NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Benih yang Tumbuh

Enam bulan berlalu sejak hari itu. Bunga-bunga yang kami tanam di bukit itu sekarang sudah tumbuh rapi dan mulai mengeluarkan kuncup yang siap mekar kapan saja. Setiap kali aku datang ke sana aku selalu merasa tenang banget. Rasanya tempat itu bukan lagi sekadar kenangan masa lalu. Tapi jadi pengingat bahwa sesuatu yang indah selalu butuh waktu untuk tumbuh. Kamu nggak bisa buru-buru menyuruh bunga mekar kan? Kamu cuma perlu sabar dan menjaganya sampai waktunya tiba. Setiap hal punya musimnya sendiri dan kamu nggak bisa memaksakan alam untuk berjalan lebih cepat dari yang dia mampu. Itu hal sederhana tapi butuh waktu lama buat aku benar-benar mengerti.

Hari ini aku datang sendirian ke sana. Langit cerah banget dan angin berhembus lembut menyisir rumput di sekitar kakiku. Aku duduk di batu besar di tepi tebing sambil membuka buku catatan yang baru. Bukan buku yang berisi rindu atau kesedihan lagi. Tapi buku yang berisi cerita-cerita baru yang aku kumpulkan dari orang-orang yang aku temui setiap hari. Cerita tentang harapan dan keberanian untuk melangkah lagi meski kakimu masih terasa berat. Cerita tentang bagaimana orang-orang bangkit perlahan setelah merasa dunianya runtuh. Cerita-cerita sederhana yang ternyata jauh lebih kuat dari kisah yang penuh drama.

Beberapa minggu yang lalu aku mulai menerima surat-surat dari pembaca yang baru. Bukan cuma yang kehilangan orang yang dicintai. Ada yang takut gagal dalam kuliahnya dan merasa dia satu-satunya orang yang belum berhasil di usianya. Ada yang merasa sendirian di kota besar yang sibuk dan nggak punya siapa tempat pulang. Ada yang ragu apakah dia pantas bahagia setelah melakukan kesalahan yang dia pikir nggak akan pernah dimaafkan. Ada yang baru saja bercerai dan harus memulai hidup dari nol bersama anak kecilnya. Dan aku selalu menjawab mereka dengan hal yang sama. Katakan pada dirimu bahwa kamu cukup kuat untuk melewati ini. Sama seperti bunga yang tumbuh di atas tanah yang kadang kering kadang basah, kamu juga akan tumbuh melewati hari-hari yang berat. Nggak apa-apa kalau hari ini kamu cuma bertahan. Itu sudah langkah yang luar biasa besar. Nggak perlu langsung kuat seketika. Izinkan dirimu lembut pada dirimu sendiri.

Aku mulai rutin menulis di sebuah halaman sederhana di internet setiap akhir pekan. Tulisan-tulisanku pendek banget. Cuma beberapa paragraf tentang hal-hal kecil yang aku alami. Tentang matahari terbit yang indah pagi tadi yang warnanya jingga lembut menyentuh atap rumah-rumah di kejauhan. Tentang senyum tetangga yang menyapa di pagi hari sambil membawa keranjang sayur segar. Tentang rasa syukur karena masih bisa bernapas dengan lega hari itu. Tentang bagaimana hujan yang tadinya terasa mengganggu ternyata membuat bau tanah jadi wangi dan menenangkan. Aku nggak menyangka kalau tulisan-tulisan sederhana itu ternyata diam-diam ditunggu oleh banyak orang. Mereka bilang tulisanku terasa seperti teman lama yang berbicara lembut di telinga mereka tanpa menggurui atau memaksa mereka untuk cepat sembuh. Itu pujian terindah yang pernah aku terima. Aku tahu Bima pasti senang melihat ini. Dia selalu percaya bahwa hal-hal sederhana punya kekuatan yang luar biasa besar kalau dikatakan dengan tulus. Bahwa satu kalimat yang tulus bisa menopang seseorang yang hampir jatuh lebih kuat dari ribuan nasihat yang rumit.

