Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Dengan tangan bergetar menahan gejolak panik di dadanya, Zaky bergegas masuk ke dalam mobil. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyambar ponselnya dan menghubungi asisten kepercayaannya.
"Arya! Cari tahu sekarang juga apa yang sebenarnya terjadi pada Arumi!" seru Zaky dengan napas memburu, suaranya sarat akan kecemasan yang mendalam. "Sikapnya pagi ini mendadak berubah total! Dia kembali dingin, membuang muka, dan menganggap ku seperti orang asing! Kenapa bisa begitu? Cari tahu ke anak buahmu sekarang!"
"B...baik, Tuan! Saya akan langsung mengubungi orang kita yang bertugas di lapangan," jawab Arya di seberang telepon, ikut panik mendengar nada frustrasi atasannya.
Arya segera melacak keberadaan anak buahnya. Sayangnya, orang kepercayaan yang bertugas memantau Arumi semalam sedang dilanda kepanikan karena mendampingi istrinya yang bersalin, sehingga celah waktu beberapa jam di kontrakan Arumi semalam sempat luput dari pengawasan. Zaky yang berada di balik kemudi hanya bisa menyandarkan kepalanya di setir. Pria itu terpukul hebat. Harapan indah yang baru kemarin bermekaran setelah ia membeberkan semua kebenarannya, kini hancur berkeping-keping. Sikap dingin Arumi tadi pagi sungguh menyayat hatinya.
Di balik dinding kelas, Arumi berusaha sekuat tenaga menata hatinya yang hancur. Ia tidak ingin emosi pribadinya mengganggu tugas utamanya. Setelah peristiwa pelabrakan oleh Nyonya Maya malam itu, Arumi telah membulatkan tekadnya bahwa ia akan pergi sementara waktu pulang ke kampung halamannya tepat setelah pembagian raport semester genap usai.
*
*
Hari demi hari pun berlalu dengan amat cepat. Setiap kali Zaky mencoba bertemu atau sekadar menyapa di sekolah, Arumi selalu memasang benteng pertahanan yang begitu kokoh, dingin, dan penuh jarak. Zaky frustrasi luar biasa karena sampai hari ini ia tetap tidak tahu apa yang menyebabkan Arumi mendadak berubah kembali seolah membencinya.
Sementara itu, di Mansion Tanuwijaya, Nyonya Maya tak henti-hentinya menyiramkan racun ke pikiran si kembar.
"Kalian lihat sendiri kan? Tanpa ibu tiri pun kita bisa hidup bahagia. Wanita mana pun yang mendekati Papah kalian pasti cuma mau menguasai harta keluarga Tanuwijaya!" doktrin sang Nenek di ruang keluarga.
Azzam dan Azzura yang masih terlalu polos dan takut kehilangan perhatian ayahnya akhirnya terpengaruh. "Kami janji, Nek... Kami tidak butuh ibu tiri! Kami bersumpah tidak akan pernah membiarkan Papah menikah lagi dengan wanita mana pun!" cetus Azzam yang disetujui oleh ikatan anggukan tegas dari Azzura.
Di sisi lain, Zaky yang mulai sering menghabiskan waktu bersama si kembar demi mendekati Arumi, tanpa disadari mengalami perubahan besar di dalam batinnya. Kasih sayang seorang ayah yang selama belasan tahun ini terpendam akibat trauma masa lalu, kini tumbuh meluap-luap. Penyesalan teramat dalam menguasai hatinya. Zaky menyadari bahwa Azzam dan Azzura sama sekali tidak bersalah atas dosa dan kelakuan licik mendiang Citra di masa lalu.
Menjelang ujian semester akhir, suasana di SMP Chandrakanta terasa begitu bergelora. Khususnya di kelas 7C, kelas yang dulu dicap paling nakal, urakan, dan tidak bisa diatur. Berkat kesabaran, ketegasan, dan bimbingan Arumi yang tak kenal lelah memberikan les tambahan setelah jam sekolah usai, seluruh siswa di kelas itu berubah total.
Azzam dan Azzura kini duduk tenang di bangkunya masing-masing, tekun membukakan lembaran buku pelajaran bersama teman-teman sekelasnya. Tidak ada lagi keributan, pembolosan, atau sikap arogan. Kelas 7C telah bertransformasi menjadi kelas yang sangat disiplin, kompak, dan tekun belajar.
Di ruang kepala sekolah, Pak Bima berdiri di dekat jendela sembari memandangi ruang kelas 7C dari kejauhan dengan senyum bangga yang mengembang sempurna.
"Luar biasa..." gumam Pak Bima penuh kekaguman. "Keputusanku menunjuk Arumi sebagai wali kelas 7C benar-benar tidak sia-sia. Dia bukan hanya mengajar, tapi berhasil menyentuh dan mengubah hati anak-anak itu."
*
*
Ujian semester telah usai. Hari-hari Arumi kini dipenuhi kesibukan mengisi lembaran demi lembaran buku raport para siswanya. Tak jarang ia harus pulang hingga larut sore untuk memastikan seluruh nilai terinput dengan sempurna. Hal yang sama juga dialami oleh Ayu, yang kembali disibukkan dengan padatnya pelanggan di salon ternama tempatnya bekerja di pusat kota Jakarta.
Hingga akhirnya, hari pembagian raport semester genap yang dinanti-nantikan pun tiba.
Zaky yang baru saja mendarat di Jakarta setelah menyelesaikan perjalanan bisnis penting di luar negeri, tampak begitu tidak sabar. Pria itu menolak memperpanjang masa tinggalnya di luar negeri demi satu tujuan, yakni bertemu kembali dengan Arumi. Bahkan, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah sekolah si kembar, Zaky mengajukan diri secara pribadi untuk mengambil raport Azzam dan Azzura, tugas yang biasanya selalu diserahkan penuh kepada ibunya.
