NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan Tua yang Menyambut

Doa sang ustaz belum selesai ketika Bidan Rohani bangkit dari duduknya. Perempuan renta bermata tajam itu berjalan cepat menghampiri Aina, jauh lebih cepat daripada yang bisa dibayangkan dari tubuhnya yang kurus.

"Jangan panik, Nak," katanya pelan sambil menggenggam tangan Aina. "Tarik napas. Buang perlahan."

Aina menurut. Namun, tangannya gemetar hebat. "Ibu, ini terlalu cepat. Masih satu bulan lagi."

"Bayi kembar memang sering tidak sabar," jawab Bidan Rohani dengan tenang. Lalu perempuan renta itu menoleh kepada Raka. Suaranya berubah tegas. "Siapkan mobil. Sekarang. Kita ke rumah sakit."

Raka sudah berdiri sejak melihat wajah Aina. Lelaki berlesung pipi itu berlari ke halaman tanpa sempat memakai sandal.

"Tidak melahirkan di sini saja, Ibu Rohani?" tanya Ibu Sumi cemas. "Ibu kan bidan."

Perempuan renta bermata tajam itu menggeleng. "Bayinya kembar dan belum cukup bulan, Sumi. Bayi seperti ini butuh dokter dan alat yang lengkap. Tanganku sudah tua. Aku tahu batasku." Bidan Rohani tersenyum tipis. "Tapi aku akan ikut. Aku sudah berjanji akan menyambut cucumu."

Doa syukuran berubah menjadi kesibukan. Ibu Aina mengambil tas berisi pakaian bayi yang sudah disiapkan sejak bulan lalu. Hamdan menelepon RSUD Praya untuk memberi tahu bahwa mereka akan datang. Sekar menggendong Arsya yang kebingungan. Lale Rukmini dan Ibu Sumi berdiri berdampingan di depan berugak, sama-sama memegang tasbih.

Perjalanan dari Tanak Awu ke Praya terasa sangat panjang.

Raka menyetir dengan kedua tangan mencengkeram setir. Lelaki beralis tebal itu menghindari setiap lubang di jalan, setiap polisi tidur, setiap guncangan kecil. Di jok belakang, Aina berbaring setengah duduk dengan kepala bersandar di pangkuan Bidan Rohani.

Rasa sakit datang bergelombang. Mula-mula pelan, lalu semakin kuat. Setiap kali gelombang itu datang, perempuan bertubuh mungil itu mencengkeram tangan Bidan Rohani sekuat tenaga.

"Bagus, Nak. Ikuti napasmu," bisik perempuan renta itu. "Tiga puluh tahun lalu, aku menemani ibu suamimu di malam yang sama seperti ini. Waktu itu, tidak ada yang menunggu di luar pintu. Sekarang, lihatlah ke belakang."

Aina menoleh lemah ke kaca belakang. Dua mobil mengikuti mereka. Mobil Hamdan, berisi kedua orang tua Aina. Dan sedan hitam Lale Rukmini, dengan Ibu Sumi duduk di samping perempuan bersanggul itu.

"Semua orang menunggumu, Nak," kata Bidan Rohani. "Kali ini tidak ada yang berdiri sendirian."

Beberapa lama kemudian mobil itu telah sampai dihalaman RSUD praya. Sesampainya disana Aina langsung dibawa menuju ruang bersalin. Diruangan itu terlihat Dokter muda berkerudung putih itu sudah menunggu di depan ruang bersalin RSUD Praya. Begitu Aina dibaringkan di atas brankar, dokter itu langsung memeriksa dengan cepat dan teliti.

"Pembukaannya sudah cukup jauh," katanya. "Kita siapkan persalinan sekarang."

Bidan Rohani meminta izin untuk mendampingi. Dokter muda itu menatap perempuan renta tersebut sejenak, lalu mengangguk.

"Ibu yang dulu menolong kelahiran suami pasien?"

"Benar, Dok."

"Kalau begitu, silakan masuk. Tapi biarkan tim kami yang bekerja. Ibu cukup menggenggam tangannya."

Perempuan renta bermata tajam itu tersenyum. "Itu memang tugas yang paling penting."

Pintu ruang bersalin tertutup. Raka berdiri di depannya, tidak bergerak.

Di lorong rumah sakit, waktu seolah berhenti.

Raka berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan tertangkup di depan dada. Bibir lelaki berlesung pipi itu terus bergerak membaca doa tanpa suara. Sesekali Raka meraba saku kemejanya, tempat gelang perak kecil itu tersimpan.

Pak Saleh, ayah Aina, berjalan mondar-mandir sambil menggenggam tasbih. Lelaki tua yang dulu dikenal paling galak di dusunnya itu kini tampak seperti anak kecil yang ketakutan. Inaq Aina duduk di kursi tunggu sambil terus berzikir. Hamdan berdiri bersandar di dinding dengan mata terpejam.

Di ujung kursi tunggu, dua perempuan tua duduk berdampingan.

