Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan yang Membuka Topeng Alexander
Alexander Wu tidak pernah terbiasa kehilangan sesuatu yang dianggapnya milik sendiri.
Selama bertahun-tahun, ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebagai pewaris Wu Group, ia terbiasa melihat orang-orang mengalah di hadapannya, menunggu keputusannya, dan mengikuti aturan yang ia tetapkan. Bahkan dalam pernikahannya dengan Celine, ia tidak pernah benar-benar menyadari bahwa kesabaran perempuan itu memiliki batas.
Ia mengira Celine akan selalu berada di sisinya.
Sampai hari ketika perempuan itu pergi tanpa menoleh kembali.
Malam itu, setelah Celine meninggalkan kantornya, Alexander berdiri lama di depan jendela. Bayangan istrinya terus muncul dalam pikirannya—cara Celine menatapnya tanpa kelembutan, suaranya yang tenang ketika menolak permintaan maafnya, dan kalimat yang terus menghantam harga dirinya.
Aku tidak akan kembali hanya karena kau akhirnya takut kehilangan aku.
Alexander mengangkat gelas di atas meja, tetapi tidak jadi meminumnya. Ia meletakkannya kembali dengan gerakan kasar.
Ponselnya bergetar.
Sekretarisnya mengirimkan laporan singkat mengenai aktivitas Shen Capital. Ada beberapa agenda pertemuan investasi yang melibatkan Adrian Shen, termasuk sebuah acara makan malam bersama sejumlah investor.
Nama Celine tercantum sebagai salah satu peserta.
Alexander membaca laporan itu dua kali.
“Batalkan pertemuan dengan pemasok Shen Capital besok,” perintahnya ketika sekretarisnya menghubungi melalui telepon.
“Maaf, Tuan Wu. Pertemuan itu sudah dijadwalkan oleh tim investasi kita. Apakah ada alasan khusus?”
“Karena aku yang memerintahkannya.”
“Tetapi pemasok tersebut sedang mempertimbangkan kontrak jangka panjang dengan kita. Jika pertemuan dibatalkan, mereka mungkin akan—”
“Apa kau sekarang juga ingin mengajariku cara menjalankan perusahaan?”
Sekretarisnya langsung terdiam.
Alexander menutup telepon dengan kasar.
Ia tahu keputusan itu tidak masuk akal. Pertemuan bisnis tidak seharusnya dibatalkan hanya karena Celine bekerja dengan Adrian. Namun, bayangan Adrian duduk di samping mantan istrinya, mendengarkan pendapatnya, dan mendapatkan senyum yang dulu jarang diberikan Celine kepadanya membuat dadanya terasa sesak.
Yang paling menyakitkan bukanlah kemungkinan bahwa Celine menyukai pria lain.
Melainkan kenyataan bahwa Adrian mendapatkan kesempatan mengenal perempuan yang selama ini gagal ia hargai.
Keesokan paginya, Alexander datang ke kantor lebih awal. Ia mencoba memusatkan perhatian pada laporan keuangan, tetapi setiap kali membuka berkas, pikirannya kembali kepada Celine.
Menjelang pukul sepuluh, sekretarisnya masuk membawa sebuah map.
“Tuan Wu, pihak Shen Capital mengirimkan revisi proposal kerja sama. Mereka meminta penjelasan mengenai pembatalan pertemuan kemarin.”
“Biarkan tim hukum yang menangani.”
“Ada satu hal lagi.” Sekretarisnya berhenti sejenak. “Tuan Adrian Shen secara pribadi menghubungi kantor kita. Ia ingin mengetahui apakah pembatalan tersebut berkaitan dengan Ibu Celine Wang.”
Alexander mengangkat kepala.
“Dia berani menanyakan itu?”
“Dia mengatakan bahwa keputusan bisnis seharusnya tidak digunakan untuk mengganggu pekerjaan konsultan independen.”
Alexander tertawa pendek, tanpa sedikit pun rasa geli.
“Jadi sekarang dia merasa perlu melindungi Celine?”
“Saya tidak mengetahui maksudnya, Tuan.”
“Cari tahu jadwal Celine hari ini.”
Sekretarisnya tampak ragu. “Apakah itu berhubungan dengan pekerjaan Wu Group?”
Alexander tidak langsung menjawab.
Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya menyadari betapa jauh ia telah melangkah dari urusan bisnis.
“Lakukan saja,” katanya akhirnya.
Setelah sekretarisnya keluar, Alexander menatap pantulan dirinya pada kaca jendela. Ia masih mengenakan setelan mahal yang sama seperti biasanya, masih memiliki perusahaan yang bernilai miliaran, dan masih menjadi pria yang dihormati banyak orang.
Namun, untuk pertama kalinya, semua itu terasa tidak berguna.
Ia bahkan tidak dapat mengetahui ke mana Celine pergi tanpa meminta orang lain menyelidikinya.
Pada siang hari, sebuah foto muncul dalam laporan yang dikirimkan kepadanya.