Sore itu saat aku sedang menulis di bukit itu ada seorang anak perempuan kecil yang datang mendekat sambil menatapku dengan rasa ingin tahu. Dia bersama kakeknya yang sedang berjalan pelan di belakangnya sambil memegang tongkat kayu. Anak itu berhenti beberapa langkah di depanku lalu bertanya dengan suara yang lembut dan sedikit malu-malu. Kamu yang menulis cerita kan? Aku mengangguk sambil tersenyum ramah supaya dia nggak takut. Dia lalu menyodorkan selembar kertas gambar yang sudah diwarnai dengan rapi dan penuh semangat. Di atas kertas itu ada dua siluet orang yang berdiri menghadap ke matahari terbit dengan langit yang penuh warna-warni. Di bawahnya tertulis tulisan tangan yang masih belajar dan sedikit miring. Terima kasih sudah bilang bahwa boleh bahagia lagi. Hatiku terasa hangat banget sampai mataku berkaca-kaca dan aku harus berkedip beberapa kali supaya air mataku nggak jatuh membasahi gambarnya. Aku terima gambar itu dengan hati-hati seolah itu benda paling berharga di dunia dan berjanji akan menempelnya di dinding kamarku supaya selalu aku lihat setiap kali bangun tidur. Anak itu tersenyum lebar lalu berlari kecil kembali ke arah kakeknya yang tersenyum bangga menantinya. Saat mereka berjalan pergi aku menatap punggung mereka yang perlahan menjauh di jalan setapak itu dan menyadari satu hal yang indah. Benih yang Bima tanam di hatiku sekarang sudah tumbuh dan aku bisa menanamkannya ke hati orang lain juga. Itulah cara kebaikan bekerja kan? Seseorang menanamnya, orang lain merawatnya, lalu semua orang ikut menikmati keteduhannya. Nggak ada yang tahu dari mana asalnya dan nggak ada yang perlu mengklaim siapa pemiliknya. Karena kebaikan itu milik semua orang yang membutuhkannya.

Aku pulang dengan hati yang penuh sore itu. Gambar buatan anak kecil itu sudah terselip rapi di dalam bukuku di halaman paling depan supaya nggak terlipat atau rusak. Langkahku terasa lebih ringan dari biasanya. Bukan karena semua masalah di dunia ini sudah selesai atau aku nggak pernah merasa sedih lagi. Tapi karena aku tahu aku nggak berjalan sendirian. Di belakangku ada Bima yang mengajarkanku ketulusan dan arti mencintai tanpa syarat. Di sampingku ada Dimas yang menemani dengan hormat dan kelembutan tanpa pernah berusaha mengambil tempat yang bukan miliknya. Di depanku ada begitu banyak orang yang membutuhkan cerita dan harapan sederhana yang bisa aku bagikan lewat tulisan-tulisanku yang sederhana ini.

Malam itu aku menulis panjang banget di halaman baru bukuku.

"Kadang kita berpikir bahwa untuk melakukan hal yang berarti kita harus melakukan sesuatu yang besar dan luar biasa. Kita pikir harus terkenal, kaya, atau punya jabatan tinggi supaya hidup kita berguna bagi orang lain. Tapi Bima mengajarkan aku bahwa hal yang paling berarti seringkali adalah hal yang paling sederhana. Mendengarkan orang lain bercerita tanpa buru-buru menghakimi atau memberi solusi yang belum tentu mereka butuhkan. Memberi senyum kepada orang yang terlihat lelah di jalan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Menulis kata-kata yang menenangkan hati yang gelap dan sepi. Berjalan perlahan bersama seseorang yang butuh ditemani tanpa banyak bicara. Menyadari bahwa kehadiranmu saja sudah cukup membuat seseorang merasa tidak sendirian. Semua itu adalah langkah kecil yang kalau dilakukan dengan tulus akan sampai jauh lebih dari yang kita bayangkan. Sama seperti 38.000 langkah yang diambil seseorang hanya untuk duduk di sebelahku dan mendengarkanku bercerita tentang buku yang sedang kubaca atau hari yang melelahkan. Langkah yang terlihat sederhana tapi ternyata mengubah seluruh arah hidupku selamanya."

"Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil yang kamu lakukan hari ini. Mungkin kamu nggak akan pernah tahu seberapa jauh dampaknya sampai ke orang yang belum kamu temui bertahun-tahun dari sekarang. Sama seperti hujan yang jatuh di atas gunung dan mengalir menjadi sungai yang menghidupi desa di lembah yang jauh tanpa pernah tahu ke mana airnya pergi. Kebaikanmu juga begitu. Teruslah berjalan dengan tulus. Itu sudah cukup."

Aku menutup bukuku pelan-pelan dan meletakkannya di meja di sebelah lampu tidur yang cahayanya lembut dan hangat. Di luar jendela langit malam terlihat jernih dan bintang-bintang bersinar tenang seperti biasa seolah tidak pernah berubah sejak dulu. Angin malam berhembus pelan menyentuh daun-daun di pohon di depan rumahku membuat suara gemerisik yang menenangkan. Aku menyentuh liontin bunga kecil di dadaku dan berbisik pelan ke dalam keheningan malam. Lihat kan Bima? Benih yang kamu tanam sekarang sudah tumbuh dan mulai berbunga. Terima kasih sudah mempercayakannya kepadaku. Aku akan menjaganya sebaik mungkin dan membiarkannya tumbuh seluas yang ia mau. Nggak akan aku kurung dalam pot yang sempit. Nggak akan aku paksa mekar sebelum waktunya. Biarkan dia tumbuh dan menyebar ke mana pun angin membawanya. Tidurlah yang tenang di sana. Dunia di sini terus berjalan dengan baik. Karena kamu pernah ada di dalamnya dan karena kamu pernah memilih untuk berjalan sejauh itu hanya untuk sampai ke hatiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!