NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 mengajari naga menjadi bangsawan

Pagi sekali, ketika cahaya matahari baru menyelinap tipis di balik tirai kamar, Emma sudah sibuk membantu Veronica bersiap-siap. Hari ini Erin akan mulai mengajarinya tata krama dan cara mengurus rumah sebagai nyonya rumah. Namun Veronica yang masih setengah mengantuk hanya duduk lemas di depan cermin dengan kepala bersandar di telapak tangan, bibirnya mengerucut enggan.

"Ini masih terlalu pagi, Emma," keluhnya sambil menguap lebar. "Aku lapar. Bisakah kita makan dulu sebelum semua ini?"

"Sabar sedikit, Nyonya." Emma menyisir rambut merahnya dengan gerakan lembut sambil menahan senyum. "Nyonya Erin sudah menunggu, dan tidak baik membuat beliau menunggu lama di hari pertama. Setelah ini Anda boleh makan sebanyak yang Anda mau."

Veronica menghela napas panjang dengan bahu merosot, tetapi tidak membantah lagi. Setelah rambutnya tertata rapi dan wajahnya dipoles tipis, ia mengenakan sebuah gaun sederhana berwarna krem yang jatuh lembut di tubuhnya. Ia memutar badan di depan cermin dengan alis berkerut dan tangan di pinggang, merasa kain di pinggangnya terlalu ketat untuk seorang naga. Namun Emma hanya tersenyum puas sambil merapikan lipatan rok di bagian belakang, lalu menuntunnya menyusuri lorong menuju ruang makan, tempat yang belum pernah ia datangi sejak menikah.

Erin sudah menunggu di sana, duduk di kursi utama dengan punggung tegak dan secangkir teh di hadapannya. Cahaya pagi yang masuk dari jendela tinggi menerangi meja panjang yang telah ditata rapi dengan bunga segar. Erin menoleh begitu mendengar langkah mereka, lalu menunjuk kursi di sampingnya dengan gerakan anggun. "Duduklah, Nak. Kita sarapan bersama pagi ini. Ini pertama kalinya, bukan?"

Veronica mengerjap, sedikit terkejut, dan jemarinya yang tadinya meremas ujung gaun perlahan mengendur. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang bimbang, tak menyangka akan diterima dengan begitu baik oleh seseorang yang kemarin terpaku pucat melihat ekornya. Ia duduk dengan hati-hati dan hampir tersenyum ketika para pelayan menyajikan roti hangat, sup, dan daging panggang di meja. Namun ketika ia menyambar sepotong daging dengan tangan kosong dan melahapnya dalam dua gigitan besar, Erin meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan yang cukup untuk menghentikan seluruh gerakannya.

"Veronica," ucap Erin lembut, tetapi nadanya tak menyisakan ruang untuk membantah. "Para bangsawan tidak makan seperti itu. Mereka akan menganggapnya tidak sopan, dan percayalah, mereka akan membicarakannya selama berminggu-minggu."

Veronica mengunyah perlahan dengan pipi menggembung, melirik ke arah Emma yang pura-pura sibuk menata serbet, lalu menelan dan menggerutu pelan. "Merepotkan sekali. Makan ya makan saja."

"Kalau begitu, apakah kau ingin belajar atau tidak?"

Pertanyaan itu membuat Veronica terdiam. Ia menatap piring di hadapannya dengan wajah masam, lalu menatap Erin yang menunggu dengan sabar. Setelah beberapa detik berpikir, ia menghela napas dan meraih pisau dan garpu di sisi piring dengan canggung. "Baiklah. Ajari aku. Tapi jangan marah kalau aku salah lagi."

Erin tersenyum tipis. "Aku tidak akan marah." Dengan sabar ia menunjukkan urutan peralatan makan dari yang paling luar, cara memotong daging dalam potongan kecil, serta cara menyuap tanpa membuka mulut terlalu lebar. Veronica mengikuti dengan dahi berkerut dan lidah sedikit terjulur karena berkonsentrasi. Pisau di tangannya sempat menggores piring dengan bunyi nyaring hingga seluruh ruangan terdiam sesaat, dan Emma yang berdiri di sudut ruangan nyaris tertawa. Namun lambat laun gerakannya mulai lebih tenang, meski sorot matanya masih jelas menunjukkan kebingungan.

"Punggungmu harus tegak, tetapi jangan kaku," ujar Erin sambil menegakkan bahu Veronica dengan satu sentuhan ringan. "Pegang cangkir teh seperti ini, dengan jari telunjuk menopang gagangnya. Angkat perlahan, jangan menyeruputnya terlalu keras."

"Kenapa tidak boleh bersuara?" Veronica mengeluh sambil mencoba menahan cangkir yang terasa terlalu kecil di tangannya. "Aku bahkan hampir menjatuhkannya."

"Karena begitulah caranya." Erin menatapnya dengan senyum sabar. "Coba lagi."

Veronica mengerang pelan, tetapi mengulanginya dengan jari yang gemetar menahan beban, dan kali ini tehnya tidak tumpah setetes pun. Matanya langsung berbinar penuh kemenangan, seakan baru saja mengalahkan musuh yang sulit. "Lihat? Aku bisa!" serunya sambil menatap Erin dengan dagu terangkat bangga. Meski berkali-kali mengeluh, ia merasa tertantang untuk bisa melakukannya dengan benar.

