Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - PERTEMUAN DENGAN NANCY
Derap langkah kaki yang terburu-buru bergema samar di lorong penyimpanan barang lantai dua Gedung Elektronik Sentral. Nancy melangkah setengah berlari dengan napas memburu kencang, jemarinya yang kurus memeluk erat sebuah tas sandang kanvas hitam yang sarat berisi dua harddisk eksternal dan satu unit komputer tablet khusus berlapis pelindung karet tebal. Di sisinya, Luna berjalan melangkah tangkas dengan busur recurve terangkat, sementara Steve memagari barisan belakang dengan pipa besi tebal yang menyapu udara.
"Tahan napasmu, kita masuk ke tangga servis!" panggil Luna seraya mendorong daun pintu besi tebal di ujung lorong.
Mereka bertiga menyelinap cepat masuk ke dalam ruang tangga servis teknisi, lalu membiarkan pintu besi itu menutup kencang dengan suara dentang logam yang berat.
KLANG!
Di balik pintu besi yang terkunci, dentuman musik dari ruang demo audio di lorong timur perlahan meredup dan akhirnya mati total akibat kehabisan daya darurat UPS dua. Erangan gusar dari belasan zombie yang menyadari hilangnya sumber suara mulai terdengar samar di koridor luar, namun kelompok itu sudah berada di dalam lorong tangga yang aman.
"Kalian berhasil!" seru Rian gembira dari dasar tangga, berlari menyambut mereka dengan wajah berbinar penuh kelegaan.
"Pintu bawah aman, Rian?" tanya Steve seraya menyapu keringat di dahinya dengan lengan kemeja.
"Aman, Steve! Tidak ada satu pun makhluk luar yang mendekat." jawab Rian cepat seraya melirik penasaran ke arah wanita berkacamata yang dibawa oleh Luna dan Steve.
"Turun ke lantai dasar dulu. Kita butuh tempat tertutup untuk menyusun rute selanjutnya." instruksi Luna tegas.
Ketiganya bergegas menuruni anak tangga semen menuju ruang istirahat teknisi di lantai dasar. Ruangan berukuran empat kali lima meter itu terisolasi dengan baik, memiliki dinding beton tebal dan satu pintu kayu berlapis plat seng yang kokoh. Steve segera menggeser sebuah meja kerja kayu tua untuk mengganjal pintu dari dalam, memastikan tidak ada ancaman yang bisa menerobos masuk secara mendadak.
Begitu pintu terkunci rapat, Nancy yang berdiri di tengah ruangan mendadak lemas. Lututnya gemetaran hebat hingga tubuhnya perlahan merosot jatuh terduduk di atas kursi plastik. Tas kanvas hitamnya dipeluk erat di pangkuan, sementara air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
"Terima kasih... terima kasih banyak..." bisik Nancy dengan suara serak bercampur isolasi ketakutan yang akhirnya pecah.
Steve meletakkan pipa besinya di lantai, lalu berjongkok di hadapan Nancy. Pria kekar itu memberikan senyuman hangat yang menenangkan, menepuk pelan bahu wanita itu dengan sikap penuh perlindungan.
"Tenang saja, Nona. Kamu sudah aman sekarang bersama kami." kata Steve dengan nada suara yang dalam dan lembut.
"Aku... aku pikir aku bakal mati membusuk di ruang server itu sendirian." tutur Nancy seraya menyapu air matanya dengan ujung lengan sweter abu-abunya yang kebesaran.
Luna melangkah mendekat, berdiri anggun di samping Steve. Mata kelamnya menatap Nancy dengan cermat, memindai seluruh pakaian dan anggota tubuh wanita itu dari kepala hingga ujung kaki.
"Kamu tidak terluka atau tergores, kan?" tanya Luna memastikan.
"Tidak. Aku mengurung diri di ruang server sejak kemarin sore sebelum makhluk-makhluk itu masuk ke gedung." jawab Nancy seraya membetulkan posisi kacamata tebalnya yang agak miring.
Nancy menghela napas panjang, mencoba mengontrol detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia menatap tiga sosok di hadapannya secara bergantian—sang taruna wanita yang berwibawa, pria kekar bersenjata pipa besi yang tangguh, dan pemuda berkacamata yang memeluk ransel di sudut ruangan.
"Nama aku Nancy. Aku teknisi jaringan dan pengelola server di gedung ini." kata Nancy memperkenalkan diri dengan vokal yang mulai stabil.
"Aku Luna, ini Steve, dan yang di pojok itu Rian." Luna memperkenalkan anggota kelompoknya secara singkat dan jelas.
"Terima kasih sudah mendengarkan sinyal radioku, Luna. Kalau kalian tidak datang, daya baterai cadanganku bakal habis dalam hitungan jam." ujar Nancy dengan mata berbinar penuh rasa syukur.
"Sinyal radiomu dipancar-ulangkan dengan sangat rapi, Nancy. Kamu punya kecerdasan yang kita butuhkan di kota mati ini." puji Steve seraya tersenyum lebar.