Foto itu diambil di sebuah restoran dekat kawasan keuangan Shanghai. Celine duduk berhadapan dengan Adrian. Di atas meja terdapat dokumen investasi, sementara Adrian sedikit mencondongkan tubuh untuk mendengarkan penjelasan Celine.
Celine sedang tersenyum.
Bukan senyum sopan yang biasa ia berikan kepada tamu-tamu keluarga Wu. Bukan pula senyum tipis yang sering muncul ketika Alexander memberinya hadiah mahal yang tidak pernah benar-benar ia inginkan.
Senyum itu terlihat alami.
Alexander memperbesar foto tersebut.
Ia menyadari bahwa selama tiga tahun pernikahan mereka, ia jarang melihat Celine tersenyum seperti itu di hadapannya.
“Dia tidak pernah tersenyum seperti itu kepadaku,” gumamnya.
Kemudian muncul pikiran yang jauh lebih egois.
Apa yang dimiliki Adrian hingga Celine bersedia memberinya kesempatan yang tidak pernah diberikan kepadaku?
Alexander melemparkan foto itu ke atas meja.
Ia ingin menyalahkan Adrian. Ia ingin mengatakan bahwa pria itu memanfaatkan luka Celine untuk mendekatinya. Ia bahkan ingin menelepon Celine dan memperingatkannya agar menjaga jarak.
Namun, setiap kali ia mencoba menyusun alasan, satu kenyataan terus menghalanginya.
Adrian tidak pernah memaksakan perceraian kepada Celine.
Adrian tidak pernah mengusirnya dari rumah.
Dan Adrian tidak pernah menjadikan perempuan lain sebagai alasan untuk menghancurkan pernikahannya.
Alexander-lah yang melakukan semua itu.
Kesadaran tersebut tidak membuat kecemburuannya menghilang. Sebaliknya, ia justru semakin marah karena tidak memiliki alasan yang dapat membenarkan perasaannya.
Sore harinya, Alexander akhirnya menghubungi Celine.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua juga berakhir tanpa respons.
Ia menatap layar ponsel, menunggu beberapa detik, lalu mengetik pesan.
Jangan terlalu mudah mempercayai Adrian Shen. Kau belum mengetahui seluruh sejarah keluarganya.
Balasan datang sekitar lima belas menit kemudian.
Terima kasih atas peringatannya. Aku akan memeriksa setiap informasi dengan pengacaraku. Tolong jangan menghubungiku untuk urusan pribadi.
Alexander membaca pesan itu berulang kali.
Tidak ada pertanyaan tentang maksudnya. Tidak ada rasa khawatir. Bahkan tidak ada kesempatan baginya untuk melanjutkan percakapan.
Ia mengetik balasan dengan cepat.
Apa sekarang kau bahkan tidak bisa berbicara denganku selama lima menit?
Kali ini, Celine membalas hampir seketika.
Kita sudah membicarakan hubungan kita. Jangan mengubah penyelidikan kematian ayahku menjadi alasan untuk masuk kembali ke kehidupanku.
Alexander mengepalkan ponselnya.
Ia ingin membalas bahwa ia masih peduli. Bahwa ia hanya berusaha melindunginya. Bahwa Adrian mungkin memiliki agenda tersembunyi.
Namun, sebelum ia sempat mengirim pesan lain, sebuah notifikasi muncul.
Celine telah mengunggah foto dari ruang konferensi Shen Capital. Dalam foto itu, ia berdiri bersama Adrian dan beberapa anggota tim investasi setelah menyelesaikan presentasi.
Keterangan di bawah foto itu sederhana.
Kerja keras, keputusan yang bertanggung jawab, dan orang-orang yang menghormati batas profesional. Awal yang baik untuk langkah berikutnya.
Alexander membaca kalimat itu dengan rahang mengeras.
Ia tahu unggahan itu bukan ditujukan kepadanya. Celine bahkan mungkin tidak memikirkan dirinya ketika menuliskannya.
Tetapi justru itulah yang membuatnya merasa tersisih.
Celine sudah membangun kehidupan baru yang tidak membutuhkan kehadirannya.
Dan ia tidak tahan menghadapi kenyataan tersebut.
Malamnya, Alexander mendatangi kediaman keluarga Wu.
Victor Wu sedang membaca dokumen di ruang kerja ketika putranya masuk tanpa mengetuk.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara keluarga kita dan keluarga Shen,” kata Alexander.
Victor mengangkat pandangan. “Mengapa kau menanyakan itu sekarang?”
“Karena Celine sedang bekerja dengan Adrian Shen. Mereka sedang menyelidiki transaksi 0917, dan aku tidak akan membiarkan seseorang memanfaatkannya untuk menghancurkan Wu Group.”
Victor menutup dokumennya perlahan.
“Apakah kau benar-benar mengkhawatirkan Wu Group, atau kau tidak tahan melihat mantan istrimu bersama pria lain?”
Alexander membeku.
“Ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku.”