Setelah sarapan selesai, Erin mengajaknya ke perpustakaan yang luas, dengan rak-rak tinggi yang dipenuhi buku tua dan aroma kertas yang menenangkan. Di sana Erin berdiri di tengah ruangan dan memperlihatkan cara berjalan yang anggun, langkah ringan dengan dagu terangkat dan tangan bertaut di depan perut. Ia berhenti sejenak, lalu menunjukkan cara berdiri yang tegak tanpa terlihat angkuh, dengan bahu rileks dan pandangan lurus ke depan. "Sekarang giliranmu."

Veronica berjalan dengan langkah kaku yang lebih mirip prajurit daripada nyonya rumah, lengan terayun terlalu lebar dan tumit menghentak lantai kayu dengan bunyi keras, dan setiap kali ia mencoba melangkah anggun, ia hampir tersandung ujung gaunnya sendiri. Wajahnya memerah karena kesal. "Ini aneh sekali," protesnya sambil menarik gaunnya yang terasa mengganggu. "Aku naga! Aku tidak perlu berjalan seperti ini."

"Di tengah manusia, kau harus," sahut Erin sabar tanpa mengubah nada suaranya. "Ulangi lagi."

Setelah beberapa kali percobaan yang membuat napas Veronica terengah seolah baru berlari mengelilingi gunung, Erin melanjutkan dengan pelajaran berbicara, dan kepada siapa Veronica harus berbicara dengan hormat. "Posisimu sekarang adalah Duchess Vanguard, penguasa Brune. Kau hanya perlu menghormati sesama duchess dan keluarga Kaisar, karena posisi mereka lebih tinggi darimu. Selain itu, tidak ada yang berhak menuntut hormatmu secara berlebihan."

Veronica mengangkat satu alis dan mengetukkan jari ke dagunya dengan wajah serius, seperti seorang ahli strategi yang sedang menimbang langkah. "Bagaimana dengan orang yang lebih tua? Aku sudah hidup lebih dari dua ratus tahun. Bukankah itu berarti aku bisa berbicara dengan siapa saja sesukaku, karena akulah yang paling tua?"

Erin tersenyum geli, dan untuk pertama kalinya suaranya terdengar sedikit tertawa, seolah pertanyaan itu mengingatkannya pada sesuatu yang telah lama hilang. "Itu memang benar. Tetapi kau juga harus mengikuti cara manusia, karena kau sedang berbaur dengan mereka. Sekarang, ulangi cara berjalan, duduk, dan berdiri yang tadi."

Veronica mengerang pelan, tetapi menurut, dan kembali berjalan mengelilingi ruangan dengan dagu terangkat dan langkah yang diperhalus sedikit demi sedikit. Di ambang pintu perpustakaan, Altres berdiri bersandar dengan lengan terlipat, mengamati pemandangan itu dengan heran. Ia tidak menyangka ibunya sungguh-sungguh mendidik seekor naga menjadi bangsawan, seakan itu hal paling wajar di dunia. Yang lebih mengejutkan, Veronica yang selalu memandang rendah ras manusia kini mengikuti perintah itu tanpa melawan terlalu keras. Erin menyadari tatapan putranya lalu menoleh dengan alis terangkat. "Apakah ada yang kau perlukan, Altres?"

"Tidak, Bu." Altres tersenyum miring, sudut matanya berkedut menahan geli. "Saya hanya penasaran apakah Veronica benar-benar akan menuruti Ibu."

Veronica langsung menoleh dengan pipi menggembung kesal. "Aku sedang belajar supaya bisa berbaur dengan orang-orang!"

"Itu tidak mungkin." Altres menggeleng pelan sambil melangkah masuk. "Kau tidak akan tahan menghadapi para bangsawan yang terkenal suka merendahkan orang."

Erin menatap putranya dengan tajam, dan suasana perpustakaan seketika terasa jauh lebih dingin. "Altres. Tugasmu adalah mendukung istrimu dan menjaganya di tengah dunia para bangsawan, bukan meremehkannya."

"Tidak perlu dijaga," sahut Veronica dengan dagu terangkat dan mata menyala. "Kalau ada yang berani macam-macam padaku, aku akan membakar mereka semua."

Altres memejamkan mata dengan helaan napas panjang sambil memijat pelipisnya, tetapi Erin justru tersenyum dan menggeleng pelan. "Itu tidak boleh dilakukan, Nak. Kecuali mereka menyerangmu dengan kekerasan." Ia melipat tangan di depan perut dan melanjutkan dengan nada lembut. "Di dunia bangsawan, orang-orang bertarung dengan kata-kata dan pikiran, bukan pedang."

Veronica memiringkan kepalanya dengan alis bertaut, mencoba memahami maksudnya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Erin, lalu menatap Altres, lalu kembali menatap Erin dengan wajah yang sama sekali tidak mengerti bagaimana kata-kata bisa menjadi senjata yang lebih berbahaya daripada cakar dan api.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!