat sahabat saya menderita berbulan-bulan? Tentu saja saya ikut campur."
Faisal memperhatikan Maya sejenak.
"Jadi, Anda yang selama ini menyembunyikan Nyonya?"
"Benar. Saya yang menyelamatkannya. Dan seharusnya saya dapat bonus karena itu."
Lucian mengangkat alis.
"Bonus?"
"Tentu. Bonusnya adalah kebebasan Annabella. Berhenti mengganggunya atau—"
"Atau apa?" potong Lucian. Nada suaranya mulai dingin. Kesabarannya terlihat sudah di ujung batas.
Maya mengepalkan tangan. Hampir saja ia mengatakan hal yang seharusnya belum dikatakan.
Kalau Annabella terus bersamamu, dia akan mati!
Beruntung ia masih bisa menahan diri.
"Maya, sudah," sela Annabella pelan.
"Tapi, Bella—"
"Sudah. Jangan diteruskan."
Maya mendengus kesal, lalu kembali menatap Lucian.
"Anda ini suami macam apa? Menelantarkan istri sendiri, lalu sekarang datang seolah paling peduli."
"Kalau saya laki-laki, lebih baik Annabella menikah dengan saya saja!"
Pernyataan itu membuat Annabella melongo. Faisal menghela napas panjang, sedangkan Lucian semakin kesal. Perempuan di hadapannya benar-benar di luar batas.
Lucian melangkah maju dan hendak menarik Annabella secara paksa. Namun sebelum itu, sebuah teriakan kecil yang sangat lantang menghentikan niat Lucian.
"BELHENTI CEMUAAA!"
Suara itu bahkan mengalahkan deru helikopter di atas mereka dan membuat semua orang terdiam.
Lucian tersentak, baru menyadari keberadaan anak kecil dalam gendongan Annabella.
"Anak siapa itu?" tanyanya dengan kening berkerut.
Annabella spontan mengeratkan pelukannya.
"Keponakanku."
"Keponakan? Sejak kapan kau punya keponakan?"
"Itu bukan urusanmu."
Lucian menatap Faisal dan memberi isyarat singkat.
"Ambil anak itu."
"Baik, Tuan."
Faisal mendekat dengan hati-hati. Baru saja tangannya terulur ke arah Yumna, anak itu langsung menggigitnya cukup keras.
"AAAH!"
Faisal menarik tangannya spontan dan kesakitan.
"Anak ini menggigit saya!"
Maya yang melihatnya hampir tertawa. Sementara Annabella terkejut. Selama ini Yumna tampak manja dan mudah menangis. Tidak disangka Yumna bisa seberani ini.
Yumna tentu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti ibunya.
"Yumna, sayang..." Annabella mencoba menenangkannya.
Namun Yumna malah turun dari gendongan dan berdiri tegak di hadapan Lucian. Tubuhnya kecil, tetapi sorot matanya tajam dan penuh keberanian.
Lucian tanpa sadar mundur selangkah. Ada sesuatu yang familiar dari tatapan itu. Tatapan yang mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Ia pun berjongkok agar sejajar dengan anak tersebut.
"Hai. Siapa namamu?"
Yumna menatapnya tanpa berkedip membuat Maya di belakang mulai cemas.
Jangan sampai anak ini bicara macam-macam.
Namun, Yumna malah menjawab dengan suara lantang dan percaya diri.
"Aku Yumna! Anak Papa gemblooot!"
Suasana langsung hening. Lucian ternganga. Faisal hanya terdiam sambil masih memegangi tangannya.
Annabella dan Maya saling bertatapan bingung, tidak tahu harus berkata apa. Lucian menunjuk dirinya sendiri dengan ragu dan masih shock.
"Papa? Aku ini Ayahmu?"
Yumna mengangguk mantap.
"Iya! Papa! Ini Yumna!"
Lucian menatap anak itu lagi, kemudian menatap Annabella dengan ekspresi tidak percaya.
"Anakku? Anak ini... anakku?"
Yumna kembali bersuara, kali ini sambil mengembangkan kedua pipinya.
"Iya! Lihat! Pipi Yumna bulat cama kayak Papa! Jadi Yumna anak Papa gemblooot!"
Lucian mulai merasa kesal lagi karena jelas-jelas badannya tidak gendut tetapi bocah cilik itu terus mengejeknya gembrot. Dan lagi sampai saat ini ia masih perjaka.
__
Papa gembrot? Nggak salah tuh, Yumna?
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???