Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Tanpa banyak bicara, Dara langsung menghampirimu Lukman dan,
Bugh
Dara menonjok muka laki-laki itu.
"Aaa!" Nina reflek berteriak kaget.
"Lo mau juga hah!" Dara menatap Nina nyalang.
Nina mundur selangkah. Bekas tamparan tadi saja masih terasa panas, mau ditambah tonjokan, ia memilih mundur, tak mau kena lagi.
Lukman meringis menyentuh rahangnya yang kena tonjok. Ternyata meski perempuan, pukulan Dara sakit juga. Ia tak berani membalas karena konsekuensinya bisa dipecat. Pak Luth pasti lebih membela kekasihnya daripada OB seperti dia.
"Asal kalian berdua tahu, saya bukan orang miskin seperti kalian!' Dara yang emosi, sampai kelepasan menghina. "Saya sudah kaya sejak lahir, tidak butuh jual diri hanya demi uang. Cam kan itu!" bentaknya.
"Tapi yang Ibu lakukan barusan sudah termasuk penganiayaan," ujar Lukman. "Kami bisa laporkan Ibu." Ia berusaha menggertak, siapa tahu dapat kompensasi.
"Silahkan, saya tidak takut!" Dara balik badan lalu keluar. Kali ini, benar-benar pergi. Ia malah senang jika dilaporkan ke pihak perusahaan. Bukankah lebih baik dipecat sekarang daripada nunggu 28 hari.
Langkah Dara terhenti di koridor menuju meja kerjanya. Ia melihat bosnya itu berdiri di depan meja kerjanya, melipat kedua lengan di dada sambil menatapnya penuh arti. Ia melanjutkan langkah dengan sedikit ragu.
"Hobi banget sih berantem."
Dara kaget Luth tahu soal di pantry.
"Ada OB yang datang kesini tergesa-gesa, ngasih tahu kalau katanya kamu ngamuk di pantry." Ia menatap Dara sambil geleng-geleng. "Kenapa sih, semua orang kamu ajak berantem? Sok jagoan banget. Heran, bisa-bisanya dulu saya pacaran sama perempuan kayak kamu."
Dara terkekeh mendengar ucapan Luth. "Heran?" Ia kembali tertawa. "Yang ada aku yang heran sama kamu. Udah ditolak, masih aja nembak terus sampai lima kali."
Rahang Luth mengeras, kedua telapak tangannya terkepal di samping badan.
Melihat Luth marah, Dara malah melewatinya begitu saja, masuk ke balik meja kerjanya, mengemasi barang-barangnya.
Luth mengernyit melihat apa yang dilakukan Dara.
"Kamu ngapain?"
"Gak lihat! Saya sedang beres-beres. Ini hari terakhir saya kerja disini."
Mata Luth membulat, ia menahan tangan Dara yang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam kotak.
"Kamu lupa dengan aturan perusahaan?"
Dara menatap Luth sinis. "Saya akan bayar penaltinya. Jadi lepaskan saya!" Ia menarik tangannya kasar.
"Gak bisa seperti ini!" Luth tidak mau Dara sampai keluar sebelum ia puas balas dendam.
"Kenapa enggak? Saya akan bayar penaltinya."
"Yakin?"
"Sangat yakin!" Dara menarik tangannya, lalu menyeka air mata yang mulai mengalir melewati pipi. Ia menjatuhkan bobot tubuhnya ke kursi, menutup wajah dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah.
Luth terdiam sesaat, menatap Dara yang menangis seperti anak kecil.
"Beberapa saat tadi, jadi jagoan, kenapa sekarang menangis?"
Dara menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajah basahnya. Ia terkekeh meski air mata masih belum berhenti mengalir.
"Kamu tahu gak Luth, aku capek. Aku capek!" Dara menepuk-nepuk dadanya. "Gara-gara fitnah Valerie, aku dihujat sata kantor, bahkan sekelas OB sekali pun berani ngatain aku."
Luth hanya diam, mendengarkan.
"Apa menurut kamu, aku masih harus berada disini, saat semua orang bully aku?"
"Kalau kamu gak merasa seperti itu, ya gak usah di dengerin."
"Gak usah didengerin?" Ulang Dara sambil tertawa getir. "Kamu gak ngerasain apa yang aku rasakan, jadi gampang ngomong gitu."
"Kamu pernah bilang kan, kalau dulu aku selalu dibully karena gendut. Jadi gak udah bilang aku gak pernah merasakan. Udahlah, gak usah dimasukin hati, apalagi sampai ngamuk-ngamuk gak jelas."
Dara kembali tertawa ngakak. "Gak jelas kata kamu? Enak sekali kamu ngomongnya." Ia menatap Luth nanar. "Masalahnya gak hanya karena dikatain, tapi aku juga dilecehin!" teriak Dara.
Luth terperangah mendengar itu.
"Dilecehin? Apa maksud kamu? Siapa yang berani ngelecehin kamu?"
"Bukan urusan kamu." Dara kembali berdiri mengemasi barang-barangnya. Keputusannya sudah bulat, ini hari terakhir ia kerja.
"Dara!" Luth mencekal pergelangan tangan Dara, mengangkatnya ke atas. "Siapa yang berani ngelecehin kamu?" Giginya sampai bergemeratuk karena emosi.