Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Mukjizat dari Kegelapan
Angin mengamuk di luar jendela kaca rumah sakit, melemparkan ranting-ranting pohon dan air hujan dengan kekuatan yang beringas. Di koridor lantai dua yang sunyi itu, Clara berdiri mematung layaknya hantu. Daster rumah sakitnya basah oleh keringat dingin, dan darah merembes dari punggung tangannya tempat ia mencabut paksa jarum infus. Rasa ngilu dari luka jahitannya berdenyut seiring dengan detak jantungnya, tetapi ia tidak memedulikannya.
Matanya hanya terpaku pada dua boks bayi di balik dinding kaca ruang observasi.
Dua bayi perempuan. Dua nyawa yang baru saja mengambil napas pertama mereka di dunia yang kejam ini. Jarak mereka hanya hitungan jengkal, namun nasib yang menanti mereka terbentang sejauh surga dan neraka.
Clara menelan ludah yang terasa berpasir. Ia telah merancang rencana ini selama berbulan-bulan, memberinya makan dengan kebencian dan air mata. Namun kini, ketika kesempatan itu ada di depan mata, dinding kaca dan dua perawat yang berjaga di dalam ruangan itu menjadi benteng yang tak tertembus.
Setiap kali perawat itu berjalan melewati boks bayi, dada Clara berdesir hebat. Keputusasaan mulai merayapi lehernya, mencekiknya dengan realitas. Rencananya terlalu mustahil. Ia hanyalah seorang pasien miskin yang tidak memiliki akses apa pun. Jika ia tertangkap basah masuk ke ruangan itu dan menukar bayi, ia akan langsung diseret ke penjara. Maya akan diambil oleh dinas sosial, dan ia akan kehilangan anaknya selamanya dengan cara yang lebih memalukan.
"Tidak mungkin..." bisik Clara, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya. Bahunya merosot turun.
Ia memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya yang tirus. Ia harus menyerah. Ia harus menerima takdir bahwa ia kalah. Bahwa Maya akan pulang bersamanya ke kamar sewa yang bocor, memakai baju kasar, dan kelaparan. Bahwa anak Vera akan tidur di ranjang jati dan dihujani harta. Dunia memang diciptakan hanya untuk orang-orang seperti Vera.
Dengan hati yang hancur lebur berkeping-keping, Clara berbalik. Ia bersiap menyeret kakinya kembali ke bangsal umum, bersiap memeluk kemiskinannya, dan menelan sisa-sisa harga dirinya yang telah menjadi abu.
Namun, tepat pada detik ia memutar tubuhnya... semesta memberikan jawabannya.
Sebuah kilat menyambar dengan cahaya putih yang membutakan, langsung diikuti oleh suara ledakan guntur yang luar biasa memekakkan telinga. Suaranya terdengar seolah langit baru saja runtuh menimpa atap rumah sakit.
Detik berikutnya, seluruh lampu di lantai itu mati seketika.
Suara dengungan mesin dan alat pemantau jantung terhenti. Kegelapan pekat yang absolut menelan seluruh lorong rumah sakit.
Clara membeku di tempatnya. Napasnya terhenti.
Di dalam ruang observasi bayi, terdengar suara pekikan kaget dari kedua perawat. Beberapa bayi mulai menangis karena suara petir yang menggelegar, menambah kekacauan.
"Listriknya mati! AC dan inkubator mati!" teriak salah satu perawat dari dalam ruangan.
"Panggil teknisi! Kenapa generator cadangannya belum menyala?!" balas perawat lainnya dengan panik. "Aku akan keluar mencari senter darurat di meja perawat depan, kau jaga di sini!"
"Cepat! Kita tidak bisa membiarkan ruangan ini gelap terlalu lama!"
Terdengar suara pintu kaca bergeser. Salah satu perawat berlari keluar ruangan, langkah kakinya menjauh di lorong yang gelap gulita. Perawat yang satu lagi terdengar sibuk menenangkan bayi yang menangis di sudut lain ruangan, memunggungi pintu masuk.
Jantung Clara berdentum seperti genderang perang.
Ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah campur tangan takdir. Di saat ia menyerah, kegelapan ini turun seperti mukjizat paling kelam yang diutus langsung dari dasar neraka untuk membantunya.
Tanpa berpikir dua kali, dengan dorongan adrenalin yang menghapus seluruh rasa sakit di tubuhnya, Clara menyelinap masuk melalui pintu kaca yang tidak tertutup rapat.
Ruangan itu hangat, berbau bedak bayi dan susu. Kegelapan sangat pekat, tetapi sesekali kilatan petir dari jendela menyinari ruangan dengan cahaya kebiruan selama sepersekian detik. Clara bergerak tanpa suara, mengandalkan ingatan visualnya beberapa menit yang lalu.
Ia meraba deretan boks bayi. Satu. Dua. Tiga.
Lalu tangannya menyentuh boks di barisan tengah. Ia menunduk. Kilatan petir kembali menyambar, memperlihatkan dua bayi perempuan yang tertidur berdampingan di dua boks yang berbeda.
Tangan Clara bergetar hebat saat ia menyentuh kain bedong bayi yang ada di boks pertama. Bayinya. Maya.
Bayi mungil itu menggeliat pelan, namun tidak terbangun. Clara menundukkan wajahnya, mencium kening bayinya dengan bibir yang bergetar. Air matanya menetes, jatuh tepat di pipi Maya.
"Maafkan ibu, sayang..." bisik Clara dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. "Maafkan ibu karena membuangmu. Tapi ini satu-satunya cara agar kau bertahan hidup. Hiduplah dengan baik. Jadilah orang yang berkuasa. Jangan pernah menoleh ke belakang, dan jangan pernah mencari ibumu yang hina ini."