Nancy mengangguk pelan, lalu membuka selak tas kanvas hitam di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebuah tablet khusus berlayar tebal dengan bodi karet anti-benturan. Ditekan tombol dayanya hingga layar sembilan inci itu menyala terang, memancarkan pendaran cahaya biru di dalam ruang teknisi yang remang-remang.
"Sesuai janjiku di siaran radio... aku membawa seluruh data pemetaan digital kota." kata Nancy seraya memutar posisi layar tablet ke arah Luna dan Steve.
Di layar tablet tersebut, terbentang peta digital tiga dimensi dari seluruh distrik Kota Mati. Garis-garis jalan utama, gang pemukiman, saluran pembuangan bawah tanah, hingga lokasi gedung-gedung fasilitas umum tergambar dengan sangat detail dan presisi. Tidak hanya itu, beberapa titik di peta diwarnai dengan pendaran merah, kuning, dan hijau.
"Ini data pemetaan Sistem Informasi Geografis yang berhasil aku unduh dari server pusat sebelum seluruh jaringan internet kota mati total." jelas Nancy seraya jemarinya menari lincah di atas layar sentuh.
Luna berjongkok di samping Nancy, matanya meneliti setiap simbol dan garis warna yang tertera di peta digital tersebut dengan ketertarikan taktis yang tinggi.
"Apa arti warna-warna ini?" tanya Luna menunjuk pendaran merah tebal di pusat kota.
"Zona merah adalah area dengan tingkat kepadatan infeksi Cordyceps tertinggi—seperti stasiun kereta, pusat perbelanjaan utama, dan area rumah sakit umum. Zona kuning adalah wilayah dengan populasi terinfeksi sedang, sementara jalur hijau adalah koridor jalanan sekunder yang tingkat kerusakan lalu lintasnya masih rendah." paparkan Nancy dengan penjelasan teknis yang mudah dipahami.
"Luar biasa..." gumam Steve takjub melihat peta digital yang begitu komprehensif.
"Dengan peta ini, kita bisa menghindari penumpukan massa zombie di jalan raya utama. Aku juga menyimpan data lokasi generator kota dan tandon sumber air bersih yang masih berfungsi." lanjut Nancy menjelaskan keunggulan sistem yang dibawanya.
Saat Nancy menggeser tampilan peta ke area distrik tengah, matanya mendadak tertuju pada perban putih yang terikat di bahu kiri Steve. Bercak darah tipis tampak membayangi lapisan kasa steril tersebut.
"Bahumu kenapa, Steve?" tanya Nancy cemas.
"Cuma goresan pecahan kaca mobil saat di gedung parkir tadi. Sudah dibersihkan oleh Luna." jawab Steve santai.
"Di udara yang dipenuhi spora dan debu busuk seperti ini, goresan kulit sekecil apa pun bisa cepat memicu infeksi bakteri yang mematikan kalau tidak dirawat dengan obat antibakteri yang tepat." Nancy memberi peringatan medis secara naluriah.
Luna menatap perban Steve sejenak, lalu kembali memandangi peta digital di tablet Nancy. Keamanan fisik dan kesehatan anggota kelompok adalah prioritas utamanya dalam memimpin pergerakan ini.
"Nancy, tunjukkan lokasi apotek atau fasilitas medis terdekat yang punya stok obat antibakteri dan peralatan medis lengkap." perintah Luna tegas.
Nancy dengan cepat menekan ikon pencarian di antarmuka tabletnya. Layar langsung memperbesar tampilan area pemukiman di sebelah barat gedung elektronik, menampilkan sebuah ikon palang merah yang berjarak sekitar lima ratus meter.
"Apotek Sentral di Jalan Sudirman. Itu apotek rujukan terbesar di distrik ini yang punya gudang penyimpanan obat di bagian belakangnya." Nancy menunjuk titik lokasi yang berkedip hijau di layar.
"Jaraknya dekat, dan rutenya melewati gang-gang pemukiman sepi di zona kuning." analisis Luna seraya mengangguk mantap.
Steve berdiri tegak, memutar pipa besi tebalnya dengan senyum penuh keyakinan. "Target kita selanjutnya sudah jelas. Kita cari obat antibakteri untuk memastikan kita semua tetap dalam kondisi tempur terbaik."
Nancy menyunggingkan senyum tipisnya yang pertama sejak bencana ini meletus. Rasa takut yang mengurungnya selama berhari-hari kini berganti menjadi semangat baru saat berdiri di tengah kelompok yang saling melengkapi ini.
"Aku akan memandu rutenya lewat navigasi tablet ini." kata Nancy seraya memasukkan kembali periferal eksternalnya ke dalam tas.
Luna berdiri di depan pintu, memeriksa tali busur recurve-nya untuk terakhir kali sebelum memimpin jalan. Kelompok penyintas itu kini telah bertambah kuat dengan hadirnya sang ahli teknologi, siap bergerak menembus bahaya Kota Mati menuju sasaran berikutnya.