Namun, Nyonya Maya tak mau tinggal diam. Melalui pengawasan ketat anak buahnya, ia memang sudah tahu bahwa sikap Arumi menjadi sangat dingin dan berjarak pada putranya. Nyonya Maya tersenyum puas, merasa peringatannya di kontrakan malam itu sangat efektif menyadarkan Arumi bahwa ia hanyalah wanita dari kampung yang tak sepantasnya bermimpi menjadi Nyonya Tanuwijaya. Meski begitu, Nyonya Maya tetap memutuskan untuk ikut hadir ke sekolah demi memastikan Arumi tidak goyah dan mematuhi ancamannya.
Zaky sama sekali tidak mencurigai ibunya. Ia tidak tahu bahwa sebab utama di balik dinginnya Arumi belakangan ini adalah ulah sang ibu yang melabrak wanita itu tanpa sepengetahuannya.
*
*
Di dalam kelas 7C yang bersih dan rapi, Arumi duduk di meja wali kelas. Saat nama Azzam dan Azzura Tanuwijaya akhirnya dipanggil, Zaky dengan cekatan langsung bangkit berdiri, mendahului langkah ibunya untuk menuju ke depan kelas.
Zaky mengambil posisi duduk di kursi depan meja Arumi. Tatapan matanya yang sarat akan kerinduan dan kecemasan tertuju penuh pada wajah cantik guru kesayangan anaknya itu. Arumi sempat melirik sekilas ke arah pintu belakang, di mana Nyonya Maya berdiri bersedekap dada sambil melemparkan tatapan mata yang teramat tajam dan mengintimidasi.
Menyadari situasi di sekelilingnya, Arumi langsung menarik napas panjang dan menegakkan posisinya, bersiap memasang benteng pertahanan paling kokoh.
Sebelum Arumi sempat membuka buku raport, Zaky memajukan tubuhnya. Suaranya memelan, terdengar begitu frustrasi.
"Rum... tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi padamu? Kenapa kau begitu dingin padaku akhir-akhir ini? Kenapa kau selalu menghindar dariku?"
Arumi berdehem sejenak, mengontrol getaran di dadanya. "Maaf, Pak Zaky. Jika Anda ingin membicarakan urusan pribadi, di sini bukan tempatnya!" ujar Arumi ketus dan profesional, menyela tanpa memberikan celah sedikit pun.
Jawaban yang terlampau dingin itu membuat Zaky seketika mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Sementara dari balik pintu kelas, Nyonya Maya yang mengamati adegan itu tersenyum sangat puas di dalam hati.
"Baguslah kalau wanita kampungan itu tahu diri dan tahu tempatnya! Dia memang tak pantas bersanding dengan putraku!" batin Nyonya Maya penuh keangkuhan.
Arumi kemudian mulai mengalihkan fokusnya, menjelaskan pencapaian luar biasa si kembar. "Nilai-nilai Azzam dan Azzura semester ini mengalami peningkatan yang sangat drastis, Pak Zaky. Mereka berdua berhasil masuk ke dalam peringkat sepuluh besar di kelas 7C."
Ada binar bangga dan rasa bahagia yang membuncah di dadanya Zaky saat mendengar prestasi kedua anaknya. Namun, rasa bahagia itu dikalahkan oleh rasa cemas akan hubungannya sendiri. Beberapa detik kemudian, Zaky kembali menatap Arumi dengan sorot mata yang penuh permohonan. Ia ingin meminta kesempatan kedua, ingin memohon agar Arumi tidak menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Di luar kelas, orang tua murid lainnya mulai mengantri menunggu giliran.
"Rum... bisakah kita bicara sebentar saja setelah semua acara ini selesai?" bisik Zaky memohon.
Arumi menatap Zaky lurus, matanya menyiratkan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Maaf, tidak bisa Pak Zaky yang terhormat. Saya masih ada urusan lain setelah ini. Dan... saya harap Anda tidak mengganggu kehidupan saya lagi. Soal masa lalu, tolong lupakan semuanya karena saya tidak akan pernah kembali lagi padamu!"
Deg!
Kalimat tajam itu menghantam dadanya Zaky dengan sangat telak. telapak tangannya mengepal hingga memutih, dan rahang tegasnya menegang kaku menahan sesak yang membakar tenggorokannya.
"Jadi... ini adalah keputusan akhirmu, Rum?" tanya Zaky dengan suara serak, berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Arumi mengepalkan jemarinya di bawah meja, berusaha setengah mati agar air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak jatuh di depan pria ini dan seluruh wali murid.
"Iya, Pak Zaky. Aku sudah melupakan semuanya tentang kita di masa lalu. Kita memang ditakdirkan untuk tidak pernah bersama... Jadi saya harap Anda bisa menerima keputusan saya ini dengan bijaksana," ucap Arumi tegas, memutus seluruh harapan yang ada.
Hening sejenak. Zaky menatap Arumi dengan kehancuran yang tak tertahankan. Pria itu akhirnya bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dengan langkah kaki yang berat dan luka mendalam yang menyayat perih di dadanya, Zaky berbalik meninggalkan ruang kelas.
Melihat kepergian Zaky, Arumi buru-buru memalingkan wajah dan menyusut sudut matanya yang basah sebelum menetes ke atas buku raport.
'Selamat tinggal, Zaky... Aku akan selalu menyimpan seluruh kenangan indah kita di masa lalu. Namun aku memilih menyerah... Kau dan aku bagaikan langit dan bumi, dan aku sangat sadar bahwa aku tidak akan pernah pantas untukmu,' batin Arumi menangis dalam keputusasaan yang sunyi.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