Clara mengangkat Maya dari boksnya. Tubuh mungil itu terasa begitu ringan, namun di saat yang sama terasa lebih berat dari seluruh beban di dunia.
Lalu, ia menoleh ke boks di sebelahnya. Bayi Vera.
Dengan tangan yang masih gemetar, Clara meletakkan Maya ke dalam boks bayi Vera, dan mengangkat bayi Vera ke dalam boks Maya.
Kini, tubuh mereka telah bertukar tempat. Namun ada satu hal krusial yang harus diselesaikan: gelang identitas plastik di pergelangan tangan mereka.
Gelang bayi VIP milik Vera memiliki warna dan kode khusus, sedangkan gelang milik Clara berwarna putih polos standar pasien kelas tiga. Clara tahu, jika ia menarik paksa gelang itu, kancing plastiknya akan berbunyi klik dan bisa membangunkan bayi atau menarik perhatian perawat yang masih ada di sudut ruangan.
Dengan tangan yang dibanjiri keringat dingin, Clara meraih botol baby oil yang terletak di rak kecil di antara kedua boks tersebut. Ia menuangkan sedikit cairan licin itu ke jari-jarinya, lalu mengoleskannya ke pergelangan tangan kedua bayi tersebut.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan perlahan, Clara menarik gelang identitas VIP dari pergelangan tangan anak Vera. Karena tangan bayi baru lahir masih sangat kecil dan tulangnya sangat lunak, ditambah pelumas dari baby oil, gelang itu meluncur lepas tanpa perlu merusak pengait plastiknya. Ia melakukan hal yang sama pada gelang putih polos milik Maya.
Waktu seolah membeku. Suara rintik hujan di luar terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa kewarasan Clara.
Clara memasukkan gelang VIP itu ke pergelangan tangan Maya. Lalu, ia memasukkan gelang putih polos ke pergelangan tangan anak Vera.
Selesai.
Dalam kegelapan yang diiringi deru badai, takdir kedua keluarga itu resmi bertukar arah. Anak seorang pelayan miskin kini menjadi pewaris sah keluarga konglomerat. Dan anak seorang nyonya besar kini menjadi anak seorang pelayan yang dibakar dendam.
Clara menatap Maya untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, Elena," bisiknya, memanggil anak kandungnya dengan nama musuhnya.
Lalu ia menatap bayi Vera yang kini memakai gelang identitas putih. "Dan kau... mulai detik ini, namamu adalah Maya. Kau akan ikut denganku, semoga kita bisa menjadi ibu anak yang harmonis."
Terdengar suara langkah kaki berlari dari arah lorong.
"Generatornya sudah mau menyala! Aku bawa senter!" teriak perawat dari luar.
Clara tersentak. Ia segera memutar tubuhnya, merunduk rendah, dan menyelinap keluar melalui pintu kaca tepat sedetik sebelum cahaya senter menyapu ruangan.
Ia berlari tertatih menyusuri koridor kembali ke bangsal umum. Rasa sakit di perutnya meledak, jahitannya terasa seperti robek, darah segar kembali merembes dari pakaian bawahnya, namun ia terus berjalan. Ia harus kembali ke tempat tidurnya sebelum lampu menyala.
Ia tiba di ranjangnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur keras itu, dan menarik selimut kusam menutupi tubuhnya yang gemetar parah. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan kasar.
BZZZT.
Suara mesin generator bergetar, dan sedetik kemudian, seluruh lampu neon di rumah sakit kembali menyala terang. Suara mesin pendingin dan alat medis kembali berdengung. Kehidupan kembali berjalan normal seolah kegelapan tadi tidak pernah ada.
Clara berbaring miring, membelakangi lorong, memeluk dirinya sendiri. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi bantal tipis rumah sakit. Ia baru saja melakukan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan oleh hukum agama maupun manusia. Ia baru saja membunuh separuh jiwanya sendiri.
Sekitar satu jam kemudian, suara roda kereta bayi terdengar memasuki bangsal kelas tiga.
"Ibu Clara?" panggil seorang perawat muda yang tampak kelelahan.
Clara menghapus air matanya, mengatur napasnya, dan perlahan berbalik.
"Ya, Sus?" jawabnya dengan suara parau.
"Waktunya menyusui. Ini bayinya, Ibu," ucap perawat itu, mengangkat bayi mungil yang dibedong kain rumah sakit dan menyerahkannya ke dalam dekapan Clara. Perawat itu memeriksa gelang identitas putih di pergelangan kaki bayi tersebut, mencocokkannya dengan papan data di ranjang Clara. "Namanya belum ada ya, Bu?"
"Sudah," jawab Clara, menunduk menatap wajah bayi di dekapannya.
Bayi itu membuka matanya perlahan. Kulitnya kemerahan. Ia menggeliat pelan mencari kehangatan. Ia tidak tahu bahwa wanita yang memeluknya bukanlah wanita yang melahirkannya.
Clara menatap wajah bayi itu. Ia berusaha mencari jejak wajah Daniel atau Vera di sana, namun bayi itu masih terlalu kecil. Yang Clara tahu hanyalah satu hal: darah yang mengalir di tubuh bayi ini adalah darah dari dua manusia yang telah menghancurkan hidupnya.
Bibir Clara melengkung membentuk senyuman yang sangat sedih, sebuah senyuman yang menutupi luka yang menganga lebar di dalam jiwanya.
"Namanya Maya," ucap Clara pada perawat itu. Ia lalu menundukkan wajahnya, berbisik tepat di telinga bayi tersebut. "Dan aku akan berusaha tidak menyiksamu tetapi jangan harap aku akan mencintaimu."