Ibu Sumi meremas ujung kerudungnya dengan gelisah. Perempuan berambut putih itu belum pernah menunggu di depan ruang bersalin. Tiga puluh tahun lalu, perempuan itulah yang berada di balik pintu. Dan tidak ada seorang pun yang menunggunya.

Tanpa berkata apa-apa, Lale Rukmini meraih tangan Ibu Sumi dan menggenggamnya.

Ibu Sumi menoleh, terkejut. Perempuan bersanggul itu tidak menatapnya. Pandangan Lale Rukmini tetap tertuju pada pintu ruang bersalin. Namun, genggaman tangannya tidak dilepaskan.

Pelan-pelan, Ibu Sumi membalas genggaman itu.

Sekar, yang duduk tidak jauh dari mereka sambil memangku Arsya yang tertidur, melihat semuanya. Perempuan berwajah teduh itu menunduk dan menyeka matanya.

Satu jam berlalu. Lalu dua jam.

Dari dalam ruang bersalin, sesekali terdengar suara Aina yang menahan sakit. Setiap kali suara itu terdengar, Raka memejamkan mata dan menggenggam pegangan kursi sampai buku-buku jarinya memutih.

Lalu, tepat ketika azan Magrib berkumandang dari masjid di seberang rumah sakit, terdengar suara lain.

Suara tangisan bayi. Keras, nyaring, dan penuh semangat.

Raka membuka mata. Lelaki berlesung pipi itu menatap pintu dengan napas tertahan.

Sepuluh menit kemudian, terdengar tangisan kedua. Lebih pelan, lebih halus, tetapi sama kuatnya.

Raka jatuh berlutut di lantai lorong rumah sakit. Lelaki beralis tebal itu menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis.

Di belakangnya, Ibu Sumi dan Lale Rukmini berpelukan. Dua perempuan yang selama tiga puluh tahun dipisahkan oleh satu bayi, kini menangis bersama karena dua bayi yang baru lahir.

Pintu ruang bersalin terbuka. Bidan Rohani keluar lebih dulu. Wajah perempuan renta itu basah oleh keringat dan air mata, tetapi senyumnya lebar.

"Laki-laki dan perempuan," katanya. "Dua-duanya kecil, tapi kuat. Ibunya juga selamat."

Raka bangkit dan memeluk perempuan renta itu erat-erat.

Kedua bayi itu harus dirawat beberapa hari di ruang perawatan khusus karena lahir sebelum waktunya. Dari balik kaca, semua orang berdesakan untuk melihat. Dua bayi mungil terbaring berdampingan di dalam inkubator. Yang laki-laki menggeliat dengan kepalan tangan terangkat ke atas. Yang perempuan tertidur tenang dengan mulut mungil yang sedikit terbuka.

"Bayi laki-lakinya punya lesung pipi di sebelah kiri," bisik Ibu Sumi sambil menempelkan telapak tangannya di kaca. "Persis ayahnya."

Malam harinya, Aina terbangun di ruang perawatan. Tubuhnya lemah, tetapi hatinya terasa ringan.

Raka duduk di kursi di samping ranjang. Lelaki berlesung pipi itu belum tidur sama sekali.

"Mereka sudah punya nama?" tanya Raka pelan.

Aina tersenyum lemah. Perempuan bertubuh mungil itu sudah memikirkan nama itu sejak berbulan-bulan lalu, sejak duduk sendirian di teras rumah Sengkol dan memandang matahari terbit.

"Yang laki-laki, Lalu Fajar," katanya. "Yang perempuan, Baiq Mentari."

"Fajar dan Mentari," ulang Raka.

"Karena setelah bayangan yang begitu panjang, aku ingin mereka selalu mengingat bahwa pagi pasti datang."

Raka tidak berkata apa-apa. Lelaki beralis tebal itu menunduk lama. Lalu tangannya merogoh saku kemeja dan mengeluarkan gelang perak kecil bertuliskan Bayu.

"Na," ucapnya pelan. "Kamu pernah memintaku bertanya lagi setelah anak kita lahir."

Aina menatap gelang itu. Cahaya lampu kamar memantul di permukaannya yang kusam.

"Mereka sudah lahir," lanjut Raka dengan suara bergetar. "Jadi aku bertanya lagi. Bukan dengan nama Lalu Raka yang penuh kebohongan. Tapi dengan nama yang diberikan ibuku. Maukah kamu menikah dengan Bayu?"

Dari jendela kamar, cahaya pertama pagi mulai menyelinap di balik tirai. Langit di atas Praya perlahan berubah dari gelap menjadi jingga.

Perempuan bertubuh mungil itu menatap gelang perak di tangan Raka. Lalu menatap cahaya di jendela. Lalu menatap wajah lelaki yang selama berbulan-bulan datang setiap sore tanpa meminta apa pun.

Bibir Aina bergerak perlahan, mengucapkan satu kata.

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!