“Kalau begitu, mengapa kau membatalkan pertemuan bisnis yang penting hanya karena Shen Capital terlibat?”
Alexander tidak menjawab.
Victor berdiri dan berjalan mendekati jendela.
“Kau melakukan kesalahan ketika membiarkan Celine pergi. Jangan membuat kesalahan kedua dengan berpikir bahwa perceraian memberimu hak untuk mengendalikan hidupnya.”
“Aku tidak mencoba mengendalikannya.”
“Lalu apa yang kau lakukan?”
Alexander terdiam cukup lama sebelum berkata, “Aku tidak ingin Adrian mendapatkannya.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Victor menoleh, menatap putranya dengan ekspresi dingin.
“Celine bukan perusahaan yang bisa kau rebut dari pesaingmu, Alexander.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau kau benar-benar tahu, kau tidak akan berbicara seperti itu.”
Alexander merasakan kemarahan kembali naik ke dadanya.
“Jadi aku harus diam saja sementara pria itu mengambil tempatku?”
Victor menatapnya tajam.
“Kau sendiri yang mengosongkan tempat itu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Alexander ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa ia masih mencintai Celine, bahwa ia menyesali perceraian mereka, dan bahwa Adrian tidak pantas mendapatkan perempuan yang telah ia cintai selama bertahun-tahun.
Namun, tidak satu pun alasan itu mengubah kenyataan.
Celine bukan lagi istrinya.
Ia tidak memiliki hak untuk menentukan siapa yang boleh mendampinginya.
Dan semakin keras ia berusaha mempertahankan kendali, semakin jelas terlihat bahwa yang ia perjuangkan bukan hanya cinta, melainkan harga dirinya sendiri.
Sebelum Alexander meninggalkan ruang kerja, Victor mengucapkan satu kalimat yang membuatnya berhenti.
“Jika kau sungguh ingin mengetahui apa yang terjadi pada William Wang, berhentilah menjadikan Adrian musuhmu. Ada seseorang di keluarga kita yang jauh lebih takut terhadap penyelidikan Celine daripada terhadap Shen Capital.”
Alexander berbalik.
“Siapa?”
Victor tidak menjawab.
Ia hanya membuka kembali dokumennya, seolah percakapan mereka telah berakhir.
Di tempat lain, Celine baru saja selesai meninjau berkas transaksi 0917 ketika Adrian meletakkan secangkir teh di sampingnya.
“Kau tampak lelah,” katanya.
“Aku hanya memiliki terlalu banyak pertanyaan dan terlalu sedikit jawaban.”
Adrian melirik ponsel Celine yang menyala di atas meja. Nama Alexander masih terlihat pada riwayat panggilan.
“Apakah dia mengganggumu?”
Celine menggeleng pelan. “Dia mengira sedang melindungiku. Tapi terkadang aku merasa dia hanya tidak bisa menerima bahwa aku sudah tidak berada dalam jangkauannya.”
Adrian tidak langsung menanggapi.
“Kalau kau ingin aku membatasi komunikasi dengannya, aku bisa membantu memastikan semua urusan kita dilakukan melalui jalur hukum.”
“Terima kasih. Tapi aku bisa menangani Alexander sendiri.”
Adrian mengangguk, menghormati keputusannya.
Sikap sederhana itu membuat Celine teringat betapa berbedanya hubungan profesionalnya sekarang dibandingkan dengan kehidupan pernikahannya dahulu. Ia tidak perlu menjelaskan setiap keputusan, tidak perlu meminta izin untuk bekerja, dan tidak perlu membuktikan bahwa keberadaannya layak dihormati.
Namun, ketika ia kembali membuka berkas transaksi 0917, matanya tertuju pada satu catatan yang baru ditandai tim hukum.
Ada pembayaran besar kepada sebuah perusahaan kendaraan pribadi, dilakukan tiga hari sebelum kematian William Wang.
Nama penerima manfaatnya telah dihapus dari salinan digital.
Celine segera memotret halaman itu dan mengirimkannya kepada Daniel.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Pesan dari Daniel hanya terdiri dari dua kalimat.
“Celine, jangan beri tahu Alexander tentang dokumen ini dulu. Nama perusahaan tersebut pernah muncul dalam laporan kecelakaan ayahmu.”
Celine menatap layar dengan napas tertahan.
Di saat yang sama, di kediaman keluarga Wu, Alexander menerima panggilan dari nomor tak dikenal.
Suara seorang pria terdengar pelan di ujung telepon.
“Jika kau masih ingin mendapatkan Celine kembali, hentikan penyelidikannya sebelum dia menemukan siapa yang berada di dalam mobil William malam itu.”
Alexander berdiri kaku.
“Siapa kau?”
Panggilan terputus.
Untuk pertama kalinya, kecemburuannya terhadap Adrian tergeser oleh ketakutan yang jauh lebih besar.
Seseorang mengetahui apa yang terjadi pada malam kematian William Wang.
Dan orang itu tampaknya tahu bahwa Alexander belum menceritakan seluruh kebenaran kepada Celine.